
Hari minggu hari dimana Dinda dan kedua anaknya menghabiskan waktu bersama seharian, seperti hari ini mereka berencana pergi ke pusat perbelanjaan.
"Hai boy.. Udah mandi aja nih, wanginya," puji Dinda mencium pipi anaknya.
"Mommy.. Jangan di cium terus dong ah," tolak Farel manyun.
"Why?" tanya Dinda penasaran.
"Farel udah gede mom, malu kalau di cium terus," rengek Farel.
"No.. Bagi mommy itu Farel dan Vanessa tetap anak kecil mommy," ucap Dinda mencolek hidung Farel.
"Ish mommy ini," protes Farel.
"Hai mommy.. Look at me," sapa Vanessa lari ke pelukan Dinda.
"Hai girl.. You look so beautiful," puji Dinda sangat antusias.
"I'm happy hear that mom, thanks," balas Vanessa mencium pipi Dinda.
"Your welcome girl.. Yuk hari ini kita mau kemana?" tanya Dinda menatap kedua anaknya bergantian.
"Vanessa mau ke mall, kakak mau kemana?" tanya Vanessa.
"Sama.. Nonton yuk mom," ajak Farel.
"Ok boy.. Tungguin mamah prepare dulu ya," jawab Dinda mengacungkan jempol.
"Oke mommy.. Mom pinjam hpnya dong biar gak bosen nungguin," pinta Vanessa lalu Dinda menyerahkan hpnya.
"Kak kita telpon om pengacara yuk, kita ajak pergi bareng," usul Vanessa.
"Ayok.. Cepetan telpon sebelum mommy selesai dandan," ucap Farel setuju dan mereka berdua menelpon Ryan.
"Halo bu," sapa Ryan.
"Om pengacara.." sapa mereka kompak.
"Farel dan Vanessa? Tumben kalian telpon om tanpa izin mommy," tanya Ryan heran.
"Sengaja om, yok ikut kami ke mall.. Kita nonton bareng," ajak Farel.
"Iya om ayok ikutan biar rame," ajak Vanessa.
__ADS_1
"Jam berapa?" tanya Ryan penasaran.
"Sekarang.." jawab mereka kompak dan Ryan terkejut mendengarnya.
"Aduh kenapa kalian mendadak gini sih, om belum mandi dan belum melakukan apapun," protes Ryan.
"Yasudah mandi dulu gih om nanti susul kami," usul Farel.
"Oke tapi tungguin om ya awas saja jangan sampai om nanti di tinggal," ucap Ryan memastikan.
"Beres om.. Sana mandi gih, see you om," ucap Vanessa lalu mematikan panggilan.
"Cepetan tekan tombol on off nya" desak Farel.
"Sabar dong kak ntar hp mommy jatuh terus rusak gimana?" tanya Vanessa kesal.
"Gak mungkinlah kalau kamu lakuin nya benar," bantah Farel dan Vanessa hanya melengos.
Di lain sisi Ryan langsung cepat-cepat mandi karena ia tak mau datang terlambat.
"Ah rasanya ingin sekali rebahan namun tiba-tiba duo bocil ngajakin jalan-jalan, yasudah gas lah.. " gumam Ryan lalu mandi dan prepare.
Setelah selesai kini Ryan sudah tiba di mall, selisih beberapa menit dengan kedatangan Dinda dan kedua anaknya.
"Om pengacara? Hore om datang," sapa Farel dan Vanessa girang.
"Datang? Kalian menyuruh om Ryan kesini?" tanya Dinda terkejut.
"Iya.. Tadi mereka menelpon pakai hpmu," jawab Ryan salah tingkah.
"Farel.. Vanessa.. Lain kali kalau mau mengajak seseorang tanyakan dulu ya orangnya sedang sibuk atau tidak," tegur Dinda.
"Iya maaf mommy.. Vanessa pikir om akan ada di rumah soalnya ini hari minggu," ucap Vanessa murung.
"Its okay girl.. Don't cry, om kalau hari minggu memang libur kok, ayok kita jadinya mau nonton apa?" ucap Ryan menghibur kedua anaknya Dinda.
"Kita nonton ini aja om," tunjuk Farel dan akhirnya mereka menonton film itu dengan tenang dan nyaman.
Setelah selesai menonton kini mereka memutuskan ke sebuah tempat permainan yang ada di mall. Di sana mereka terlihat sangat bahagia dan banyak canda gurau.
