RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Manusia Misterius


__ADS_3

Ryan mau makan siang di bawah tiba-tiba ia mendapat kabar dari sekretarisnya bahwa ada salah satu klien yang mengeluh karena lambatnya respon atas kasusnya.


"Pak Ryan ini gawat," ucap sekretarisnya serius.


"Ada apa?" tanya Ryan penasaran.


"Ada yang ingin mensomasi kita pak," ucap sekretaris dengan wajah panik.


"Dalam hal apa?" tanya Ryan kaget.


"Klien kita merasa kurang puas dengan kinerja kita dan mereka mensomasi bahwa dalam waktu 2×24 jam kasusnya tidak segera di tangani maka bapak akan di viral kan," ucap sekretaris panik.


"Cih.. Begitu kok gawat, hubungi dia untuk janji temu dengan saya sekarang, kalau klien kita gak bisa yasudah tunggu saja sampai masa somasi itu habis, kita lihat apakah ini hanya sebuah gertakan atau bukan," jawab Ryan santai.


"Kenapa bapak bisa santai seperti itu? Kalau nantinya beneran pak?" tanya sekretaris heran.


"Yasudah adakan saja konferensi pers dan jelaskan alasannya, toh ini bukan murni kesalahan saya," jawab Ryan cuek lalu memilih pergi makan siang.


"Baik pak akan segera saya hubungi, tapi ini nantinya bisa mencoreng nama baik bapak loh," tegur sekretaris.


"Nama baik saya tidak akan tercoreng hanya karena masalah seperti ini, percayalah.. Jangan terlalu panik, kalau dia kurang puas karena respon kita lamban kenapa tidak langsung mencari pengacara lain yang lebih handal? Kan aneh" cibir Ryan yang langsung menyadarkan sekretarisnya.


"Oh iya pak.. Untung bapak menjelaskan dengan detail dan logis," jawab sekretaris tersenyum malu dan Ryan hanya menggelengkan kepala lalu berjalan keluar.


"Semoga ini bukan masalah yang berbuntut panjang," batin Ryan was-was.


Ketika Ryan sedang menikmati makan siang, sekretarisnya justru sedang menghubungi klien yang bermasalah dan hasilnya mengecewakan, klien itu sama sekali tidak mengangkat telponnya.


"Ah pusing juga sama klien rewel gini, namanya orang cuti ya harusnya di ngertiin dong bukan malah main somasi, lagian ya antara pak Ryan dengan klien ini belum ada tuh kesepakatan ataupun perjanjian, bertemu aja belum udah main somasi.. Ah pusing sekali jadi sekretaris," gumam sekretaris lalu memilih makan siang sekaligus menenangkan pikiran.


***


Ryan memutuskan untuk mengambil lemburan karena pekerjaan yang harus di selesaikan tinggal sedikit, nanggung kalau dia memilih pulang.. Setidaknya besok tinggal dia bertemu dengan para kliennya.

__ADS_1


"Sudah kamu hubungi yang mau somasi saya?" tanya Ryan di sela-sela lembur nya.


"Sudah pak namun gak di angkat jadi saya tinggal makan siang saja," jawab sekretarisnya.


"Yasudah biarkan saja berarti memang dia sedang mencari rival, lanjutkan pekerjaan mu lagi supaya kita cepat selesai," perintah Ryan dan mereka kembali fokus berkerja.


Ketika keduanya sedang fokus menyelesaikan pekerjaan tiba-tiba ada teror melalui kaca kantor Ryan hingga kacanya pecah.


Prang... (Suara kaca yang di lempar sangat keras)


"Pak apakah anda juga dengar?" tanya sekretaris mencoba tenang padahal ia takut.


"Dengar.. Ada yang melempar sesuatu, sebentar saya cek dulu.. Kamu lanjut kerja saja," ucap Ryan bergegas menghampiri asal suara.


"Hati-hati pak.." ucap sekretarisnya khawatir.


Ryan menyusuri asal suara dan tiba dimana suara itu berasal, tepat di tempatnya bekerja dan untung sekali baik Ryan maupun sekretarisnya memilih di meja lain sehingga kejadian lemparan benda asing itu tidak mengenainya maupun sekretarisnya.


"Untunglah tadi gue ada feeling untuk bekerja di meja tamu, coba kalau masih tetap di mejaku, udah pasti kena lemparan nih," gumam Ryan lalu mengambil benda asing yang mencurigakan.


"Sudah.. Kamu juga telpon sekuriti yang jaga malam, suruh kesini, masak iya bisa sampai, kecolongan," perintah Ryan serius.


"Baik pak.." jawab sekretarisnya lalu menelpon bagian keamanan namun tak juga di angkat.


"Gimana? Kenapa kamu gak bilang?" tanya Ryan penasaran.


