
Sepulang dari kerja Ryan langsung membersihkan tubuh dan beristirahat, hari ini rasanya sungguh melelahkan untuknya. Dinda yang masih terjaga menanti suaminya pulang merasa heran dengan sikap suaminya itu, lalu Dinda mencoba bertanya dengan hati-hati.
"Mas.." sapa Dinda sembari duduk di sisi ranjang.
"Hmm.. Ya ada apa?" jawab Ryan.
"Kamu ada masalah apa mas kok wajahnya kusut gitu?" tanya Dinda penasaran.
"Biasalah masalah pekerjaan," jawab Ryan tak mau menceritakan yang sebenarnya.
"Serius mas? Gak bohong kan?" cecar Dinda.
"Gak ada sayang ini pure masalah kerjaan yang menumpuk seperti gunung, ini aja tak belain lembur masih aja belum kelar apalagi besok banyak janji temu dengan klien, fyuh.." keluh Ryan sambil mengusap wajah kasar.
"Astaga pasti sangat melelahkan ya mas? Jangan terlalu di paksa mas nanti gak baik untuk kesehatanmu, mau tak buatin teh hangat?" tegur Dinda.
"Iya sayang.. Ini hanya sementara kok mungkin beberapa hari lagi udah normal, gak usah sayang makasih.. Hari ini capek sekali pengennya langsung tidur, yuk tidur aja," ajak Ryan lalu Dinda menurut. Setidaknya ia merasa lega karena suaminya ada masalah perihal pekerjaan yang tertunda, bukan masalah lain.
Pagi harinya baik Ryan dan juga Dinda sudah bersiap untuk melakukan kesibukannya masing-masing, sarapan pun sudah Dinda persiapkan dan kini mereka berempat sarapan dengan hangat sambil ngobrol ringan.
"Papah kemarin kok pulang malam sih," protes Farel.
"Maaf ya boy papah kerjaannya banyak jadi harus lembur, nanti kalau udah selesai semua papah janji akan pulang cepat," ucap Ryan.
"Oke pah.. Janji ya," ucap Farel memastikan.
"Janji boy.. Yuk sarapan dulu setelah itu berangkat sekolah," ajak Ryan lalu mereka sarapan bersama dan setelah itu seperti biasa, Ryan mengantar kedua anaknya ke sekolah lalu mengantar Dinda kerja. Rutinitas yang membuat Ryan semangat bekerja dan merasa hari-harinya berwarna.
Setibanya di kantor, Ryan langsung mengerjakan semua pekerjaan yang kemarin gagal di tuntaskan, Ryan ingin secepatnya menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa pulang cepat.
"Selamat pagi pak.. Nanti jam 10 siang kita ada janji temu dengan pak Broto di Starbak Kafe," sapa sekretarisnya mengingatkan.
"Ok atur aja janji temu dengan beberapa klien, kalau bisa hari ini langsung rampung," ucap Ryan sambil fokus menganalisa dokumen.
"Mana bisa pak? Klien kita terlalu banyak loh, sehari palingan kita bisa bertemu dengan 4-5 klien," tegur sekretarisnya kaget.
"Ya bisa aja dibuat sehari," ucap Ryan enteng.
"Gak bisa bapak Ryan Hadiningrat" tegur sekretarisnya.
"Yasudah yasudah.. Laporkan jadwal saya hari ini," ucap Ryan ingin tahu.
"Baik Pak.. Untuk hari ini ada janji temu dengan 4 klien, yang pertama dengan bapak Broto pukul 10 siang di kafe Starbak, yang kedua dengan bapak Eko pukul 1 siang di Famous kafe lalu setelah itu jam 3 sore bertemu dengan ibu Ratu di Luxurious Kafe dan terakhir bertemu dengan ibu Rani yang nantinya klien akan datang langsung kesini, perkiraan jam 5 sore, itu jadwalnya pak," ucap sekretaris dengan detail.
__ADS_1
"Kenapa jarak waktunya pendek sekali?" protes Ryan.
"Ini sudah saya buat seaman mungkin pak agar kita tidak terburu-buru, baru 4 klien aja bapak udah protes gimana kalau semuanya," cibir sekretarisnya heran.
"Yaya yasudah makasih infonya, jangan lupa kamu nanti ikut bersama saya," perintah Ryan.
"Baik pak.. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit sekretaris pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Fyuh.. Kenapa jadwalnya padat merayap begini, memang sih nama gue sedang naik daun tapi berbanding terbalik dengan pekerjaan yang banyak dan tanpa henti," gumam Ryan sambil mengatur nafas.
Ting... Suara notifikasi hp Ryan.
"Hai Ryan ini gue Vika, save ya nomornya," isi chat Vika.
"Oh iya Vika, oke.." jawab Ryan singkat.
"Makasih Ryan, btw lo lagi apa?" tanya Vika.
"Lagi kerja lah ini kan jam kerja," balas Ryan kesal karena Vika bertanya tidak penting.
"Sorry.. Gue pikir lo urus pekerjaanmu sama staf mu ternyata lo sendiri yang handel," ucap Vika membuat Ryan mengernyitkan dahi.
