RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Terpojok


__ADS_3

"Astaga mas Rio kecelakaan?" tanya Dinda kaget dan di dengar oleh Sisil. Ia terkejut mengetahui hal itu dan terus menguping pembicaraan Dinda.


"Iya.. Rio kecelakaan dan di rawat di rumah sakit makmur sentosa, datanglah kemari dan jenguk Rio," bujuk Mayang dan Dinda diam beberapa saat, ia menimang apakah baik untuknya dan Ryan jika nanti Dinda menjenguk Rio, namun mau gak mau hati kecilnya ingin sekali menjenguk mantan suaminya itu.


"Dinda.. Mau kan kamu menjenguk Rio?" tanya Mayang penuh harap.


"Saya usahakan ya mah, di ruangan mana?" tanya Dinda bimbang.


"Di ruangan paviliun nomor 4, mamah tunggu kedatangan mu Din," harap Mayang dan kini mereka mengakhiri panggilan.


"Rumah sakit Makmur Sentosa di kamar paviliun nomor 4, lebih baik aku tanyakan dulu dengan mas Ryan, mau bagaimana pun dia calon suamiku jadi aku gak mau menutupi sesuatu darinya," gumam Dinda lalu balik ke ruangannya guna menelpon Ryan.


Sisil yang mendengar dimana suaminya di rawat ingin sekali segera menjenguk namun Sisil sadar kalau dia menjadi buron, apakah mungkin nantinya Ryan dan mamah mertuanya menerima kehadirannya?


"Mas Rio.. Semoga kamu segera sembuh mas dan bisa beraktivitas kembali, aku ingin sekali menjenguk mu mas tapi apakah nanti kalian menerima ku?" batin Sisil bimbang.


"Ah apa gue resign saja dari sini toh sebentar lagi Dinda bakalan nikah dengan Ryan jadi gak ada yang perlu di khawatirkan lagi, tinggal tugas gue mengambil hati mas Rio beserta keluarganya kembali, apa gue setelah resign nanti langsung datang kemari dan memohon pada Dinda untuk mencabut tuntutannya?" gumam Sisil bingung dan ia bertekad untuk resign.


Tok... Tok...Tok.. Suara ketukan pintu.


"Masuk.." jawab Dinda.


"Siang bu," sapa Sisil.


"Siang.. Ada apa tut?" tanya Dinda.


"Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya bu, saya kesini ingin menyampaikan kalau saya akan resign bu," ucap Sisil pura-pura sedih.


"Kenapa resign? Ada hal yang menganggu kenyamanan mu?" tanya Dinda kaget.


"Ada.. Kedekatan lo dengan suami gue," batin Sisil kesal.


"Tidak ada bu, saya merasa tidak pantas bekerja disini apalagi saya sudah sangat merepotkan anda begitu lama.. Saya kan janjinya setelah mendapat pekerjaan akan mengumpulkan uang dan kembali lagi ke kampung, sekarang saya sudah memiliki cukup pegangan uang bu dan saya memutuskan lebih baik di kampung saja, disini terlalu berat untuk saya bu," ucap Sisil dengan wajah sedih.


"Kamu serius ingin resign?" tanya Dinda memastikan.


"Iya bu.. Saya sudah memikirkan ini matang-matang," ucap Sisil mantap.

__ADS_1


"Lalu kapan kamu akan pulang kampung?" tanya Dinda.


"Besok bu.." jawab Sisil.


"Baiklah saya tidak bisa memaksamu, semoga kamu selamat di perjalanan ya Tut dan semoga selamat sampai tujuan," ucap Dinda tulus.


"Terima kasih bu.. Saya sangat bahagia dan bangga sekali bisa berjumpa dengan bos baik hati seperti anda, semoga ibu di lancarkan pernikahannya dan bahagia selalu," ucap Sisil modus.


"Terima kasih banyak tapi tolong sebelum kamu resign, selesaikan dulu job desk mu hari ini ya agar esok hari Fio tidak kerepotan," pinta Dinda dan Sisil mengangguk patuh.


"Baik bu, kalau begitu saya permisi dulu, semoga kita bisa berjumpa lagi di lain kesempatan ya bu," harap Sisil basa-basi.


"Iya tut hati-hati di jalan ya, terima kasih sudah menjadi karyawan yang baik dan sudah membantu saya dalam bekerja," ucap Dinda tulus.


"Cih sok baik.. Kalau bukan demi mas Rio ya ogah banget gue ini pura-pura kerja," batin Sisil.


"Iya bu kalau begitu saya permisi dulu," pamit Sisil berlalu pergi.


"Sejujurnya gue ini agak curiga dengan Astuti, sepertinya gue gak familiar dengannya namun sampai sekarang pun dia tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan, apa ini hanya feeling gue saja yang terlalu berlebihan? Ah mau gimana pun sekarang dia sudah gak kerja lagi disini jadi ya gak perlu pusing memikirkan," gumam Dinda lalu fokus bekerja kembali.