"Tidak ada yang angkat pak," jawab sekretaris lirih.


"Ha? Mereka pada kemana? Kamu sudah mengabari mereka kan kalau kita lembur?" tanya Ryan kaget sekaligus curiga.


"Su..sudah kok pah, apa kita cek ke bawah saja? Perasaan saya gak enak pak," usul sekretaris dengan wajah ketakutan.


"Good idea, yasudah kita turun dan kerjakan sisanya di rumah saja," ucap Ryan setuju, ia tidak boleh egois.. Ingin sekali ia lembur di sini namun situasi sekarang ini sepertinya gak aman, Ryan juga harus memikirkan perasaan sekretarisnya yang ketakutan.

__ADS_1


Mereka turun ke bawah dengan tergesa-gesa sambil Ryan berjaga-jaga jika ada serangan lagi.. Matanya tak henti-hentinya melihat sekeliling sampai akhirnya tiba di ruang sekuriti. Ketika tiba betapa kagetnya mereka melihat kedua sekuriti posisinya sedang terikat tali dan mulutnya di lakban.


Sekretarisnya yang sedari tadi berusaha baik-baik saja sudah tidak bisa menahan rasa takutnya.


"Aaaaa..." teriak sekretarisnya sambil menangis histeris karena saking takutnya.


"Tenang dulu.. Biar saya yang melepas ikatan ini agar kita bisa segera tau kejadian yang sebenarnya," ucap Ryan mencoba menenangkan dan kedua sekuriti meronta ingin di lepaskan.


"Saya takut pak.. Huhuhu," rengek sekretarisnya sambil terisak dan Ryan fokus melepas ikatan kedua sekuriti nya.


"Pak Ryan.. Terima kasih," ucap ujang sambil, bernafas ngos-ngosan.


"Iya pak makasih banyak," ucap umar lirih karena nafasnya sudah kembang kempis.


"Sama-sama. Sekarang kalian atur nafas dulu lalu minum setelah tenang baru jelaskan pada saya dengan detail," perintah Ryan memberi waktu pada kedua sekuriti nya.


"Makasih pak.. Saya sudah mulai tenang, kejadian ini terjadi begitu cepat pak sampai kami kewalahan untuk menghalaunya," ucap Ujang mencoba menceritakan.


"Tolong ceritakan semuanya ya pak," pinta Ryan lalu mereka berdua mengangguk setuju.


"Baik pak.. Jadi semua ini berawal ketika kami sedang main catur, ada seseorang yang menanyakan apakah ini kantor bapak atau bukan dan menanyakan apakah anda masih di dalam atau sudah pulang, lalu kami jawab seadanya dengan yang ada di lapangan, Tiba-tiba mereka menyekap kami dan mengikat kami lalu mereka ada yang masuk ke kantor ada juga yang lari ke arah belakang, tiba-tiba terdengar suara seseorang melempar sesuatu.. Kami mendengarnya dan kami gak bisa apa-apa pak karena kondisi kami yang terikat, di sini tadi juga ada yang menjaga kami sambil membawa senjata tajam, ia mengancam jika kami berani berontak maka mereka tidak segan akan mencelakai anda di dalam, ya kami memilih diam sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja meskipun kemungkinan itu kecil tapi kami optimis kalau bapak bisa melaluinya dengan baik.." ucap Ujang dengan detail.


"Lalu setelah itu?" tanya Ryan penasaran.


"Mereka langsung kabur sambil tertawa puas pak, di luar sana sudah ada mobil yang menunggu," ucap Umar menimpali.


"Berarti ini semua sudah di rencana, apakah bapak kenal ciri-cirinya?" tanya Ryan memastikan.


"Tidak pak karena mereka semua memakai topeng hitam full wajah," ucap Umar lirih.


"Tadi bapak bilang kalau ada seseorang yang masuk ke kantor, setelah dia keluar apakah membawa sesuatu?" tanya Ryan.


"Tidak pak.. Mereka langsung lari seperti tergesa-gesa, yang menjaga kami pun juga begitu.. Entah apa penyebabnya," ucap Ujang.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, informasi kalian sangat, bermanfaat.. Lain kali ketika ada orang asing yang bertanya-tanya seperti itu alangkah baiknya kalian berjaga-jaga ya," tegur Ryan.


"Iya pak maafkan kami soalnya yang pertama menanyakan itu wanita cantik pak, dia mengaku kalau istri anda...ya kami pikir memang istri anda karena kebetulan kami kan belum tau wajah istri anda jadinya kami langsung percaya, setelah kami mengatakan bahwa bapak ada di dalam dia langsung keluar sambil memainkan kode, lalu terjadilah hal seperti ini," ucap Umar membuat Ryan kaget.


__ADS_2