RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Pertengkaran Rio dan Sisil


__ADS_3

Semakin lama mereka menjalin rumah tangga, setiap hari mereka selalu bertengkar. Ada saja masalah yang menjadi pemicunya dan ego mereka sangat tinggi sehingga permasalahan semakin runyam.


Pagi hari Rio ingin berangkat ke kantor dan sudah bersiap, namun ia merasa kesal karena Sisil masih saja tidur.


"Sil bangun dong ini udah pagi," ucap Rio.


"Masih ngantuk," jawab Sisil lalu kembali menarik selimut sampai lehernya.


"Sil.. Suamimu ini mau berangkat kerja," ucap Rio sedikit meninggi.


"Yasudah tinggal berangkat aja kenapa heboh sih," ucap Sisil malas.


"Suami mau berangkat kerja ya di siapin baju, segala keperluan dan sarapan," ucap Rio kesal.


"Siapin sendiri bisa kan mas jangan kayak anak kecil deh memangnya kamu Farel," cibir Sisil semakin membuat Rio murka.


"BANGUN" gertak Rio menarik Sisil.


"Mas.. Jangan kasar bisa, aku ini masih tidur loh jangan main tarik dong," protes Sisil kesal.


"Makanya suami mau berangkat itu kamu wajibnya sudah bangun dan lebih bagus melayani kebutuhanku, bukan malah tidur dan nanti bangun siang, setelah itu shopping sampai sore.. Habisin duit aja bisanya," sindir Rio kesal.


"Mas aku ini istri bukan pembantu, di rumahmu kan banyak ART jadi ya semua keperluan sudah ada, jangan dianggap ribet kenapa sih bikin kesal aja," jawab Sisil kesal.


"Jadi istri ya harus melayani suaminya, apa kamu ini pikun tugasmu sebagai istri itu apa? Contohlah Dinda.. Setiap pagi dia sudah menyiapkan pakaian dan air hangat, belum lagi sarapan yang dia buat sendiri, dia juga gak pernah tuh habisin duit ku sampai nominalnya fantastis kayak kamu," sindir Rio.


"Dinda lagi Dinda lagi.. Kenapa sih mas Rio selalu membandingkan Sisil dengan dia? Jelas beda dong mas dia kan berasal dari keluarga biasa yang sudah di ajarkan anaknya mengurus rumah, sedangkan kita? Sedari kecil kita gak pernah di suruh ke dapur atau pun cuci baju, semua sudah di lakukan pembantu, jadi tolong jangan lagi membandingkan aku dengan mantan istrimu itu.. Saya gak terima mas," pekik Sisil emosi.


"Lalu mau mu apa?" tantang Rio.

__ADS_1


"Jangan lagi membandingkan aku dengan mantan istrimu, kita berbeda mas.. Wanita mana yang rela jika suaminya masih memikirkan orang lain," pinta Sisil.


"Dinda pantas untuk di pikirkan apalagi di perjuangkan," ucap Rio refleks.


"Apa kamu bilang barusan mas? Kamu masih memikirkan dia? Kamu mau memperjuangkan dia lagi mas? Hei.. Kamu gak malu?" cibir Sisil emosi.


"Buat apa malu, toh memang dia pantas mendapatkan itu apalagi aku ini ayah biologis Farel dan Vanessa jadi ya setidaknya aku ini ada poin plusnya bagi Dinda," ucap Rio percaya diri.


"Percaya diri sekali kamu mas, sudah ada pengacaranya yang jelas menyukai dia, lalu kamu mau merebutnya? Terus aku ini nantinya gimana mas? Ha?" cecar Sisil emosi.


"Ya.. Ya setidaknya kan aku udah memenuhi janji untuk menikah denganmu jadi ya aku gak ada salah dong," jawab Rio tak mau salah.


"Oh jadi pernikahan ini karena janji saja? Mana kata manis mu dulu mas? Mana?? Kamu berubah semenjak mantan istrimu di dekati pengacaranya," ucap Sisil emosi.


"ITU HANYA PEMIKIRAN MU SAJA, AKU SETENGAH MENYESAL MENCERAIKAN DINDA KETIKA DIA MELAHIRKAN KEDUA ANAKKU DAN SEKARANG AKU SUNGGUH MENYESAL SETELAH MELIHAT PERJUANGAN DIA BANGKIT," pekik Rio meluapkan emosinya.


"Kamu menanyakan bagaimana kelanjutan pernikahan kita? Mau aku katakan sekarang?" tanya Rio tersenyum kecut.


"Jangan bilang kamu ingin cerai mas," ucap Sisil gugup.


"Maybe yes," jawab Rio mantap.


"MAS.. " pekik Sisil emosi.


