
Tak terasa kini usia kandungan Dinda sudah memasuki trimester akhir, itu artinya tinggal menanti hari H sang buah hati akan lahir ke dunia. Setelah ia mengetahui bahwa sang suami hanya menginginkan anaknya saja, Dinda tidak tinggal diam.. Ia pulang ke rumah orang tuanya dan menceritakan semua keluh kesahnya. Orang tuanya tak terima anaknya dijadikan alat, segala cara sudah di lakukan kedua orang tuanya dari mulai berdiskusi antar keluarga hingga memberi peringatan keras, namun semuanya sia-sia.. Keluarga Rio sangatlah kaya raya jadi tidak mudah bagi Dinda dan keluarga melawannya. Satu-satunya jalan ialah melaporkan ke polisi, namun Dinda melarangnya karena ia ingin fokus dulu dengan kelahiran anaknya, ia takut terjadi sesuatu dengan kandungannya jika melawan keluarga Rio lagi.
"Anak mamah sayang.. Kamu yang kuat ya di dalam sana, jangan rewel dan tetaplah sehat nak, percayalah mamah sangat menyayangimu dan mamah akan menjagamu dari marabahaya, yuk sama-sama saling menguatkan nak.." gumam Dinda sambil mengelus perut buncitnya.
Lalu Sri-ibunda Dinda masuk ke kamar anaknya dan melihat Dinda sedang berinteraksi dengan calon anaknya, pemandangan yang membuat hati ibundanya sangat pilu.
"Din.." sapa Sri lembut lalu duduk di samping Dinda.
"Eh ibu.. Iya bu ada apa?" tanya Dinda sambil menyeka air matanya.
"Sebentar lagi anakmu akan lahir apakah kamu sudah siap jika anakmu sewaktu-waktu di ambil suamimu?" tanya Sri dengan sedih.
"Bu... Dinda gak siap jika harus kehilangan anak ini, dia harta Dinda yang sangat berharga bu.. Dinda akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan mereka, Dinda yakin jika nanti Dinda lah pemenangnya," ucap Dinda sambil berurai air mata.
"Aamiin.. Keluarga suamimu sungguh sulit di kalahkan nak, mereka punya pengaruh besar, jadi janganlah gegabah," nasehat Sri dan Dinda hanya mengangguk patuh, lalu tiba-tiba perutnya sakit sekali.
Ia merintih kesakitan dan ibundanya melihat ada cairan bening yang mengalir di paha anaknya, sontak ibundanya histeris dan segera membawa anaknya ke rumah sakit.
"Pak.. Bapak... Dinda pak," teriak Sri.
"Dinda kenapa bu?" tanya Tono-ayah Dinda jalan tergesa-gesa.
"Dinda mau melahirkan, siapkan mobil pak kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang," ucap Sri panik dan Tono langsung bergegas menyiapkan mobil.
Untung Dinda segera mendapat pertolongan yang tepat, jika tidak maka nyawa janinnya akan terancam.
"Dok apakah anak saya bisa melahirkan sekarang?" tanya Sri panik.
"Bisa bu dan harus segera di lahirkan, kalau tidak takutnya nanti janinnya di dalam keracunan air ketuban yang sudah keruh, suaminya dimana bu? Soalnya harus ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani," ucap dokter dengan tenang.
__ADS_1
"Suaminya sedang perjalanan dok, jaraknya pun jauh jadi bisa gak kalau di wakilkan sama ayahnya saja? Saya takut terjadi sesuatu dengan anak saya," pinta Sri berbohong. Sebenarnya ia tidak memberitahu Rio maupun keluarganya, ia tidak mau di situasi genting seperti ini yang di pikirkan mereka hanya mengambil anaknya saja.
"Baik kalau begitu, mari pak ikut saya," ucap dokter lalu Tono mengikuti dan menandatangi berkas.
1 jam kemudian Dinda sudah melahirkan anak kembar yang sangat menggemaskan. Sebuah mukjizat bagi Dinda diberi anugerah dengan kedua malaikat kecilnya. Kedua orang tuanya pun terkejut jika anaknya melahirkan anak kembar, namun semua itu terbayarkan dengan wajah sang cucu yang sangat menggemaskan.
"Nak selamat ya kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu, anak kamu kembar nak.. Sungguh ini mukjizat dari Tuhan," ucap Sri terharu.
"Iya bu, Dinda juga kaget ketika diberitahu dokter jika anak Dinda kembar, apa ini jawaban atas doa Dinda ya bu?" tanya Dinda.
"Kok bisa?" tanya Sri bingung.
"Dinda gak mau berpisah dengan anak Dinda bu, jadi ini jawaban Tuhan untuk Dinda.. Anak Dinda kan kembar, jadi kalau mas Rio mau mengambilnya setidaknya Dinda masih bisa mengurus yang satunya lagi," ucap Dinda tegar.
"Tapi tetap saja ibu tidak setuju jika mereka yang mengurus anakmu, kasih nafkah pun enggak. Eh enak saja asal mau ambil, ibu gak setuju, pokoknya ibu dan bapak siap pasang badan," ucap Sri tak terima.
"Bapak juga setuju dengan usul ibumu," ucap Tono sambil mengepalkan tangan.
