
Ketika Sisil turun, kebetulan sekali Mayang habis dari dapur mengambil minum. Momen yang pas untuk mencaci maki Sisil, batin Mayang.
"Enak sekali tuan putri jam segini baru turun dan langsung makan, lapar ya?" sindir Mayang.
"Iya mah Sisil lapar, makan dulu ya mah," jawab Sisil dibuat santai.
"Enak aja asal makan, dengerin dulu mamah ngomong," protes Mayang dan Sisil berusaha untuk tidak terpancing emosi.
"Mah, Sisil lapar bangettt bolehkan kalau Sisil makan dulu? Gak lama kok," pinta Sisil dan Mayang hanya melengos. Tanpa menunggu jawaban dari mamah mertuanya kini Sisil makan dengan lahap dan melupakan sejenak masalah yang sedang menimpanya. "Demi besok bisa berangkat kerja dan jangan sakit, gue harus bersikap muka tebal dihadapan keluarga mas Rio,"
Mayang pun dengan setia menunggu sang menantu sampai selesai makan, hal yang membuat Sisil merasa kurang nyaman. "Dipenjara saja waktu jam makan gak pernah tuh polisi memperhatikan sampai segini nya, disini yang notabene di rumah suami yang seharusnya menjadi tempat ternyaman malah rasanya melebihi penjara,"
"Sudah selesai kan?" tanya Mayang dan Sisil hanya mengangguk saja.
"Katakan dengan jujur, siapa laki-laki yang kamu ajak kesini," ucap Mayang mengintrogasi.
"Dia teman Sisil waktu kuliah sekaligus teman kerja dan Sisil mau meluruskan jika bukan Sisil yang meminta Ronald untuk datang kemari, sama sekali tidak.. Dia datang atas inisiatifnya sendiri, jadi jangan semua kesalahan dilimpahkan ke Sisil," ucap Sisil penuh penekanan.
"Mana bisa teman kamu itu tau rumahmu kalau bukan kamu sendiri yang memberitahu," sindir Mayang dan Sisil pun baru teringat, benar apa yang dikatakan oleh mamah Mayang jika Ronald tau rumahnya mas Rio darimana? Sedangkan dulu setiap jemput kan posisinya di rumah Sisil. Ini benar-benar mencurigakan, apa memang ini sudah bagian dari rencana Ronald?
"Hei kenapa malah diam saja? Bingung mau membuat alasan apalagi? Makanya jadi orang jangan suka drama.. Repot kan jadinya," tanya Mayang sebal karena Sisil hanya diam saja.
"Gak mah.. Sisil juga berpikir darimana Ronald bisa tau alamat rumah ini sedangkan Sisil tidak pernah sekali pun memberikan alamat rumah mas Rio pada siapapun," ucap Sisil yang membuat Mayang tak percaya.
__ADS_1
"Ah alasan aja kamu.. Bilang saja dulu kamu pernah pulang bareng sama dia tapi gak sampai depan rumah," sindir Mayang.
"Stop mah.. Sisil daritadi sudah sabar dengan tuduhan demi tuduhan yang mas Rio juga mamah katakan, Sisil tau batasan dalam berteman mah dan Sisil bukan orang yang sembarangan memberi info pribadi, terserah deh mau mamah dan mas Rio percaya omongan Sisil apa enggak yang terpenting Sisil sudah berkata jujur, daripada hanya menuduh satu pihak saja kenapa kalian tidak menanyakan langsung pada Ronald? Kan dia sendiri yang memulai semua ini, kenapa hanya Sisil saja yang disalahkan? Semua yang Sisil lakukan selalu saja salah dimata keluarga ini, ingat mah kalau bukan keinginan papah mana mungkin Sisil mau tinggal serumah lagi dengan mas Rio, malah bagus jika mas Rio waktu itu menceraikan Sisil" ucap Sisil membuat Mayang sangat murka.
"APA KAMU BILANG? JADI KAMU DATANG KESINI ITU MENYESAL, IYA?? KAMU MERAWAT SUAMI SAYA PUN JUGA MENYESAL? BAHKAN KAMU BILANG SAMA KAMI JIKA SETUJU UNTUK MEMULAI SEMUANYA DARI AWAL ITU JUGA MENYESAL? IYA SIL??" teriak Mayang.
