RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Tak Berujung (2)


__ADS_3

Dinda berjalan menuju arah keluar toko namun pandangannya kembali tertuju pada wanita bernama Indah itu. Wanita yang tadi bersama suaminya tengah memperhatikan kebaya yang ia pesan dengan rona wajah yang bahagia, "Kebaya yang sangat cantik sekali," gumam Dinda.


Rona bahagia yang terpancar dari Indah tak bisa menutup hati Dinda yang sedang terluka, setidaknya bagi Dinda kini wanita setengah baya itu tengah berbahagia di atas penderitaannya.


"Memang ya namanya pihak kedua selalu lebih beruntung meskipun harus didapat dari hasil merebut, contohnya dulu si Sisil, rasanya aku gak sanggup lagi jika harus mengulang luka yang sama untuk kedua kalinya," batin Dinda yang asal mengambil stok pakaian limited edition lalu membayarnya di kasir dan setelah itu pergi dengan luka yang sebelumnya sudah tertutup rapi kini kembali terbuka.


Di perjalanan pikiran Dinda kosong bahkan beberapa kali ia hampir menabrak kendaraan yang ada didepannya, yang lebih parah, traffic light menunjukkan warna merah diterobos oleh Dinda sehingga menimbulkan keriuhan di jalan raya. Banyak sumpah serapah yang di lontarkan pengendara terhadap Dinda. "Astaga... Kenapa hari ini sangat blank? Hampir aja nyawa seseorang melayang karena kecerobohan ku," umpat Dinda memukul stir mobil.


Malas rasanya untuk kembali bekerja, akhirnya Dinda memutuskan pulang ke rumah. Ia ingin meluapkan kesedihan di sana sebelum anak-anak pulang sekolah. Sesampainya di rumah membuat Dinda kaget setengah mati, mobil suaminya terparkir di sana padahal jelas-jelas ini masih jam kerja. Ada urusan apa yang membuat suaminya pulang awal begini?


Tak mengetuk pintu atau pun mengucapkan salam, tujuan utama Dinda langsung kepada kamarnya, ia merasa jika suaminya sekarang ada di sana dan mungkin memang ini waktunya untuk menyelesaikan masalah.


"Loh sayang kok udah pulang? Kamu sakit?" tanya Ryan kaget, Dinda melihat suaminya sedang membereskan beberapa pakaian dan dimasukkan kedalam koper.


"Harusnya aku yang tanya mas, ngapain mas Ryan masuk-masukin pakaian di koper? Mau kemana?" tanya balik Dinda.


"Hari ini mendadak ada jadwal kunjungan dengan klien diluar kota sayang, gak lama kok, besok juga pulang, padahal setelah aku beberes mau nyamperin ke kantormu buat minta izin," jawab Ryan sambil menata barangnya ke koper.


"Serius urusan kerja? Tumben sekali," sindir Dinda.


"Ya serius dong sayang, emang pernah aku ini bohong?" tanya Ryan yang mulai merasa aneh.


"Siapa tau dibelakang ku diam-diam mas Ryan ada hati dengan wanita lain dan menjalin ikatan, pernikahan siri misalnya," sindir Dinda.


"Kenapa tiba-tiba kamu punya pemikiran seperti itu?" tanya Ryan kaget.

__ADS_1


"Just feeling," jawab Dinda.


"Mustahil.. Jujur saja apa yang ada dipikiran kamu?" desak Ryan yang mulai janggal dengan istrinya.


"Sebelum pulang kesini ada mampir kemana mas?" tanya Dinda sinis.


"Mampir? Gak.. Gak ada kok, dari kantor langsung kesini, emang kenapa?" tanya Ryan penasaran.


"Don't lie! Jujurlah," pekik Dinda yang sudah tak kuasa menahan emosinya.


"Kamu kenapa sih? Gak jelas gini," cibir Ryan.


"Kamu yang gak jelas mas, KAMU!" pekik Dinda.


"Kok jadi aku sih? Apa salahku coba?" tanya Ryan bingung, ia tak menyadari jika Dinda sedari tadi mengikutinya.


"Ka..mu kamu ngikutin aku?" tanya Ryan kaget.


"Yes.. Memang kenapa? Aku curiga mas denganmu! Akhir-akhir ini waktumu lebih banyak untuk dirimu sendiri, kamu sedikit acuh denganku juga anak-anak, apa salah kami?? Makanya tadi aku sengaja ngikutin kamu dan gak taunya kamu mampir ke sebuah perumahan elite yang didalamnya hanya ada kalian berdua, suamiku juga wanita setengah baya, kalian didalam cukup lama, apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Dinda yang membuka semua keluh kesahnya.


