
Hari-hari yang dilalui Rio setelah kejadian itu sungguh menyiksa dirinya.. Setiap hari ada saja anak buahnya boy yang menguntit kemana perginya Rio jika dia kepergok meninggalkan kantor, semakin hari Rio semakin merasa tidak nyaman. Anak buah boy tidak segan menampakkan batang hidungnya ketika sedang mengikuti setiap gerak gerik Rio.
"Lama-lama gue bisa gila kalau diperlakukan seperti ini," gumam Rio frustasi.
Ketika jam makan siang tiba, Rio berencana ingin ke restoran favoritnya untuk melepas penat, lagi-lagi anak buahnya boy mengikuti kemana perginya, Rio sangat kesal akan hal itu lalu ketika sampai di restoran Rio langsung menghampiri anak buahnya boy.
"Keluar kalian," ucap Rio menahan amarah sambil mengetuk kaca mobil. Tak butuh waktu lama kini anak buah boy sudah keluar menemui Rio dengan wajah dingin dan garang.
"Ada apa?" tanya preman ketus.
"Kalian yang kenapa.. Kemana pun saya pergi kenapa selalu diikuti, memang saya ini buronan," jawab Rio kesal.
"Kan sudah kami katakan jika anda masih ada urusan dengan bos besar maka kemana pun perginya anda akan kami awasi, jangan harap bisa lepas," ucap preman dengan ketus.
"Astaga.. Saya ini pergi makan siang, ini kan ranah pribadi saya harusnya kalian gak berhak mengikutinya dong," ucap Rio geram.
"Mau itu pribadi atau umum intinya sama saja, kalau mau lepas dari kami maka selesaikan segera hutang anda," ucap preman tak mau tau.
"Kalian dibayar berapa sih sampai kerja segini nya?" tanya Rio heran.
"Itu bukan urusan anda," jawab preman ketus.
"Dasar.. Kalau bukan preman udah gue tonjok kalian semua," batin Rio kesal.
"Jika kalian ikut masuk jangan salahkan saya menelfon polisi atas tindakan tidak menyenangkan," gertak Rio.
"Jika anda berani melakukan itu siap-siap saja keluarga anda dalam bahaya apalagi anak-anak anda," ancam preman.
"Cih.. Tau darimana kalau saya punya anak? Istri saya saja mandul," tanya Rio mengejek.
"Dari pernikahan anda sebelumnya, anda di, karuniai anak kembar, laki-laki dan perempuan," ucap preman dengan tenangnya dan Rio dibuat kaget dengan ucapan preman itu.
"Sialan ternyata boy tidak hanya menggertak gue saja tapi sudah mengorek informasi tentang hal pribadi gue, ini gak bisa dibiarin.. Gue gak mau anak-anak jadi getahnya, boy memang gak bisa dianggap remeh," batin Rio emosi sambil mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Apapun tentang kehidupan saya di masa lalu tolong jangan usik mereka," pinta Rio.
"Semua tergantung anda, jika berani bermain dengan kami maka kami akan bermain dengan orang terdekat anda," ancam preman.
"Oke oke saya akan turuti kemauan kalian, tapi untuk pelunasan maaf saya belum bisa sekarang, beri saya waktu," ucap Rio mengalah.
"Sesuai perjanjian waktu anda 5 bulan dari sekarang," jawab preman.
"Jadi selama itu kalian mengikuti kemana pun gue pergi?" tanya Rio memastikan.
"Benar sekali," jawab preman.
"Gila.. Gue bakalan gila beneran kalau gini," batin Rio kaget dan kesal.
Tak mau memikirkan itu kini Rio bergegas masuk ke restoran dan memesan makanan, ia cuek dengan kehadiran preman-preman itu karena yang terpenting sekarang adalah makan dan menangkan pikiran sambil memikirkan caranya.
Ketika Rio sedang makan tiba-tiba saja si kembar menelpon dan Rio dengan senang hati mengangkatnya.
"Halo anak cantiknya papah.. How are you?" sapa Rio dengan senangnya.
"I'm fine too my girl, Vanessa sedang apa?" tanya Rio.
"Vanessa selesai lomba loh pah dan tadi juara, makanya itu Vanessa mau kasih tau papah," ucap Vanessa dengan antusias.
"Oh iya? Juara apa itu?" tanya Rio bangga.
"Juara mewarnai, tadi Vanessa dapat juara satu loh pah," ucap Vanessa.
