
"Jadi mantan kamu ini sudah menikah?" tanya Dito.
"Ya benar, saya sudah menikah dan memiliki anak," jawab Ryan dengan mantap.
"Baguslah.. Aku pikir kalian akan reuni," sindir Dito.
"Mana mungkin!! Dia udah berkeluarga dan lihat anaknya aja ada didepan mata kamu!" pekik Vika.
"Ya mana tau, gak papa to mantan kamu udah punya anak, yang penting kan bukan anak kalian," sindir Dito.
"Apa maksudmu ngomong begitu? Ha?" tanya Vika gak terima.
"Ya mana tau kalian diam-diam punya anak, ups," sindir Dito yang sudah sangat kesal.
"Mana mungkin!! Pikiranmu terlalu kejauhan! Kami waktu pacaran tidak sejauh itu," protes Vika tak terima.
"Perkataan anda terlalu menyinggung saya bahkan harga diri saya serasa diinjak-injak, saya memang pernah bersama Vika dalam waktu yang cukup lama namun bukan berarti gaya pacaran kami seperti apa yang anda tuduhkan, saya sangat menjaga kehormatan wanita apalagi Vika sempat bersemayam dihati saya, mana tega saya melakukan itu, jadi tolong jaga ucapan anda! Cemburu boleh tapi jangan segitunya, saya tegaskan jika saya sudah berkeluarga bahkan kehidupan saya bahagia, jadi jangan berprasangka buruk dulu! Mantan ya mantan, yang lalu biarlah berlalu, kalau ketemu gak ada salahnya saling sapa namun masih dalam batas wajar!! Jika kamu gak percaya pada Vika berarti kamu meragukan rasa cintanya ke kamu! Dan kamu pun tidak percaya diri dengan dirimu sendiri bahwa kamu pantas dicintai oleh wanita seperti Vika!" skak mat Ryan yang sudah sangat jengah.
Mendapat ucapan yang sangat pedas dan sangat mengena dihati membuat Dito geram namun lidahnya serasa kelu untuk membalas. Takut kondisi semakin tak kondusif dan kedua sejoli itu nantinya semakin salah paham, akhirnya Ryan pamit pergi.
"Lain kali jaga ucapanmu!" ucap Vika penuh penekanan sambil berjalan keluar mall.
"Mau kemana?" teriak Dito ingin mengejar Vika namun belanjaannya belum dibayar, terlebih lagi orang yang ia tunggu jawabannya tak kunjung menoleh. Vika terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
"Sial! Harusnya kan gue yang marah, kenapa malah dia sih!!!" umpat Dito membuang semua pakaian yang sudah ia pilih ke lantai, kebetulan ada SPG yang berjalan dan melihat hal itu.
"Maaf mas kalau gak niat membeli jangan dibuang, kalau kotor jadinya gak laku," tegur SPG.
__ADS_1
"Aduh maaf tadi saya emosi, nih kartu saya tolong total semua belanjaannya," jawab Dito menyerahkan kartu unlimited miliknya, seketika SPG yang kesal dengan Dito merasa tercengang dengannya, pria yang dipikir hanya gaya-gayaan saja nyatanya memiliki kartu tanpa batas dambaan kaum hawa.
"Ba..baik, saya segera proses," jawab SPG segera menuju kasir dan beberapa menit kemudian belanjaan Dito sudah ada ditangan.
Sayang sekali, Dito kehilangan jejak Vika, cepat sekali wanita itu berjalan sampai gak ketemu jejaknya sama sekali. Dito mencoba menghubungi Vika beberapa kali namun tak juga diangkat bahkan sekarang ini ponsel Vika malah tidak aktif. Akhirnya Dito menyerah juga dan memilih pulang, siapa tau Vika sudah tiba di rumah.
***
Tiba di rumah, Dito hanya memarkirkan mobilnya dan langsung menuju rumah tantenya Vika. Beberapa kali menekan bel akhirnya pemilik rumah membukakan pintu.
"Dito.. Ada apa?" tanya Indah.
"Vika sudah pulang belum tante?" tanya balik Dito.
"Vika? Gak tau tuh, bentar tante cek kamarnya dulu ya, biasanya sih udah, kamu duduk dulu," jawab Indah.
"Be..belum pulang tante?" tanya Dito khawatir.
"Iya.. Apa kamu tau sesuatu?" tanya Indah.