"Jadi kamu pikir aku dan tante Indah ada hubungan khusus, gitu? Jadi kamu pikir juga tadi aku masuk ke rumahnya untuk melakukan sesuatu yang dilarang agama, gitu? Gi-l-a kamu Din!!! Pikiranmu ternyata sedangkal itu!!" hardik Ryan emosi, ia tak terima jika istrinya menuduh dia dengan tante Indah macam-macam.


"JADI YANG G-I-LA ITU AKU? BEGITU MAKSUDMU!!! HEI SADARLAH MAS SEMUA INI KAMU DULUAN YANG MEMULAI!!! KAMU MEMANTIK API DIANTARA RUMAH TANGGA KITA DENGAN MENGHADIRKAN ORANG LAIN DIDALAMNYA, SEMUA WANITA YANG SUDAH BERSUAMI JUGA PEMIKIRANNYA PASTI BAKALAN KEARAH SITU MAS! JANGAN MUNA-FIK!!!! SUDAH BERBUAT TAPI MALAH MENYANGKAL! MANA ADA DUA ORANG BUKAN SUAMI ISTRI DIDALAM SEBUAH RUMAH DENGAN WAKTU YANG CUKUP LAMA, MANA PINTUNYA DITUTUP LAGI, JELAS HAL ITU MENGUNDANG STIGMA NEGATIF ORANG!!!" bentak Dinda sudah sangat emosi.


"Tapi aku gak seperti yang kamu tuduhkan!" protes Ryan.

__ADS_1


"Maling ngaku penjara penuh mas, mau kamu menyangkal bagaimana pun kenyataannya seperti itu, aku melihat dengan kedua mataku sendiri!!" jawab Dinda tak menerima bantahan.


"Jangan langsung menilai lewat sudut pandangmu sendiri Dinda," ucap Ryan penuh penekanan.


"Oh iya satu lagi.. Setelah kalian having fun di rumah elite itu, kalian melajukan mobil ke sebuah butik cukup ternama, apa yang sudah kalian order?" tanya Dinda memastikan. Ia ingin tau sejauh apa suaminya berbohong.


"Memang aku ada di butik itu tapi aku hanya mengantarkan saja, sebatas itu Dinda, selebihnya aku gak tau," jawab Ryan jujur.


"Mana ada maling ngaku mas! Kalian pesan kebaya kan? Untuk apa? Mau menikah diam-diam? Iya? Kamu gak ada bedanya dengan mas Rio!" tuduh Dinda dengan suara meninggi sehingga emosi Ryan tersulut, tanpa sadar Ryan menampar pipi Dinda cukup keras.


*Plak..* suara tamparan pipi cukup keras karena suasana di rumah sedang sepi.


Mendapat tamparan dari suaminya semakin membuat hati Dinda terasa sakit, se istimewa apa wanita itu sehingga dengan teganya suaminya menampar Dinda segitunya, kenapa harus wanita itu yang dibela? Harusnya Dinda.. Karena Dinda berstatus istri sah Ryan.


"Maaf.. Aku gak sengaja, aku gak nyangka kalau kamu terlalu berpikiran buruk tentangku," ucap Ryan lirih dan ia merutuki dirinya sendiri, ia merasa bo-doh karena sudah terlampau emosi dengan Dinda.


"Tamparan dan bekas merah di pipi sudah cukup untuk menjawab semuanya mas, kalian memang ada hubungan khusus, jika memang kalian ingin menikah, silahkan saja aku rela asalkan ceraikan dulu aku," ucap Dinda penuh dendam.


"Gak.. Sampai kapan pun aku gak akan menceraikan kamu, ini semua salah paham, kamu terlalu termakan pikiranmu sendiri," tolak Ryan.


"Sudah cukup mas, penjelasan apapun tak akan ada artinya lagi bagiku, main fisik dan selingkuh adalah dua kesalahan fatal yang gak bisa dimaafkan!" sindir Dinda sambil terus memegang pipi mulusnya.


Perih yang ada di pipi akibat tamparan Ryan tak sebanding dengan perih yang ia rasakan saat ini. Suami yang dulu sangat penyayang dan humoris kini tiba-tiba berubah menjadi tempramental.


"Maaf bukan niatku untuk menghindar dari masalah ini tapi kalau boleh jujur, waktu keberangkatan ku hampir tiba jadi maaf jika aku harus pergi, aku, janji gak akan lama, satu hal lagi, tolong jangan berprasangka buruk tentangku, aku mohon," pinta Ryan mencium kening Dinda sekilas lalu pergi sambil membawa koper.

__ADS_1


Berat rasanya meninggalkan Dinda dalam kondisi begini tapi di satu sisi Ryan harus menepati janji dengan kliennya, jadwal ini sudah dibuat cukup lama jadi mustahil untuk dicancel.


__ADS_2