"kenapa? Selama ini aku cukup sabar menghadapi sikapmu yang malas-malasan apalagi setiap hari kerajaan mu hanya shopping dan shopping, kamu bisanya hanya menghamburkan uang tanpa tau menyimpannya, contohlah Dinda.. Meskipun dia tau aku keluarga kaya raya tapi dia tidak pernah boros, dia pandai mengatur keuangan dan membeli kebutuhan secukupnya, ingat sil secukupnya bukan berlebihan sepertimu," gertak Rio penuh penekanan.


"DINDA LAGI DINDA LAGI.. BISA GAK JANGAN SAMAKAN AKU DENGANNYA TERUS, CAPEK AKU MAS.. AKU INI SISIL BUKAN DINDA, DI DUNIA INI TIDAK BISA KAMU MENEMUKAN SESEORANG YANG SAMA PERSIS DENGAN MANTAN ISTRIMU ITU, WAJARLAH MAS KALAU DIA ITU BERHEMAT DIA KAN LAHIR DARI KELUARGA MENENGAH KE BAWAH, BERBEDA JAUH DENGAN KITA.. INGAT YA MAS KELUARGA KU SAJA TIDAK PERNAH MEMBUATKU HIDUP MENDERITA APALAGI BERHEMAT, JADI JANGAN MENYURUHKU UNTUK MELAKUKAN ITU," pekik Sisil emosi.


"YA MEMANG DINDA BUKAN DARI KALANGAN ORANG KAYA MACAM KITA TAPI KETIKA DIA MENIKAH DENGANKU TIDAK PERNAH SEKALI PUN DIA SOMBONG DAN GEMAR SHOPPING SEPERTIMU, JADI JIKA KAMU TIDAK SUKA DI BANDINGKAN LEBIH BAIK SEGERA PERBAIKI SIFAT MU ITU SEBELUM AKU BERUBAH PIKIRAN," pekik Rio menunjuk-nunjuk Sisil.

__ADS_1


"SETELAH NANTI AKU MEMPERBAIKI SIFAT KU APAKAH KAMU AKAN KEMBALI MENCINTAIKU MAS ATAU MALAH MASIH SAJA MEMBANDINGKAN AKU DENGAN MANTAN ISTRIMU ITU?" tanya Sisil.


"Itu semua tergantung dari kamu," jawab Rio enteng dan keluar dari kamar.


"MAU KEMANA MAS?" pekik Sisil mengejar Rio dan kedua orang tua Rio mendengarnya.


"Sisil kenapa lagi?" tanya Mayang heran.


"Biasa mah kalau di kasih tau gak pernah nurut, apa salah kalau Rio minta di layani? Rio punya istri tapi serasa bujang mah.." adu Rio.


"Itu resiko mu menikahinya, mamah sudah bilang kan jangan meneruskan hubunganmu dengan Sisil dan lanjutkan lah pernikahanmu dengan Dinda, mamah saja baru pertama kali melihat Dinda waktu itu langsung suka, Dinda wanita baik dan terbaik," ucap Mayang membuat Rio semakin menyesal.


"Mah tolong jangan memperkeruh situasi ini ya, Sisil udah capek terus di bandingkan dengan mantan istri mas Rio jadi jangan lagi mamah tambah-tambahi," protes Sisil.


"Lihat Rio mana ada menantu yang berani seperti ini? Apakah Dinda pernah memperlakukan mamah dan papah mu buruk?" tanya Mayang.


"Mah.." pekik Sisil kesal.


"Iya mah memang Dinda selalu bersikap baik dengan mamah dan papah, makanya itu Rio baru menyesalinya sekarang," jawab Rio sedih.


"Astaga... Kalian berdua ini menyakiti perasaanku, bisa-bisanya berbicara seperti itu di depan ku, kalian sungguh jahat.. Kamu jahat mas," ucap Sisil menangis lalu masuk ke kamar.


"Biarkan saja istrimu seperti itu jujur saja mamah sudah muak dengan sikapnya yang pergi siang hari dan pulang malam, kemana saja perginya? Apa pantas seorang istri keluyuran seperti itu?" protes Mayang.


"Entahlah mas Rio pun juga muak, ingin menceraikan Sisil namun dia kekeh menolak mah, dia selalu mengungkit kebaikan dia menyelamatkan hidup mamah dan seketika Rio langsung kalah," ucap Rio frustasi dan mayang hanya diam membisu.


Di kamar Sisil mengeluarkan semua emosinya dengan menangis histeris. Ia tidak mau kehilangan Rio, hidup dia sangat baik setelah menikah dengan Rio.. Ia tidak mau jatuh miskin dan di hempas kan keluarga Suganda.


"Gue harus balas dendam dengan Dinda, karena dia posisi gue di sini terancam," batin Sisil mengepalkan kedua tangan.

__ADS_1


__ADS_2