
Setelah mereka sungguh meresmikan hubungannya kini Dinda dan Farel tak canggung lagi memamerkan kemesraan mereka. Seperti halnya hari ini, mereka berencana untuk menghabiskan waktu hanya berduaan di sebuah mall.
"Hai sayang.. Are you ready?" tanya Ryan.
"Always ready for you," jawab Dinda merayu.
"Sekarang pandai merayu," ucap Ryan lalu mereka melajukan mobil menuju mall ternama.
Di Grand Mall City keduanya sangat asyik menghabiskan waktu berdua, banyak barang yang mereka beli karena Dinda sudah lama sekali tidak melakukan me time.
"Sayang kapan terakhir kali kamu me time?" tanya Ryan sambil menenteng belanjaan Dinda.
"Hmm kapan ya? Udah lama mas," jawab Dinda sambil berpikir.
"Ketika sama mantan suamimu itu?" tanya Ryan.
"No.. Ketika dengannya mana ada waktu untuk diri sendiri mas, dulu aku terlalu bodoh karena ingin memberikan yang terbaik untuknya," ucap Dinda kesal.
"Oh.. Sekarang gak menyesal lagi dong?" goda Ryan.
"I hope.." jawab Dinda menatap Ryan.
"Kok begitu jawabannya? Aku akan membuktikannya, camkan itu," ucap Ryan.
"Pak pengacara mulai mengancam nih, hii takut haha.." ejek Dinda seraya tertawa.
"Aku juga lebih takut.. Takut kehilanganmu," goda Ryan ikut tertawa dan Dinda mencubit lengan Ryan karena malu.
"Wajahnya memerah.." goda Ryan.
"Mas.. Malu ah dilihat banyak orang," bisik Dinda tersipu malu.
"Kenapa malu? You're be mine.." tanya Ryan.
"Ya belum dong.." jawab Dinda.
"Kok bisa?" tanya Ryan kaget.
"Kalau belum menikah namanya belum memiliki mas.. Ingat itu," ucap Dinda memberi kode.
"I know.. Kekasihku ingin segera melangsungkan pernikahan ya?" goda Ryan.
"Mas.. Mulai lagi deh," ucap Dinda malu.
"Serius.. Ayo kapan kita menikah? Besok?" tanya Ryan membuat Dinda kesal.
"Mas.. Mana ada menikah mendadak seperti itu memangnya tahu bulat," protes Dinda kesal.
"Ya bisa dong kita nikah siri dulu," ucap Ryan.
"No.. Saya hanya mau menikah secara sah dan tercatat di negara bahkan di mata agama," pinta Dinda serius.
__ADS_1
"I know baby.. Setelah pulang dari sini mari bicarakan pada keluargamu," ucap Ryan serius dan Dinda sangat bahagia mendengarnya.
"Thanks mas.." jawab Dinda bahagia.
"You're welcome," jawab Ryan lalu mereka memutuskan untuk makan terlebih dahulu di sebuah restoran Jepang.
Kebetulan di sana ada Rio sedang meeting dengan kliennya. Untung saja meeting sudah selesai jadinya fokus Rio tidak terganggu.
"Mas kayaknya itu mas Rio deh," bisik Dinda.
"Yasudah biarin saja sayang," jawab Ryan cuek dan memesan beberapa menu.
"Dia kesini mas," bisik Dinda lagi.
"Yasudah sih sayang kalau kedatangannya dengan baik ya kita perlakuan dengan baik tapi kalau rusuh lagi ya jangan salahkan aku kalau mengambil tindakan tegas," ucap Ryan kesal.
"Pakai apa? Pasal-pasal?" goda Dinda mencoba menenangkan suasana, ia tahu Ryan sedang cemburu.
"Kalau di perlukan sih Oke aja," jawab Ryan cuek.
Benar saja dugaan Dinda.. Kini Rio menghampiri mereka dan langsung duduk.
"Hai Dinda apa kabar? Pak Ryan juga apa kabar?" sapa Rio ramah.
"Kabar kami baik," jawab Ryan ketus.
"Baguslah, kabarmu dan anak-anak?" tanya Rio.
"Tapi saya tanya pada.." ucap Rio tersinggung.
"Sudahlah mas.. Jawaban dari mas Ryan sama saja kok dengan jawabanku, saya dan anak-anak alhamdulillah baik-baik saja, tak perlu cemas," ucap Dinda malas berdebat.
