
Setelah menyetujui rencana mamahnya kini Sisil sedikit merasa lega karena bisa terbebas dari penjara. Hal yang sangat di inginkan Sisil.
"Mamah pergi dulu sebentar ya," pamit mamahnya yang hendak ke apotek membeli obat bius dan obat tidur.
"Iya mah, Hati-hati ya.. Biasanya kan kalau mau masuk di geledah dulu tuh, gimana nanti mamah menyembunyikannya?" tanya Sisil ragu.
"Sudah masalah itu bisa diatur nanti mamah bisa menyimpannya di casing hp atau di sepatu mamah," ucap mamahnya yakin.
"Semoga berhasil ya mah," harap Sisil dan akhirnya mamahnya pergi ke apotek.
Setelah menunggu hampir 1 jam kini mamahnya sudah tiba lagi di rumah sakit dengan aman. Sisil yang melihat kedatangan mamahnya merasa lega dan bersyukur.
"Mamah..." sapa Sisil memeluk mamahnya erat.
"Iya sayang.. Benar kan perkataan mamah kalau mamah bakalan aman dan selamat, sekarang mamah sudah membawa obatnya.. Kita tunggu saja suster datang cek kondisimu," ucap mamahnya membalas memeluk Sisil.
"Iya mah biasanya sebentar lagi," ucap Sisil dan benar saja ada suster yang masuk untuk mengecek kondisi Sisil.
"Selamat malam bu, saya mau cek tensi dan kondisi dulu ya," sapa suster ramah lalu mengecek tensi Sisil.
"Iya Sus.." jawab Sisil pasrah.
"Sus maaf nih saya mau tanya, kok minuman yang di berikan sama rumah sakit rasanya gak enak ya? Apa mungkin ini minuman stok kemarin?" tanya mamahnya memulai sandiwara.
"Mana mungkin bu karena semua stok makanan dan minuman yang akan diberikan pada pasien semuanya fresh dan steril, jadi sangat tidak mungkin kalau rumah sakit memberikan sesuatu yang buruk pada pasien," ucap suster membantah dengan sopan.
"Tidak mungkin apanya, ini kenyataan loh Sus.. Coba deh rasakan," ucap mamahnya Sisil menyerahkan gelas.
"Maaf bu tidak usah," tolak suster.
"Kenapa suster menolaknya? Kalau memang beneran fresh dan steril harusnya berani minum dong, gimana sih.. Sikap penolakan anda mencurigakan kami," sindir mamahnya.
"Bukan begitu bu tapi semua makanan dan minuman memang fresh dan steril dan setiap pasien maupun perawat ada porsinya sendiri," tolak suster.
"Mungkin yang fresh dan steril itu untuk karyawan saja, sedangkan untuk pasien tidak," sindir mamahnya ketus.
"Tidak bu itu semua tidak benar, kalau ibu ingin mengajukan aduan silahkan ke bagian customer service," ucap suster dengan sopan.
"Saya akan ke sana tapi anda harus mencipipi dulu minuman ini meskipun sedikit, ayo di minum Sus dan buktikan pada kami kalau tuduhan itu tidak benar," desak mamahnya dan mau gak mau suster pun mencicipi minuman yang sudah di berikan obat tidur dengan dosis tinggi.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya mamah Sisil penasaran.
"Ini enak kok bu, minumannya tidak bau ataupun tidak layak minum," sanggah suster sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing.
"Mana ada? Tadi anak saya mencoba sedikit langsung ingin muntah," cibir mamah Sisil.
"Aduh kenapa kepala saya pusing begini sih? Aduh.. Mana jadwal ku shift malam lagi," gumam suster terus memegangi kepalanya.
"Sus.. Anda kenapa?"tanya Sisil akting panik.
"Kepala... Tiba-tiba kepala saya pusing sekali bu, mata rasanya berat sekali," ucap suster lirih.
"Mah tolong bantu suster ini duduk, mungkin anda kekurangan darah atau bahkan kecapekan," ucap Sisil sok perhatian dan mamahnya menuntun suster untuk duduk.
"Aw.. Pusing sekali, aa..aduh," rintih suster lalu tertidur.
"Mah susternya udah pingsan?" tanya Sisil.
"Sepertinya, coba mamah cek dulu," jawab mamah Sisil mengecek suster.
"Sudah Sil, dia sudah pingsan.. Ayo cepat ganti posisi sebelum ada yang curiga," ucap mamahnya terburu-buru.