Sisil kini sudah tiba di hotel dan langsung melepas semua atribut penyamarannya, ia sudah merasa sangat gerah karena cuaca hari ini sangat terik.


"Ah akhirnya gue bisa rebahan juga.. Nikmatnya, mulai besok gue gak perlu lagi deh capek-capek bekerja," gumam Sisil sambil rebahan dan memejamkan mata.


Tiba-tina Sisil teringat dengan suaminya yang kini sedang di rumah sakit, ingin sekali ia menjenguk dan merawat suaminya namun dia posisinya buronan polisi, kalau Sisil nekat ke sana sudah pasti suaminya akan langsung menelpon polisi.


"Gue ingin sekali merawat mas Rio namun posisi gue ini buronan, gimana ya? Kalau gue nekat ya sayang banget dong gue udah melakukan penyamaran sejauh ini dan aman, kalau gue langsung datang dengan wujud asli gue mana mau mas Rio memberi kesempatan gue," gumam Sisil bimbang dan akhirnya ia menelpon mamahnya.


Ting.. Suara pesan masuk di ponsel Sisil.


"Bagaimana kabarmu sayang? Maafkan mamah karena belum bisa menjenguk mu," isi chat mamah Ira lalu Sisil memilih langsung menelpon mamahnya.


"Halo mah.." sapa Sisil lirih.


"Iya sayang? Kamu kenapa? Ada masalah apa?" tanya Ira cemas.


"Mas Rio mah.. Mas Rio masuk rumah sakit," ucap Sisil terisak.

__ADS_1


"Astaga? Kok bisa? Darimana kamu tau?" tanya Ira terkejut.


"Ya dari siapa lagi kalau bukan mantan istri mas Rio," jawab Sisil kesal.


"Memang Dinda cerita sama kamu?" tanya Ira.


"Tidak mah mana mungkin dia menceritakan kehidupan pribadinya, tadi Sisil menguping mah, mamah Mayang yang menelpon Dinda dan apa mamah tau apa yang di katakan mamah Mayang?" tanya Sisil.


"Memang apa yang dikatakan mertuamu?" tanya Ira penasaran.


"Mamah Mayang bilang kalau mas Rio selalu saja menyebut nama Dinda dan mamah Mayang sampai memohon untuk Dinda datang ke sana hiks.. hiks.." ucap Sisil terisak.


"Ha? Kenapa Rio sampai seperti itu? Apa sekarang dia sudah mencintai mantan istrinya? Lalu apa jawaban dia?" cecar Ira.


"Memang mas Rio mulai mencintai Dinda.. Mas Rio sendiri mengatakan itu langsung pada Sisil.. Hati Sisil hancur mah.. Hancur sekali, Sisil belum siap kehilangan mas Rio, waktu itu mas Rio juga menggugat cerai Sisil dan menyerahkan berkas gugatan namun sampai sekarang Sisil enggan menandatangani," ucap Sisil sambil menangis.


"Astaga kenapa semuanya jadi seperti ini? Kamu sekarang ada dimana biar mamah ke sana," tanya Ira.


"Apa aman kalau mamah kesini?" tanya Sisil.


"Mamah juga gak yakin karena akhir-akhir ini banyak sekali polisi yang menjaga rumah kita hampir 24 jam sampai mamah menjadi perbincangan para tetangga, mamah malu Sil," keluh Ira.


"Apa?? Kenapa bisa jadi begini sih mah? Kan mamah gak terbukti menyembunyikan Sisil," protes Sisil.


"Iya memang tapi entah mereka dapat info darimana katanya mamah pernah diam-diam bertemu denganmu dan mengetahui lokasimu," ucap Ira sedih.


"Terus ini gimana mah? Sisil bimbang banget nih, Sisil ingin sekali datang ke rumah sakit dan merawat mas Rio tapi Sisil takut kalau nanti mas Rio menelpon polisi, kalau mamah kesini juga pastinya nanti di buntuti polisi, mah gimana ini? Sisil bingung banget," tanya Sisil panik.


"Lebih baik kamu tetap berdiam diri di sana dan relakan sejenak suamimu yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, mamah yakin kalau di sana suamimu dirawat dengan baik apalagi ada orang tuanya, fokuslah sama penyamaran mu dulu.. Kalau kamu nekat datang semuanya akan sia-sia," ucap Ira.


"Tapi Sisil gak tenang mah kalau belum melihat langsung keadaan mas Rio, apalagi kalau nanti Dinda datang menjenguk mas Rio, sudah pasti Sisil semakin gak terima," keluh Sisil.


"Mamah hanya ingin kamu tetap aman, kalau kamu ngeyel ya terserah.. Capek ngomong sama kamu," ucap Ira kesal lalu mematikan panggilan.


"Mah.. Halo mah.." pekik Sisil semakin kesal karena tidak ada jalan keluar yang memuaskan.


"Besok gue harus menemui Dinda karena dia gue sampai hidup kalang kabut," gumam Sisil sambil melemparkan ponselnya di kasur.

__ADS_1


__ADS_2