
"Pak Ryan.. Terima kasih," ucap ujang sambil, bernafas ngos-ngosan.
"Iya pak makasih banyak," ucap umar lirih karena nafasnya sudah kembang kempis.
"Sama-sama. Sekarang kalian atur nafas dulu lalu minum setelah tenang baru jelaskan pada saya dengan detail," perintah Ryan memberi waktu pada kedua sekuriti nya.
"Makasih pak.. Saya sudah mulai tenang, kejadian ini terjadi begitu cepat pak sampai kami kewalahan untuk menghalaunya," ucap Ujang mencoba menceritakan.
"Tolong ceritakan semuanya ya pak," pinta Ryan lalu mereka berdua mengangguk setuju.
"Baik pak.. Jadi semua ini berawal ketika kami sedang main catur, ada seseorang yang menanyakan apakah ini kantor bapak atau bukan dan menanyakan apakah anda masih di dalam atau sudah pulang, lalu kami jawab seadanya dengan yang ada di lapangan, Tiba-tiba mereka menyekap kami dan mengikat kami lalu mereka ada yang masuk ke kantor ada juga yang lari ke arah belakang, tiba-tiba terdengar suara seseorang melempar sesuatu.. Kami mendengarnya dan kami gak bisa apa-apa pak karena kondisi kami yang terikat, di sini tadi juga ada yang menjaga kami sambil membawa senjata tajam, ia mengancam jika kami berani berontak maka mereka tidak segan akan mencelakai anda di dalam, ya kami memilih diam sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja meskipun kemungkinan itu kecil tapi kami optimis kalau bapak bisa melaluinya dengan baik.." ucap Ujang dengan detail.
"Lalu setelah itu?" tanya Ryan penasaran.
"Mereka langsung kabur sambil tertawa puas pak, di luar sana sudah ada mobil yang menunggu," ucap Umar menimpali.
"Berarti ini semua sudah di rencana, apakah bapak kenal ciri-cirinya?" tanya Ryan memastikan.
"Tidak pak karena mereka semua memakai topeng hitam full wajah," ucap Umar lirih.
"Tadi bapak bilang kalau ada seseorang yang masuk ke kantor, setelah dia keluar apakah membawa sesuatu?" tanya Ryan.
"Tidak pak.. Mereka langsung lari seperti tergesa-gesa, yang menjaga kami pun juga begitu.. Entah apa penyebabnya," ucap Ujang.
"Baiklah kalau begitu, informasi kalian sangat, bermanfaat.. Lain kali ketika ada orang asing yang bertanya-tanya seperti itu alangkah baiknya kalian berjaga-jaga ya," tegur Ryan.
"Iya pak maafkan kami soalnya yang pertama menanyakan itu wanita cantik pak, dia mengaku kalau istri anda...ya kami pikir memang istri anda karena kebetulan kami kan belum tau wajah istri anda jadinya kami langsung percaya, setelah kami mengatakan bahwa bapak ada di dalam dia langsung keluar sambil memainkan kode, lalu terjadilah hal seperti ini," ucap Umar membuat Ryan kaget.
"Apa?? Dia mengaku jadi istri saya?"pekik Ryan terkejut dan berusaha berpikir dengan keras.
"Iya Pak wanita cantik tadi mengaku istri anda," jawab Ujang membenarkan.
"Ini tidak bisa di biarkan, beraninya mereka sampai melibatkan dan mengaku istri saya, ini wajah istri saya pak jadi kalau ada lagi yang mengaku istri saya harap jangan di percaya selain orang yang saya tunjukkan fotonya," tegur Ryan dengan serius dan kedua sekuriti menghapal betul wajah bosnya.
"Ba..Baik pak," jawab keduanya.
"Kalau begitu saya pulang dulu, kalau nanti terjadi hal yang sama segera kabari saya segera," ucap Ryan lalu bergegas ke mobil.
"Pak.. Saya bagaimana?" tanya sekretarisnya.
__ADS_1
"Astaga maaf saya lupa kalau masih ada kamu, ya kamu lebih baik pulang saja sekarang agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan, besok kamu boleh masuk setengah hari supaya perasaanmu tenang," ucap Ryan lalu melajukan mobilnya menuju rumah.
"Terima kasih pak.." jawab sekretarisnya lirih lalu segera memesan taksi online.
Di perjalanan Ryan terus berpikir siapakah dalang di balik semua ini? Ia merasa tidak memiliki musuh,
"Siapa dalang semua ini? Gue gak memiliki musuh apalagi dengan sesama pengacara, atau mungkin ini salah satu klien gue yang ingin mensomasi gue? Tapi dia memberi waktu 2 hari sedangkan ini masih hitungan jam, ada masalah apa sih sebenarnya?" gumam Ryan sambil menyetir dengan kecepatan sedang namun tiba-tiba di depan ada seseorang yang sedang menyebrang.. Untung saja Ryan sigap menginjak rem sehingga tidak mengenai orang itu, merasa bersalah dan perlu meminta maaf Ryan memilih turun dari mobil dan menghampiri.
