
"Maaf ya bu Frida.. Sedari tadi saya mendengar anda kok menyebut suami saya dengan sebutan mas Ryan? Sejak kapan anda memanggil itu?" tanya Dinda kesal.
"Ya sejak pertama jumpa, mas Ryan meminta saya untuk memanggil senyaman saya jadi ya saya manggilnya mas, karena saya pikir belum menikah, lagian gak ada cincin pernikahan di jarinya," jawab Frida tersenyum remeh.
"Ada kok.. Ini saya bawakan, memang waktu itu suami saya kelupaan bawa karena harus buru-buru berangkat, nih saya pasangkan," ucap Dinda memasangkan cincin di jari Ryan.
"Ya gak harus didepan saya juga kali!" protes Frida.
"Salah sendiri anda masih betah disitu, udah tau disini sudah ada istrinya yang siap menemani malam panjangnya, lagi pula apa pantas perempuan menyambangi kamar suami orang malam begini? Kalau ada yang tau gimana? Apa anda tak malu nantinya? Lagian anda kok sepertinya aneh ya, main kok dikamar suami orang, main tuh diluar, mall kek, nyalon kek atau apa, jangan main ke kamar suami orang bu," sindir Dinda.
"Kurang ajar! Jadi maksudmu saya ini sedang menggoda suami kamu gitu?" tanya Frida tak terima.
"Kok anda menjurus kesana? Karena penampilan anda begitu? Oh iya ya.. Ngapain main ke kamar suami orang pakai pakaian begitu bu? Kurang bahan? Sini saya jahitkan," sindir Dinda.
"Gak perlu! Jangan sok baik! Ingat ya.. Disini saya berkepentingan dengan suami anda, mas Ryan, setelah pagi hingga sore jangan ikut campur!" tegur Frida mulai geram.
"Dan anda juga harus tau satu hal! Memang saya membiarkan suami saya ketika bekerja, saya percaya penuh jika nantinya suami saya tetap setia dengan saya, yang membuat saya risih adalah panggilan anda untuk suami saya! Kenapa harus menggunakan kata mas?? Jujur.. Saya risih mendengarnya! Dia suami saya dan hanya saya yang berhak memanggil itu karena mas Ryan adalah nama panggilan kesayangan saya kepadanya, saya gak mau ada orang lain meniru meskipun itu kliennya sendiri! Mas Ryan adalah nama panggilan kesayangan dan juga mas Ryan adalah milik saya!" ultimatum Dinda.
"Jangan lagi memanggilnya dengan sebutan itu karena saya gak suka dan hanya saya yang berhak memiliki mas Ryan karena saya istri sahnya," ultimatum Dinda lagi dengan suara penuh penekanan.
"Berhubung ini sudah larut malam, alangkah baiknya bu Frida kembali ke kamar, saya ada urusan dengan istri saya," usir halus Ryan. Sebenarnya telinga Ryan sedari tadi risih mendengar perdebatan dua wanita didepannya, tapi mau gimana lagi? Kalau nanti Ryan membela kliennya disangka Dinda diantara dia dan Frida ada hubungan, jika perdebatan dibiarkan terus menerus pasti akan melebar kemana-mana.
"Baik.. Baik saya akan kembali ke kamar, tapi ingat satu hal bu Dinda, anda berurusan dengan saya dan jangan harap ini akan lepas dengan mudah!" gertak Frida berjalan pulang.
__ADS_1
Setelah memastikan kliennya kembali ke kamar, kini Ryan sudah tak sabar mendengar penjelasan istrinya.
"Bu Frida sudah pergi, lihat kan betapa murkanya dia?" ucap Ryan mengawali obrolan.
"Lalu semua ini salahku, gitu mas? Kedatangan ku menganggu momen berdua kalian?" sindir Dinda.
"Bukan begitu sayang.. Ada masanya berbicara dengan seseorang itu melihat situasi dan kondisi, dia klien ku dan dia merupakan orang berpengaruh di kota ini, aku gak mau aja kalau yang terjadi barusan bakal berbuntut panjang," jawab Ryan khawatir.
