RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
JEBAKAN SISIL


__ADS_3

"Aaarrgghhh... Bagaimana mungkin keadaan berbalik menyerang gue? Dindaaaa ternyata lo sudah mempersiapkan semua ini dengan matang, bagaimana bisa lo berubah secepat ini Din? Dimana Dinda yang dulu?" gumam Rio mengobrak-abrik barang yang ada di depan matanya.


"Mas.. Kamu apa-apaan sih? Berantakan kan ruangannya," ucap Sisil kesal.


"Diam.." gertak Rio ketus.


"Hei kenapa mas? Pulang dari persidangan bukannya bahagia karena bebas dari Dinda malah marah gitu," tanya Sisil heran.


"Sidang di tunda sepekan lagi dan keadaan malah berbalik menyerang ku, pengacara Dinda sangat pintar hingga tidak ada celah untukku menjelaskan apapun di persidangan," ucap Rio resah.


"Kok bisa gitu, lawan dong mas.. Malu ah kalau mas Rio sampai kalah sama Dinda," desak Sisil tak suka.


"Bagaimana caranya? Mereka terlalu hati-hati dan semua bukti sangatlah valid," tanya Rio kesal.


"Gampang aja mas, kita jebak mereka seolah-olah selingkuh," ucap Sisil tersenyum licik.


"Caranya?" tanya Rio penasaran.


"Itu bisa di atur, serahin semua sama Sisil," jawab Sisil tersenyum licik.


"Aku harap caramu ini tidak memberatkan ku di persidangan Sil," ucap Rio penuh harap.


***


Sisil menghubungi Dinda dan berencana mengajak ke sebuah apartemen untuk bertemu, Sisil berbohong jika maksud pertemuannya untuk mengembalikan Farel.


"Din bisakah lo ke apartemen gue sekarang? Nih gue mau kasih Farel sama lo, capek gue mengurusnya sendirian," isi chat Sisil mengejutkan Dinda.


"Apa? Jadi selama ini Farel di rawat Sisil? Gak ini gak bisa di biarin, gue gak sudi anak gue hidup bersama ****** itu," gumam Dinda emosi lalu menyanggupi permintaan Sisil.

__ADS_1


"Oke gue ke sana sekarang, lo pikir mudah urus anak?" ejek Dinda.


"Yaya gue akui kalah tapi gue minta lo kesini sama pengacara mu, gue mau ada hitam di atas putih beserta bukti, dia pengacara kan? Jadi gue gak perlu susah-susah mencari," pinta Sisil dan Dinda menyanggupi.


30 menit kemudian Dinda dan Ryan sudah tiba di apartemen Sisil.


"Sil mana Farel? Gue gak mau berlama-lama disini," ucap Dinda to the point.


"Buat perjanjiannya dulu dong, ntar mas Rio di tuduh culik anaknya lagi dan di persidangan bisa menambah berat dia," protes Sisil lalu Ryan menyanggupinya.


"Bi tolong siapkan minuman untuk tamu saya," perintah Sisil pada ART yang sudah ia ketik untuk menjebak mereka berdua.


Setelah minuman selesai tanpa sadar Dinda dan Ryan meminum hingga setengah gelas, padahal di dalamnya sudah ada obat perangsang dan obat tidur dengan dosis cukup tinggi. Lama kelamaan keduanya mengantuk ditambah lagi hasrat yang tiba-tiba membuncah keduanya.


"Bu.." ucap Ryan menahan hasrat.


"Ya.. Iya pak," jawab Dinda terbata karena dirinya pun juga menahan hasrat yang besar.


"Ah mudah sekali menjebak kalian, begini kan bisa menguntungkan mas Rio di persidangan besok," gumam Sisil tersenyum puas dan meninggalkan apartemen yang ia sewa.


###


Malam hari baik Dinda maupun Ryan terkejut dengan posisi mereka yang tanpa busana, mereka syok dan merasa terjebak oleh Sisil.


"Aaaa.." teriak Dinda histeris menyadari dirinya tak memakai pakaian dan hanya berbalut selimut.


"Bu.. Bu.. Bu Dinda, bagaimana bisa kita melakukan ini?" tanya Ryan terkejut bukan main.


"Saya juga tidak tau pak, terakhir kita mengobrol ada Sisil juga. Dimana dia sekarang?" tanya Dinda melihat sekeliling apartemen.

__ADS_1


"Saya kurang tau bu, saya juga barusan tersadar, maafkan saya bu.. Saya sudah menodai ibu," ucap Ryan penuh penyesalan.


"Saya juga minta maaf karena tidak bisa menahan gejolak yang tiba-tiba datang, saya merasa aneh pak, apa bapak juga demikian?" tanya Dinda memastikan.


Lalu ketika mereka sedang memikirkan apa yang sebelumnya terjadi, Tiba-tiba Rio masuk membawa Farel. Rio akting seolah-olah syok dan jijik melihat pemandangan tersebut.


"Dinda? Apa yang kalian lakukan? Ini apartemen Sisil.. Bagaimana bisa kalian melakukan ini di rumah orang lain," cibir Rio dengan akting terkejut.


"Mas ini tidak seperti yang kamu kira, aku yakin ini jebakan Sisil," ucap Dinda menahan emosi.


"Mana mungkin Sisil melakukan itu? Lagian kalau pun itu ulah Sisil harusnya kalian bisa mengontrolnya dong, nyatanya kalian malah kebablasan.. Berarti kalian sudah melakukan ini sebelumnya, dugaan ku benar kan kalau kamu membayar pak Ryan dengan cara ini, jangan harap aku mengizinkan mu mengambil Farel," tuduh Rio.


"Mas jangan sok suci deh, kamu di belakangku juga melakukannya dengan ****** mu itu kan? Gak usah munafik. Setidaknya aku melakukan karena di jebak bukan secara sadar," protes Dinda membela diri


"Ah maling masih gak mau ngaku, untung saja Farel belum kalian ambil, jangan sampai Farel seperti ibunya," cibir Rio tersenyum licik.


"Ehem.. Maaf jika saya ikut campur masalah kalian, saya memang merasa jika ini jebakan dan saya akan mencari bukti, tunggu saja pak Rio, jangan sampai anda dan pacar anda yang malu," gertak Ryan membuat Rio ciut.


"Sialan bener juga ya pasti Sisil menjalankan ini ada jejaknya, dasar bodoh.." batin Rio kesal.


"Pakai lagi pakaian kalian, dasar manusia gak tau moral. Klien anda masih berstatus istri orang bisa-bisanya anda jelajahi," Sindir Rio lalu keluar kamar dan keduanya segera memakai pakaian.


"Gimana ini pak? Saya gak mau jika ini memberatkan saya," ucap Dinda gelisah.


"Tenang saja bu, saya akan melakukan cara agar suami ibu tidak bisa berkutik, ibu tinggal menunggu hasilnya saja," ucap Ryan menenangkan dan tanpa di sadari oleh Rio, pak Ryan mengambil sampel minuman yang di suguhkan Sisil.


Setelah membawanya ke sebuah lab kini Ryan bisa tersenyum senang, ia sudah menduga jika ini ulah Sisil. Kandungan yang ia berikan di minumannya sungguh tinggi.


"Bukti yang di dapat sudah kuat, tinggal bukti CCTV di apartemen Sisil, kalau pun tidak dapat ya tak apa lah," gumam Ryan lalu bergegas ke kantornya.

__ADS_1


***


__ADS_2