
Untuk mengurangi rasa sakit dihatinya dan sebagai kesibukan agar tak terlalu memikirkan suaminya itu, Dinda selalu berangkat ke kantor pagi hari, untung saja sebelum menikah dengan Ryan, ia memiliki usaha sendiri yang bisa dijadikan pegangan ketika sedang ada masalah seperti ini. Meskipun suaminya kaya raya dan bisa memberikan hidup enak, nyatanya Dinda tak berpangku tangan, ia tetap meneruskan usahanya dan kini semakin maju, semua ini berkat kegigihannya dan konsisten.
Rasa lapar yang melanda membuat Dinda mampir sebentar ke kafe temannya masa sekolah dulu, Aldo. Entah bagaimana kabar Aldo saat ini, terakhir bertemu situasinya tidak bersahabat, suaminya salah paham dengan Aldo dan kebetulan juga Aldo malah mengungkapkan isi hatinya.
Tiba di kafe, Dinda memilih meja yang dekat dengan ruangan Aldo. Ketika ada waiters menghampiri, Dinda menanyakan dimana Aldo berada.
"Selamat pagi, mau pesan apa?" tanya pelayan.
"Pagi.. Saya mau pesan kopi latte dan juga roti bakar selai coklat keju," jawab Dinda.
"Baik.. Mohon ditunggu ya kak," jawab pelayan.
"Mbak.. Tau gak dimana bosmu? Pak Aldo? Apa dia ada di ruangannya?" tanya Dinda penasaran.
"Oh.. Pak Aldo sudah lama gak nengok kesini kak, katanya beliau ada diluar negeri," jawab pelayan.
"Loh.. Lalu yang meneruskan kafe siapa?" tanya Dinda kaget sekaligus penasaran.
"Ada orang kepercayaan pak Aldo yang handle semua, ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya pelayan.
"Gak ada.. Makasih mbak," jawab Dinda lalu pelayan menganggukkan kepala dan pergi.
"Aldo keluar negeri? Katanya dia udah bosan di sana dan rindu dengan kampung halamannya, gimana sih," gumam Dinda heran namun tak berhak melarang Aldo kesana, ia hanyalah teman.
Ketika Dinda sedang menikmati kopi latte yang masih panas, ada panggilan masuk dari mantan suaminya.
"Halo mas," ucap Dinda.
"Halo... Apa kamu masih marahan sama suamimu?" tanya Rio to the poin.
"Ya bisa dibilang begitu," jawab Dinda malas.
"Dia udah pulang?" tanya Rio.
__ADS_1
"Udah mas, ada apa?" tanya Dinda.
"Berani sekali dia pulang ke rumah setelah apa yang ia lakukan," jawab Rio geram.
"Dia berhak atas rumah itu mas, yang beli dia kok," jawab Dinda.
"Harusnya malu dong, kan udah bikin kamu sakit hati, memang muka tembok tuh orang!" umpat Rio.
"Biarkan mas, aku lagi malas membahas masalah," ucap Dinda.
"Iya iya maaf.. Kamu dimana sekarang?" tanya Rio.
"Ada di kafe deket kantor, lagi ngopi," jawab Dinda.
"Tunggu disitu, aku susul," jawab Rio langsung mematikan panggilan.
Tak berselang lama Rio pun sudah menyusul Dinda dan mereka duduk bersebelahan. "Are you okay, Din?" tanya Rio melihat raut wajah Dinda sedih.
"Aku tau kamu bohong, mana ada wanita yang bisa bersikap baik-baik saja setelah tau suaminya begitu, jangan memaksakan dirimu untuk bersikap kuat," tegur Rio yang membuat air mata Dinda luruh.
"Aku harus bagaimana? Aku gak tau harus mengambil keputusan apa, semua terjadi secara berurutan, aku hanya ingin bahagia, aku ingin hidup damai meskipun itu sederhana, kenapa selalu saja ada penghalang?" tanya Dinda berlinang air mata.
"Maafkan aku.. Semua ini berawal dariku yang membiarkanmu pergi dari hidupku jadi aku turut andil dalam kesedihan dirimu, maaf.. Aku gak bermaksud membuatmu semakin sedih, jika ingin menangis maka menangislah," jawab Rio tak tega.
"Terlalu memalukan jika aku menangis disini," tolak Dinda.
