
Puas menikmati hidangan, mereka segera melajukan perjalanan ke tempat Ryan menginap, semoga saja dia ada di sana, kalau pun gak ada ya terpaksa mereka menunggu dulu. Sebelum tiba di tempat hotel Ryan berada, Rio mengajak Dinda ke sebuah mall untuk membeli atribut menyamar seperti kacamata, masker dan topi. "Kalau beli topi apa gak mencolok banget jika kita sedang mengintai?" tanya Dinda.
"Iya juga sih, yaudah kamu beli kerudung aja dan pakai kacamata juga masker, tapi kacamata nya yang warna transparan biar tidak mencolok," usul Rio dan Dinda setuju.
Setelah selesai berbelanja mereka memakai atribut didalam mobil lalu kembali melajukan sisa perjalanan. Tiba di hotel yang dimaksud, perasaan Dinda sangatlah cemas, ia takut jika ada Frida didalam kamarnya Ryan.
"Jangan panik apalagi gugup, dimana kamar suamimu? biar kita pesan disekitar sana," tanya Rio.
"Pesan hanya satu kamar? Kalau tau suamiku apa gak jadi masalah?" tanya Dinda memastikan.
"Gak akan, aku yang nantinya bertanggungjawab," jawab Rio dengan santai lalu Dinda memberitahu dimana nomor kamar Ryan dan disaat itu pula Rio memesan kamar yang tepat berada di seberangnya, hanya selisih satu kamar dari Vika.
Ketika sampai didepan kamar yang dipesan, tak sengaja Dinda melihat ada Vika di sana, kamarnya pun persis didepan kamar Ryan. Apakah suaminya tau jika ada Vika disini? Belum selesai Frida dan Indah kini ada lagi Vika.
"Ada apa, Din? Kamu lihat suamimu?" tanya Rio.
"Enggak.. Aku lihat ada mantannya mas Ryan disini dan kebetulan sekali kamarnya ada didepan kamar mas Ryan," jawab Dinda lirih.
"Kamu yakin itu kebetulan?" tanya Rio berpikir lain.
"Ya bisa aja kan kebetulan dia dapat kamar yang hadap-hadapan dengan mas Ryan," jawab Dinda berusaha berpikir logis.
"Sayang sekali pikiranku tak seperti itu," sanggah Rio.
"Memang kamu mikirnya apa??" tanya Dinda.
"Kamu masuk dulu biar aku yang urus," jawab Rio.
"Mau apa?" tanya Dinda penasaran.
"Nanti kamu juga tahu, udah masuk dulu sana," jawab Rio lalu Dinda menurut. Didalam kamar dengan mantan suami bukanlah hal yang pantas, ini hal yang bisa membuat rumah tangga berantakan. Meskipun nantinya ketahuan oleh Ryan jika mereka sekamar, apakah Ryan akan percaya jika didalam sini tak ada aktivitas yang lain?
10 menit, 20 menit Dinda menunggu Rio. Tak ada tanda-tanda jika Rio akan masuk, akhirnya Dinda memutuskan untuk keluar, baru juga menarik pintu udah ada Rio yang akan masuk juga. "Mau ngapain? Udah aku bilang kamu didalam saja," tanya Rio.
"Habisnya kamu lama, kirain ada apa diluar," jawab Dinda.
"Sini duduk.. Lihatlah," ajak Rio lalu mereka duduk bersebelahan di kasur yang empuk. Mata Dinda membelalak sempurna ketika tau jika selama di luar tadi Rio memasang CCTV didepan kamarnya juga kamar Vika, otomatis aktivitas mereka akan bisa dipantau via ponsel.
__ADS_1
Hingga 2 jam memandang CCTV tak ada pergerakan sama sekali, Dinda sampai bosan dan hampir saja mengalihkan perhatian sampai akhirnya Rio berbicara cukup kencang yang membuat telinganya sakit.
"Jangan teriak dong," protes Dinda mengusap telinganya.
"Maaf.. Maaf.. Saking excited nya, ini suamimu," tunjuk Rio yang memperlihatkan jika Vika dan suaminya sedang berbincang cukup akrab.
"Gak mungkin ini hanya kebetulan, kamu terlalu naif," tegur Rio yang membuat hati Dinda sedih.
"Loh.. Ini.. Kenapa mas Ryan membelai rambut Vika begitu mesranya?" tanya Dinda lirih namun didengar Rio.
"Karena mereka ada hubungan, aku yakin beberapa menit lagi akan ada hal yang mengejutkan," tebak Rio.
