
Hari ini Rio berangkat ke kantor agak siangan karena ia merasa kurang enak badan, masalah yang datang di hidupnya akhir-akhir ini sungguh menguras tenaga serta pikirannya hingga kesehatannya pun ikut terganggu.
Drrttt... Ddrrtt.. Dering ponsel Rio.
"Halo? Ada apa?" tanya Rio pada sekretarisnya.
"Halo selamat pagi pak maaf menganggu.. Saya mau mengabarkan kalau hari ini ada tamu dari PT. PRAKARSA MAKMUR," jawab sekretaris dengan hati-hati.
"Ada apa lagi mereka datang kemari?" tanya Rio kaget.
"Saya kurang tau pak tetapi mereka kekeh ingin menunggu anda," jawab sekretaris.
"Astaga padahal saya kan udah bilang hari ini, berangkat siang," omel Rio.
"Maaf Pak tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah tiba di sini," jawab sekretaris takut.
"Yasudah suruh mereka menunggu, 30 menit saya tiba," suruh Rio lalu segera bersiap ke kantor.
"Ada apa lagi dia kesini? Mau minta ganti rugi? Duit darimana? Aduh.. Memang salah gue waktu itu main-main sama gengster," gumam Rio.
Lalu Rio sudah tiba di kantor dan dia dikejutkan dengan kehadiran 4 orang mirip preman dengan perawakan tinggi, tegap, badan besar dan wajah mengerikan. Rio dibuat tertegun melihatnya sambil sesekali memberi kode mata pada sekretarisnya namun sang sekretaris hanya diam saja dan menunduk.
"Kenapa dia gak bilang kalau yang datang tuh preman," batin Rio kesal.
"Ehem.." deheman salah satu mirip preman.
"Eh maaf sudah menunggu lama, silahkan duduk dulu pak," ucap Rio berusaha ramah dan mereka tanpa jawaban langsung duduk tegap.
"Gue harus ngomong darimana nih?" batin Rio kebingungan.
"Selamat pagi semuanya maaf atas keterlambatan saya, suatu kehormatan bagi saya bisa berjumpa dengan anda," sapa Rio.
"Hm.. Kami tidak mau berbasa-basi, tempo hari bos besar kami sudah datang kemari dan pastinya anda tau mengapa sekarang kami yang datang," sindir premannya.
"Oh itu.. Benar sekali bos anda waktu itu sudah meluangkan waktunya datang kemari, namun saya sudah berunding dengan beliau dan meminta waktu untuk melunasi semuanya," ucap Rio dengan hati-hati.
"Kami rasa waktu yang diberikan bos besar sudah sangat banyak dan lama jadi sekarang kami diutus untuk menagihnya," gertak preman.
"Tapi saya belum ada uang sebanyak itu, perusahaan juga sedang berjuang bangkit," ucap Rio memohon.
"Kami tidak peduli, yang kami butuhkan lunasi," gertak preman dengan wajah sangarnya.
__ADS_1
"Untuk saat ini saya belum bisa," jawab Rio.
"Lalu kapan?" tanya preman.
"Saya usahakan secepatnya," jawab Rio.
"BRAK.. ANDA MAU MEMPERMAINKAN KAMI?" tanya preman murka dan menggebrak meja, nyali Rio seketika ciut.
"Tidak.. Sangat tidak.. Tidak pernah ada di pikiran saya untuk mempermainkan bos besar kalian, percayalah.. Berikan saya waktu melunasi ini," pinta Rio memohon.
"Anda saya tanya waktunya sampai kapan malah jawabannya seperti meremehkan, jangan pernah ada niat mempermainkan kami," gertak preman.
"Iya.. Percayalah saya tidak ada niat seperti itu," ucap Rio ketakutan.
"Silahkan katakan sendiri pada bos besar kapan anda akan melunasi semua utangnya, jika anda memperlambat maka jangan salahkan kami yang akan bertindak," gertak preman lalu menghubungi boy.
"Hey yo.. Gimana hasilnya?" sapa boy.
"Yang bersangkutan ingin mengatakan sendiri kapan waktunya bos, ini orangnya," ucap preman menyerahkan ponsel pada Rio.
Rio mengambil ponsel sambil tangannya bergetar, ia sungguh ketakutan dan bingung mau menjawab apa. Sedikit salah kata bisa berakibat fatal.
"Halo.. Boy.. How are you?" sapa Rio basa-basi.
"Say hanya ingin mendengar kabar membahagiakan, saya sudah muak mendengar curhatan receh mu Rio Suganda," sindir boy dan Rio yang mendengarnya langsung terdiam. Ia kebingungan mau menjawab apa.
"Cepat katakan.. Waktu kami tidak banyak," ucap preman memperingati.
"Ya ya maaf," jawab Rio lalu bersiap merancang kata-kata.