"Apa maksudnya ngomong kayak gini? Namanya klien ingin memakai jasa gue ya harusnya gue langsung dong yang handel dan mempelajari semua perkaranya, mana ada di wakilkan pegawai gue.. Mereka job desknya bedalah, aneh banget dia," gumam Ryan tak ambil pusing dan memilih bekerja kembali.
"Hanya di read doang? Sombong sekali sih dia, cih lihat aja nanti.." gumam Vika kesal.
"Ini makanan favoritmu kan Ryan, gue masih ingat betul.. Semoga ini langkah awal yang baik untuk kembali mendekatimu," gumam Vika sambil melajukan mobil menuju kantor Ryan.
Sesampainya di kantor Ryan.
"Maaf anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya sekuriti memastikan.
"Oh saya ingin bertemu bapak Ryan Hadiningrat, dia teman saya dan kebetulan saya ingin mampir ke kantornya," ucap Vika dengan senyum ramah
"Apakah sudah membuat janji sebelumnya?" tanya sekuriti kembali memastikan.
"Belum.. Kalau bapak tidak percaya bisa tanyakan langsung kok sama atasan anda kalau saya ini beneran temannya," ucap Vika tersinggung.
"Maaf Bu saya hanya menjalankan prosedur karena sekarang siapa pun yang ingin masuk ke kantor harus di seleksi secara ketat," ucap sekuriti tak enak hati.
"Lalu apakah sekarang saya boleh masuk?" tanya Vika penuh penekan.
"Silahkan bu," jawab sekuriti membukakan pintu.
__ADS_1
Vika lalu berjalan masuk ke kantor sambil bertanya dimana ruangan Ryan, ternyata ruangan Ryan berada di lantai paling atas dan hanya ada ruangan dia beserta sekretarisnya saja.
"Selamat siang bu ada yang bisa saya bantu?" tanya sekretaris Ryan ramah.
"Saya ingin bertemu Ryan, apakah dia ada di dalam?" tanya Vika memastikan.
"Ada bu.. Tapi maaf apakah sebelumnya anda sudah membuat janji?" tanya sekretaris memastikan.
"Harus ya bertemu Ryan membuat janji dulu? Saya ini temannya bukan klien, gak disini gak di bawah pertanyaannya sama saja," protes Vika kesal.
"Tapi memang ini sudah aturannya bu," jawab sekretaris berusaha tenang.
"Ryan ada di dalam kan? Panggil dia pasti gue bakalan di suruh masuk," suruh Vika lalu sekretaris menuruti.
"Vika? Ngapain sampai sini?" tanya Ryan kaget.
"Hai Ryan.. Aku mampir aja kok kebetulan lewat sekitar sini, oh iya ini aku bawain makan siang untukmu," jawab Vika dengan lembut lalu menyerahkan kotak makan.
"Sama gue aja galak bener giliran ketemu pak Ryan langsung mode kalem, dasar.." batin sekretarisnya kesal dan melirik tak suka.
"Gak perlu repot-repot gini malah gue jadi gak enak kan," ucap Ryan tak enak hati.
"Ini ucapan terima kasih dari gue karena lo gak jadi nabrak gue malah mengantarkan gue pulang," alibi Vika.
"Baiklah gue terima.. Makasih banyak ya," ucap Ryan menerima makanan pemberian Vika.
"Sialan kok gue gak diajak masuk?" batin Vika.
"Ehem.." suara deheman Ryan membuyarkan lamunan Vika.
"Eh ada apa?" tanya Vika kaget.
"Gak ada.. Lo udah kasih makanan ini kan? Apa ada yang perlu di bahas lagi? Jujur saja hari ini jadwal gue padat banget.. Habis ini gue mau ketemu klien," ucap Ryan mengusir secara halus.
"Oh gitu ya.. Yasudah gue pulang dulu, jangan lupa di makan," ucap Vika kecewa lalu pergi.
Setelah memastikan Vika sudah jauh kini Ryan menyerahkan makanan pemberian Vika kepada sekretarisnya.
"Nih untukmu aja," ucap Ryan menaruh makanan di meja.
"Kok untuk saya pak? Ini kan pemberian wanita tadi untuk bapak," tanya sekretaris heran.
"Saya gak mau terjadi salah paham dengan istri saya, kebetulan saya sudah di bawakan bekal oleh istri saya, masakan dia jauh lebih enak daripada ini jadi untukmu saja, malah lumayan kan gak perlu susah-susah keluarin waktu dan tenaga buat cari makan, ingat setelah ini kita ada janji temu, ini sudah rezeki untukmu jadi ini bisa mempersingkat waktu," ucap Ryan dengan tegas.
__ADS_1
"Makasih pak.." jawab sekretarisnya senang.
"Pak Ryan memang suami idaman, segitu setianya dengan istrinya itu.. Beruntung sekali perempuan yang sudah di persunting oleh pak Ryan... Semoga esok suami gue kayak pak Ryan, halu dikit gak papa dong" batin sekretarisnya tersenyum geli dengan pikirannya sendiri.