"Pelan-pelan dong Sil kalau kamu buat gaduh malah yang ada semuanya sia-sia," bisik mamahnya memperingati sambil melepas seragam suster.
"Iya mah maaf.. Mana seragamnya? Cepetan dong mah, udah gak sabar nih mau bebas," desak Sisil tak sabar dan mamahnya memberikan seragam suster pada Sisil sedangkan Sisil memberikan seragam pasien pada mamahnya dan mamahnya memakaikan baju pasien pada suster.
"Udah mah? Sisil bebas..." ucap Sisil kegirangan.
"Sstt... Diam dulu dong jangan berisik, kamu ini susah di bilangin," bisik mamahnya geram.
"Maaf mah habisnya Sisil terlalu senang," ucap Sisil menutup mulutnya.
"Udah sekarang bantu mamah angkat suster ini ke bed," perintah mamahnya.
"Mah.. Sisil habis sakit," rengek Sisil.
"Kamu ini ya udah dibantu malah bikin mamah marah, bantuin gak atau mamah kasih tau polisi supaya kamu dibawa sekarang juga," ancam mamahnya serius.
"Iya mah maaf.. Sini," jawab Sisil akhirnya membantu membopong suster ke bed.
__ADS_1
"Berat sekali ya mah, kenapa sih yang datang kesini itu kebetulan gendut.. Aduh," keluh Sisil keberatan membopong suster.
"Iya nih.. Tapi tinggal sedikit lagi, ayo," ucap mamahnya memberi semangat dan akhirnya suster yang pingsan berhasil pindah ke bed.
"Akhirnya ya mah," ucap Sisil lega dan mamahnya mengangguk setuju.
"Udah sekarang beresin pakaian dan tatanan rambutmu supaya beneran terlihat suster, sini mamah bantu menguncir rambutmu," perintah mamahnya dan Sisil setuju.
Setelah semua selesai kini Sisil keluar dengan perasaan was-was, ia berharap tidak ada polisi yang mencurigainya.
"Sus" sapa polisi membuat Sisil mati kutu.
"Iya Pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sisil gugup.
"Bagaimana keadaan pasien? Apakah besok sudah boleh dibawa ke kantor kepolisan?" tanya polisi memastikan.
"Menurut hasil pemeriksaan saya, kondisi pasien sudah stabil dan saya tidak berani memutuskan apakah pasien boleh pulang atau belum, semua keputusan ada pada dokter yang menangani, jadi silahkan besok tanyakan dengan beliau ya pak," ucap Sisil mencoba tenang.
"Baik sus makasih informasinya," jawab polisi.
"Sama-sama.. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Sisil setengah gugup dan akhirnya ia bebas dari dua polisi yang selalu menjaga pintu kamar inap Sisil.
"Akhirnya gue bebas... Makasih mamah, karena mu sekarang Sisil bisa menghirup udara bebas dan menempel pada mas Rio... Hmm mas Rio tunggu kedatanganku," batin Sisil bahagia lalu keluar dari rumah sakit dengan aman.
Di satu sisi mamahnya merasa khawatir apakah anaknya bisa keluar dengan aman dan selamat.
"Kenapa Sisil belum juga mengabari mamahnya sih, apa dia tertangkap? Tapi kalau pun tertangkap kenapa pihak kepolisian tidak mengkonfirmasi padaku, ah anak itu benar-benar ya," gumam mamahnya gusar.
Lalu ada panggilan telepon dari nomor asing, merasa penasaran kini mamahnya mengangkatnya.
"Halo siapa ini?" tanya mamahnya curiga.
"Mah... Ini Sisil," jawab Sisil kegirangan.
"Astaga kamu ini ya mamah tungguin kabarnya kenapa baru menelpon? Mamah khawatir tau gak, mamah pikir kamu ini ketangkap," omel mamahnya kesal.
"Maaf mah habisnya kalau nanti Sisil pakai nomor dan hp yang lama takutnya ke lacak polisi, jadi Sisil setelah keluar dari rumah sakit segera mencari toko hp dan juga konter, maafin ya mah yang penting sekarang Sisil sudah bebas kan, jangan sebarin nomor baru Sisil ya mah," ucap Sisil dengan bahagia.
"Syukurlah.. Kamu ternyata cerdas juga bisa berpikir sampai sana, yasudah sekarang kamu pulang dulu.. Mamah akan keluar dari ruangan, sesegera mungkin," ucap mamahnya lega dan akhirnya mereka memutuskan panggilan.
__ADS_1