"Sisil datang kesini dan setuju untuk memulai semuanya dari awal itu benar karena terpaksa, terpaksa karena didesak oleh papah namun untuk merawat papah sampai sembuh, jujur saja Sisil melakukan itu semua dengan ikhlas, nyatanya setiap Sisil pulang kerja selalu mampir kesini, jangan berasumsi sendiri mah," tegur Sisil berusaha tenang meskipun dalam hatinya sudah sangat emosi bahkan hampir meledak, dari dulu sampai sekarang jika berhadapan dengan mamah mertuanya tidak bisa berakhir dengan damai, selalu saja ada konflik.
"UDAH DEH JANGAN DRAMA LAGI!!! KATAKAN DENGAN JUJUR KALAU KAMU EMANG MENYESALINYA!!! BIAR MAMAH SURUH RIO UNTUK SEGERA MENCERAIKAN MU," teriak Mayang yang membuat suasana rumah sangat panas. Suganda yang mendengar ada keributan diluar segera menghampiri meskipun harus berjalan secara perlahan.
"Silahkan saja mah, Sisil sudah muak," jawab Sisil pasrah dan tiba-tiba pintu kamar papah mertuanya terbuka, Sisil juga Mayang langsung tertuju pada suara pintu itu dan seketika mereka terdiam.
Mayang yang melihat suaminya berjalan tertatih-tatih segera membantunya. "Papah mau kemana sih? Istirahat dulu jangan banyak gerak,"
"Udah papah duduk dulu sini," jawab Mayang membantu suaminya duduk di kursi.
"Katakan ada masalah apa?" desak Suganda.
"Menantu kita buat ulah lagi pah," jawab Mayang kesal.
"Apalagi?" tanya Suganda penasaran.
"Dia beraninya membawa teman prianya kemari, itu sama saja mencoreng martabat suaminya dong pah," ucap Mayang menggebu dan Suganda pun sungguh kaget.
__ADS_1
"Sil.. Si..Sil apa itu benar?" tanya Suganda sembari memegang dadanya.
"Gak pah itu gak benar.. Kalau ada teman pria datang kesini itu memang iya tapi itu semua bukan kemauan Sisil, gak pernah Sisil ada niatan untuk mengajak kesini bahkan Ronald datang kesini pun Sisil juga kaget pah, Sisil sudah meluruskan semuanya sama mamah dan mas Rio namun ya percuma saja pah mereka mana percaya sama Sisil," jawab Sisil.
"Ah jangan drama lagi di depan suami saya, bilang saja memang kamu sudah ingin cerai dari anak saya jadinya kamu membuat drama seperti ini, iya kan?" tuduh Mayang.
"Mah.. Mana ada Sisil pakai cara murahan kayak gini, ini semua murni tanpa sepengetahuan Sisil.. Terserah lah mau percaya apa tidak, Sisil capek," protes Sisil.
"Papah rasa perkataan Sisil itu benar adanya mah, mana mungkin Sisil berani membawa teman lawan jenisnya datang kesini, sama saja dia bunuh diri," ucap Suganda berpikir logis.
"Papah selalu saja membela dia makanya sekarang dia semakin berani," protes Mayang.
"Mamah pikir secara logika dong jangan hanya dengan emosi," tegur Suganda.
"Untuk Sisil tak perlu pakai logika pah, semua yang dia lakukan selalu saja membuat gaduh," protes Mayang.
"Jangan begitu mah.. Papah tau kok sekarang Sisil sudah berubah menjadi lebih baik," tegur Suganda dan lagi-lagi membuat Mayang kesal.
"Papah ini ya gak bisa bedain mana akting dan mana sungguhan, jangan sampai menyesal pah terlalu membela dia," gertak Mayang.
"Sudah kamu kembali ke kamar saja dan istirahat, besok kamu harus kerja, anggap saja masalah ini gak pernah ada," ucap Suganda dengan lembut.
"Enak saja main masuk kamar, mamah ini udah nungguin dia hampir seharian sekarang malah enak-enakan kabur, gak ada yang namanya masalah langsung dilupain pokoknya mamah gak suka ya kamu membawa teman priamu lagi apalagi dia membuat anak mamah marah," protes Mayang.
__ADS_1
"Mah.. Harus berulang kali Sisil katakan jika ini diluar dugaan Sisil?" ucap Sisil pasrah dan merasa sangat lelah.