"Jangan suudzon dulu," bantah Dinda.
"Coba telepon suamimu sekarang, katakan dia ada dimana," tantang Rio dan Dinda akan membuktikan jika pikiran Rio salah besar.
"Baik.." jawab Dinda dengan tegas lalu beberapa kali menghubungi suaminya dan sama sekali gak diangkat, hingga panggilannya yang terakhir baru diangkat.
"Halo.. Kamu dimana mas?" tanya Dinda.
"Lagi kerja, nanti kalau udah selesai aku telepon balik, di rumah aman kan?" tanya balik Ryan.
"Bohong kan? Makanya jangan naif jadi cewek," sindir Rio.
"Aku gak nyangka mas Ryan tega membohongiku demi Vika," ucap Dinda lirih.
"Nih lihatlah, dimana mereka sekarang?" tunjuk Rio yang memperlihatkan rekaman dimana Vika dan Ryan masuk ke dalam kamarnya Ryan, mereka satu kamar.
"Gak perlu di jabarin juga kan mereka ngapain di sana," ucap Rio yang tau saat ini hati Dinda hancur.
"Aku gak nyangka mas Ryan akan tega begitu," ucap Dinda lirih.
"Dan aku yakin ini bukan adegan pertama kalinya," ucap Rio sangat yakin.
"Kenapa kamu selalu menganggap semua orang buruk sih?" protes Dinda.
"Faktanya benar kan? Apa yang aku omongin bener semua gak?" tanya Rio memastikan.
__ADS_1
"Mungkin kebetulan," jawab Dinda.
Rio tak lupa screenshot adegan dimana Rio dan Vika masuk ke dalam kamar apalagi adegan mesra keduanya ketika masih ada didepan, yaitu Ryan membelai rambut Vika juga sesekali mencubit pipi Vika.
"Pria tak bersyukur! Dikasih berlian malah milih batu kali!" umpat Rio emosi. Setelah berhasil screenshot, Rio bergegas mematikan CCTV dan lebih menenangkan Dinda.
Sekuat tenaga Dinda menahan air matanya agar tak tumpah, sebisa mungkin Dinda tak menunjukkan jika sedang sedih, hatinya sangat sakit ketika tau suaminya berpaling, pantas saja ia selalu menunda kepulangannya, ternyata sekarang sudah bertemu tempat untuk pulang.
"Jika ingin menangis maka menangis lah, jangan kamu sembunyikan, jangan sok kuat, tak ada pasangan yang akan biasa saja ketika tau pasangannya berpaling," tegur Rio menatap Dinda.
"Aku.. Aku hanya tak menyangka jika sekarang suamiku sudah bertemu tempatnya untuk pulang, ternyata ini alasan kenapa dia selalu menunda pulang," ucap Dinda sungguh menyayat hati.
"Dia sedang buta, makanya tak bisa melihat bidadari seindah kamu," puji Rio.
"Aku lagi sedih, tolong jangan modus!" tegur Dinda.
"Aku bicara fakta," ucap Rio tegas.
"Aku ingin menemui mereka, boleh temani aku?" pinta Dinda penuh harap.
"Dengan senang hati, ayo.." ajak Rio semangat.
"Tapi tolong jangan ada adu otot," pinta Dinda.
"Tergantung gimana suamimu padaku, gimana juga responnya ketika tau ketangkap basah," ucap Rio.
Lalu mereka berdua berjalan menuju kamar Ryan, tepat didepan kamar, jantung Dinda semakin berdegup kencang bahkan tubuhnya gemetar.
"Genggam tanganku jika kamu lemah," pinta Rio.
"Jangan.. Aku gak mau suamiku salah paham," tolak Dinda.
"Baiklah, aku hargai itu, bisa-bisanya kamu memikirkan perasaan Ryan di saat dia saja sedang bersenang-senang," ucap Rio tak habis pikir.
Karena tak sabar, Rio bergegas mengetuk pintu namun tak juga dibuka, jelas sekali dari luar kamar mereka mendengar ******* Ryan juga Vika yang sangat menyayat hati Dinda.
"Bo-dohnya kenapa gak dikunci nih kamar! Saking pengennya kali ya," gumam Rio yang bersiap memegang ponsel dan menekan tombol video. Tepat Rio merekam, saat itulah Rio membuka pintu dan terpampang dengan jelas bagaimana penampakan menjijikan didepan matanya.
__ADS_1
"MASSSSS..." bentak Dinda tak bisa lagi membendung air matanya.