RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Vanessa Terguncang


__ADS_3

Keesokan harinya mereka semua sudah bersiap menuju dua lokasi sekolahan elite pilihan Farel dan Vanessa.


"Kita ke sekolahan pilihan kak Farel dulu ya soalnya dekat dari sini, gak papa kan Vanessa?" tanya Ryan meminta izin.


"Iya pah gak papa," jawab Vanessa patuh.


"Good girl," jawab Ryan senang lalu melakukan mobil menuju sekolah pertama.


Di sana Farel sangat cocok dengan kondisi sekolah dan juga suasana kelasnya, Farel langsung cocok namun sayangnya ia harus ikut ke sekolahan pilihan adiknya.


Setelah selesai mengelilingi lingkungan sekolahan pilihan Farel kini mereka bergegas menuju sekolah pilihan Vanessa.


Setibanya di sana Vanessa kurang suka dengan keadaan sekolahnya karena dekat dengan jalan raya, seketika Vanessa langsung mengingat kejadian penculikan yang terjadi beberapa hari lalu.


"Papah.. Mommy.. Pulang.. Pulang.." pekik Vanessa histeris.


"Kenapa sayang? Ada apa?" tanya Dinda panik.


"Vanessa gak mau disini, ayo pulang mom.. Vanessa takut," ucap Vanessa ketakutan bahkan badannya sampai gemetaran.


"Yasudah kita pulang," ucap Ryan langsung membopong Vanessa menuju mobil.


Sesampainya di dalam mobil keadaan Vanessa semakin parah, ia sampai berteriak histeris dan terguncang batinnya.. Ia hanya mengatakan kata takut, takut dan takut.


Tak mau membiarkan keadaan ini berlangsung lama Ryan langsung tancap gas ke rumah sakit dan membooking psikiater terbaik di rumah sakit tersebut.


"Tenang ya sayang.. Vanessa kuat kok, papah yakin kamu bisa melewati ini," ucap Ryan yang dirundung kepanikan namun berusaha tenang, ia tak mau semuanya panik dan nantinya gak bisa berpikir jernih.


Dinda terus saja menangis tanpa henti melihat putri kesayangannya terguncang bahkan ketakutan seperti itu, apa ini ada hubungannya dengan kejadian penculikan itu?


"Vanessa sayang.. Ayo nak lawan rasa takutnya, mommy tau kamu anak kuat dan pintar," pinta Dinda di sela tangisannya.


"Mommy.." panggil Farel.


"Iya sayang? Kamu gak takut kan?" tanya Dinda cemas.


"Gak kok mommy.. Jangan nangis terus ya mommy nanti Farel jadi takut," pinta Farel.


"Maaf ya sayang mommy gak bisa mengendalikan diri habisnya mommy panik tiba-tiba saja adikmu seperti ini padahal tadi waktu berangkat baik-baik saja," ucap Dinda merasa bersalah karena hampir membuat Farel ketakutan. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya kalau kedua anaknya sama-sama terguncang.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Ryan langsung bergegas ke ruangan administrasi untuk mengkonfirmasi kehadiran putrinya. Kebetulan sekali psikiater yang dimaksud hari ini pasiennya sedikit dan Vanessa mendapat nomor antrian 2.


Sambil menunggu nama anaknya di panggil, Ryan terus menerus memotivasi Vanessa untuk melawan rasa takut yang ada di dirinya, sekuat yang Ryan bisa ia mencoba melakukan pertolongan pertama pada sang putri.


"Vanessa.. Vanessa dengar papah kan?" tanya Ryan dengan lembut.


"Vanessa sayang.. Vanessa tau gak kalau papah sayang sama kamu juga kakak Farel, jangan begini ya sayang.. Lawan rasa takutnya yuk. Papah yakin Vanessa bisa melakukannya dan Vanessa bisa melewati itu semua," ucap Ryan tak hentinya berkata-kata penyemangat untuk Vanessa. Namun sayang Vanessa tidak merespon apapun ucapan Ryan dan tak hentinya ia mengigau ketakutan.


"Takut... Takut.. Vanessa gak mau disini, ini dimana? Mommy dan papah Ryan mana? Kenapa gak jemput Vanessa dan kak Farel? Mommy.. Papah.." ucap Vanessa mengigau dengan mata terpejam dan badan terus bergetar.


Dinda dan Ryan sudah diambang keputusasaan bagaimana caranya menangkan anaknya agar tidak terus seperti ini, untung saja nama Vanessa segera di panggil, setidaknya Dinda dan Ryan bisa lega karena anaknya akan mendapatkan pertolongan.


"Atas nama pasien Vanessa Putri Suganda?" teriak perawat di depan pintu.


"Ya Sus.." jawab Dinda lalu masuk ke ruangan ditemani suaminya.


"Mari masuk bu," ucap perawat.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter dengan ramah.


"Ada dok.. Lihat anak saya sampai bergetar seperti ini, dia ketakutan dok," ucap Ryan menunjukkan Vanessa yang masih terus mengigau dan badannya gemetar.


Setelah Vanessa di tidurkan di bed, psikiater melakukan teknik untuk me rileksasi pasien. Ajaibnya kini Vanessa tidak lagi terguncang bahkan tubuhnya kembali tenang.


Dokter lalu mengajak Vanessa berbincang yang secara tidak langsung itu di bawah alam sadar Vanessa.


"Vanessa putra Suganda? Benar itu nama kamu?" tanya dokter dan Vanessa mengangguk.


