RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Terbongkar


__ADS_3

Tidak terasa semakin hari semakin bertambah pula usia kandungan Dinda.. perut yang awalnya rata kini sudah membuncit apalagi Dinda mengalami kenaikan berat badan yang cukup banyak, sehingga ia terlihat semakin menggemaskan dengan aura kehamilannya.


"Hmm benar apa saran mamah, kandunganku semakin hari semakin besar jadi aku semakin kewalahan mengurus rumah, apalagi kalau nanti sudah ada anak, pasti tambah repot.. lebih baik aku pakai jasa ART deh," gumam Dinda sambil berjalan ke kamar mandi untuk buang air kecil, namun Dinda kurang hati-hati hingga akhirnya ia tergelincir dan mengeluarkan darah yang mengalir di pahanya.


"Aww sakit sekali... ada darah? gak.. ini gak boleh terjadi, aku sudah janji sama mas Rio untuk menjaga kandungan ini," gumam Dinda


Dinda lalu berusaha bangkit mengambil ponselnya yang kebetulan ada di meja makan. ia harus berjuang sekuat tenaga untuk mengambil ponselnya di tengah rasa sakit luar biasa yang ia rasakan.


Ro beberapa kali di hubungi namun tak kunjung di angkat, di satu sisi Rio sedang mengadakan meeting penting sehingga ponselnya di silent.


"Kamu kemana mas?? aku harus mendapat pertolongan segera, ah lebih baik aku telpon ambulance sekarang juga," gumam


"Sabar sayang pokoknya apapun yang terjadi mamah akan menyelamatkan kamu nak karena kamu adalah penerus keluarga Suganda dan kehadiranmu sudah di nantikan oleh mereka," gumam Dinda sambil meringis kesakitan dan berhasil menelpon ambulance.


Dinda harus di larikan ke rumah sakit lantaran tergelincir di kamar mandi di usia kandungan yang sudah menginjak 8 bulan.


Rio yang mendapat kabar langsung menuju rumah sakit dan mengabarkan kejadian ini pada mamah dan juga Sisil. 


"Dok bagaimana keadaan calon anak saya?" tanya Rio panik.


"Kondisi janin sangat lemah pak jadi harus mendapatkan perawatan intens apalagi istri anda sempat mengeluarkan bercak darah sehingga membuatnya kini kekurangan darah dan harus segera mendapatkan donor, jika tidak akan membahayakan istri dan janinnya," ucap dokter prihatin.


"Astaga.. Tolong dok lakukan yang terbaik untuk mereka, saya gak mau terjadi sesuatu pada istri apalagi calon anak saya," pinta Rio.


"Baik pak akan saya usahakan, tolong segera cari donor darah karena di rumah sakit stoknya sedang kosong, istri anda golongan darahnya AB," ucap dokter lalu bergegas pergi ke UGD. 


Lalu Rio segera mendatangi PMI untuk mendapatkan darah supaya istirnya segera selamat, ia tidak mau terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Jika ibunya tidak baik-baik saja otomatis anaknya pun juga, maka dari itu ia harus menyelamatkan keduanya.


Beruntung pihak PMI ada stok darah yang di butuhkan, Rio merasa lega dan akhirnya bergegas ke rumah sakit. 


Disana sudah ada mamah dan Sisil yang tidak sabar mendapatkan kabar kondisi janin Dinda. 


"Gimana keadaan cucuku?" tanya Mayang panik.


"Kondisi mereka kritis mah, ini Rio habis ke PMI karena Dinda kekurangan darah dan kebetulan stok di rumah sakit kosong," ucap Rio dengan wajah kelelahan.

__ADS_1


"Dasar istrimu itu gak becus jaga anak, bisa-bisanya tergelincir di kamar mandi, kalau sampai keguguran gimana coba, cih.." cibir Sisil kesal.


"Bisa gak kamu jangan bawel, aku ini pusing memikirkan mereka, namanya musibah siapa yang tau," ucap Rio kesal.


"Kenapa sekarang kamu jadi memikirkan istrimu? Jangan bilang kamu sudah mulai ada rasa mas, ingat tujuanmu awal menikahinya itu untuk mendapatkan anak, kamu hanya butuh rahimnya untuk menggantikan posisiku yang gak bisa punya anak, ingat itu mas," ucap Sisil memperingatkan.


