
"Mas.. Belum juga jadi suami istri kamu sudah memikirkan sampai jauh," jawab Dinda malu.
"Harus dong.. Apapun harus di pikir sampai jauh agar semuanya matang, seperti halnya nanti ketika kita sudah menikah, aku ingin segera memiliki anak darimu," pinta Rio.
"Tapi mas Ryan gak akan menjadikan aku rahim pengganti kan?" sindir Dinda.
"Astaga.. Ya gak bakalan lah, kamu akan aku jadikan ratu di hidupku, tidak ada rahim pengganti atau pun jebakan lainnya.. Aku ingin segera memiliki anak karena usia kita sudah tidak muda lagi jadi aku tidak mau munafik, aku ingin segera memiliki anak kalau bisa langsung banyak," pinta Ryan membuat Dinda terkejut.
"Ha? Yang benar saja mas.. Aku sudah memiliki anak kembar masih saja kamu ingin menambah nya? Satu aja cukup mas jadi nanti anak kita ada tiga," protes Dinda.
"No.. Punya anak adalah rezeki dan aku menginginkan rezeki kita berumah tangga mengalir seperti air jadi jangan membatasi berapa jumlah anak kita," ucap Ryan tak mau di, bantah.
"Tapi aku juga butuh waktu juga dong mas, mengurus anak itu menguras waktu, pikiran, tenaga, emosi, finansial juga.. Aku gak mau kalau kita punya banyak anak nantinya baby blues," ucap Dinda berpikir logis.
"I know.. Itu hanya harapan aku saja sayang untuk selebihnya kita pasrahkan sama yang di atas siapa tau doaku nanti di kabulkan," harapan Ryan dengan wajah menyebalkan bagi Dinda.
"Ya aamiin mas, tapi wajahnya mohon di kondisikan," sindir Dinda.
"Memang apa yang salah dengan wajahku?" tanya Ryan kebingungan.
"Wajahmu tadi sok imut mas, gak pantas," jawab Dinda menahan tawa.
"Wow.. Kamu baru menyadarinya ya sayang? Dari dulu calon suamimu ini kan tampan rupawan dan juga imut-imut," jawab Ryan dengan penuh percaya diri.
"Mas jangan narsis deh, please.." pinta Dinda malas.
"Narsis sama calon istri gak papa dong daripada sama yang lainnya hayo?" goda Ryan.
"Mas.. Kamu berani?" tanya Dinda memasang wajah galak.
"Why not?" goda Ryan yang langsung terkena cubitan Dinda.
"Gak sayang.. Mana berani aku mempermainkan kamu, mendapatkan mu aja butuh waktu yang lama," ucap Ryan merayu.
"Sudah sana pulang.." usir Dinda salah tingkah.
"Jangan di usir dong kan aku masih mau ketemu," rengek Ryan.
__ADS_1
"Makanya jangan bikin emosi terus dong, bercandaan mu itu gak lucu mas, aku gak suka.." ucap Dinda manyun.
"Manyun terus nanti aku cium lagi loh," goda Ryan mulai mendekati Dinda.
"Mas.." pekik Dinda menjauh.
"Semakin menjauh nanti kamu semakin aku dekatin loh sayang, ingat di belakangmu ada tembok.. Kalau udah terpentok tembok nanti bingung sendiri," goda Ryan.
"Udah mas mending kamu pulang dulu sana, lama-lama kamu membahayakan," usir Dinda mendorong tubuh Ryan sampai ke pintu.
"Serius kamu usir aku?" tanya Ryan kaget.
"Yes.. Kamu bahaya mas, aku takut kejadian yang gak seharusnya terulang lagi, aku gak mau rumah ini ternoda," pinta Dinda.
"Baiklah.. Aku pulang dulu," jawab Ryan sedih.
"Jangan sedih mas, aku minta maaf," ucap Dinda juga sedih.
"It's okay.. Yang kamu lakukan udah benar kok," jawab Ryan berusaha baik-baik saja, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa kecewa karena Dinda menolaknya secara blak-blakan.
