
Setelah selesai menelpon mamahnya kini Sisil berubah haluan, ia tidak jadi mendatangi Rio melainkan Sisil ingin menghilang sejenak sampai keadaan aman, karena Sisil yakin kalau besok akan terjadi kekacauan, Sisil gak mau dengan datangnya dia ke rumah suaminya malah yang ada ia sama saja bunuh diri, pasti Rio akan kooperatif dan mengatakan bahwa Sisil ada di rumahnya.
"Gue cari hotel dulu deh, mana ya hotel yang budgetnya agak low," gumam Sisil sambil melakukan pencarian di google dan akhirnya nemu, Sisil langsung cek in dan membooking langsung selama 4 hari.
Sisil lalu mengabari mamahnya dimana tempat dia menginap dan mamahnya segera ke sana.
"Sisil..." sapa mamahnya bahagia.
"Mamah.. Akhirnya ya mah Sisil bisa bebas, Sisil seneng banget," ucap Sisil bahagia.
"Iya.. Mamah juga merasa bahagia kamu sudah bebas ya meskipun pakai cara yang salah," ucap mamahnya terkekeh.
"Gak papa mah karena ini yang Sisil mau, yang terpenting Sisil masih bisa memantau mas Rio," ucap Sisil berkhayal.
"Kamu yakin masih mau sama Rio? Kamu yakin ingin memata-matai suamimu sendiri," tanya mamahnya meragukan.
"Yakin mah, kenapa mamah jadi ragu gitu sih," ucap Sisil kesal.
"Ya wajar dong mamah ini ragu karena kamu terlalu mencintai Rio dengan cara yang bodoh, disini malah kamu yang terkesan mengejarnya.. Sedangkan di luar sana suami kamu malah mengejar mantan istrinya," ucap mamahnya kesal.
"Sisil yakin kalau mantan istrinya tidak akan mau lagi balikan dengan mas Rio, percayalah mah.. Dinda sudah mendapat pengganti yang jauh lebih baik daripada mas Rio," ucap Sisil meyakinkan mamahnya.
"Tapi gimana caranya kamu memata-matai suami kamu itu?" tanya mamahnya heran.
"Ya begini adanya mah dengan sedikit polesan aksesoris pendukung, Sisil pikir-pikir ada untungnya juga kondisi kulit Sisil yang kusam ini, setidaknya penyamaran Sisil jadi sempurna, mana ada yang nantinya mengira kalau ini adalah Sisil," ucap Sisil tersenyum licik.
"Memang apa aksesoris pendukungnya?" tanya mamahnya penasaran.
__ADS_1
"Besok Sisil akan belanja di mall mah, temani ya," pinta Sisil.
"Gak gak.. Mamah gak mau acara kabur mu kemarin sia-sia.. Besok bakalan banyak yang melacak mu Sil, bisa-bisanya kamu mau ke mall.. Ya nanti polisi dengan mudahnya menangkap mu," ucap mamahnya ada benarnya juga.
"Iya ya mah, aduh Sisil lupa.. Lalu gimana dong? Sisil gak betah kalau disini terus," tanya Sisil bingung.
"Sabarlah dulu dan setidaknya kamu bisa keluar sepekan atau bahkan seminggu kemudian, setidaknya biarkan mereka lengah," ucap mamahnya dengan serius.
"Mah ini waktu yang lamaaaa.. Mana betah Sisil disini tanpa harus keluar hotel," rengek Sisil.
"Nanti mamah akan sering mampir kesini, jadi kamu tidak akan merasa sendiri atau bahkan bosan.. Tapi maaf kalau besok sampai 2 hari ke depan mamah gak bisa kesini karena mamah takut kalau nantinya polisi mencurigai mamah.. Tau sendiri kan kamu terakhir bertemu dengan mamah," ucap mamahnya cari aman.
"Kok gitu sih mah.. Gak mau ah, sama aja dong Sisil luntang-lantung gak jelas," protes Sisil.
"Hei dengerin omongan mamah jangan bisanya hanya protes saja, mamah melakukan ini semua demi kebaikanmu.. Kalau kamu gak setuju yasudah silakan saja kamu pikir sendiri caranya," ucap mamahnya kesal.
"Percayalah ini demi kamu," ucap mamahnya dan akhirnya Sisil setuju.
