
"Besok aku jemput jam 7 pagi ya," isi chat Rio.
"Pagi sekali? Anak-anak gimana?" balas Dinda.
"Nanti aku kesitu sama mamah, pas kita berangkat nanti mereka naik mobil mamah, ada supir mamah yang ikut dibelakang, biar gak bolak-balik," balas Rio.
Dinda menemui anak-anaknya untuk memberitahu agar mereka bersiap, "anak-anak mamah, udah makan?" tanya Dinda lembut.
"Udah mah," jawab mereka kompak.
"Bagus.. Sekarang kalian ke kamar masing-masing ya, siapin baju dan perlengkapan lainnya," ucap Dinda.
"Kita mau kemana mah?" tanya Vanessa penasaran.
"Besok ada oma mau jemput kalian," jawab Dinda.
"Berarti Vanessa juga kak Farel main ke rumah papah dong?" tanya Vanessa memastikan.
"Benar sayang.. Besok dijemput jam 7 ya jadi kalian segera siap-siap gih biar besok langsung berangkat," jawab Dinda dan kedua anaknya bersorak gembira. Raut wajah yang sudah lama Dinda rindukan, tawa bebas anak-anak yang dulu selalu menghiasi rumah ini, akhir-akhir ini seolah redup.
Beberapa menit kemudian Dinda mengecek ke kamar anaknya dan melihat apa saja barang yang akan dibawa. Rata-rata mereka lebih banyak membawa pakaian, ah apa mereka nantinya akan menginap lama? Apa mereka sudah bosan tinggal di sini?
***
Pagi hari telah tiba, kedua anak Dinda sudah bersiap sejak subuh dan terlihat sangat antusias, makan pun mereka sangat lahap, sesekali mereka melihat jam yang ada di dinding.
"Kalian sudah gak sabar ya?" tanya Dinda.
"Iya mah.. Kami senang sekali kalau di rumah papah, semua yang kita mau dituruti, apalagi oma dan opa selalu ada untuk kami, meskipun di sana rumahnya besar tapi gak pernah terasa sepi," jawab Farel antusias, Dinda yang mendengar penuturan anaknya seketika sedih, kebahagiaan yang dulu sangat kental di rumah ini sekarang mulai pudar. Jangankan kebahagiaan, canda gurau pun sekarang jarang.
"Yaudah kalian duduk manis disini dulu mungkin oma lagi perjalanan," ucap Dinda dan kedua anaknya menurut.
Tak berselang lama terdengar suara klakson mobil dan bisa dipastikan jika itu adalah Ryan juga mamahnya. Hati Dinda sebenernya berdebar karena mau bagaimana pun juga Dinda sudah merepotkan mereka apalagi mamahnya Rio sekarang mantan mertuanya, rasa canggung pasti akan terasa.
"Papah... Yeyeyeye," teriak Vanessa memeluk Rio.
__ADS_1
"Ye papah udah datang, oma mana pah?" tanya Farel juga memeluk papahnya.
"Oma ada dibelakang tuh, tadi tertinggal, oma pakai mobil sendiri, tunggu ya," jawab Rio. Benar saja, beberapa menit kemudian mamahnya Rio sudah tiba.
"Oma.." teriak Vanessa berlari memeluk oma nya.
"Cucu oma.. Duh makin cakep semua, oma rindu sekali sama kalian," ucap oma mencium kedua cucunya berulang kali.
"Kami juga rindu sama oma," jawab Farel.
"Kalau rindu kenapa gak main ke rumah?" tanya oma.
"Hehe maaf ya oma, besok-besok kami main kesana," jawab Farel.
"Oke.. Oma tunggu loh ya," jawab oma.
"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya mamahnya Rio.
"Iya mah, perjalannya kan jauh," jawab Rio dan Dinda hanya mengangguk.
"I..iya bu, makasih sarannya, maaf saya ngerepotin," jawab Dinda kikuk.
"Panggil aja seperti biasanya, sampai kapanpun kamu tetap anak mamah, menantu kesayangan mamah," ucap mamahnya Rio membuat Dinda tersipu malu.
"Yasudah kami berangkat dulu mah," pamit Rio.
"Iya.. Hati-hati, mamah juga mau jalan," jawabnya.
