RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Dinner


__ADS_3

Setelah mendapat kunci kontrakannya kembali dan semua uneg-unegnya tersampaikan, kini Vika kembali lagi ke kontrakan untuk mengambil barang-barangnya. Benar saja.. Ketika masuk ke kontrakannya, semua terlihat rapi juga bersih, apa yang dikatakan Dinda memang benar adanya. Ia benar merawat dan menjaga barang-barang Vika dengan baik meskipun Vika tau jika didalam hatinya ada rasa cemburu dan tak suka terhadapnya. Istri mana yang mau merawat serta menjaga barang milik mantan pacar suaminya dengan cuma-cuma dengan alibi kasihan? setau Vika hanya Dinda saja yang kuat dengan situasi ini. Ryan memang pantas bersanding dengan Dinda.


Setelah selesai berkemas, tak lupa Vika menyambangi pemilik kontrakan yang rumahnya bersebrangan dengan kontrakannya. Setelah serah terima kunci barulah Vika mengatakan jika mulai hari ini sudah tak lagi mengontrak disana. Awalnya pemilik kontrakan merasa berat melepas Vika yang sudah lama tinggal disini tapi mau gimana lagi? Kehidupan harus terus berjalan, tidak mungkin wanita muda dan cantik seperti Vika hidup didalam rumah sepetak terus menerus. Sisa uang sewa yang sudah dibayarkan Ryan selama setahun penuh pun dikembalikan oleh pemilik kontrakan separuhnya. Vika bingung mau mengembalikan uang ini atau menggunakannya, kebetulan ponselnya tidak rusak jadi Vika menghubungi Ryan untuk membahas uang sisa sewa, Ryan gak mau berurusan dengan Vika lagi karena selama ini dia sudah membuat istrinya sedih dengan meminta datang ke kontrakannya dan mengaku sebagai teman Vika. Keputusan yang bijak dan tegas, akhirnya Vika memakai sisa uang kontrakan untuk biaya hidup ke depannya.


***


Sesuai perjanjian kemarin jika malam ini Indah juga Vika akan mengajak Dito untuk makan malam bersama disalah satu resto terkenal. Entah mengapa hati Vika malam ini deg-degan juga gelisah, ia juga kebingungan mau memakai pakaian yang mana, semua isi lemari sampai ia keluarkan. Indah yang sudah kesal menunggu akhirnya menemui Vika di kamarnya.


"Kenapa lama sekali Vika? Ini sudah jam berapa? Jangan buat Dito menunggu," tegur Indah kesal apalagi melihat kamar keponakannya acak-acakan.


"Maaf tante habisnya Vika bingung mau pakai yang mana," jawab Vika bimbang lalu dengan sigap Indah memilihkan beberapa baju yang menurutnya pas untuk Vika. Di cobalah pilihan baju rekomendasi Indah dan akhirnya jatuh pada pilihan terakhir yang modelnya simpel namun terlihat elegan dan mewah ditubuh Vika. Dress V-neck warna gold dengan lengan 3/4 yang panjangnya tepat diatas lututnya. Malam ini Vika terlihat sangat cantik dengan busana itu apalagi ditambah polesan make up dari Indah semakin membuat kesan glamour dalam diri Vika.


Tiba di kafe luxurious...


"Tan.. Apa sebelumnya udah buat reservasi? Setau Vika tuh kafe ini gak bisa sembarangan orang datang," tanya Vika memastikan.


"Sudah.. Gak perlu kamu beritahu pun tante sudah tau, tuh meja yang udah tante reservasi," jawab Indah sambil menunjuk meja pesanannya.


"Orangnya belum datang tuh tan," bisik Vika.


"Biarin aja kan janjian jam 7 sedangkan ini kurang 20 menit lagi," jawab Indah dengan santainya sambil membolak-balikan buku menu restoran.


Orang yang dimaksud kini telah datang dan waktu menunjukkan tepat pukul 7 malam, busana yang dipakai Dito sangatlah menawan apalagi postur tubuhnya yang tinggi juga atletis membuat penampilannya mendapat nilai plus bagi Vika. Tatapan mata Vika tak bisa dibohongi jika ia mengagumi Dito, beberapa kali Indah menepuk bahu keponakannya namun tak juga sadar dari lamunannya.


"Vika..." panggil Indah sedikit teriak, untung saja ia memesan meja didalam privat room. Jadi mau sekeras apapun mereka bicara tidak akan ada yang terganggu.

__ADS_1


"Eh.. Tante ini kenapa sih, jarak deket gini teriak," protes Vika kesal sambil mengelus telinganya.


