
Sudah dua tahun, Farel juga Vanessa tak pernah lagi mengunjungi kediaman rumah Ryan. Bukan tanpa alasan mereka tak pernah kesini, semua memang kesalahannya yang selalu saja membuat ulah dan membahayakan anak kandungnya sendiri hingga membuat Dinda enggan memberi izin.
Untuk hari ini Ryan sudah tak bisa lagi membendung rasa rindu terhadap kedua anaknya, meskipun hampir setiap hari mereka berkomunikasi melalui video call namun tak mampu membuat Ryan merasa cukup, ia ingin sekali bisa bertemu langsung dan memeluk anaknya.
Ting.. Notifikasi ponsel Dinda.
"Dinda, bagaimana kabarmu? Aku harap baik-baik saja ya.. Oh iya tujuanku menghubungimu untuk meminta izin bertemu Farel juga Vanessa, apakah boleh? Sudah mau dua tahun aku gak diberi izin bertemu mereka ya meskipun aku sendiri sadar diri jika penyebabnya adalah aku, namun aku mohon Din, izinkan aku bertemu anak-anak, aku sudah rindu," isi chat sang mantan suami membuat Dinda kaget.
Dinda sampai memiliki pemikiran apakah sekarang ini Ryan sangat kesepian sehingga memaksa untuk bertemu anak-anak, padahal beberapa tahun ini pun tak diberi izin juga gak papa.
Melihat istrinya bengong seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Ryan menghampiri dan menanyakan. "Ada apa sayang? Kenapa pagi-pagi sudah melamun? Gak baik loh nanti rezeki dipatok ayam," tegur Ryan mengejutkan Dinda.
"Mas.. Ini mas Ryan tiba-tiba chat aku untuk diizinkan bertemu anak-anak, boleh gak?" tanya Dinda.
"Tumben sekali.. Belum kamu balas kan?" tanya Ryan memastikan dan Dinda menggeleng.
"Sini pinjam ponselmu biar aku telepon mantan suami kamu," pinta Ryan lalu Dinda memberikan ponselnya.
Dalam deringan kedua, panggilan dari Dinda sudah langsung diangkat oleh Ryan. "Halo Din.. Bolehkan?" tanya Rio to the poin.
"Hai bro.. What's up? Ini bukan istriku, ini suaminya yang selalu setia bersama dengannya," ejek Ryan.
"Gue gak mau cari masalah denganmu! Urusanku sekarang ini dengan Dinda, istrimu!" pekik Rio.
"Urusan dengan Dinda sama saja berurusan denganku, apa situ lupa jika aku ini suaminya? Jadi apapun yang terjadi pada Dinda adalah tanggung jawabku," sindir Ryan.
"Udahlah jangan bikin kesal, berikan ponsel ini ke orangnya, ada hal yang ingin dibahas," protes Rio.
"Kalau gak mau?" tantang Ryan.
"Astaga.... Tolonglah," pinta Rio.
"Dinda udah izin sama gue dan sepertinya gue bisa izinkan asalkan tetap dalam pengawasan kami," tegur Ryan.
"Maksudnya?" tanya Rio tak paham.
__ADS_1
"Ya nanti akan ada bodyguard yang menjaga anak-anak ketika keluar denganmu, gimana?" tanya Ryan.
"Kok kesannya gue ini mau culik anak gue sendiri ya?" sindir Rio.
"Bisa saja.. Sekarang kan anda kesepian," jawab Ryan membuat Rio merasa kesal.
"Gue gak mau cari gara-gara ya dan daritadi gue udah berusaha sabar, tolong jangan pancing rasa sabar gue, Farel juga Vanessa adalah anak kandung gue, darah daging gue sendiri, kenapa lo malah yang mempersulit gue bertemu mereka?" gertak Rio.
"Ya kalau mau bertemu aturannya begitu, kalau gak mau yasudah," jawab Ryan semakin mengesalkan.
Tak mau memperpanjang urusan dengan pengacara yang menurutnya sudah gi-la itu akhirnya Rio memilih mengakhiri panggilan daripada terus menerus mendengar permintaannya yang aneh. Ya kali mau bertemu anaknya sendiri harus segitunya, emang di pikirannya bakal mau diculik apa. Hadeh...
Telepon terputus, Dinda yang sedari tadi mendengar percakapan mereka berdua merasa kasihan dengan Rio, apa salahnya sih memberi izin? Kenapa harus dibuat seribet itu? Toh Rio kan ayah kandungnya dan memang hak dia bertemu dengan anaknya.
"Mas.. Apa perkataan mu gak berlebihan?" tanya Dinda menegur.