"Kamu panggil dia mas?" tanya Rio kaget.
"Ada yang salah?" tanya Ryan ketus.
"No.. Hanya kaget saja, Dinda bisa jelaskan semua ini?" tanya Rio meminta penjelasan.
"Anda siapa meminta penjelasan pada calon istri saya? Semuanya sudah jelas.. Masalah panggilan sepertinya tidak perlu di permasalahkan," ucap Ryan ketus.
"Ya.. Ya saya mantan suaminya," jawab Rio salah tingkah karena kepalang malu.
"Kalau sudah mantan suami seharusnya hanya tau sebatas kabar dan tidak lebih, kalau anda menuntut ingin mengetahui detailnya sama saja anda menganggu privasi dia," jawab Ryan.
"I know... Sorry," jawab Rio mengalah.
"Bagaimana kabar Sisil? Apa dia sudah tertangkap?" Tanya Dinda basa-basi.
"Belum.. Entah kemana larinya," jawab Rio sedih.
"Semoga setelah ini segera tertangkap ya mas," jawab Dinda dengan netral.
__ADS_1
"Thanks din.. Jujur hingga detik ini saya menyesal telah meninggalkan anda demi Sisil," ucap Rio jujur.
"Anda percaya diri sekali mengatakan itu di depan calon suaminya," sindir Ryan cemburu.
"Saya hanya mengungkapkan isi hati," ucap Rio ketus.
"Isi hati yang sudah basi, mau anda mengatakan menyesal seribu kali pun Dinda tidak akan kembali padamu," sindir Ryan.
"Takdir Tuhan mana ada yang tahu," jawab Rio dengan entengnya.
"Dan sayangnya kini Tuhan mentakdirkan mantan istri anda menjadi milik saya dan akan saya pastikan tidak akan ada lagi orang yang mengusik hidupnya," gertak Ryan serius.
"Dan saya akan berusaha semampu saya mendapatkan Dinda kembali," ucap Rio serius.
"Mas.. Jangan gini, kasihan Sisil.. Lanjutkan lah pernikahan kalian," tolak Dinda.
"Aku gak bahagia hidup dengannya," ucap Rio.
"Tapi semua ini sudah pilihanmu sendiri mas, kalau ada penyesalan di awal ya semua orang pada gak mau, perbaiki hubunganmu yang sekarang.. Tak perlu mengejar ku karena sekarang aku sudah memilih pak Ryan" ucap Dinda membuat hati Rio sangat sakit.
Lalu Rio lebih memilih pergi dengan membawa kesedihan yang mendalam.. Ia tidak ikhlas Dinda bersama laki-laki lain selain dirinya.
Acara makan pun sedikit canggung karena insiden Rio menghampiri mereka namun akhirnya mereka bisa mencairkan nya dan setelah selesai makan mereka memilih pulang.
***
"Pak.. Bu. Dinda pulang," sapa Dinda membuka pintu dan masuk.
"Wah mommy udah pulang.. " seru Farel.
"Cepat sekali kalian perginya?" tanya Sri heran.
"Iya bu Dinda harus menyelesaikan pekerjaan juga," alibi Dinda.
"Yasudah suruh pak Ryan duduk.. Ibu buatkan minum dulu," suruh Sri dan berlalu pergi.
Beberapa menit kemudian minuman sudah jadi dan kini Ryan ingin menyampaikan hal yang serius.
"Bapak dimana bu?" tanya Ryan.
"Kebetulan bapak sedang pergi ke nikahan temannya," ucap Sri.
"Sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan bu tapi bapak tidak ada disini," ucap Ryan sungkan.
"Tidak apa katakan saja, nanti biar ibu sampaikan pada bapak," ucap Sri penasaran.
"Begini bu... Mengingat saya dan Dinda sudah menjalani hubungan maka saya tidak mau jika hubungan ini hanya sekedar begini saja bu, saya berniat ingin mempersunting Dinda, apakah ibu merestui kami?" tanya Ryan gugup.
"Alhamdulillah akhirnya kalian ada rencana ingin bersatu, jujur ibu bahagia mendengarnya.. Untuk masalah restu ibu sangat merestui kalian dan ibu yakin bapak juga akan merestui," ucap Sri bahagia.
"Bu.. Saya sangat senang mendengarnya.. kalau begitu saya pamit pulang dulu untuk menyampaikan pada keluarga saya," pamit Ryan dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1