Mereka berpisah di persimpangan jalan, Rio sengaja tidak membeli tiket pesawat agar bisa menikmati perjalanan dengan Dinda, terkadang Rio memang rindu dengan semua yang pernah Dinda lakukan, banyak hal baik yang Dinda berikan kepadanya termasuk kedua malaikat kecil yang kini semakin menggemaskan, paras mereka pun semakin rupawan. Ditengah masalah yang dihadapi Dinda, tak menyurutkan Dinda untuk tetap memprioritaskan anak-anaknya. "Andai waktu dulu pikiranku tidak mudah terkena racun nya Sisil, sudah pasti saat ini antara aku dan Dinda saling membahagiakan apalagi dengan kehadiran dua malaikat kecil semakin menyempurnakan hidupnya," batin Rio menyesal.
Ya beginilah penyesalan, datang disaat belakangan, setelah orangnya hilang baru merasakan betapa berharganya orang itu.
"Kamu bosan, Din?" tanya Rio memecah kesunyian.
"Gak kok.. Pemandangannya bagus sekali jadinya gak bikin bosan perjalanan," jawab Dinda yang memang menikmati pemandangan yang ada.
__ADS_1
"Kirain bosan, maaf ya aku gak mengajakmu naik pesawat soalnya aku memang ingin lebih lama denganmu seperti ini," ucap Rio jujur.
"I..iyaa," jawab Dinda salah tingkah.
"Maaf ya jika perkataan ku membuatmu gak nyaman, lebih baik jujur kan?" tanya Rio.
"Ya memang kejujuran itu penting tapi ya alangkah baiknya melihat situasi dan kondisi lawan bicaranya," tegur Dinda.
"Oke maaf.. Kesannya aku mengambil kesempatan dalam kesempitan ya," jawab Rio malu sendiri.
"Gak juga.. Timingnya aja kurang tepat, ini masih lama?" tanya Dinda.
"Sebentar lagi, kurang lebih 10 km," jawab Rio.
"Masih lama dong itu," protes Dinda.
"Ya 10 km kan sampai kota tujuannya, itu belum termasuk dimana suamimu menginap," jawab Rio.
"Lama lagi dong," keluh Dinda.
"Kalau capek istirahat dulu aja gimana? Beberapa meter ada rest area kok," usul Rio dan Dinda setuju. Setelah mereka parkir mobil dalam rest area, ada beberapa menu makanan yang menggugah selera Dinda salah satunya seafood.
Puas menikmati hidangan, mereka segera melajukan perjalanan ke tempat Ryan menginap, semoga saja dia ada di sana, kalau pun gak ada ya terpaksa mereka menunggu dulu. Sebelum tiba di tempat hotel Ryan berada, Rio mengajak Dinda ke sebuah mall untuk membeli atribut menyamar seperti kacamata, masker dan topi. "Kalau beli topi apa gak mencolok banget jika kita sedang mengintai?" tanya Dinda.
"Iya juga sih, yaudah kamu beli kerudung aja dan pakai kacamata juga masker, tapi kacamata nya yang warna transparan biar tidak mencolok," usul Rio dan Dinda setuju.
Setelah selesai berbelanja mereka memakai atribut didalam mobil lalu kembali melajukan sisa perjalanan. Tiba di hotel yang dimaksud, perasaan Dinda sangatlah cemas, ia takut jika ada Frida didalam kamarnya Ryan.
"Jangan panik apalagi gugup, dimana kamar suamimu? biar kita pesan disekitar sana," tanya Rio.
"Pesan hanya satu kamar? Kalau tau suamiku apa gak jadi masalah?" tanya Dinda memastikan.
"Gak akan, aku yang nantinya bertanggungjawab," jawab Rio dengan santai lalu Dinda memberitahu dimana nomor kamar Ryan dan disaat itu pula Rio memesan kamar yang tepat berada di seberangnya, hanya selisih satu kamar dari Vika.
Ketika sampai didepan kamar yang dipesan, tak sengaja Dinda melihat ada Vika di sana, kamarnya pun persis didepan kamar Ryan. Apakah suaminya tau jika ada Vika disini? Belum selesai Frida dan Indah kini ada lagi Vika.
__ADS_1