"Seperti yang anda tahu bahwa perusahaan saya sedang mengalami kebangkitan setelah hampir gulung tikar, saya tau anda orang baik makanya itu berikan saya waktu untuk mengembalikan semua dana yang sudah saya gunakan, jujur saja untuk saat ini bahkan bulan-bulan ini saya belum ada uang sebanyak itu apalagi anda menagihnya secara tiba-tiba jadi saya juga kaget dan kalang kabut mencari dana," ucap Rio dengan hati-hati.
"Sudah saya katakan jika saya tidak mau mendengar curhatan anda, katakan saja kapan waktunya dan akan saya pertimbangkan," sindir boy.
"Bagaimana kalau 6 bulan lagi?" tanya Rio.
"Kenapa tidak 10 tahun sekalian," sindir boy.
"Tidak.. Mana mungkin anda mau menunggu selama itu," ucap Rio.
"Anda cerdas juga, 6 bulan terlalu lama bagi saya.. Berikan setengahnya pada anak buah saya sekarang dan saya akan menyetujui jika 6 bulan kemudian akan kau lunasi," ucap boy dengan entengnya.
__ADS_1
"Mana punya aku separuh uang yang pernah anda tanam?" tanya Rio kaget.
"Itu bukan urusan saya.. Berikan setengahnya atau perusahaan perlahan aku ambil alih," gertak boy.
"Nilai jual perusahaan ku berkali-kali lipat dari uang yang anda tanamkan, jadi kalau anda ambil alih rasanya saya yang rugi," tolak Rio.
"Haha.. Itu resiko anda berurusan dengan saya, lagian ini semua setara dengan rasa sabar yang saya berikan, semua pilihan ada di tangan anda," gertak boy dan Rio dibuat pusing dengan keputusan dadakan ini.
"Beri saya waktu.. Besok saya akan kabari hasilnya, aku janji," pinta Rio.
"No.. Seorang CEO harus siap di segala situasi dan harus siap dengan keputusan mendadak, selama ini anda tidak pernah dilatih itu ya makanya perusahaan anda gampang sekali dibuat bangkrut," sindir boy.
"Tolong beri saya waktu.. Siang ini, ya siang ini akan saya putuskan, ini berat untuk saya," pinta Rio memohon.
"Ok.. Tepat jam 12 siang segera kabari atau saat itu juga setengah saham menjadi milikku," ancam boy yang membuat Rio semakin kalut pikirannya lalu boy memutuskan telepon.
"Saya rasa apa yang dikatakan bos besar sudah sangat jelas dan mudah di pahami, nanti kami akan datang lagi kemari, ingat pak Rio Suganda.. Jika anda terbukti main-main jangan harap kami akan diam," ancam preman lalu beranjak pergi. Rio rasanya mau pingsan menghadapi situasi yang membuatnya syok terapi.
"Bapak gak papa? Saya ambilkan minum," tanya sekretaris khawatir dan mengambil segelas air putih, Rio langsung menenggaknya hingga habis.
"Astaga sepertinya pak Rio sungguh tertekan, kasihan sekali dia tapi mau gimana lagi gue gak bisa bantu apa-apa," batin sekretaris iba.
"Makasih.." jawab Rio menyerahkan gelas.
"Sama-sama pak, lebih baik bapak tenangkan pikiran dulu supaya keputusan yang diambil nantinya tidak merugikan perusahaan," nasihat sekretarisnya.
"Kamu benar.. Tolong tunda semua jadwal saya hari sampai besok, saya sungguh ingin menenangkan pikiran," pinta Rio dan sekretaris mengerti itu.
"Duit perusahaan ada berapa ya? Ah semua ini gara-gara Sisil.. Andai dia gak haus uang mana mungkin gue menderita seperti ini, oh iya Sisil.. Gue harus menemui dia dan memaksa dia memberikan uang yang dicuri," gumam Rio seketika mendapatkan ide dan bergegas menghampiri Sisil. Tanpa disadari olehnya para preman tadi masih berada di lingkup kantor Rio.
"Mau kemana dia?" tanya preman melihat kepergian Rio yang terburu-buru.
"Ikuti.. Jangan ketinggalan jejak sembari saya kabari bos besar," perintah preman yang satunya lalu mereka mengikuti Rio dari kejauhan.
"Halo bos?" sapa preman.
"Halo bagaimana? Deal?" tanya boy tak sabar.
"Belum bos.. Kami mau mengabarkan bahwa target sedang meninggalkan kantor dengan terburu-buru," lapor preman.
"Ikuti dia dan jangan sampai kehilangan jejak, ingat dia itu licik.. Jika kalian kehilangan jejak awas saja," ancam boy emosi.
__ADS_1
"Baik bos.. Kami sedang mengawasi target dari kejauhan," jawab preman lalu boy memutus panggilan.
"Jika nantinya lo terbukti menghindari gue awas saja lo Rio.. Hidupmu gak bakal tenang, bakal gue cari sampai ke ujung dunia pun," gumam boy geram.