"Berlebihan?? Gak juga tuh, memang dimana salahnya?? Semua ini demi keamanan dan keselamatan anak-anak juga kok," jawab Ryan.
"Tapi gak gitu juga mas," protes Dinda.
"Sepertinya mas Rio tak akan melakukan hal itu deh mas, dia butuh seseorang untuk menghiburnya dan keinginannya untuk bertemu anaknya itu pilihan yang tepat," jawab Dinda.
"Sekarang kamu bela dia?" tanya Ryan menyindir.
"Gak juga.. Aku kasihan saja sama mas Rio, salah?" tanya balik Dinda.
Ketika Ryan ingin menjawab pertanyaan Dinda, ada Vanessa yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya apalagi menyangkut nama Rio, nama papahnya, membuat Vanessa semakin fokus mendengarkan diam-diam. Setelah memastikan jika kedua orang tuanya sedang membahas Rio, seketika itu juga Vanessa ke kamar kakaknya.
"Kak.. Kakak.." teriak Vanessa mengetuk pintu.
"Ada apa sih dek? Berisik banget," protes Farel.
"Ke kamar mamah yuk," ajak Vanessa.
"He? Mau ngapain?" tanya Farel.
__ADS_1
"Tadi Vanessa denger mamah lagi berdebat sama papah Ryan dan tau gak kak apa yang dibahas?" tebak Vanessa dan Farel mengangkat kedua bahu.
"Mereka sedang membahas papah, papah Rio," bisik Vanessa membuat Farel bingung.
"Buat apa bahas papah?" tanya Farel.
"Sepertinya papah ingin bertemu kita namun gak di bolehin sama papah Ryan, makanya mamah sempet menegur papah Ryan," jawab Vanessa.
"Yaudah kita telepon papah saja kalau nanti papah ajakin kita pergi ya kita langsung mau, jadi kalau papah jemput kesini kan papah Ryan gak akan bisa buat apa-apa," usul Farel.
"Ide yang bagus, setujuuuuu," teriak Vanessa.
"Diam bisa gak sih!" tegur Farel kesal lalu Vanessa segera membungkam mulutnya.
Sambungan telepon dengan Rio pun tersambung, keduanya sangat asyik mengobrol dengan papahnya sampai mereka lupa akan tujuan awalnya, untung Rio segera memberitahu jika Rio rindu dengan mereka dan berniat mengajak jalan-jalan, sontak saja Farel juga Vanessa kegirangan. Jujur saja mereka jenuh di rumah terus, sejak Dinda memiliki anak lagi, Farel serta Vanessa jarang sekali diajak berpergian apalagi sekedar makan diluar. Dengan senang hati Rio bergegas bersiap dan menjemput kedua anaknya.
Tiba dirumah Dinda, kedatangan Rio disambut sikap dingin sang pemilik rumah, Ryan. Namun Rio tak ambil pusing, baginya anak-anak setuju untuk diajak pergi. "Rupanya nekat kesini?" sindir Ryan.
"Ya.. Karena gue kangen sama Farel juga Vanessa," jawab Rio cuek.
"Kangen apa sekarang sudah kesepian?" sindir Ryan terkekeh.
"Apapun itu terserah anggapan mu saja," jawab Rio.
Mendengar ada suara papahnya membuat Farel juga Vanessa segera berlari keluar dan memeluk papahnya berbarengan. "Papah... Yey!" teriak Farel dan Vanessa.
"Hai anak-anak papah, udah siap?" tanya Rio memastikan dan keduanya mengangguk cepat, menandakan bahwa sudah siap.
Ryan kebingungan melihat kedua anak tirinya dengan tiba-tiba menghampiri Ryan apalagi penampilan mereka sudah rapi seperti mau pergi. "Jangan bilang kalian sudah janjian?" tebak Ryan.
"Bukan janjian tapi lebih tepatnya aku mengajak mereka untuk pergi jalan-jalan dan kebetulan sekali mereka langsung mau, yasudah saya jemput," jawab Rio apa adanya.
"Kenapa kalian gak izin dulu sama papah?" tanya Ryan sedikit kesal.
"Pah.. Kami ini bukan anak kecil lagi yang harus selalu menuruti keinginan papah, lagian kami ini pergi bukan sama orang lain, papah Rio kan papah kandung kami, jadi wajar kalau kami ingin main bersamanya, yuk pah," ajak Farel yang jawabannya membuat Ryan sungguh kaget. Baru kali ini Ryan dibantah oleh anaknya Dinda apalagi di depan Rio.
__ADS_1