RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Dinda Hamil


__ADS_3

Setelah mendapat ancaman dari mantan suami kini badan Dinda terasa lemas dan juga pusing, saking gak kuat menahan pusing yang dirasakan ia akhirnya pingsan tepat setelah Rio melakukan mobilnya.


"Sayang..." teriak Ryan menghampiri Dinda yang pingsan.


"Mommy..." teriak kedua anaknya sembari menangis.


"Aduh ada apa ini kok kalian teriak-teriak?" tanya Sri menghampiri keluar.


"Dinda pingsan bu," jawab Ryan lirih dan membopong istrinya ke kamar.


"Astaga kenapa Dinda sampai pingsan? Cepat bawa masuk biar ibu balur minyak kayu putih," ucap Sri panik dan Dinda di baringkan di tempat tidur.


"Din.. Dinda.. Bangun nak," ucap Sri sambil menepuk pelan pipi Dinda namun tak kunjung sadar juga.


"Bagaimana ini bu? Kenapa Dinda tak juga sadar?" tanya Ryan panik.


"Ibu juga gak tahu.. Bawa Dinda ke rumah sakit sebelum terjadi yang tidak-tidak," suruh Sri dan Ryan langsung membawa sang istri ke rumah sakit di temani Sri.


Di rumah sakit Dinda juga tak kunjung sadar namun dokter sudah memeriksa kondisi Dinda dengan tenang.


"Dok kenapa istri saya belum sadar juga?" tanya Ryan panik.


"Iya dok.. Anak saya gak kenapa-napa kan?" tanya Sri panik.


"Sebentar lagi juga akan sadar kok bu, pak.. Sabar saja.. Ini lumrah terjadi," ucap dokter dengan tenang namun membuat Sri dan Ryan kebingungan.


"Maksudnya dok?" tanya Ryan bingung.


"Menurut hasil pemeriksaan saya, istri anda tidak ada penyakit apapun melainkan istri anda sedang berbadan dua," ucap dokter tersenyum.


"Apa dok? Dinda hamil?" tanya Ryan tak percaya.


"Benar.. Kemungkinan istri anda sedang hamil 6 minggu, lebih tepatnya silahkan periksa ke dokter kandungan," ucap dokter.


"Bu.. Dinda hamil bu.. Dinda hamil.." ucap Ryan terharu.


"Iya nak Dinda diberi kepercayaan untuk hamil lagi," ucap Sri juga terharu.


Lalu Dinda siuman dan kaget kenapa dia bisa ada di rumah sakit.


"Mas.." panggil Dinda lirih.


"Iya sayang," jawab Ryan lembut.


"Kenapa aku bisa ada disini? Apa yang terjadi?" tanya Dinda kebingungan.


"Tadi kamu pingsan sayang, sudah di beri minyak kayu putih sama ibu tetap saja tak kunjung sadar makanya kami membawamu ke rumah sakit karena kami takut kamu kenapa-napa," ucap Ryan.

__ADS_1


"Terus aku sakit apa mas? Apa yang terjadi denganku? Apa mas?" tanya Dinda panik malah Ryan dan Sri tersenyum, membuat Dinda menjadi merasa aneh.


"Mas.. Ada apa denganku? Jangan di sembunyikan dong," desak Dinda kesal.


"Kamu gak sakit apa-apa sayang, kamu sehat," jawab Ryan dengan lembut.


"Lalu kenapa gak pulang kalau aku memang sehat?" tanya Dinda curiga.


"Lagi menunggu resep dokter dan juga rujukan," jawab Ryan membuat Dinda kaget.


"Rujukan? Aku sakit apa mas? Katamu sehat-sehat saja kenapa harus di rujuk?" tanya Dinda panik.


"Sudah Ryan jangan di goda terus kasihan Dinda," tegur Sri.


"Bu.. Katakan dengan jujur apa yang terjadi dengan Dinda?" tanya Dinda memohon.


"Kamu sehat walafiat sayang.. Penyebab kamu pingsan karena kamu sedang.. sedang berbadan dua," jawab Ryan terharu dan tak bisa menyembunyikan berita bahagia ini.


"Apa mas? Aku hamil? Serius?" tanya Dinda tak percaya namun juga senang.


"Iya sayang.. Dokter yang memeriksa mengatakan itu makanya ini menunggu rujukan agar nantinya kita periksa ke dokter kandungan," ucap Ryan terharu.