"Makasih pengertiannya mas, aku hanya menjaga nama baik kita berdua apalagi mas Ryan tau sendiri kan kalau aku ini janda? Pasti nantinya bakal banyak orang yang salah paham kalau tau kita berduaan saja di rumah," ucap Dinda memberi pengertian.
"Percayalah mas aku juga bangga bisa memilikimu," jawab Dinda jujur.
"Aku percaya itu, yasudah kalau gitu aku pulang dulu ya," pamit Ryan lalu melajukan mobilnya.
***
Hari pernikahan Dinda dan Ryan sudah tiba, keduanya terlihat sangat serasi apalagi Ryan memperlakukan Dinda bak ratu di hadapan banyak orang..
"Bagaimana saudara Ryan apakah acaranya bisa dimulai?" tanya penghulu.
"Bisa pak.." jawab Ryan mantap.
"Untuk para saksi, apakah acaranya bisa dimulai?" tanya penghulu.
"Bisa pak.. Silahkan," jawab para saksi kompak.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saudara Ryan Hadiningrat nanti ikuti perkataan saya dengan benar," ucap penghulu mengulurkan tangan.
"Baik Pak.." jawab Ryan mulai nervous.
"Saya nikahkan engkau, Ryan Hadiningrat binti Hadiningrat dengan perempuan pilihanmu sendiri yang bernama Dinda Safitri binti Soetono dengan mas kawin seperangkat alat sholat, emas batangan 50 gram dan uang tunai 100 juta di bayar tunai," ucap penghulu dengan tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Safitri binti Soetono dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Ryan dengan suara gemetar namun tegas. Dalam sekali tarikan nafas Ryan secara sah mengucapkan ijab qabul.
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah.." jawab para saksi dengan kompak.
"Alhamdulillah.." ucap penghulu lalu melanjutkan doa-doa.
"Mulai sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, semoga pernikahan kalian sakinah, mawardah dan warrahmah," ucap penghulu.
"Aamiin.." jawab kedua mempelai berbarengan lalu saling melempar senyum.
"Dinda.. Mulai sekarang dan seterusnya aku adalah suami kamu.. Apapun yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku dan apapun baik dan buruk mu akan aku terima dengan ikhlas, mari kita membina rumah tangga hingga ke surga," ucap Ryan meneteskan air mata saking terharunya.
"Mas Ryan.. Mulai hari ini dan seterusnya aku sudah sah menjadi istrimu, akan aku abdikan jiwa dan ragaku untuk melayani dan patuh terhadapmu mas," ucap Dinda dengan suara bergetar dan menitikkan air mata.
"Setelah ini kita akan selalu saling mengisi dan menerima kekurangan satu sama lain, setelah ini apapun suka dan duka akan kita tanggung bersama, terima kasih sudah mau menerimaku menjadi suamimu," ucap Ryan tulus.
"Aku juga berterima kasih karena mas Ryan sudah mau menerima aku yang seorang janda beranak dua, aku yang beruntung bisa di persunting olehmu mas," ucap Dinda terharu.
"Mommy.. Om pengacara? Hore.. Kalian akhirnya menikah," ucap Farel membuyarkan sesi keromantisan mereka.
"Iya sayang sekarang om pengacara adalah papah kamu, are you happy?" tanya Dinda sambil mengusap rambut anaknya lembut.
"I'm so happy mom.. Bolehkah Farel panggil om pengacara dengan sebutan papah?" tanya Farel yang sontak membuat Ryan kaget.. Ia tak menyangka anaknya Dinda begitu tulus menerimanya.
"Of course.. I'm happy to hear that," jawab Ryan bangga.
"Thanks papa.." jawab Farel lalu memeluk Ryan di hadapan banyak orang.
"Papah sangat sayang padamu dan juga Vanessa, kalian penyemangat papah.." ucap Ryan sambil memeluk Farel.
__ADS_1
"Thanks pah.. Jagain mommy ya jangan sampai mommy sedih, nanti papah aku sentil loh," ucap Farel dengan wajah menggemaskan membuat kedua mempelai tertawa bahagia.
"Yes.. I'm promise boy," jawab Ryan sambil menahan tawa.