"Maaf.. Maafkan saya, apakah anda tidak apa-apa?" tanya Ryan memastikan.
"Tidak papa.. Loh Ryan" jawab orang yang di tabrak nya adalah Vika-orang yang pernah membantu Dinda mengaudit data.
"Vika? Kamu ngapain disini sendirian?" tanya Ryan penasaran.
"Oh gue habis pulang kerja kok, kalau lo?" tanya balik Vika.
"Sama.. Sorry ya sekali lagi, gue gak sengaja," ucap Ryan merasa bersalah.
"Gak papa lagian gak ada yang lecet kok," jawab Vika tersenyum.
"Syukurlah.. Yasudah kalau begitu sebagai permintaan maaf gue antar pulang ya," tawar Ryan yang di sambut hangat oleh Vika.
"Sama sekali tidak.. Ayo nanti keburu malam," ajak Ryan membukakan pintu untuk Vika.
"Baiklah makasih ya," jawab Vika lalu masuk ke mobil.
Kini keduanya merasa canggung karena berada dalam satu mobil hanya berdua saja, baik Ryan maupun Vika merasa bingung harus memulai obrolan darimana.
"Hmm.. Ryan," ucap Vika malu-malu.
"Ya ada apa Vik?" tanya Ryan sambil fokus menyetir.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Vika canggung.
"Kabar baik, bagaimana denganmu?" jawab Ryan netral.
"Ya begini saja, masih sama kayak dulu," jawab Vika menyita perhatian Ryan.
"Masih sama kayak dulu? Yang dimana nya?" tanya Ryan heran.
__ADS_1
"Ya semuanya, semua masih sama," jawab Vika lirih.
"Maaf tapi gue lupa Vik," ucap Ryan canggung.
"Ya gue sama saja kayak yang dulu, Vika yang cekatan dan baik hati serta tidak sombong," jawab Vika bergurau dan Ryan merasa tertipu.
"Astaga Vika.. Gue pikir tuh yang mana," jawab Ryan kesal.
"Haha habisnya gue juga bingung mau memulai obrolan darimana dulu, lo sih gak ajak ngobrol dulu jadi kan gue canggung," ucap Vika kesal.
"Ya maaf soalnya ada hal lain yang sedang menganggu pikiran gue, maaf ya Vik.. Rumahmu masih di sana kan?" tanya Ryan mengalihkan obrolan.
"Kalau boleh tau apa yang menganggu pikiranmu? Perempuan? Iya rumah gue masih tetap di sana," jawab Vika sambil penasaran.
"Masalah pekerjaan kok," jawab Ryan dingin.
"Ohh gue pikir ada seseorang yang menganggu pikiranmu itu," sindir Vika.
"Ya memang ada.. Dia klien gue, eh tapi belum tentu juga sih ini pelakunya siapa, semua masih abu-abu," jawab Ryan kebingungan jawab.
"Memang masalah apa sih? Serius banget ya?" tanya Vika penasaran.
"Ya bisa di bilang begitu Vik," jawab Ryan tidak membantah namun tidak membenarkan.
"Sejak kapan lo punya musuh?" tanya Vika tak percaya.
"Sejak hari ini ketika gue lembur kerja," jawab Ryan jujur sambil fokus menyetir.
"Emang lo kerja dimana sih?" tanya Vika penasaran.
"Di kantor advokat Ryan Hadiningrat," jawab Ryan enteng namun membuat Vika melongo tak percaya.
"Ha? Jangan bercanda deh.. Gue tanya serius," sindir Vika geram.
"Lah gue udah jawab serius, gue pengacara dan sudah punya kantor sendiri.." jawab Ryan.
"Berarti pengacara yang sedang naik daun dan memenangkan perkara itu lo? Astaga gue gak, percaya sekarang lo bisa sehebat ini," ucap Vika kagum dan menepuk pelan bahu Ryan.
"Ya kata orang sih begitu hehe," jawab Ryan merendah sambil nyengir.
__ADS_1
"Astaga.. Gue gak mau kalau Ryan sampai lolos, waktu itu gue memang bodoh sudah mencampakkan nya namun tidak untuk sekarang, dia harus jadi milik gue lagi," batin Vika tersenyum smirk dan akhirnya Ryan sudah mengantarkan Vika sampai di rumah dengan selamat, tak lupa Vika mengajak bertukar nomor dengan alibi jika ada info reuni akan di share.