RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Dinda Bahagia


__ADS_3

"Halo selamat siang bu.. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Ryan ramah.


"Selamat siang Pak Ryan maafkan kalau saya tiba-tiba menelfon dan menganggu waktunya, saya mau berkonsultasi pak," ucap Dinda sungkan.


"Oh iya bu silahkan, dengan senang hati saya akan membantu ibu," Ucap Ryan.


"Jadi begini pak tadi saya selesai bermain dengan Farel dan saya mengantarkan dia pulang, namun tiba-tiba Farel menolak pulang dan mengatakan bahwa selama ini sikap Sisil di belakang mas Rio itu berbeda 180 derajat, anak saya sering mendapatkan perlakuan dan perkataan yang sangat buruk, bukti rekaman suara anak saya juga ada pak, lalu saya menemui mas Rio dan istrinya, akhirnya mas Rio mengakui kalah dan sesuai perjanjian cerai dulu kalau mas Rio terbukti lalai menjaga dan merawat Farel maka hak asuh langsung jatuh ke tanganku, mas Rio tidak terima itu dan akan mengajukan gugatan di pengadilan, bagaimana menurut pak Ryan? Apakah nanti saya akan menang?" tanya Dinda penuh harap.


"Hmm jadi begitu bu, sebenarnya ini masalah yang simpel ya bu tetapi mantan suami anda sepertinya terlalu arogan sehingga tidak bisa menerima keputusan yang sudah dengan sangat jelas di buat dan sah di mata hukum, apalagi pembuatan surat perjanjian itu ada saya yang mengetahuinya, jadi mau mantan suami anda menggugat berapa kali pun tetap dia yang akan kalah bu, jadi saya harap ibu tenang saja dan tidak perlu di ambil pusing," ucap Ryan dengan mantap.


"Serius pak? Ah syukurlah saya lega mendengarnya, ya sebenarnya sih saya sudah menduga ini kalau akhirnya saya yang akan menang namun saya mau mendengarnya langsung dengan anda, karena anda kan ahli hukum," ucap Dinda dan tanpa diketahui olehnya membuat Ryan tersipu malu.


"Tidak juga kok bu, memang ini masalah yang tidak rumit.. Semua orang yang tidak sekolah hukum pun juga sudah paham termasuk ibu," ucap Ryan merendah dengan perasaan berdebar.


"Iya pak, tapi kalau sudah begini saya jadi lega..apa bapak nanti bersedia menemani saya ketika di persidangan?" ajak Dinda.


"Memang kapan bu?" tanya Ryan memastikan.


"Lusa pak, bagaimana? Kalau bapak ada jadwal ya tidak apa-apa, saya berangkat sendiri saja. Yang terpenting anda sudah menjelaskan bahwa saya akan menang," ucap Dinda sungkan.


"Tidak bu, saya akan menemani.. Jangan menghadapinya sendiri, jangan biarkan mantan suami anda mengira bahwa anda lemah, saya akan mendampingi ibu, untuk waktunya silahkan ibu kirim via chat ya," ucap Ryan sigap.


"Terima kasih pak karena anda sudah banyak menolong saya tanpa pamrih, saya berhutang budi dengan anda," ucap Dinda sungkan.


"Tidak usah begitu bu, saya siap membantu anda kapanpun dan dimana pun," jawab Ryan.

__ADS_1


"Baik kalau begitu saya tutup dulu telponnya, sampai jumpa esok lusa ya Pak, semoga memang benar kalau saya yang akan menang," harap Dinda dan Ryan mengaminkan.


***


Sesuai jadwal sidang, Dinda dan Rio menjalanj persidangan pukul 10.00 WIB. Kebetulan Rio sudah tiba 1 jam lebih awal bersama Sisil dan pengacara keluarganya, berbeda dengan Dinda yang terkesan santai mendatangi persidangan karena baginya hal yang dilakukan mantan suaminya hanyalah sia-sia dan membuang waktu saja.


Tanpa sepengetahuan Dinda, iadi jemput oleh Ryan dengan mobil mewahnya. Dinda sangat terkejut namun mau gak mau akhirnya ia menerima tawaran pengacaranya mengingat waktu persidangan semakin dekat.