"Astaga mas.. Aku gak percaya bakal dikasih kepercayaan secepat ini," ucap Dinda terharu dan berlinang air mata.


"Aku juga sama sayang.." jawab Ryan terharu.


"Sudah dok.. Apa benar yang dikatakan suamiku kalau saya hamil?" tanya Dinda.


"Benar bu.. Menurut hasil pemeriksaan saya kandungan ibu berusia 6 minggu, untuk lebih jelasnya ini saya buatkan surat rujukan untuk periksa hamil dan ini adalah resep obat yang harus ibu minum supaya tidak kekurangan darah dan juga zat besi, ada vitaminnya juga," ucap dokter sambil menyerahkan resep.


"Baik dok terima kasih banyak," jawab Dinda.


"Sama-sama.. Tolong kandungannya dijaga ya bu karena usia kehamilan anda masih trimester pertama jadinya masih riskan," nasehat dokter.


"Baik dok makasih.. Kami permisi dulu," jawab Dinda lalu keluar ruangan di ikuti Ryan dan Sri.


"Kamu capek gak? Biar aku carikan kursi roda," ucap Ryan sangat perhatian.


"Gak mas.. Jalan sana sini kan deket," tolak Dinda.


"Kalau capek jangan dipaksa ya," tegur Ryan.


"Iya mas.." jawab Dinda lalu masuk ke dalam mobil untuk segera pulang ke rumah, Dinda sudah tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini pada anak kembarnya.


Sesampainya di rumah Dinda di sambut dengan pelukan anak kembarnya yang sedari tadi khawatir akan kondisi Dinda.


"Mommy udah sehat?" tanya Farel.

__ADS_1


"Mommy jangan sakit ya, Vanessa sedih," ucap Vanessa.


"Anak-anak mommy.. Ada yang mau mommy katakan," ucap Dinda dengan lembut sambil melihat kedua anaknya bergantian.


"Apa itu mom?" tanya Farel penasaran.


"Bicaranya sambil duduk ya kasihan mommy kalau kecapekan," tegur Ryan lalu mereka beralih ke ruang tengah.


"Mom.. Mommy kenapa?" tanya Vanessa tak sabar.


"Sabar sayang.. Mommy baru aja duduk," jawab Dinda gemas.


"Ayo mom katakan," desak Farel.


"Iya iya ini mommy mau bicara, jadi mulai hari ini kalian akan punya adik.." jawab Dinda bahagia.


"Mommy hamil?" tanya Farel kaget.


"Serius mom?" tanya Vanessa kaget.


"Iya sayang mommy hamil.. Di dalam perut mommy ada adik kecil," ucap Dinda.


"Yeyyyyy... Kita punya adik," seru si kembar bahagia.


"Kalian senang?" tanya Ryan.


"Senang dong pah nantinya kita ada teman bermain," seru Farel antusias.


"Nah maka dari itu papah minta tolong sama kalian ya kalau papah belum pulang kerja tolong jagain mommy agar tidak kecapekan dan banyak pikiran," pinta Ryan.


"Siap papah Ryan," jawab keduanya kompak.


"Mulai sekarang kurangi aktifitas di kantor ya sayang, aku gak mau ada apa-apa sama anak kita ini," pinta Ryan.


"Tapi mas nantinya siapa yang handel?" tanya Dinda merasa keberatan.


"Kamu pasti ada karyawan yang dipercaya kan? Serahkan saja sama dia.. Toh waktu kita liburan dulu karyawan mu amanah semua," ucap Ryan yang sebenarnya memberatkan Dinda.


"Tapi mas.." tolak Dinda ragu.


"Demi anak kita sayang, please," pinta Ryan.


"Hmm baiklah mas," jawab Dinda pasrah dan Ryan mencium Dinda bertubi-tubi sebagai ungkapan rasa bahagianya.


Tak lupa Ryan mengabarkan berita kehamilan Dinda pada keluarganya dan mereka menyambut dengan suka cita.. Papah dan mamahnya Ryan tak sabar ingin segera berkunjung ke rumah mereka untuk melihat langsung keadaan Dinda. Mereka sampai antusias seperti itu karena Ryan adalah anak tunggal dan otomatis menjadi pewaris tunggal apalagi kabar Dinda hamil sangat menggembirakan mereka karena nantinya ada penerus di keluarga Hadiningrat.


"Akhirnya Ryan punya keturunan juga pah, mamah bahagia sekali rasanya," ucap mamahnya penuh syukur dan menangis terharu.

__ADS_1


__ADS_2