"Tadi Vika memang pergi sama saya ke mall, ketika disana tak sengaja bertemu mantannya yang bernama Ryan, saya cemburu tan karena mereka ngobrol akrab banget eh gak taunya Vika ngambek dan main pergi gitu aja, tak kejar malah Dito kehilangan jejak," ucap Dito menjelaskan.
"Astaga.. Kalian ini, terus sekarang keponakan tante dimana? Mana ponselnya gak aktif," tanya Indah panik apalagi sudah beberapa kali menelpon Vika.
"Biar saya cari," jawab Dito langsung keluar dari rumah tante Indah, sesaat itu juga Dito tancap gas dengan kecepatan sedang.
"Semoga Vika baik-baik saja dan semoga Dito bisa menemukannya," batin Indah penuh harap.
__ADS_1
***
Disepanjang jalan mata Dito tak lepas mencari dimana Vika berada, hingga jaraknya sudah cukup jauh dari komplek perumahan pun tak juga ada titik terang dimana Vika berada. Tiba-tiba saja Dito memiliki inisiatif untuk melacak keberadaan Vika.
"Kenapa gue gak punya pikiran daritadi!!" umpat Dito sambil memukul stir mobil mahalnya. Ia menepikan mobil di sebuah minimarket. Disana ia akan melacak dimana Vika berada, semoga saja segera ada petunjuk.
Karena posisi ponsel Vika tidak aktif membuat Dito kesulitan mendeteksi keberadaannya, untungnya Vika membawa ponsel kantor juga sehingga Dito bisa dengan mudah melacak. Setelah cukup lama mengotak-atik ponsel mahalnya, akhirnya ditemukan juga posisi Vika saat ini.
"Apa ini?? Kenapa Vika bisa berada disini? Dengan siapa?" gumam Dito terkejut melihat lokasi terakhir Vika yaitu di sebuah hotel bintang lima.
Tak mau terjadi kesalahan yang kedua kalinya, Dito lebih baik memastikan dengan datang langsung ke lokasi, semoga pikirannya salah dan Vika memang disana karena ada keperluan.
Tiba di hotel, jantung Dito tak berhenti berdegup kencang, cemas dan pikiran buruk menjadi satu didalam otaknya. Berulang kali Dito menanyakan pada resepsionis dimana kamar yang dipesan Vika namun jawaban resepsionis tetap sama, tak ada nama Vika Isyana Cantika dalam daftar tamu hari ini. Tak kehilangan akal, Dito menunjukkan foto Vika pada resepsionis, siapa tau ingat dimana kamar Vika tempati.
"Oh mbak ini.. Memang dia beberapa menit yang lalu ada disini tapi saya tak bisa memastikan ada dikamar berapa karena kebetulan ketika mbaknya datang ada tamu lain juga yang reservasi," ucap resepsionis membuat Vika kecewa.
"Apa anda tau kira-kira di lantai berapa mbak?" tanya Dito penuh harap.
"Semua tamu yang check in hari ini ada dilantai 7," jawab resepsionis membuat Dito bisa sedikit bernafas lega, setidaknya ada petunjuk sedikit dimana Vika berada.
Menaiki lift, hati Dito semakin berdebar melihat setiap lantai yang sudah ia lalui. Ting.. Suara lift terbuka, menandakan jika sudah berada di lantai yang dituju, dengan hati yang semakin cemas, Dito berusaha menelpon Vika dengan nomor pribadi terlebih dahulu, namun sampai sekarang tak juga aktif akhirnya dengan terpaksa Dito memanggil menggunakan nomor kantor dan ya terhubung, berulang kali ditelpon tapi tak juga diangkat.
Suasana di lantai ini yang sepi membuat langkah kaki Dito sangat jelas terdengar, ketika Dito tengah berjalan ada seorang pria yang baru keluar dari kamar sambil menelpon seseorang.
"Ya.. Gue sekarang sedang sama cewek itu, buruan kesini, cakep bro.." ucap pria asing itu terkekeh.
"Siapa ya namanya? Vi.. Vi.. Hmm oh iya namanya Vika, iya Vika, buruan," ucap pria itu lagi yang membuat Dito menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Vika.. Laki-laki itu, apakah yang dimaksud adalah Vika calon istriku? Siapa lagi pria itu? Kenapa mengajak orang lain lagi untuk segera datang?" batin Dito merasa sangat penasaran. Berjuta pertanyaan dan juga pikiran buruk melayang bebas di otaknya.