"Lah malah ngomelin tantenya, kamu tuh yang kenapa, daritadi tante colek bahu mu tapi gak juga sadar, kenapa liatin Dito sampai segitunya? Naksir?" tanya Indah terlalu blak-blakan hingga membuat Vika malu.


"Ish.. Tante kalau ngomong gak di filter dulu," jawab Vika setengah berbisik.


"Bodo amat.. Makanya jangan liatin anak orang sampai segitunya, naksir baru tau rasa," ejek Indah.


"Ayo Dito silahkan duduk, kenapa daritadi malah berdiri, kamu bukan waiters disini," ucap Indah yang lagi-lagi membuat Vika malu bukan main. Namun sikap yang ditunjukkan Dito justru berbanding terbalik, ia terlihat santai saja dan duduk dengan tenang, tak tergambar ekspresi kesal atau apapun.


"Kalian sudah pesan?" tanya Dito dan keduanya menggelengkan kepala bersamaan.


"Yasudah, sekarang kita pesan makanan dulu ya, aku pikir udah pesan duluan," jawab Dito memanggil waiters. Lalu mereka memesan makanan dan minuman setelah itu berbincang ringan.


"Sepertinya iya tante, mungkin 2 atau 3 bulan lagi," jawab Dito membenarkan.


"Lama sekali.. Berarti disini nantinya kamu nganggur dong?" tanya Indah dengan santainya.


"Tante.. Ya ampun mending tante diem aja deh," bisik Vika penuh penekanan. Jujur saja malam ini Vika seperti kehilangan muka di hadapan Dito.


"Apa sih.. Dito udah biasa denger omongan tante mu yang asyik ini, tanya tuh sama orangnya," protes Indah.


"Iya Vika santai aja, saya dengan tante mu kenal cukup dekat kok, keluarga kami sering bermain ke rumah tante mu, kebetulan suami tante kamu itu satu perusahaan dengan papahku," jawab Dito.


"Ya iya satu perusahaan tapi kan papah kamu bosnya sedangkan suami tante, si Yudhi hanya jadi kepala cabang," jawab Indah.

__ADS_1


"Tante ini jangan berlebihan, kepala cabang kan bisa juga dibilang bos," ucap Dito merendah.


"Oh iya kita keasyikan ngobrol sampai tante lupa kalau kesini bawa keponakan yang cantik jelita ini, sayang dong udah dandan cantik membahana kayak gini masak di anggurin gitu aja," goda Indah.


"Tante..." ucap Vika penuh penekanan. Menyesal sekali rasanya ikut makan malam sama tantenya.


"Kamu kerja dimana Vik?" tanya Dito mencairkan suasana.


"Belum.. Aku habis resign," jawab Vika berbohong dan Indah tak membantah jawaban keponakannya itu, ada benarnya juga Vika tidak membuka aibnya karena akan berdampak buruk pada awal mereka jumpa. Tujuan sebenarnya Indah mengadakan dinner ya untuk ini, mendekatkan keponakannya dengan Dito.


"Kalau boleh tau apa alasanmu resign?" tanya Dito.


"Ada satu dan lain hal yang gak bisa aku bicarakan ke sembarang orang karena mau bagaimana pun ini juga menyangkut nama baik perusahaan tempatku bekerja dulu, yang penting aku sudah tidak lagi bekerja disana, dilingkungan yang sangat toxic," jawab Vika yang secara tak sadar memberikan sedikit gambaran kehidupan dunia kerja Vika.


"Baiklah.. Nanti coba aku tanyakan ke papahku siapa tau ada lowongan, nanti aku kabari," ucap Dito tak mau terlalu ikut campur berlebihan. Dito takut Vika nanti tak nyaman.


"Duh malah jadi ngerepotin, malah nantinya keluarga tante bekerja diperusahaan mu dong," ucap Indah.


"Gak kok tante kan aku bilang kalau ada, jadinya aku gak memberi Vika sebuah harapan," jawab Dito.


"Nanti kalau ada bagaimana kamu kabarinya?" tanya Indah.


Dito seolah paham dengan maksud arah pembicaraan tante Indah, tanpa basa-basi Dito meminta nomor ponsel Vika dan kini mereka sudah saling menyimpan nomor. Hati Indah sekarang menjadi senang karena tujuan dipertemukan mereka berhasil.


"Gak papa deh harus merogoh kocek terlalu dalam yang penting Vika bisa deket sama Dito, aku yakin mereka ini cocok jika bersatu," batin Indah bahagia.

__ADS_1


__ADS_2