RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Pindah Rumah


__ADS_3

"Aku minta maaf ya sayang karena aku sudah kelewatan memarahi mu, jujur saja ketika aku melihatmu di peluk Rio seketika emosiku gak bisa tertahan, aku gak bisa menerima itu.. Kamu sekarang sudah jadi milikku jadi gak boleh ada laki-laki yang menyentuhmu selain aku," ucap Ryan penuh penyesalan.


"Aku tau itu mas tapi lain kali jangan di ulangi, apalagi tadi di hadapan mas Rio.. Dia orang luar mas ya meskipun pernah menjadi suamiku tapi dia tidak seharusnya mendengar pertengkaran kita," tegur Dinda.


"I know.. Aku sungguh menyesal sudah berbuat seperti itu dan maafkan aku karena sudah membuat keselamatanmu dan anak-anak terancam, setelah ini aku akan mencari rumah agar tidak ada kejadian seperti ini lagi, aku tidak akan menyebarkan dimana alamat rumahku yang baru selain keluarga," ucap Ryan dengan serius.


"Aku ikut saja mas," jawab Dinda pasrah.


Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari luar kamar.. Dinda masih trauma dan kini hanya bisa berlindung di belakang suaminya, ia takut jika aksi teror tadi masih berlanjut.


"Apa itu mas? Bukannya tadi orangnya sudah dibawa sama polisi? Apa ini orang yang berbeda?" tanya Dinda ketakutan.


"Kamu tenang dulu ya biar aku yang cek," ucap Ryan berusaha tenang namun tetap waspada.


Lalu Ryan membuka pintu kamar dan melihat sekeliling untuk mencari ada apa di luar sana, merasa tak ada yang mencurigakan Ryan kembali masuk ke kamar dan memberitahu Dinda.


"Gimana mas?" tanya Dinda memastikan.


"Gak ada apa-apa sayang, diluar sepi," jawab Ryan sambil menutup pintu.


"Kok bisa? Tadi kamu mendengarkan juga kan mas?" tanya Dinda heran.


"Iya aku dengar tapi memang tidak ada apa-apa di luar," jawab Ryan jujur.


"Mari kita cek CCTV mas, sekalian kita ambil video ketika ada teror tadi untuk dijadikan bahan barang bukti di kepolisian," ajak Dinda lalu Ryan membuka laptopnya.


"Ada teror kira-kira jam berapa sayang?" tanya Ryan fokus menatap laptop.


"Jam berapa ya? Mungkin di jam 10-11 malam," jawab Dinda berpikir lalu Ryan memutar rekaman di jam tersebut.


"Benar sayang.. Ini dia, kita lihat sampai selesai setelah itu kita copy dan berikan ke polisi," ucap Ryan lalu mereka berdua fokus melihat rekaman.


Ryan merasa bangga memiliki istri seperti Dinda, di situasi seperti ini bisa-bisanya Dinda masih bisa berpikir jernih dan memikirkan keselamatan kedua anaknya, benar kata mantan suaminya kalau Dinda adalah wanita yang hebat dan tangguh.. Beruntung sekali aku telah mempersunting nya, dia tidak gentar meskipun di situasi sulit.


"I love you sayang..." ucap Ryan mencium pipi istrinya.


"Kok tiba-tiba seperti ini?" tanya Dinda kaget.


"Karena kamu wanita yang hebat dan tangguh, kamu masih bisa berpikir jernih dan menyelamatkan anak-anak, kamu juga tidak gentar di situasi yang sulit seperti tadi, aku bangga padamu istriku," ucap Ryan bangga dan Dinda hanya tersipu malu.

__ADS_1


"Udah mas kita fokus sama suara benda jatuh tadi," ucap Dinda mengalihkan obrolan dan kini sudah sangat jelas bahwa yang menjatuhkan barang adalah mantan suami Dinda-Rio.. Dia tidak sengaja menjatuhkan barang setelah itu pergi.


"Pelakunya mantan suami kamu," jawab Ryan dingin.


"I know mas.. Tapi kenapa dia langsung lari?" tanya Dinda penasaran.


"Tanyakan saja sama orangnya," jawab Ryan ketus.


"Kamu masih saja cemburu mas?" tanya Dinda terkekeh.


"Gak.." bantah Ryan ketus.


"Lalu kenapa ketus gitu?" tanya Dinda heran.


"Kenapa Rio harus berbohong? Tadi kamu dengar sendiri kan kalau mantan suamimu itu pamit ke rumah ibu untuk cek anak-anak, namun kenapa dia ada di depan pintu kamar kita dan mendengar semua perdebatan kita? Mantan suamimu itu benar-benar," ucap Ryan sangat geram.


"Bisa saja dia sudah pulang dan mau pamit mas, kan rumah ibu dengan rumah ini dekat," jawab Dinda menduga.