"Sayangnya aku gak takut sama sekali! Jelas-jelas dia yang salah, udah tau ada istrinya disini bukannya pulang malah tetap disini, siapa yang gak kesal? Mana alibinya boring di kamar lagi, kalau dia memang berduit ya harusnya mudah banget dong habisin waktu, meni cure pedicure kek, hangout ke mall, makan di restoran atau nongkrong di kafe," ucap Dinda gemas.
"Itu... Itu dia yang membuat aku heran, lagian aku gak pernah tuh memberinya harapan, selama ini aku bekerja sesuai adanya, gak lebih," ucap Ryan meyakinkan Dinda.
"Ya itu kan menurutmu mas, mana pernah kamu tanya bagaimana menurut dia?" tanya Dinda.
"Hebat banget dong, udah punya suami tapi deketin suami orang, apa suaminya gak bisa puasin?" ejek Dinda.
"Gak tau dan tidak mau tahu, sudah jangan dibahas lagi tentang bu Frida, malah jadi kemana-mana kan pembahasan nya," tolak Ryan geli sendiri, bisa-bisanya sang istri memiliki pemikiran sejauh itu.
"Jangan sampai suatu saat kedok kalian terbongkar mas! Jika diantara kalian memang ada hubungan, awas aja!!! Jangan harap aku akan memaafkan mu," ancam Dinda serius.
"Aku tak seburuk itu sayang, percayalah," pinta Ryan.
"Dan aku tak akan semudah itu percaya, gak hanya satu wanita loh mas, dalam beberapa minggu ini ketahuan ada dua wanita, berapa banyak wanita mu dibelakang ku mas?" pekik Dinda.
__ADS_1
"Gak ada wanita lain selain kamu sayang, hanya kamu, gak ada yang lain, percayalah," pinta Ryan.
"Bulshit! Gampang banget bilang gitu kek gak ada beban!" umpat Dinda.
"Sekarang kamu kok jadi kasar gini?" tanya Ryan kaget.
"Why? Kaget??? Aku kasar karena mas duluan yang memulai, setidaknya per hari dimana mas Ryan ketahuan di butik sama wanita lain, detik itu juga aku bersikap keras mas!" jawab Dinda.
"Semua yang kamu tuduhkan gak ada buktinya sayang, aku ke butik cuma mengantarkan aja, gak lebih," bantah Ryan.
"Semoga saja itu benar, belum aku menyelesaikan wanita bernama Indah, sudah kamu tambahi dengan Frida!" sindir Dinda.
"Percayalah jika tak ada wanita lain selain kamu, aku berani bersumpah, kamu dan anak-anak prioritas ku," pinta Ryan bersimpuh di kaki Dinda.
"Gak gini juga mas!" protes Dinda menjauh.
"Apa sudah habis rasa percayamu kepadaku?" tanya Ryan memastikan.
"Menurutmu mas?" tanya balik Dinda.
"Menurutku, iya.. Kamu sudah mengikis rasa percaya terhadapku, asal kamu tau sayang, selama ini aku banting tulang untuk kalian agar bisa hidup enak, aku sampai mengambil job dadakan diluar kota seperti ini juga demi kalian, berapa banyak klien wanita yang sudah aku bantu masalahnya? Apakah diantara mereka semua ada yang berhubungan lebih dari sekedar lawyer dan klien? Ada gak? Hanya karena bu Frida terlihat lebih dekat langsung kamu berasumsi diantara kami ada hubungan khusus," jawab Ryan penuh penekanan. Jengah rasanya selalu dituduh tanpa bukti yang jelas apalagi semuanya hanya kebetulan saja. Memang benar waktu itu Ryan ada datang ke butik, tapi itu hanya mengantarkan tante Indah saja, selebihnya ia langsung pergi, sedangkan dengan Frida, baru kali ini ia merasa heran menghadapi klien seperti dia, seperti sudah putus urat malunya, Ryan juga tak menyangka jika Frida berani masuk ke kamarnya padahal mereka sudah sama-sama memiliki pasangan.
Mendengar penuturan dari hati ke hati membuat Dinda tak kuasa menahan air mata, rasa emosi yang sedari tadi meledak kini tiba-tiba meredam. Apakah ini yang dinamakan kekuatan cinta?
__ADS_1