"Jangan jaga image! Kalau rapuh ya rapuh aja, jangan sok kuat, kamu bukan pahlawan! Ayo sini kalau mau nangis," tegur Rio yang menyediakan bahu untuk Dinda bersandar.
"Kenapa kamu yang jadi kesal," ucap Dinda sesegukan.
"Aku gak suka melihatmu seperti ini, disakiti dengan pria tak tahu diri!" umpat Rio.
"Ingat mas, kamu dulu juga begitu," tegur Dinda.
__ADS_1
"Ya.. Oke.. Aku memang begitu, aku pernah tergoda Sisil, tapi aku menjalin hubungan dengannya juga sebelum denganmu, aku memang berselingkuh darimu bahkan sejak pertama menikah, namun semua sudah aku sesalkan, aku menyesal telah mengkhianatimu! Aku menyesal sudah membiarkanmu pergi dan aku menyesal telah membuat air matamu jatuh," ucap Rio mengakui.
"Berarti kamu juga pria bo-doh mas!" sindir Dinda.
"Memang.. Aku memang bodoh tapi itu dulu, sekarang tidak lagi, tak akan aku biarkan air matamu jatuh lagi karena aku," jawab Rio.
"Ya iyalah mas kan kamu sekarang menjadi mantan suamiku, buat apa aku menangisi mu," ejek Dinda setengah tertawa.
"Makanya itu.. Aku gak akan membiarkan air matamu jatuh, apa aku salah mengatakan itu?" tanya Rio.
"Tidak.. Salahnya karena statusmu saja," jawab Dinda.
"Statusku kenapa? Duda?" tanya Rio.
"Kamu memang duda tapi bukan itu maksudnya, salah kamu karena sudah menjadi mantan suamiku," jawab Dinda.
"Memang.. Itu adalah hal paling bo-doh yang pernah aku lakukan dalam hidup, seumur hidup aku merutuki diriku sendiri karena sudah sangat amat bo-doh!" umpat Rio.
"Kenapa suamiku tidak seperti itu ya? Memang sih dia sempat meminta maaf dan bilang menyesal, tapi aku gak tau harus bersikap bagaimana," ucap Dinda.
"Bagaimana kata hatimu? Jika kamu belum bisa memaafkan ya jangan, jika hatimu sudah menerimanya kembali dengan lapang dada ya silahkan, kalian bisa memulainya kembali dari 0" ucap Rio dengan bijak.
"Hati dan pikiran tak singkron mas, hatiku masih sangat sakit tapi pikiranku, aku memikirkan anak-anak, bagaimana bisa anakku hidup tanpa mas Ryan, mereka dekat dengannya," ucap Dinda.
"Anak-ana? Berarti ada anakku dong? Gak usah memikirkan Farel dan Vanessa kedepannya bagaimana, ada aku dan orang tuaku yang siap memberikan kebahagiaan serta hidup yang layak, untuk anakmu dengan Ryan, memang itu bisa menjadi pertimbangan, bagaimana baiknya kamu saja, kamu yang menjalani jadi kamu saja yang mengambil keputusan, jangan terburu-buru, putuskan jika hati dan pikiranmu sudah tenang" ucap Rio.
"Aku memikirkan Gibran, dia masih terlalu kecil untuk merasakan bagaimana pahitnya perpisahan, aku gak mau kejadian yang sama terulang lagi pada Gibran, cukup Farel dan Vanessa saja yang sudah merasakan pahitnya berpisah dari orang tua dan ingin bertemu ayahnya pun dibatasi," ucap Dinda yang membuat hati Rio tersentil. Ia juga merasakan apa yang Dinda rasakan, dulu ketika awal berpisah dengan Dinda, Rio merasa tidak adil karena tidak diizinkan bertemu anak-anak padahal dia tidak ada niat buruk, ia ingin bermain dan menghabiskan waktu bersama anaknya.
"Semua terserah padamu, aku yakin keputusanmu kelak itu yang terbaik bagi semua, jangan patah semangat, kamu bisa melewatinya," ucap Rio menyemangati.
"Makasih mas.. Aku sedikit lega karena kamu sudah ada untukku, makasih udah menerima keluh kesah ku dengan baik, makasih mau mendengarkan ku," ucap Dinda.
"Aku selalu ada untukmu dan akan selalu begitu, kapanpun kamu butuh segera hubungi aku," ucap Rio membuat hati Dinda tersentuh. Ia mulai merasakan perubahan dari mantan suaminya ke arah yang lebih baik.
__ADS_1