RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Semakin Dekat


__ADS_3

"Makasih udah nolongin saya pak, kalau begitu saya pulang dulu, permisi," pamit Vika yang dicekal oleh Dito.


"Mau kemana? Pulang bareng aja kan kita searah malah satu komplek," tanya Dito.


"Mau pesan taksi aja pak, makasih tawarannya," tolak halus Vika. Kejadian tadi saja sudah membuatnya kesal bercampur malu, bagaimana jadinya jika nanti mereka satu mobil? Bisa tambah mati kutu dibuat oleh bosnya itu.


"Gak ada taksi online jam segini, bahaya! Ayo bareng aja emangnya kenapa sih? Cowokmu marah?" tanya Dito memastikan dan Vika menggeleng.


"Yasudah ayok bareng, sini.." desak Dito menggandeng tangan Vika menuju mobil lalu mereka pulang bersama.


"Dasar wanita sukanya kok dipaksa, andai aku biarkan dia beneran pesan taksi online, yakin deh dia bakal mengumpat aku dengan sumpah serapahnya, ya dibilang gak peka lah inilah itulah, wanita wanita," batin Dito geli.


Didalam perjalanan, keduanya tak ada yang memulai pembicaraan dan fokus dengan pemikiran masing-masing. Vika memikirkan betapa malunya dia sudah main peluk bosnya apalagi posisi di kantor, mana dilihat satpam pula, belum lagi Vika memikirkan dokumen yang ia garap belum tersimpan, jika nanti listrik menyala otomatis dokumen akan hilang, duh memulai dari awal lagi dong. Sedangkan dalam benak Dito, ia memikirkan betapa senangnya dipeluk tetangganya sendiri dan juga memikirkan siapa yang sudah dengan beraninya mengusik perusahaan yang ia kelola.


"Astaga..." teriak Vika membuat Dito kaget.


"Ada apa? Kenapa?" tanya Dito khawatir.


"Dokumen.. Tadi aku lagi buat beberapa dokumen dan semuanya belum tersimpan karena mati listrik, duh gimana dong ini? Bisa hilang semuanya, mana buat dokumen itu butuh pemikiran ekstra lagi," keluh Vika.


"Yakin belum sempat kamu simpan?" tanya Dito memastikan.


"Yakinlah pak Dito.. Gimana mau menyimpan kalau listrik tiba-tiba mati, tau gini kan udah tak simpan dulu," jawab Vika kesal.


"Oh iya lupa, udah tenang aja biar besok di handle bagian IT," jawab Dito dengan entengnya.


"Semoga aja gak hilang itu dokumen," gerutu Vika yang didengar Dito.


"Bagian IT di perusahaan papah sangatlah handal, kalau sampai gak bisa membalikkan dokumen yang tadi dikerjakan, pecat mereka hari itu juga," ucap Dito membuat Vika kaget.

__ADS_1


"Kamu nguping ya pak?" tanya Vika.


"Gak.. Jelas-jelas kamu bilang gitu cukup keras kok makanya aku denger," jawab Dito santai.


"Bilang aja nguping," sindir Vika.


Ketika Dito ingin menjawab ucapan Vika tiba-tiba perutnya berbunyi cukup keras menandakan jika lapar, Vika saja sampai mendengarnya.


"Lapar pak? Terakhir makan kapan?" tanya Vika.


"Iya nih lapar, ya siang tadi lah sama kamu di kafe," jawab Dito.


"Lapar ya makan pak, punya uang banyak buat apa," sindir Vika.


"Ini mau makan, yuk, kamu mau dimana?" ajak Dito.


"Refrensi tempat makan seorang wanita biasanya lebih bagus daripada pria, ayo sebutin mau dimana?" desak Dito.


"Udah jam segini pak, resto mana mau nerima dine in, makan pecel lele di seberang jalan sana aja pak, enak," ajak Vika yang membuat Dito tercengang.


"Apa? Pecel lele? Pinggir jalan?" pekik Dito.


"Iya.. Kenapa? Gak pernah makan dipinggir jalan ya?" tebak Vika dan Dito mengangguk.


"Yah.. Sayang sekali padahal pecel lele di sana enak banget pak, sumpah enak parah," ucap Vika.


"Kenapa kamu mempromosikan tempat itu segitunya sih? Dibayar berapa emangnya?" tanya Dito heran.


"Aku hanya mereview pak, mau kesana gak?" tanya Vika.

__ADS_1


"Gak ada tempat lain yang lebih bersih? Pinggir jalan kan banyak asap kendaraan," tanya Dito.


