RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Kembar Diculik (4)


__ADS_3

"Baik.. Pastikan mereka tetap disana dan tolong selalu pantau kondisi anak saya," ucap Ryan via telepon pada seseorang.


"Gimana mas?" tanya Dinda tak sabar.


"Anak-anak ada di sebuah gudang yang letaknya jauh dari sini sayang, jadi aku minta tolong sama mereka untuk ke lokasi sambil memantau anak-anak," ucap Ryan membuat Dinda kaget.


"Dimana lokasinya mas? Gimana keadaan anak kita? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Dinda.


"Kita percayakan saja sama orang kepercayaanku, kalau mereka sudah sampai lokasi pasti akan menghubungi," ucap Ryan mencoba menenangkan.


"Tapi aku takut mas.. Takut mereka terguncang psikisnya," ucap Dinda menangis terisak.


"Aku tau sayang, sudah ya jangan terus menerus berpikir buruk, lebih baik kamu banyak berdoa agar anak kita selalu di lindungi Tuhan," ucap Ryan.


Ting... Pesan masuk di ponsel Ryan.


"Sayang pria tadi sudah mengirim lokasi dan anehnya lokasi itu tidak di gudang yang di maksud sayang malah di sebuah taman," ucap Ryan kebingungan.


"Loh kalau begitu anak-anak gimana mas?" tanya Dinda cemas.


"Makanya itu.. Orang suruhan ku kok belum kabari juga," ucap Ryan khawatir lalu memgabari orang suruhannya.


"Halo kalian dimana?" tanya Ryan.


"Kami sedang memantau keadaan dan kelihatannya mereka akan pergi ke suatu tempat," ucap orang suruhannya.


"Mereka membawa anak-anak?" tanya Ryan memastikan.


"Sepertinya tidak.. Mereka hanya pergi dengan anak buahnya dan meninggalkan beberapa anak buahnya lagi untuk menjaga lokasi," ucap orang suruhan mengejutkan Ryan.


"Sialan.. Berani sekali dia mempermainkan aku, setelah mereka pergi langsung masuk dan ambil anakku, aku percaya kalau kalian bisa di andalkan dan asal kalian tau kalau mereka itu preman pasar," perintah Ryan.


"Baik pak," jawab orang suruhan sigap.


"Ting.. Datanglah tepat waktu atau akan terjadi sesuatu pada anak anda," isi chat pria tadi.


"Saya sedang perjalanan menuju kesana," jawab Ryan geram.


"Sayang..." panggil Ryan.


"Ya mas?" jawab Dinda.


"Anak-anak masih ada di gudang dan mereka nantinya di taman hanya bersama beberapa anak buah, entah mamahnya Fera diajak atau tidak yang penting aku udah memerintahkan orang suruhan ku untuk segera mengambil anak-anak disaat mereka lengah.. Selagi kita bertemu dengan mereka ada orang suruhan ku yang sedang melosokan anak kita," ucap Ryan memberi pengertian.


"Baik mas.. Semoga anak-anak selamat," ucap Dinda penuh harap.


Dinda dan Ryan sudah tiba di lokasi yang dituju, tinggal menunggu kedatangan mamahnya Fera beserta suaminya.

__ADS_1


"Mas dimana mereka? Lama sekali sih?" tanya Dinda gusar.


"Tunggu aja dulu kalau 10 menit belum datang juga kita pergi, sambil kita menunggu kabar dari orang suruhan ku," ucap Ryan dengan sabar.


"Baiklah mas," jawab Dinda pasrah.


Akhirnya yang di tunggu datang juga, mamahnya Fera beneran di datangkan bersama suami dan para preman yang mengawal.


"Ah masih saja pakai preman pasar kalau gini aku pakai bodyguard," ucap Ryan kesal.


"Sudahlah mas kalau gini kita jadi terlihat lebih hebat ketimbang mereka," ucap Dinda optimis.


"Benar juga sayang," jawab Ryan bangga.


"Wah wah wah kalian datang tepat waktu sekali? Apakah itu wujud dari rasa disiplin nya seorang pengacara?" sindir bos besar.


"Lebih cepat datang lebih cepat juga masalah selesai," ucap Ryan dengan tenang.


