
Vika yang sudah bersiap untuk bekerja akhirnya keluar juga, penampilan Vika hari ini terlihat sangat cantik apalagi pakaian yang ia gunakan sangat menggoda.
"Kok rame banget sih? Ada apa?" tanya Vika penasaran.
"Tuh mantanmu, bisa-bisanya halu kalau dia habis ONS sama wanita lain sedangkan istrinya saja di rumah," jawab Dito terkekeh.
Mendengar jawaban dari Dito membuat Vika diam seribu bahasa, apa yang dikatakan Ryan memang benar adanya, antara Ryan dengan dirinya tadi malam sudah melakukan sebuah dosa yang besar yaitu ONS, yang membuat Vika sangat kesal, kenapa harus diberitahukan?
"Gak ada yang halu, semua itu real, kami sama-sama menikmati bahkan tanpa saya duga, dia masih virgin, setelah berhasil saya bobol, wanita itu saya ajak nikah meskipun secara siri malah gak mau," ucap Ryan dengan bangganya.
Merasa risih dengan pembahasan ini akhirnya Vika menggandeng tangan Dito dan mengajak untuk segera berangkat. "Ayo berangkat sekarang, keburu telat," ajak Vika yang terlihat tak nyaman apalagi cara berjalannya cukup aneh.
"Kamu kenapa? Kok jalannya gitu?" tanya Dito penasaran.
"Iya nih.. Jalannya seperti kesakitan gitu, kayak habis main di ranjang aja" sindir Frida yang membuat Vika meneguk ludah secara kasar, keringat dingin bercucuran di wajahnya, ia gugup setengah mati. Kenapa wanita itu bisa tau jika dirinya habis melakukan itu?
"Kamu gak lagi sakit kan?" tanya Dito panik dan mengecek suhu kening Vika.
"Gak panas kok tapi kenapa badanmu dingin begini?" tanya Dito lagi.
"Aku gak papa, ayo kerja," jawab Vika singkat.
"Sakit karena suntikan dari pria yang ajakin dia ONS kali," sindir Frida.
Merasa omongan Frida ada benarnya, membuat Dito berpikir keras, apa ini ada kaitannya dengan ucapan Ryan barusan? Tak mau gegabah, Dito sebisa mungkin mengelak.
"Aku habis jatuh kok, apalagi heels nya ketinggian," jawab Vika yang membuat Dito lega, memang benar kakinya sedikit memar karena ia belum terbiasa menggunakan hak tinggi.
"Astaga.. Iya kakimu sampai lecet gini sayang, pakai sepatu aja gak papa, klien gak akan melihatmu sampai bawah," ucap Dito.
"Gak perlu.. Ayo segera berangkat, nanti kalau terlambat malah gagal," ajak Vika.
"Kamu bisa jalannya?" tanya Dito memastikan.
"Bisa.. Aku udah mencoba didalam tadi," jawab Vika.
__ADS_1
"Aku gak yakin, sini aku gendong aja sampai mobil," ucap Dito yang langsung menggendong Vika.
Pemandangan yang sangat menyakiti mata dan hati Ryan, baru pagi hari tapi moodnya sudah dibuat berantakan dengan adegan Dito dan Vika. "Harusnya aku yang melakukan itu, dia sampai kesakitan begitu karena aku," batin Ryan.
Melihat lawyer nya terus memperhatikan wanita yang bernama Vika membuat Frida yakin jika mereka ada hubungan khusus, apa jangan-jangan yang dimaksud perkataannya tadi benar adanya jika semalam sudah terjadi perbuatan itu? Ah ini gak boleh terjadi.
"Gue udah berusaha menahan karena gagal mendapatkan pak Ryan, kenapa wanita itu dengan mudahnya menaklukan pak Ryan? Cantik sih malah cantikan ini ketimbang istrinya," gumam Frida.
***
Tiba ditempat meeting, Vika selalu saja gagal fokus dan beberapa kali salah dalam berprestasi, akhirnya meeting diambil alih langsung oleh Dito. Untung saja Dito sudah banyak mempelajari materi yang akan disampaikan sehingga tak perlu banyak-banyak menengok proposal.
Setelah meeting selesai dan semua sesuai ekspetasi, akhirnya Vika juga Dito bisa bernafas lega, perusahaan miliknya akan semakin besar dan bonus yang diterima akan semakin membengkak.