"Wah hebat sekali anak papah.. Tapi kenapa papah tadi gak di ajak sih? Kan papah juga mau liat gimana Vanessa ketika gambar dan dapat piala," tanya Rio.
"Maaf ya pah habisnya tadi papah Ryan ikut," ucap Vanessa dengan sedih.
"Its okay girl, dengar kamu bisa jadi juara saja papah sudah bangga dan bahagia kok, nanti kirimkan fotonya ke papah ya biar nanti papah kasih tunjuk juga ke nenek dan kakek," pinta Rio meskipun dalam hati kecilnya ia merasa sedih.
__ADS_1
"Siap papah ada videonya juga loh," jawab Vanessa.
"Iya kah? Ya nanti papah kirimin juga dong," rengek Rio.
"Iya papah habis ini ya, pialanya besar loh pah tadi aja Vanessa hampir gak kuat pegang nya, untung ada mommy yang sigap naik ke panggung," ucap Vanessa.
"Wah berarti mommy dan Vanessa sama-sama hebat dong, kak Farel apa gak ikut lomba?" tanya Rio penasaran.
"Gak ikut soalnya gak suka gambar," jawab Vanessa.
"Tadi kalau ikut kan papah bisa liat gambar kalian berdua," jawab Rio.
"Iya nih pah padahal disuruh sama papah Ryan tapi kakak tetep gak mau, yasudah Vanessa aja sendiri yang ikut lomba," ucap Vanessa.
"Papah Ryan paksa kak Farel?" tanya Rio kaget.
"Enggak pah.. Papah Ryan menawari berulang kali tapi kak Farel tetep gak mau," jawab Vanessa dan Rio bisa bernafas lega, hampir saja ia salah paham dengan ayah sambung si kembar.
"Oh yasudah kalau gitu telponnya nanti lagi ya cantik, papah lagi makan nih," ucap Rio.
"Iya pah ini mommy juga udah panggil di suruh turun," ucap Vanessa.
"Makan yang banyak ya sayang biar tambah sehat dan kuat," ucap Rio.
"Siap papah... Papah jangan lupa makan yang banyak biar gak sakit," ucap Vanessa.
"Siap sayang... Yasudah makan dulu sana tapi jangan lupa kirimin gambarnya," pinta Rio.
"Iya pah.. Bye pah," pamit Vanessa.
"Bye sayang.. I love you" ucap Rio dan dibalas I love you too oleh Vanessa, lalu panggilan mereka berakhir.
Rio yang masih makan beberapa suap seketika hilang selera makannya, bagaimana tidak? Semua yang dulu jadi miliknya kini sudah hilang. Dimulai dari Dinda yang kini sudah membuka hati dan menerima pinangan Ryan apalagi kini Dinda sedang hamil anaknya Ryan, lanjut ke si kembar.. Kedua anaknya yang kini sudah membuka hati dan sayang dengan Ryan, semua yang dulunya milik Rio kini beralih ke Ryan, andai dulunya mengikuti nasehat mamahnya sudah pasti kini hidupnya bahagia dengan keluarga kecilnya. Rio sadar semuanya berantakan dan hancur karena ulah dirinya sendiri, bukan dari Dinda yang sudah tidak mencintainya lagi atau kedua anaknya yang tidak mau hidup dengan Rio, semua itu karena kesalahannya sendiri.
__ADS_1
Dinda dulu sangat mencintai dan menyayangi Rio hingga memberikan anak kembar yang menggemaskan namun karena kebodohan Rio yang termakan rayuan maut Sisil membuatnya tidak berpikir panjang dan melepaskan Dinda begitu saja, kini Dinda dan anak-anaknya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri sedangkan Rio? Kini Rio sedang mengalami keterpurukan atas apa yang dulunya ia perbuat.
"Nasi sudah menjadi bubur, kalau dibilang menyesal ya sudah pasti sangat menyesal, mau di bilang bodoh ya memang gue ini orang paling bodoh di dunia karena sudah melepaskan begitu saja bidadari seperti Dinda hanya demi Sisil, kalau gue boleh meminta ya gue ingin memperbaiki ini semua, gue ingin kembali dengan Dinda dan membesarkan anak-anak bersama-sama, namun sepertinya itu sungguh mustahil, semua yang dulu jadi miliknya kini telah berpindah tangan menjadi milik Ryan, memang penyesalan datang di akhir dan kini gue merasakannya," batin Rio dengan wajah sendu sambil mengaduk-aduk makanan.