
Halo.. Anda pasti ingin bertanya pada para satpam cupu mu itu kan? Haha.. Gimana dengan kejutan dari saya? Apakah membuat anda gentar?" tanya seseorang via telpon.
"Gue gak mau sia-siakan momen ini jadi gue harus rekam," batin Ryan lalu merekam percakapan.
"Anda siapa dan ada masalah apa dengan saya?" tanya Ryan dengan tenang.
"Urusan saya dengan anda? Apakah anda melupakannya?" tanya seseorang membuat Ryan mengernyitkan dahi.
"Apa maksud anda? Langsung saja ke intinya," jawab Ryan tak suka basa-basi.
"Haha anda terlalu cerdas kalau nanti saya langsung ke intinya, saya ingin bersenang-senang dengan anda terlebih dahulu," ucap seseorang membuat Ryan naik pitam.
"Saya tidak ada waktu untuk meladeni pengecut seperti anda, kalau merasa gentleman mari kita bertatap muka dan selesaikan masalahnya dengan benar," tantang Ryan.
"Ah itu metode biasa, sudah umum.. Saya menginginkan yang seperti ini, meneror anda haha.." ucap seseorang seraya tertawa.
"Gue rasa ini orang memiliki gangguan kejiwaan deh, apa dia klien yang ingin somasi gue?" batin Ryan berpikir.
"Apa manfaat anda meneror saya?" tanya Ryan.
"Banyak.. Salah satunya membuat anda dan seluruh karyawan anda merasa tidak aman," jawab seseorang dengan entengnya.
"Cih terserah anda saja saya dan seluruh karyawan tidak akan gentar sedikit pun, jadi jangan main-main dengan kami, apakah anda salah satu klien kami yang waktu itu protes tidak puas akan kinerja kami yang lamban karena saya sedang cuti?" tanya Ryan memastikan.
"Anda cerdas sekali pantas saja banyak yang memakai jasa anda, saya salut dengan anda.. Tujuan saya bukan untuk memakai jasa anda melainkan untuk menghancurkan anda," ucap seseorang dengan penuh penekanan lalu menutup panggilan.
Ryan merasa kesal karena masalah ini terlalu, berbelit, Ryan nekat turun dan berhasil menangkap plat nomor sang peneror tanpa sepengetahuan mereka. Setelah itu Ryan menuju ruang sekuriti dan ia dibuat terkejut dengan keadaan sekuriti nya yang bersimbah darah, Ryan langsung menghubungi ambulance dan membawa sekuriti ke rumah sakit terdekat supaya bisa mendapat pertolongan dengan cepat.
"Andai setelah mendengar teriakan gue langsung turun dan memantau keadaan, mungkin mereka kemungkinan hidupnya sangat besar, maafkan saya.." gumam Ryan penuh penyesalan.
__ADS_1
***
Ryan bergegas balik ke kantor untuk menemui pak polisi karena keterangan dari Ryan sangat berarti. Ketika Ryan sudah sampai di kantornya, ia kaget karena sudah banyak wartawan yang meliput kantornya dan ada garis polisi mengitari kantornya.
"Selamat malam pak," sapa Ryan lalu berjabat tangan.
"Selamat malam Pak, apa benar anda dengan bapak Ryan Hadiningrat?" tanya polisi memastikan.
"Benar pak.. Saya juga yang sudah menghubungi kantor polisi untuk datang kemari," ucap Ryan membenarkan.
"Baiklah kalau begitu apakah bapak bisa menceritakan kronologinya?" tanya polisi yang langsung di serbu wartawan.
"Aduh kenapa banyak yang liput sih gimana kalau istri dan keluarga gue tau? Mereka nanti panik," batin Ryan merasa risih.
"Bagaimana bisa terjadi aksi teror di kantor bapak?"
"Apa motifnya pak?"
Beberapa pertanyaan dari wartawan membuat Ryan kebingungan untuk menjawab. Ia sampai pusing menghadapi lontaran demi lontaran pertanyaan yang sekali pun belum Ryan jawab.
"Jadi begini ya saya akan menjabarkan kronologinya, bermula dari kami sedang merampungkan suatu pekerjaan hingga memutuskan untuk lembur, sebelum terjadi aksi teror ini sekretaris saya mendapat pesan kaleng bahwa akan ada somasi terhadap saya nanti pukul 12 malam, saya sudah menyuruh sekretaris saya untuk menghubungi yang bersangkutan namun tak kunjung di angkat, beberapa menit kemudian terjadilah aksi teror ini, dari awal melemparkan batu ke kaca hingga pecah di berbagai titik setelah itu mereka melempar bom molotov hingga menimbulkan kaca rusak parah dan dinding retak, saya menghubungi pihak keamanan ternyata petugas keamanan sudah ditembak terlebih dahulu oleh mereka, maka dari itu saya langsung menghubungi ambulance agar petugas keamanan mendapatkan pertolongan pertama sesegera mungkin, saya berharap kasus ini segera di ungkap dan petugas keamanan bisa selamat dan sehat kembali," ucap Ryan dengan detail dan berusaha tenang.
