
Hujan yang cukup deras membuat pakaian mereka basah kuyub, mobil Ryan yang semula bersih dan wangi kini menjadi sedikit lembab karena basah pakaian mereka berdua.
"Kamu masuk duluan gih," ucap Ryan memberi payung pada Vika.
"Masuk bareng aja deh, biar payungnya bisa dipakai sama yang lain, tuh lihat banyak mobil yang antre," jawab Vika yang disetujui Ryan. Payung yang disediakan hotel cukup membantu mereka agar pakaiannya tak semakin basah.
Tiba didepan kamar mereka masing-masing, Ryan mendengar jika Vika sedikit menggerutu. "Ada apa Vik?" tanya Ryan menghampiri padahal ia hampir membuka kunci kamar.
"Aku lupa membawa baju ganti, tadi sebelum check in kesini belinya hanya baju formal buat meeting aja," jawab Vika sedikit malu.
"Oh kirain kenapa, sini tak pinjami pakaianku, kebetulan aku bawa banyak, yuk masuk," ajak Ryan yang tak sungkan sama sekali.
"Gak usah.. Ngerepotin nanti," tolak Vika.
"Gak.. Ayo masuk," ajak Ryan sedikit memaksa dan menarik tangan Vika.
Didalam kamar hotel yang harusnya berisi sepasang suami istri, kini malah adanya sepasang mantan kekasih yang tak sengaja bertemu.
"Bentar aku cariin bajuku," ucap Ryan membuka lemari pakaian dan segera mengambilkan untuk Vika.
"Nih.. Gak papa kalau sedikit kebesaran soalnya aku gak ada baju yang size kecil," ucap Ryan lagi mengerahkan baju polos berwarna hitam dengan celana boxer pendek.
"I..iya gak papa, makasih," jawab Vika menerima pakaian pinjaman Ryan.
"Cepat ganti dikamar mandi sana biar aku tunggu disini," perintah Ryan dan Vika segera masuk.
Menunggu Vika selesai berganti pakaian cukup lama bagi Ryan, akhirnya karena sudah tak betah memakai baju basah, Ryan melepas pakaian dan celana jeans nya, jadi sekarang Ryan bertelanjang dada dengan memakai celana boxer seperti Vika. Tak lupa Ryan mengusap rambut basahnya dengan handuk kering.
Ryan tak menyadari jika Vika sudah keluar dari kamar mandi, pemandangan indah yang Vika lihat tanpa gangguan apapun membuatnya terhipnotis.
Hingga Ryan membalikkan badan dan mengetahui jika Vika sudah selesai, membuat Ryan sedikit canggung.
"Udah selesai, Vik?" tanya Ryan yang tak dijawab Vika, justru Vika malah melamun.
"Hei.. Jangan bengong dong, lihatin apa sih?" tanya Ryan lagi namun suaranya cukup keras hingga Vika kaget.
"Eh.. Maaf maaf, aku udah selesai, kalau kamu mau pakai kamar mandinya silahkan," jawab Vika gugup.
"Kamu kenapa selalu gugup ketika berbicara denganku?" tanya Ryan heran.
"Eng.. Enggak kok, kata siapa?" tanya Vika membantah.
"Kataku.. Aku tau dari gesture tubuhmu yang selalu salah tingkah," jawab Ryan semakin membuat Vika malu.
"Gak kok.. Perasaanmu aja kali," bantah Vika.
__ADS_1
"Aku.. Aku permisi dulu mau kembali ke kamar," pamit Vika namun ditepis oleh Ryan.
"Kok buru-buru gitu," ucap Ryan.
"Besok ada meeting jam 7 pagi, aku harus istirahat," jawab Vika tak menatap Ryan sama sekali.
"Oh gitu.. Padahal aku masih ingin ngobrol denganmu," pinta Ryan.
"Maaf.. Aku gak bisa," tolak Vika.
"Kenapa? Karena statusku yang sudah menikah? Iya?" tebak Ryan dan Vika dengan malu-malu mengangguk.
"Astaga.. Kita hanya mengobrol aja lagian disini gak ada istriku, aku kesini sendirian dan aku senang bisa bertemu denganmu," ucap Ryan.
"Aku pun begitu tapi.." jawab Vika keceplosan.
"Tapi apa?" tanya Ryan penasaran.
"Tapi gak mungkin kita bisa bersama seperti dulu, pertemuan kita kali ini dengan status yang sudah berbeda, jadi aku berusaha menjaga jarak," jawab Vika.
"Aku sudah tau sejak ketemu tadi makanya aku berusaha mencairkan suasana," ucap Ryan yang bisa membaca pikiran Vika.
"Aku gak mau dikira perebut laki orang," jawab Vika lirih dan menundukkan kepala.
"He.. Siapa yang nanti mengatakan itu? Gak akan ada, percayalah," ucap Ryan mendekati Vika.
"Why?? Ini kamarku jadi bebas apa yang ingin aku lakuin, lagian kamu sih kenapa gak mau menatap aku?" tanya Ryan heran.