"Ya makan di rumah aja pak udah pasti terjamin bersih dan higenis nya, pulang aja kalau begitu," jawab Vika dengan santai, memang benar kan perkataan Vika jika mau makanan yang higenis dan bersih ya masakan rumah.


"Eh jangan dong.. Yaudah ayo kesana," jawab Dito pasrah.


Setelah memarkirkan mobilnya dan memesan makanan yang sama dengan Vika, terlihat dengan jelas jika Dito tak nyaman disini, berulang kali ia mengusap baju kerjanya dan mengelap meja dengan tisu. Vika yang melihat pun hanya menggelengkan kepala saja, jujur saja Vika merasa heran dengan kehidupan orang kaya. Makan di pinggir jalan serasa geli dan jijik sedangkan makan di restoran mewah merasa paling istimewa, padahal mereka tak tahu di belakang itu semua makanan serta alat makan benar-benar bersih atau tidak. Pernah disuatu tempat Vika sedang makan diresto siap saji ternama, karena sedang ramainya, Vika mendapati piring yang belum dicuci. Bagaimana bisa Vika tau? Terlihat jelas di piringnya masih ada bekas saus sambal sedangkan piring itu sangatlah kering, sudah jelas kalau piringnya digunakan kembali. Semenjak itu Vika lebih suka makan di pinggir jalan yang semuanya terlihat jelas dari cara memasak, menyajikan hingga mencuci piring.


Makanan sudah tiba, Vika tak sabar ingin menyantap hidangan yang ada didepan matanya sedangkan Dito masih diam memperhatikan dengan detail makanan yang ia pesan. "Mau pakai sendok dan garpu pak?" tanya Vika yang seolah tau jika Dito jijik makan langsung dengan tangan.


"Kenapa kamu makannya langsung dari tangan? Dicuci nya cuma didalam mangkuk kecil ini yang berisi air dan jeruk nipis saja, emang bersih?" tanya Dito heran.


"Namanya makan pecel lele ya gini pak, ini warung kaki lima bukan resto bintang lima pak, yang makan disini kalangan menengah kebawah jadi ya gini cara makannya, nikmat loh pak, cobalah," ucap Vika.


"Nanti tangannya panas dong kan kena sambal," tolak Dito.


"Coba aja dulu baru komen, ketagihan awas," celetuk Vika yang menyantap makanan yang ia pesan dengan lahap hingga Dito tergiur untuk mencoba.


Awalnya Dito kesulitan memperagakan apa yang dilakukan oleh Vika namun setelah Vika melakukan dengan perlahan dan Dito mengikuti, barulah Dito bisa makan langsung dengan tangan meskipun bagi Vika masih sedikit aneh tapi ya cukup lebih baik lah.


Sekali suapan Dito bisa merasakan perpaduan nasi, sambal juga lauk dalam satu kunyahan, memang benar apa yang dikatakan Vika, ini nikmat sekali.


Kali ini Dito makan lebih cepat dari Vika karena saking senangnya dengan sensasi pecel lele pinggir jalan ini, Vika yang melihatnya merasa senang karena meskipun Dito seorang bos dan berasal dari keluarga sangat kaya tak membuat Dito gengsi untuk makan ditempat seperti ini bahkan terlihat jika sekarang Dito begitu nikmati dan ketagihan dengan makanan pinggir jalan ini. Nasi, lauk serta sambal habis tak tersisa belum lagi minuman yang dipesan juga habis sampai tadi Dito menambah 2 gelas es teh karena saking enaknya dan pedasnya dari sambal merupakan pedas yang nagih, tak kapok Dito memakannya.


"Makasih ya Vika udah ajakin ke tempat seperti ini, gak nyangka loh ada makanan enak namun harganya terbilang murah, andai ini masuk ke resto kelas atas harganya pasti mahal," puji Dito.


"Sama-sama Pak, sesekali cobalah makanan dipinggir jalan karena tak semua yang terlihat menjijikan itu demikian, nyatanya bapak lihat sendiri kan semuanya bersih malah bapak bisa melihat semuanya sendiri tanpa perlu izin lebih dahulu, dari cara memasak, menyajikan hingga proses mencuci piring pun bisa dilihat dengan jelas," ucap Vika.


"Kamu memang perempuan yang berbeda Vika, gak sia-sia ada perasaan ini untukmu, mulai hari ini akan aku kembangkan rasa ini agar semakin besar untukmu," batin Dito.

__ADS_1


__ADS_2