Kehangatan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang yang sedang ada di sana, bagaimana tidak? Baik Dinda maupun Ryan merupakan pasangan yang serasi karena keduanya mempunyai tampang yang sempurna, Dinda terlihat cantik dan auranya terpancar sedangkan Ryan terlihat tampan dan gagah.. Wajar jika mereka nantinya di sematkan sebagai couple goals.
"Apa chemistry pak Ryan dengan anak-anak sudah mulai terkoneksi satu sama lain? Padahal tadi ketika gue dandan memang gue sempat ingin mengajak pak Ryan ikut namun gue urungkan karena gue pikir pak Ryan sibuk atau ingin beristirahat, ternyata kedua anakku sudah melakukannya terlebih dahulu, kalian ini selalu membuat mommy nya gemas," batin Dinda menatap kedua anaknya yang tertawa lepas.
__ADS_1
"Mommy?" sapa Farel mendekati Dinda.
"Hei boy.. Ada apa?" tanya Dinda lembut dan mengusap kepala Farel.
"Farel mau om pengacara jadi papah Farel dan adik Vanessa," ucap Farel dengan polosnya yang sontak membuat Dinda sangat terkejut.
"Hei kenapa Farel bisa bilang begitu?" tanya Dinda berusaha tenang.
"Farel senang sama om pengacara, setiap ada om pengacara pasti Farel dan Vanessa merasa bahagia, Farel merasa di sayang dan di perhatikan sama om pengacara, Farel juga tau kok kalau mommy sebenarnya suka kan sama om pengacara?" ucap Farel memancing perasaan Dinda.
"Astaga kenapa anak gue kritis gini sih, duh gimana nih jawabnya," batin Dinda bingung.
"Mommy? Answer me.. Don't lie," desak Farel.
"Mommy harus jawab apa dong?" tanya balik Dinda kebingungan.
"Jawab sesuai kata hati mommy dong, jangan bohong loh itu gak baik," protes Farel.
"Mommy tau boy.. Biarkan semuanya seperti ini dulu ya, apa Farel gak merasa terlalu cepat kalau punya papah baru? Kan Farel masih bisa bertemu papah Rio kapanpun Farel mau," tanya Dinda penasaran dengan isi hati Farel terhadap Rio.
"No.. Farel gak suka lagi sama papah semenjak papah gantiin mommy dengan mamah Sisil itu, Farel gak suka mom.. Papah juga lebih sering perhatian sama mamah Sisil, kan mamah Sisil udah besar mom kenapa minta di perhatian dan manja banget, harusnya semua itu juga untuk Farel dong.. Farel kesal tinggal di sana yang ada sama nenek atau gak Sus," protes Farel meluapkan isi hatinya.
"Nenek baik sama Farel? Sus juga baik kan? Mungkin mamah Sisil waktu itu memang lagi ingin di perhatikan sama papah," tanya Dinda mencoba menenangkan anaknya.
"Nenek dan Sus sangat baik sama Farel, gak kayak mamah Sisil yang adanya pergi terus," protes Farel.
"Oh jadi ini alasan Farel sudah gak mau lagi tinggal dengan papahnya, untung waktu itu gue segera mengurus semuanya, coba kalau gue masih mengalah? Mungkin akan berdampak ke psikis Farel" batin Dinda merasa tak tega.
"Mommy mau kan?" tanya Farel memohon.
"For what?" tanya Dinda bingung.
"Om pengacara to be my dad," jawab Farel to the poin.
"Berikan mommy waktu ya boy, ini bukan keputusan yang mudah," ucap Dinda mencoba memberi pengertian.
"Mudah saja mom, antara mommy dan om pengacara saling suka, jadi bersama lah, Farel sedih melihat mommy melakukan semuanya seorang diri, nanti ketika mommy berkeluh kesah dengan siapa dong?" tanya Farel.
"Dengan kamu dong boy, ada adik Vanessa juga.. Kalian kan semangat dan support sistem mommy," ucap Dinda membantah dengan cara halus.
"No.. Kami masih terlalu kecil untuk mendengarkan masalah orang dewasa, ayolah mommy.." desak Farel.
"Nanti kalau waktunya tepat akan mommy kasih tau jawabannya, biar semuanya suprise," ucap Dinda membuat Farel kesal.
__ADS_1
"Mommy.. Pokoknya Farel hanya ingin mendengar jawaban iya," protes Farel lalu meninggalkan Dinda dan kembali bermain bersama Vanessa dan Ryan.