"Apa harus pamitan langsung nyelonong ke kamar? Gak sopan.. Lewat telepon kan bisa," ucap Ryan kesal.


"Sudahlah nanti kita tanyakan ketika waktunya senggang mas, sekarang kita copy dulu bukti-bukti teror tadi," ucap Dinda tak mau memperpanjang masalah.


"Ok.." jawab Ryan ketus lalu menyalin semua bukti. Dinda dan Ryan akhirnya menjemput anaknya dan mereka beristirahat.


Pagi harinya Ryan fokus mencari iklan yang menjual rumah, kebetulan sekali Ryan cocok dengan view dan desain rumah itu lalu menghubungi marketing perumahan dan langsung meninjau lokasi.


Lokasi perumahan nya pun cukup strategis dan keamanannya 24 jam setidaknya bisa meminimalisir kejadian teror terulang lagi, tidak hanya itu saja.. View perumahan itu sangat indah karena penuh penghijauan dan banyak spot bermain anak-anak. Merasa cocok akhirnya Ryan membayar cash rumah itu ya meskipun harganya sangat fantastis.


Ryan lalu pulang untuk memberitahu ini pada istrinya, ia sudah tidak sabar untuk menempati rumah baru.. Ryan yakin jika di sana istri dan kedua anaknya akan aman.


"Sayang..." sapa Ryan sangat bahagia.


"Iya mas? Kok kamu udah pulang? Katanya berangkat kerja?" tanya Dinda heran.


"Tadinya begitu cuma nanti aja lah, aku mau memberikan kejutan untukmu dan anak-anak," ucap Ryan membuat Dinda penasaran.


"Apa mas?" tanya Dinda penasaran.


"Nanti kamu tau sendiri, yuk ikut.." ajak Ryan lalu Dinda menuruti.

__ADS_1


Di perjalanan Dinda semakin penasaran karena jalan yang di lalui nya sangat asing baginya, ingin bertanya namun melihat suaminya sangat bahagia membuat Dinda urung menanyakan.


Setibanya di perumahan Dinda semakin dibuat penasaran, untuk apa suaminya mengajak dia ke sini?


"Kita kok kesini? Mau menemui siapa mas?" tanya Dinda penasaran.


"Gak ada menemui siapa-siapa sayang, nanti kamu juga tahu.." jawab Ryan membuat teka-teki bagi Dinda.


"Mas jangan main teka-teki deh," ucap Dinda geram. Lalu datanglah seorang pria berpakaian formal menghampiri mereka berdua.


"Selamat pagi pak Ryan Hadiningrat," sapa marketing ramah.


"Pagi pak.. Perkenalkan ini istri saya, bisa langsung di tunjukkan mana tempatnya?" tanya Ryan to the point.


"Tempat apa mas?" bisik Dinda penasaran.


"Rahasia.." goda Ryan membuat Dinda kesal.


"Ini dia pak tempatnya, apakah bapak dan ibu cocok?" tanya marketing menunjukkan rumah mewah yang terletak paling pojok.


"Gimana menurutmu sayang?" tanya Ryan meminta usul Dinda.


"Bagus mas.. Sangat bagus," jawab Dinda.


"Kamu suka gak?" tanya Ryan memastikan.


"Tentu suka lah mas ini kan perumahan mahal," jawab Dinda membuat Ryan senang.


"Oke Pak saya deal yang ini," jawab Ryan pada marketing semakin membuat Dinda kaget.


"Maksudnya mas?" tanya Dinda bingung.


"Aku sengaja mengajak kamu kesini untuk menunjukkan rumah baru kita, di depan kamu ini adalah rumah baru kita sayang.. Aku suka sama rumahnya dan kamu pun juga, jadi apalagi yang mau di tunggu? Langsung aku deal," ucap Ryan membuat Dinda bahagia.


"Serius mas? Ini rumahnya mahal banget, lalu rumah lama gimana?" tanya Dinda bahagia.


"Serius.. Harga bukan masalah asalkan tingkat keamanan sangat bagus dan banyak spot untuk main anak-anak, view bagus dan model rumah pun bagus, harga sesuai dengan apa yang di dapat, untuk rumah lama nanti kita diskusikan sama kedua orang tuamu ya, bisa untuk kakakmu kelak atau di kontrakan," jawab Ryan dengan bahagia lalu Dinda memeluk Ryan erat.


"Makasih mas.. Aku sangat bahagia, nanti sepulang sekolah akan aku tunjukkan rumah ini pada anak-anak, boleh?" pinta Dinda.

__ADS_1


"Tentu boleh.. Kita pindah sekarang pun juga gak masalah, kita cicil barang-barang kita sambil membawa anak-anak mengenal rumah barunya," ucap Ryan membuat Dinda semakin bahagia.


Lalu Dinda dan Ryan pulang ke rumah lama untuk membereskan barang-barang sambil menunggu jam kedua anaknya pulang sekolah.


__ADS_2