Di kantor pengadilan Rio melihat kedatangan Dinda dengan Ryan dengan perasaan tidak terima, ia tidak suka melihat Dinda jalan dengan laki-laki lain padahal Rio menyadari bahwa dia bukanlah siapa-siapa Dinda lagi.


"Sialan.. Beraninya pengacara itu mendekati Dinda, apa karena mereka sudah pernah seranjang akhirnya ia seenaknya mendekati Dinda, dasar licik," gumam Rio cemburu.


"Mas.. Lihat tuh mantan istrimu datang dengan pengacaranya, benar kan dugaan ku kalau mereka ada hubungan khusus," sindir Sisil dan Rio hanya berdehem tak suka.


"Selamat siang Pak Rio dan istri, semoga hasilnya nanti fair ya," sindir Ryan dengan senyum angkuhnya.


"Jika Tuhan berkehendak bahwa nanti klien saya pemenangnya, anda bisa apa? Ini masalah sepele loh pak kenapa anda memperkarakan ini?" ejek Ryan semakin membuat Rio emosi.


"Hei.. Anda itu pengacara nya siapa jadi jangan sok menasehati kami deh, urus aja tuh klien yang berkedok pacar," sindir Sisil kesal.


"Sudah pak jangan mengurusi mereka karena mereka tidak memiliki hati, saya saja yang tidak tau apapun bisa dijadikan korban, lebih baik kita fokus saja pak dengan persidangan receh ini," sindir Dinda tersenyum sinis lalu masuk ke ruang persidangan.


"Awas ya jangan sok belagu, kalau kalah jangan nangis," gertak Sisil dan Dinda hanya melengos saja.


"Persidangan hari ini dimulai," ucap ketua hakim lalu mengetuk palu 3x.

__ADS_1


"Untuk saudara Rio Putra Suganda, gugatan yang anda ajukan ini sangat lemah karena semuanya sudah ada perjanjian tertulis dan sah secara hukum, apa anda yakin ingin melanjutkan gugatan ini?" tanya ketua hakim.


"Benar pak saya tetap ingin melanjutkan persidangan," ucap Rio kekeh.


"Baik.. Untuk saudari Dinda Safitri apakah anda mempunyai alasan mengapa membawa ananda Farel Putra Suganda?" tanya ketua hakim.


"Jelas ada pak Hakim dan semua sudah tertuang di dalam Perjanjian pasca cerai, dan saya memiliki bukti yang cukup menguatkan alasan saya kenapa membawa Farel pulang ke rumah," ucap Dinda lalu menyerahkan rekaman suara Farel.


"Din.." ucap Rio geram karena Dinda memberikan bukti itu.


"Sstt.. Gak usah takut mas kalau memang kamu akhirnya menang ya harusnya tenang dong," sindir Dinda dan ketua hakim mendengarkan buktinya dengan detail lalu menyalin nya.


"Baik.. Untuk bukti yang di berikan saudari Dinda Safitri sudah cukup kuat dan sesuai dengan perjanjian pasca cerai kalian, jadi saya menyimpulkan bahwa hak asuh Farel Putra Suganda mutlak jatuh ke tangan saudari Dinda Safitri dan persidangan ini saya anggap selesai dan final," ucap ketua hakim tegas lalu mengetuk palu 3 kali.


"Terima kasih banyak pak Hakim," ucap Dinda sangat bahagia.


"Pak.. Mohon di pertimbangkan lagi, ini semua kesalahan istri saya dan dia melakukannya di belakang saya jadi otomatis saya tidak mengetahui apapun, mohon pertimbangkan pak," pinta Rio penuh harap.


"Mas kenapa jadi aku yang di salahkan sih? Enak aja.." protes Sisil tak terima.


"Ini semua salahmu dan memang kamu biang dari semua masalah ini, jadi jangan lagi membuat aku pusing dengan celotehan mu itu," gertak Rio mengusap wajahnya kasar.


Dinda yang melihat pemandangan menyerukan itu hanya bisa tersenyum geli, pantas saja mereka jodoh.. Keduanya sama-sama mementingkan egonya sendiri.


"Pak Ryan terima kasih banyak atas bantuannya, hari ini saya sangat bahagia.." ucap Dinda sangat senang.

__ADS_1


"Sama-sama Bu, apapun akan saya lakukan demi kebahagian anda," ucap Ryan menatap Dinda secara intens.


"Apa ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan ku selama ini?" batin Ryan.


__ADS_2