"Aku malu," jawab Vika lirih.
"Malu? Kenapa malu? Kamu pakai baju kok," goda Ryan.
"Ish.. Bukan malu itu," bantah Vika.
"Lalu?" tanya Ryan semakin mendekati Vika.
"Aku malu kalau bertatapan denganmu, nanti hatiku deg-degan," jawab Vika lirih namun bisa didengar Ryan.
"Jawaban demi jawabanmu kenapa semakin membuatku gemas," ucap Ryan gemas dan mencubit pelan pipi Vika.
"Aduh sakit," rengek Vika yang wajahnya sudah memerah.
"Apa kamu happy bertemu denganku lagi?" tanya Ryan memastikan.
"Kamu?" tanya balik Vika.
__ADS_1
"Happy.. Very happy," jawab Ryan tanpa sungkan.
"Apa boleh aku berkata sepertimu?" tanya Vika.
"Boleh dong.. Katakan apa yang ada didalam pikiranmu," jawab Ryan.
"Aku.. Aku juga senang bisa bertemu kembali denganmu, aku bahkan tak tau jika jarak kamar kita pun berdekatan," ucap Vika semakin membuat Ryan bahagia.
"Jangan sungkan untuk mengungkapkan apa yang ingin kamu katakan," pinta Ryan.
"Iya.. Aku senang bertemu denganmu, rasanya seperti dejavu, apalagi jarak kita hanya sejengkal tangan saja, jujur.. Hatiku berdebar kencang," ucap Vika sangat jujur dan masih tak berani menatap Ryan.
"Aku juga merasakan hal yang sama, dejavu," jawab Ryan setuju.
"Tolong tatap aku, kita sedang berbicara," pinta Ryan.
"A.. Aku malu," ucap Vika masih tak berani menatap.
"Malu kenapa sih?? Aku bukan penjahat," ucap Ryan.
"I know.. Aku malu kalau harus bertatapan denganmu karena mata indah mu bukan lagi milikku, aku gak berhak menikmatinya," ucap Vika membuat Ryan tercengang.
"Sekarang kamu boleh menikmatinya bahkan sampai puas, silahkan pandang aku sesukamu, ayo," desak Ryan yang membuat Vika tetap tak berani menatap.
"Vika Isyana Cantika.. Ayo tatap aku," desak Ryan.
"Kamu.. Kamu masih ingat nama lengkap ku?" tanya Vika terharu.
"Jelas.. Nama indah yang seindah orangnya," puji Ryan.
"Tolong jangan buat aku terbang," pinta Vika.
"Aku akan membuatmu terbang yang sesungguhnya," ucap Ryan yang membuat Vika tak paham.
"Maksudnya?" tanya Vika tak mengerti.
"Makanya sini tatap aku," pinta Ryan yang mengangkat wajah mulus Vika secara perlahan hingga mereka kini saling bertatapan. Mata indah milik Ryan yang selalu membuat Vika rindu kini bisa ia nikmati secara VIP.
Entah kerasukan setan darimana ditambah cuaca diluar yang mendukung, dengan tanpa permisi Ryan mencium pipi dan bibir Vika, mendapat serangan mendadak seperti itu membuat Vika mati kutu. Ingin menolak namun hatinya menginginkan lebih. Sungguh tak singkron antara hati dan otaknya.
Otak dia berkata untuk mengakhiri ini sebelum terlalu jauh namun hatinya berkata teruskan, selagi ada kesempatan emas yang tak mungkin datang dua kali, sentuhan demi sentuhan yang diberikan Ryan membuat Vika tak berdaya dan terbuai dengan permainan mantan kekasihnya itu. Rasa yang sudah lama tak dirasakan kini muncul kembali, keduanya saling merespon sehingga terjadilah perbuatan yang seharusnya tak terjadi. Kehormatan yang Vika janjikan akan diberikan kepada suaminya kelak, kini sudah terenggut oleh Ryan.
"Kamu masih perawan?" tanya Ryan setelah berhasil menerobos segel Vika. Anggukan kepala Vika dan jeritan kesakitan yang ia keluarkan semakin menguatkan jika kekasihnya ini memang masih perawan.
"Astaga.. Sorry aku gak tau, kenapa gak bilang? Gini sama saja aku merusak kehormatan wanita" tanya Ryan dengan raut wajah penyesalan.
__ADS_1
"Lanjutkan saja, sudah kepalang tanggung, kalau berhenti pun gak bisa mengembalikan keperawanan yang sudah kamu ambil kan? Aku memang berjanji akan memberikan kehormatan ku pada orang yang aku sayangi," ucap Vika yang membuat Ryan kembali bersemangat. Dengan hati-hati Ryan kembali menerobos surga milik Vika, setelah dirasa bisa menyesuaikan dan tak merasa kesakitan lagi barulah Ryan menambah tempo permainannya. Suara ******* demi ******* keduanya tak bisa dipisahkan dengan apapun, gemericik hujan membuat suasana semakin syahdu.