***
Keesokan harinya rumah sakit dibuat heboh karena ada narapidana yang kabur. Polisi langsung bertindak cepat dan segera menghubungi Rio.
Rio yang mendapat kabar bahwa istrinya kabur merasa kaget, bisa-bisanya Sisil nekat seperti itu, ia merasa semakin muak dengan tingkah laku Sisil. Tak butuh waktu lama kini Rio menghubungi ponsel Sisil namun sayangnya tidak aktif.. Rio sudah mengerahkan hacker untuk melacak keberadaan Sisil namun nihil, tak ada informasi apapun.
Tanpa sepengetahuan Rio, setelah Sisil mengaktifkan hp beserta sim barunya, Sisil terlebih dahulu menghubungi hacker andalannya untuk menutup semua informasi tentang dirinya, baik itu data di hp lama maupun yang baru.
Karena ingin meminta penjelasan yang sejelas mungkin akhirnya Rio mengunjungi kantor kepolisian.
__ADS_1
"Selamat siang pak," sapa polisi ramah.
"Selamat siang.. Langsung saja ya pak, mengapa Sisil bisa lolos dari pantauan kalian dan bagaimana caranya dia lolos?" tanya Rio.
"Maafkan kami pak, ini semua diluar kendali kami karena lengah menjaga pasien narapidana.. Kami mengetahuinya ketika pagi hari pak, suster yang berganti posisi dengan istri anda teriak histeris," ucap polisi.
"Apa pihak kepolisian tidak bisa mengetahui bagaimana cara Sisil kabur?" tanya Rio geram.
"Kami masih mendalaminya pak, suster yang cek kondisi istri anda menyampaikan bahwa seingatnya terkahir kali ia sedang cek tensi istri anda dan semua itu valid karena ada alat pengecekan tensi darah, setelah itu suster tersebut pingsan dan tau-tau sudah berada di bed dengan menggunakan baju pasien," ucap polisi dengan detail.
"Mamahnya? Bagaimana dengan mamahnya? Dia kan yang menjaga Sisil," tanya Rio penasaran.
"Yang bersangkutan meninggalkan saudara Sisil dengan posisi tertidur pulas, beliau mengatakan kalau harus pulang karena suaminya sakit," ucap polisi.
"Apakah kalian memastikannya kalau Sisil ketika di tinggal sedang tertidur?" tanya Rio.
"Benar pak, sebelum beliau pulang saya sendiri yang memastikan pasien," ucap polisi.
"Ini aneh sekali pak.. Pakai cara apa Sisil bisa kabur dengan gampangnya," ucap Rio heran.
"Maka dari itu kami sedang mendalami semua ini pak semoga segera terungkap dan istri anda bisa segera tertangkap," ucap polisi menenangkan Rio.
"Baiklah akan selalu saya tunggu kabar baiknya, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Rio mengalah.
Di perjalanan Rio merasa stress menghadapi masalah yang ada, ketika satu persatu permasalahan sudah bisa teratasi kenapa datang lagi masalah yang baru. Hacker yang biasanya selalu bisa di andalkan sampai tidak menemukan informasi apapun tentang Sisil, apa mungkin Sisil memulai hidup tanpa alat komunikasi dan memakai identitas baru? Tapi mana bisa dia seperti itu..
"Sisil.. Mengapa kamu selalu membuat ku pusing? Padahal selama ini aku sudah sangat sabar menghadapi sikapmu itu, kurang apalagi?? Kamu tak pernah mempersiapkan segala keperluan ku nyatanya aku bisa menerima itu ya meskipun kita sering cekcok, kamu sering pulang malam dan menghabiskan banyak uang pun aku masih menerimamu bahkan sampai kamu mengalihkan uang perusahaan menjadi milikmu pribadi pun aku masih bisa memaafkannya dan tidak melaporkan ke polisi, apa mungkin ini karma untukku karena dulu sudah sangat menyakiti Dinda? Tapi kalau pun iya mengapa karma yang datang tak kunjung usai? Sekejam itu kah Tuhan padaku? Apa selepas berpisah dengan Dinda aku tidak boleh merasakan bahagia?" gumam Rio merutuki nasibnya yang malang sambil memukul-mukul stir mobilnya dan melakukan mobil dengan kecepatan sedang.
__ADS_1