"Apakah sebelumnya anda mencurigai seseorang?" tanya polisi.
"Untuk curiga ya belum bisa dijadikan bukti kuat ya pak tapi seperti yang saya jelaskan barusan bahwa ada seseorang yang mengaku klien yang ingin mensomasi saya dengan alasan mereka kurang puas dengan respon lamban yang diberikan oleh kami, padahal waktu itu saya sedang cuti, hanya orang itu yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya bagi saya," ucap Ryan menduga.
"Baiklah anda bisa melampirkan bukti-bukti jika ada dan segera dibawa ke kantor supaya kami bisa cepat menangani kasus anda, untuk sementara kantor anda saya garis polisi terlebih dahulu sampai kondisi kondusif," ucap polisi lalu kembali ke TKP untuk mencari alat bukti.
"Baik pak makasih bantuannya nanti biarkan sekretaris saya yang mengurus berkasnya," jawab Ryan sedikit lega.
__ADS_1
Dinda yang sedang suntuk menunggu suaminya pulang memilih menyalakan televisi, entah mengapa kali ini Dinda memiliki firasat untuk menyalakan televisi, biasanya ia jarang menonton televisi.
Ketika Dinda sedang memilih-milih acara, matanya tertuju pada berita yang baru terjadi, Dinda mendengarkan dengan detail dan seketika ia terkejut melihat suaminya di wawancarai oleh kepolisian dan juga wartawan.. Perasaan Dinda seketika gelisah dan berulang kali menelpon suaminya namun tak kunjung di angkat.
Dinda awalnya tidak begitu memperhatikan isi berita sampai pembawa acara menyebut nama kantor suaminya seketika itu juga perhatian Dinda terpusat pada berita itu dan benar saja suaminya sedang tertimpa masalah serius.
"Mas ada masalah seperti ini kenapa gak hubungi aku sih? Angkat dong mas.." gumam Dinda sembari mondar-mandir dengan perasaan gelisah.
"Kenapa gak angkat telpon sih mas? Apa kamu lagi sibuk di sana? Ingin sekali aku menyusul dan menenangkan mas Ryan tapi bagaimana dengan anak-anak?" gumam Dinda bimbang lalu terdengar suara ketukan pintu berulang kali, Dinda merasa kesal di situasinya yang sedang panik ada saja yang menganggu.
"Sebentar.." teriak Dinda dari dalam lalu membuka pintu.
"Halo cantik, anda istrinya Ryan Hadiningrat bukan?" sapa seseorang misterius membuat nyali Dinda seketika ciut.
"Si..Siapa kamu? Apa tujuan kamu kemari?" tanya Dinda gemetaran.
"Just for fun.." jawab seseorang misterius sambil terus mendekati Dinda.
"Pergi.. Jangan macam-macam ya," usir Dinda sembari ketakutan.
"Ssst.. Gak usah takut begitu cantik, yang kalem dong masak cantik-cantik galak sih nanti saya jadi gemes," goda orang misterius dengan tawa menyeringai.
"Pergi.. Tolong pergi," pekik Dinda berurai air mata lalu orang misterius menyeka air mata Dinda.
"Jangan sentuh saya," pekik Dinda melengos.
"Aw.. Saya suka penolakan anda," jawab orang misterius dengan tersenyum smirk.
Dinda harus mencari celah agar bisa selamat dari cengkraman pria ini, di sini dia tidak sendirian melainkan ada kedua anaknya yang sedang tertidur lelap, Dinda tidak mau meninggalkan anaknya.. Ia harus segera ke kamar anaknya bagaimana pun caranya.
__ADS_1
Lalu Dinda memukul alat vital pria itu cukup keras hingga meringis kesakitan, tak sampai disitu, ketika pria itu tersungkur Dinda kembali memukul alat vitalnya beberapa kali lalu memukul kepala orang misterius itu dengan vas bunga hingga mengeluarkan darah, Dinda langsung berlari ke atas untuk ke kamar Vanessa dan menggendongnya menuju kamar Farel.. Untung sekali di tengah ketakutannya Dinda masih memiliki kekuatan untuk menyelamatkan anaknya. Didalam kamar Farel tak hentinya Dinda menelpon Ryan namun tak kunjung juga di angkat. Dinda lalu memilih menelpon siapa saja yang bisa di hubungi, hampir semua kontak ia telepon termasuk Rio.. Kebetulan pak RT dan tetangga sebelahnya mengangkat telpon Dinda dan segera memberitahu yang lainnya untuk menyelamatkan Dinda, Rio pun juga sama, mendengar rumah mantan istrinya ada orang misterius, Rio langsung menuju rumah Dinda dengan kecepatan tinggi.
Didalam kamar tak hentinya Dinda berdoa untuk keselamatan dirinya juga keluarganya, orang misterius sudah berada di depan pintu kamar Farel dan menggedor dengan sangat keras.