"Baik.. Dengarkan perkataan saya ya, ketika saya bertanya nanti tolong jawablah dengan jujur dan senyaman kamu," ucap psikiater dan Vanessa mengangguk.


"Apakah Vanessa pernah mengalami hal yang menakutkan?" tanya psikiater.


"Pernah.." jawab Vanessa lirih.


"Kalau boleh tau dan kalau Vanessa masih hapal kira-kira kapan?" tanya psikiater.


"Beberapa hari yang lalu," jawab Vanessa.


"Hal apa yang membuat Vanessa takut?" tanya psikiater.

__ADS_1


"Penculikan.. Sekolah dekat jalan raya dan mobil seram," jawab Vanessa lirih.


"Oh begitu.. Lalu Vanessa tadi sampai ketakutan seperti itu karena melihat apa?" tanya psikiater.


"Melihat semuanya.. hiks.. hiks.. Vanessa takut di culik, mommy.. papah," ucap Vanessa kembali menangis.


"Baik.. Kalau begitu dengarkan kata-kata saya ya sayang.. Kalau suatu hari Vanessa melihat mobil seram atau bahkan harus sekolah yang lokasinya di dekat jalan raya jangan lagi takut karena itu adalah benda mati, mereka tidak bisa mencelakai bahkan membuat Vanessa ketakutan, jangan takut dengan dua benda itu ya.. Sekolah yang berlokasi di jalan raya dan juga mobil seram, kenapa Vanessa menyebutnya mobil seram? Apa karena yang menjalankan mobil itu orangnya seram semua?" tanya psikiater terus menggali sumber ketakutan pasien.


"Iya.. Mereka semua seram, badannya besar dan berotot, kulitnya hitam bahkan rambutnya pun panjang tapi keriting," jawab Vanessa.


"Baik.. Jadi mulai sekarang jangan lagi merasa takut dengan mobil seram ya karena yang membuat mobil itu seram adalah orangnya bukan mobilnya, ingat sayang.. Mobil adalah benda mati jadi tidak bisa membuat kamu celaka," ucap psikiater.


"Baik.." jawab Vanessa nurut namun masih saja menangis.


"Oke anak pintar anak cantik, terima kasih ya sudah mau membagi cerita dengan saya semoga setelah ini tidak ada lagi ketakutan di dalam pikiran dan juga hati kamu, silahkan bangun.." ucap psikiater memakai teknik membangunkan pasien.


"Jadi gimana dok? Apa yang harus kami lakukan?" tanya Dinda cemas.


"Untung saja kalian membawa anak anda secara cepat jadi rasa trauma dalam dirinya belum dalam dan masih bisa di sembuhkan ya meksipun itu membutuhkan waktu dan juga membutuhkan beberapa rileksasi lagi, sementara ini Vanessa sudah tenang dan bisa beraktivitas normal namun saya ingatkan untuk menghindari dulu benda yang membuatnya trauma demi kelangsungan proses penyembuhan pasien," ucap psikiater dengan jelas dan lugas.


"Baik dok kami mengerti," jawab Ryan paham.


"Sebenarnya saya masih ingin menggali banyak info lagi namun melihat kondisi pasien yang masih kecil rasanya saya tidak tega kalau terus menerus membawanya ke alam bawah sadar.. Biar nanti dilakukan secara bertahap ya," usul psikiater.


"Baik kami percaya saja semuanya sama anda asalkan anak saya sembuh dari rasa traumanya," jawab Dinda pasrah.


"Kalau boleh saya tau apakah benar anak anda beberapa hari lalu diculik?" tanya psikiater.


"Benar.. Kejadian itu berlangsung selepas pulang sekolah, sebelum mereka membawa anak saya terlebih dahulu mereka membius anak-anak saya jadinya banyak orang yang tidak mengira kalau anak saya sedang di culik, mereka taunya anak saya di jemput papahnya dalam posisi tidur sampai satpam yang sedang berjaga pun sampai lalai dalam pengawasan.." ucap Dinda geram.


"Begitu.. Pantas saja anak anda sampai ketakutan seperti itu, apakah sampai sekarang anak-anak anda rasanya takut keluar rumah apalagi bertemu orang banyak?" tanya psikiater.


"Awalnya begitu tapi tadi mereka sudah mulai bersikap biasa dan tiba-tiba Vanessa berteriak histeris ketika kami sedang mencari sekolah baru untuk mereka," ucap Dinda yang belum merasa ngeh jika yang membuat Vanessa trauma karena lokasi sekolah pilihan Vanessa berada di dekat jalan raya.


"Mom apa mommy gak tau kalau lokasi sekolah pilihan Vanessa berada di dekat jalan raya bahkan tadi ada mobil yang mirip seperti mobil yang membawa kami ke suatu tempat," ucap Farel dengan gugup.


"Astaga.. Maafkan mommy.. Mommy gak tau sama sekali, mommy gak sadar," jawab Dinda merasa sangat bersalah.


"Maafkan papah juga ya sayang.. Papah juga gak menyadari," ucap Ryan merasa bersalah.

__ADS_1


"Iya mom.. pah gak papa Farel tau kok mungkin kalian sedang fokus dimana sekolah baru yang terbaik untuk kami," ucap Farel membuat Dinda tersentuh hatinya, Dinda langsung memeluk anak laki-lakinya itu dan tak bisa lagi membendung tangis.


__ADS_2