"Bagus.. Itu juga yang kami harapkan," jawab bos besar senang dengan jawaban Ryan.


"Pah.. Kenapa gak bilang kalau kita mau ke sini?" tanya mamah Fera gugup.


"Kenapa memangnya? Wajib ya memberitahu kita mau kemana, lagian kalau memberitahu apa yang bakal kamu lakukan ha? mau dandan cantik?" sindir bos besar yang langsung membuat mamah Fera ciut.


"Bukan begitu mas hanya saja aku cukup kaget, ini kan masalahku sama istrinya kenapa para pria ikut," alibi mamah Fera.


"Gak pah itu gak benar kok," jawab mamah Fera menyangkal.


"Ehem.. Disini saya tidak mau mendengar masalah pribadi kalian, tujuan kedatangan saya dan istri saya kemari untuk menyelesaikan dan meluruskan semua masalah, oh iya dimana anak-anakku?" tanya Ryan pura-pura tidak tahu.


"Mereka masih ada di tempat aman," jawab bos besar dengan tenang namun tidak untuk Feli, dia terlihat gelisah..


"Sebentar.. Sebenarnya apa yang terjadi dan tadi pak Ryan mengatakan dimana anak-anakmu? Memangnya dimana?" tanya Feli kebingungan.


"Apa suamimu tidak menmberitahukannya? Tadi sepulang sekolah anak-anakku diculik oleh anak buah suamimu, dia mengira jika diantara kita ada hubungan khusus karena dia mendengar kamu menggoda saya padahal disitu sudah jelas jika kamu menelponnya di nomor istriku, memang waktu itu aku sengaja yang angkat karena istriku malas berurusan denganmu eh gak taunya anda bersikap gila jadinya masalah ini.. Anakku menjadi korban kesalahpahaman ini, katakan sekarang juga dengan sejujurnya pada suamimu agar anakku segera di bebaskan..jangan sampai anakku dibawa ke luar kota dan dijadikan ladang pencari yang suamimu itu," gertak Ryan berusaha tidak emosi.


"APA? KAMU SAMPAI MENCULIK ANAK MEREKA PAH? UNTUK APA?" pekik Feli kaget.


"Berani sekali kamu bicara tinggi seperti itu, sudah jelas kan kalau tujuan aku menculik anaknya untuk membalaskan rasa kecewa pada kalian yang dengan beraninya bermain api," ucap bos besar kesal.


"Maaf pah maaf.. Tapi memang diantara kami tidak ada hubungan apalagi sampai selingkuh, pak Ryan sangat mencintai istrinya, jadi tolong lepaskan anaknya, kasihan mereka," pinta Feli.


"Kenapa kamu lemah sekali di hadapan dia? Kamu ada rasa sama pria itu?" tanya bos besar.


"Tidak ada.. Aku cuma gak suka aja kalau ada anak-anak yang menjadi korbannya, masalah orang dewasa ya di selesaikan dengan sesama dewasa," alibi Feli.


"Cih.. Sok bicara benar, biasanya juga gak pernah bicara kayak gini, kalau memang kalian gak ada hubungan mengapa kamu menggodanya? Murahan," cibir bos besar.

__ADS_1


"Karena aku ingin membuat rumah tangganya berantakan pah karena istrinya sudah berani melawan ku di sekolahan jadi ya kalau tidak dengan cara adu mulut lebih baik hancurkan saja rumah tangganya," Ucap Feli membuat Dinda murka.


" SUDAHLAH KATAKAN SAJA SEJUJURNYA PADA SUAMIMU BAGAIMANA DULUNYA KAMU MENGGODA SUAMIKU NAMUN SAYANG TAK TERBALAS" pekik Dinda emosi.


"Benar kan dugaanku kalau kalian ada hubungan," ucap bos besar mulai emosi.


"Mohon diralat, bukan suami saya tidak pernah memiliki hubungan dengan dia namun dia sendiri yang selalu mengejar suami saya dan berulang kali di tolak, anda sudah pasti tau kan siapa istri anda dulunya jadi wajar kalau dia selalu menggoda setiap pria apalagi suami saya tidak pernah bisa dia dapatkan," ucap Dinda membuat Feli murka.