"Anakku.. Mah ini anak Rio," ucap Rio terharu dan menciumi kedua anaknya.
"Iya cucuku kembar, terima kasih Dinda, kamu memang pembawa hoki," ucap Mayang bahagia.
"Terima kasih sayang sudah melahirkan kedua malaikat kecil kita dengan selamat dan tanpa kurang satu apapun," ucap Rio tulus.
"Mas.. Gak usah banyak drama, katakan saja apa tujuanmu datang kemari dan siapa yang memberitahu," ucap Dinda ketus.
"Kedatanganku kesini ya pure melihat kedua malaikat kecilku, memang apa lagi?? Yang memberitahu kita adalah mata-mata sewaan ku yang selama ini memantau kalian," ucap Rio dengan enteng.
"Cih.. Gak perlu pakai mata-mata kami bisa merawatnya dengan baik," ucap Dinda ketus.
__ADS_1
"Hanya untuk berjaga saja, setidaknya membuahkan hasil, aku langsung mendapatkan dua keturunan sekaligus," ucap Rio senang.
"Ingat mas sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkan anak ini, dia adalah anakku dan aku yang mengandungnya selama ini, dimana kamu sebulan ini? Menafkahi pun tidak, jangan harap bisa mengambil mereka dengan mudah," gertak Dinda.
"Gak bisa begitu dong Din.. Anak kamu kan ada dua ya setidaknya berikanlah Rio satu, dia juga ayahnya, dia juga berhak merawat anak ini, jangan egois," ucap Mayang tak terima.
"Apa mah? Egois? Haha mamah gak lagi melawak kan? Disini siapa yang egois? Dinda hanya mempertahankan hak Dinda untuk merawat anak, yang egois justru kalian.. Kalian yang dengan teganya bersandiwara di belakang Dinda supaya mendapatkan seorang anak, kenapa tidak kalian adopsi saja dari panti asuhan atau panti sosial, mengapa harus Dinda yang jadi korban, mengapa mah? Apa mamah sudah tidak punya hati sehingga dengan teganya menerima usulan licik Sisil, ingat mah tidak ada yang namanya mantan anak," gertak Dinda menatap Mayan tajam.
"Mamah tidak bilang menyetujui rencana Sisil, mamah memang sangat ingin memiliki cucu karena Rio anak tunggal, mamah hanya ingin itu Dinda.. Mamah juga awalnya kecewa ketika tau Sisil di vonis tidak bisa memiliki anak, namun mau gimana lagi? Hidup harus terus berjalan kan dan mamah tidak munafik jika sangat menginginkan sosok cucu, mamah juga lambat laun akan semakin menua, siapa yang menghibur mamah kalau bukan cucu?" ucap Mayang tak terima dengan tuduhan Dinda.
"Nyatanya mamah menyetujui usulan Sisil untuk menjadikan ku alat penghasil anak kan? Mamah sama Sisil itu sama saja, pantas kalian ini cocok," sindir Dinda.
"Dinda.. Jaga ucapan mu," gertak Rio.
"Kenapa mas? gak terima?? lebih gak terima aku mas, aku... Aku ini ibunya dan akulah yang susah payah mengandung mereka, jangan sampai aku melaporkan ini ke pihak kepolisian jika kalian tetap nekat membawa salah satu di antara mereka," gertak Dinda serius.
"Kenapa kamu menjadi mengancam kami? Kami ini juga keluarganya," ucap Mayang tak terima.
"Keluarga? Haha kalian pandai sekali melawak.. Mana ada keluarga yang membiarkan aku dijadikan alat!! Ingat mah aku disini korban jadi jangan memutar balik keadaan," gertak Dinda.
"Cukup Dinda.. Aku muak dengan semua perkataan mu, kami disini datang baik-baik ingin menengok anakku, kenapa kamu memancing emosi kami, ha? Apa salah jika aku menginginkan salah satu diantara kedua anak kami, setidaknya ini adil kan? kamu dapat dan saya pun juga, jadi apa yang di permaslahkan? Biaya? Tenang saja aku tidak akan luput dari tanggung jawab, kalau perlu kita buat perjanjian hitam di atas putih disertai saksi dari pengacara, bagaimana?" usul Rio.
"GAK.. MAU KAMU PANGGIL SERATUS PENGACARA PUN TETAP AKU TIDAK SETUJU MAS, ANAK-ANAK TETAP DENGANKU DAN DALAM PENGAWASAN KU. AKU INI IBUNYA DAN MEREKA MENYUSUI DARI AIR SUSUKU JADI JANGAN HARAP BISA MEMISAHKAN MEREKA MAS, INGAT AKU TIDAK MAIN-MAIN!!" gertak Dinda emosi.
"Din jangan egois dong. aku juga ingin merawat anak," pinta Rio.
"Pergi dari sini, kehadiran kalian tidak di harapkan," usir Dinda.
"Din.." ucap Rio geram.
__ADS_1
"Dengar apa yang di inginkan anakku? Pergi atau kami panggil security dan memblaclist kalian supaya tidak boleh masuk," ancam Tono tegas.
"Oke kami akan pergi, tapi ingat satu hal, kami tidak akan tinggal diam," ancam Rio lalu mencium kedua anaknya dan pergi.