"Terima kasih atas kerja samanya pak, senang berbisnis dengan anda," ucap Dito menjabat tangan kliennya.
"Sama-sama Pak, saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda, tak perlu banyak bahan, langsung ke intinya dan itu yang membuat saya suka, tak terlalu beterle-tele," jawab klien senang.
"Permisi.. Saya izin ke toilet sebentar," pamit Vika.
Melihat cara jalan Vika yang aneh membuat klien Dito bertanya-tanya, siapa wanita yang bersama pak Dito Bramantyo? Apakah selingkuhan atau sekretaris pribadi atau merangkap keduanya?
"Boleh pak, silahkan anda mau bertanya apa?" tanya Dito dengan senang hati.
"Hmm begini pak, wanita yang bersama anda itu siapa?" tanya klien ragu.
"Yang datang bersama saya? Dia Vika, calon istri saya namun sekarang bekerja menjadi sekretaris pribadi, ada apa pak?" tanya Dito heran.
"Oh tidak apa-apa pak, kok saya perhatikan cara jalannya agak lain ya? Maaf Pak jangan tersinggung," jawab klien.
"Maksudnya?" tanya Dito tak paham.
"Ah bapak ini kura-kura dalam perahu, sebenarnya tahu namun tak mau mengaku," goda klien.
"Sumpah pak saya gak tau," jawab Dito jujur.
__ADS_1
"Yang namanya sekretaris pribadi kan sudah pasti diajak kemana pun anda pergi, bahkan bisa 24 jam bersama anda, sudah pasti sebelum kesini semalam kalian chek in dulu dong?" tanya klien memastikan.
"Ya memang benar, kami memesan hotel di sekitar sini, ada apa pak?" tanya Dito masih tak paham.
"Pantas saja.. Anda berarti luar biasa pak, nyatanya calon istri anda bisa sampai begitu jalannya," puji klien dengan senyum absurd.
"Apa maksud anda? Saya tak mengerti," tanya Dito.
"Halah bapak ini sok mengelak deh, jelas banget dari cara jalan calon istri anda," goda klien.
"Cara jalan Vika kenapa pak? Aneh? Itu karena ia keseleo, ia belum terbiasa memakai heels dengan hak yang tinggi," bela Dito, sekarang ia paham dengan maksud pembicaraan kliennya itu.
"Keseleo apa keseleo nih? Jujur aja pak kami kan sesama pria," goda klien.
"Gak ada yang aneh, mungkin pikiran anda saja yang berlebihan," sindir Dito geram.
"Maaf.. Maaf jika anda tersinggung, saya hanya salut dengan anda yang permainannya luar biasa, terlepas anda mengakui atau tidak itu hak anda," ucap klien dan Dito sama sekali tak menanggapi.
"Saya rasa pertemuan kali ini sudah cukup, jadi saya harus segera balik ke kota," ucap Dito mulai risih.
"Oh begitu, padahal saya ingin mengajak anda makan siang bersama," jawab klien sedikit kecewa.
"Maaf sekali, bisa diatur lagi lain waktu, kali ini jadwal memang sedang padat merayap, rencana saya mau mengajukan cuti beberapa hari malah belum bisa" keluh Dito.
"Anda kan CEO, jadi bebas mau liburan kapanpun," ucap klien heran.
"Ya memang.. Tapi tak semudah itu bisa berlibur, harus benar-benar mengosongkan jadwal soalnya saya belum ada wakilnya," jawab Dito sedih.
"Yah kalau begitu susah ya pak, yasudah kalau begitu saya pamit dulu," pamit klien dan mereka berjabat tangan.
Setelah meeting selesai, Dito memang sengaja tidak mengajak Vika sarapan dulu, ia segera mengajak Vika kembali ke hotel. Masalah yang membebani pikirannya harus segera diselesaikan, tak hanya satu orang yang mengatakan itu, namun dua orang.
Melihat Vika berjalan dengan lesu apalagi wajahnya pucat membuat Dito tak tega, ia segera menghampiri Vika dan menuntun ke meja.
"Are you okay baby?" tanya Dito khawatir.
__ADS_1
"Kepalaku tiba-tiba pusing," keluh Vika.
"Kita pesan makan dulu, mungkin kamu lapar," ucap Dito lalu memanggil waiters. Rencana untuk menanyakan apa yang terjadi pada Vika gagal sudah, ia tak tega melihat wanita yang ia sayangi lemah tak berdaya seperti itu.