"Berani sekali bicara seperti itu," ucap Feli.


"Tentu berani karena ini faktanya.. Oh iya berhubung antara kami sudah menjelaskan dan meluruskan semuanya jadi kami harap lepaskan anak kami, dimana anda taruh anak kami? Biar kami yang jemput.. Untuk mamah Feli masalah yang awalnya hanya receh bagi anda kini menjadi hal yang mengerikan bagi psikis anak saya jadi mohon lain kali di filter tutur kata anda apalagi ketika sedang berhadapan dengan lawan jenis, jaga martabat suami kamu," tegur Dinda.


"Jangan sok suci deh.. Udah pah lepasin anaknya," pinta Feli.


"Baik.. Karena mereka tidak terbukti bersalah dan disini sumbernya ada di kamu, jadi lepaskan anaknya dan bawa kesini," perintah bos besar pada anak buahnya.


"Baik bos.."Jawab anak buahnya sigap lalu masuk ke mobil.


"Tunggu.. Kalian tidak perlu susah payah, cukup berikan alamatnya saja biar kami yang menjemputnya, jangan lagi guncang psikis anak-anak saya," Pinta Ryan.


"Baik..tapi tetap dikawal mereka," jawab bos besar sudah sangat ingin memarahi istrinya di rumah maka dari itu ia tidak ambil pusing ketika Ryan dan istrinya ingin menjemput anaknya sendiri.


"Terima kasih.. Semoga ini masalah kita yang pertama dan terakhir, kami tidak mau ada kesalahpahaman lagi sampai anak saya jadi korbannya, untung saja saya tidak memanggil polisi," ucap Ryan lega.


"Kalau anda berani bawa polisi sudah jelas nantinya anak kalian langsung aku kirim ke luar kota karena di sana ada anak buah yang menjaganya dengan ketat," ancam bos besar.


"Itu hanya andai.. Nyatanya tidak, cepat bawa kami ke markas persembunyian kalian," ucap Ryan tidak sabar dan akhirnya mereka berangkat ke lokasi.


Di perjalanan Ryan juga menghubungi orang suruhannya, apakah anaknya sudah berhasil dibawa atau belum. Dan beruntungnya anak mereka belum di bawa namun masih tetap di pantau, andai orang suruhannya gegabah sudah pasti akan menjadi masalah panjang.


"Kalian tetap saja mengamati situasi dan kondisi kalau ada hal yang mencurigakan segera kabari saya, ini sedang perjalanan kesana," ucap Ryan.


Lokasi berpindah, yang dulunya di gudang rahasia kini anak dinda di tempatkan di markas kecil yang masih satu wilayah dengan gudang rahasia.. Bos besar tidak mau kalau tempat rahasianya terendus pengacara itu karena di dalam sana banyak transaksi-transaksi ilegal.


"Pak anak anda dibawa oleh mereka," ucap orang suruhannya yang membuat Ryan kaget.


"Dibawa kemana? Cepat pantau terus jangan sampai lolos," perintah Ryan.


"Baik Pak.." jawab orang suruhannya sigap.


15 menit kemudian orang suruhannya mengabari jika anak-anaknya dibawa ke sebuah markas yang letaknya tak jauh dari tempat pertama penyekapan.


"Mengapa lokasinya berpindah? Pasti ada hal yang mencurigakan disana," batin Ryan namun lebih memilih fokus dulu sama keselamatan anaknya, ia harus segera tiba di lokasi.


Sesampainya di lokasi yang baru, benar saja kedua anak Dinda ada disana dengan posisi terikat tali dan mulut di sumpal lakban, melihat kedatangan orang tuanya, si kembar langsung berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya.


"Tenang anak mamah.. Kalian akan aman," ucap Dinda berusaha tenang dan melepas ikatan di tangan dan kaki anaknya, Ryan pun juga demikian. Setelah berhasil terbuka semuanya kini mereka berpelukan dengan erat dan saling menangis. Akhirnya Dinda dan Ryan bisa menyelamatkan anaknya dengan cepat, tak mau membuang waktu terlalu lama disini, mereka memutuskan untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2