"Jangan bikin emosi bisa gak? Kalau terjadi sesuatu pada Dinda otomatis bayi yang di kandungannya pun demikian, kamu mikir sampai sana gak? Jangan bisanya hanya menuduh saja, pusing aku," ucap Rio kesal.


"Sudahlah Rio gak usah di gubris perkataan Sisil lebih baik kamu fokus dengan anak dan istrimu, dia yang lebih berhak mendapatkan perhatianmu apalagi kondisinya kritis," ucap Mayang malas mendengar ocehan Sisil.


"Mah... kenapa sekarang mamah malah membela Dinda? sebenarnya mamah sayang gak sih sama Sisil?" tanya Sisil kesal.


"Saya menyayangi seseorang yang pasti dan dia adalah Dinda," ucap Mayang tegas dan membuat Sisil semakin benci dengan Dinda.


Lalu dokter keluar dari UGD dan mengatakan bahwa kondisi Dinda beserta bayinya sudah melewati masa kritis dan di pindahkan ke ruang rawat inap. 


"Mas…" sapa Dinda lirih.


"Iya sayang?" jawab Rio lembut.


Lalu tiba-tiba Sisil masuk ke ruangan.


"Memang kamu gak becus, disuruh jaga anak dalam kandungan gak bisa, kamu mikir gak kalau nanti keguguran gimana, ha?" cibir Sisil emosi.


"Sil.. Jaga sikapmu," ucap Rio penuh penekanan. 


"Mas dia siapa?" tanya Dinda heran.


"Katakan yang sejujurnya pada istrimu itu mas, capek aku lama-lama sembunyi terus," ucap Sisil tak sabar.


"Sil…" ucap Mayang dengan tatapan tak suka.


"Kenapa sih mah? Sisil salah?? Lebih baik tau sekarang daripada nanti, toh mau sekarang atau nanti akhirnya sama aja kan dia harus mengetahui kebenarannya," ucap Sisil dengan sinis.


"Mas.. Ada apa ini?" tanya Dinda kebingungan. 

__ADS_1


"Mas.. Jelasin dong, lama amat sih, apa perlu aku yang mengatakannya?" tantang Sisil.


"Sisil dimana rasa empati mu? Dinda dan bayinya baru saja melewati masa kritis," ucap Mayang memberitahu. 


"Sisil gak peduli mah, capek mah menjadi yang kedua," ucap Sisil.


"Mas katakan ada apa ini?" tanya Dinda penuh penekanan.


"Maafkan aku Din," ucap Rio dengan menghela nafas panjang.


"Maaf untuk apa mas dan siapa perempuan itu?" tanya Dinda dengan perasaan sesak.


"Cih.. Kamu kelamaan mas, kenalin saya Sisil, pacar sekaligus calon istri mas Rio," ucap Sisil tersenyum sinis.


"Apa??? Mas tolong jelaskan semua ini," ucap Dinda terkejut lalu tanpa sadar meneteskan air mata.


"Sisil.." gertak Mayang kesal.


"Mamah pun juga mengenal dia?? Sejauh apa hubungan kalian?" tanya Dinda semakin terkejut.


"Maafkan aku Din, apa yang di katakan oleh Sisil itu benar, kami memang ada hubungan khusus dan itu terjadi jauh sebelum mengenalmu," ucap Rio lirih.


"Apa-apaan ini mas.. Kalian ada hubungan tetapi malah menikah denganku, yang benar saja!!" Pekik Dinda tak terima.


"Mau tau apa alasan mas Rio menikahi mu?" tanya Sisil tersenyum licik.


"Memangnya apa? Bisa tolong jelaskan sejujurnya mas," pinta Dinda berlinang air mata.


"Ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya," ucap Rio tak mau mengaku.


"Lagi-lagi kamu berkelit mas, ingat tujuan awal mu menikahinya dong," protes Sisil.


"Sisil.. Aku mohon jangan memperkeruh suasana.. Ini bukan saat yang tepat, aku gak mau terjadi sesuatu pada bayinya," pinta Rio.


"Mas.." pekik Sisil emosi.

__ADS_1


__ADS_2