
Pagi hari yang cerah dan berawan, Dinda sudah bangun sedari tadi dan sudah bersiap untuk bertemu dengan sang buah hati, ia tidak sabar menanti momen ini. Ya meskipun suaminya sudah memberikan foto anak mereka namun Dinda merasa kurang puas jika belum melihatnya secara langsung.
"Mas aku udah gak sabar mau melihat keadaan anak kita," ucap Dinda antusias.
"Iya sayang.." jawab Ryan lesu.
"Kok kelihatannya kamu gak semangat banget mau ketemu anakmu sendiri, ada apa mas?" tanya Dinda curiga.
"Gak ada sayang mungkin karena aku masih agak ngantuk aja, semalam susah tidur," alibi Ryan.
"Kok bisa? Kamu memikirkan apa?" tanya Dinda penasaran.
"Aku mana bisa tidur nyenyak kalau gak di kasur, mana betah aku di rumah sakit," jawab Ryan agar Dinda tidak curiga padanya, aslinya Ryan sangat gelisah dari semalam karena pagi harinya Dinda akan menengok anaknya, ingin sekali Ryan menahannya tapi dia takut kalau sang istri curiga padanya. Memang benar apa yang dikatakan dokter jika menyembunyikan ini akan merepotkan semua orang.
"Astaga aku pikir karena apa mas, yasudah yuk," ajak Dinda lalu Ryan mengantarkan istrinya menuju ruang bayi.
"Anak kita yang mana mas?" tanya Dinda sembari melihat beberapa bayi yang tertidur pulas, namun ada satu bayi yang mencuri perhatian Dinda.. Bayi laki-laki yang berada di inkubator dengan tubuhnya dipenuhi oleh selang, mulai dari pernafasan sampai di dada.
"Mas kasihan ya bayi itu," ucap Dinda menunjuk bayi yang sebenarnya itu bayi Dinda dan Ryan.
"Kasihan karena apa sayang?" tanya Ryan mencoba mencari tau.
"Karena dia masih kecil tapi harus merasakan sakitnya di selang, aku gak tega melihatnya mas," ucap Dinda berlinang air mata.
"Jika itu terjadi dengan anak kita apa yang akan kamu lakukan?" tanya Ryan memastikan.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri mas, bagiku aku yang ceroboh karena sudah membuat bayi kita seperti itu," ucap Dinda sembari terisak dan Ryan hanya diam terpaku mendengar jawaban Dinda.
Merasa ada yang aneh dengan suaminya, Dinda lekas menyeka air matanya dan kembali menanyakan dimana anak mereka.
__ADS_1
"Dari sekian banyaknya bayi disini, dimana anak kita mas? Kenapa kamu tidak langsung memberitahunya?" tanya Dinda kesal.
"Bayi kita? I.. Itu ada kok," jawab Ryan semakin membuat Dinda curiga.
"MANA MAS?" pekik Dinda tak sabar.
"Dia anak kita," jawab Ryan lirih sembari mengarahkan Dinda ke box bayi yang Dinda maksud tadi. Bayi yang berada di inkubator dengan tubuhnya dipenuhi banyak selang.
"APA? JANGAN BERCANDA YA MAS," pekik Dinda tak kuasa menahan air mata.
"Sungguh sayang ini anak kita, maafkan aku," jawab Ryan berlinang air mata.
"Kenapa kamu harus berbohong mas?" tanya Dinda kecewa.
"Aku tidak mau kondisimu syok makanya aku berbohong sampai seperti ini," jawab Ryan.
"Pantas saja ketika aku ingin menengok anakku selalu saja kamu larang, ternyata ini yang kalian sembunyikan dariku, iya? Aku kecewa padamu mas," ucap Dinda kecewa.
"Anakku.. Maafkan mamah yang gak bisa menjagamu di dalam kandungan, maafkan mamah nak.. Mamah sungguh menyesal," ucap Dinda menangis terisak.
"Sayang kendalikan emosimu, ini kamar bayi takutnya nanti tangisanmu menganggu istirahat mereka," bisik Ryan.
"KAMU MENYURUHKU UNTUK MENGENDALIKAN EMOSI KETIKA TAU ANAK KITA SEPERTI INI MAS? DIMANA LETAK HATI NURANI MU? MANA ADA IBU YANG BARU MENGETAHUI ANAKNYA MENDERITA SEPERTI INI HANYA DIAM SAJA..MIKIR MAS, MIKIR..AKU INI IBU JADI AKU TAU BAGAIMANA SAKITNYA JADI DIA," pekik Dinda tak habis pikir.
"Tapi ini di kamar bayi sayang, kalau di ruangan kita gak papa kamu menangis sepuasnya," bujuk Ryan.
"Masa bodoh dengan keadaan sekitar, mana ada mereka peduli dengan anak kita, ha? Kalau peduli ya harusnya mereka tidak menyetujui sandiwara mu mas.. Jika aku menuruti kemauan mu untuk bersabar tidak bertemu anakku, bagaimana nasib dia setelahnya? Apa kamu mikir nantinya anak kita kekurangan cairan atau tidak atau bahkan terjadi sesuatu yang lebih serius, mikir sampai sana mas," jawab Dinda tersulut emosi.
"Maaf Bu.. Pak.. Harap tenang ya takutnya menganggu bayi yang lainnya, jika ada perbedaan pendapat silahkan dibahas diluar ya," tegur suster yang menjaga.
__ADS_1
"Maaf Sus maafkan kami," jawab Ryan sungkan dan menarik Dinda keluar.
"Kamu kenapa mengajakku keluar?" tanya Dinda geram.
"Apa kamu gak dengar teguran suster tadi?" tanya Ryan kesal.
"Suster itu mana tau rasanya jadi ibu yang bayinya kritis seperti itu," cibir Dinda.
"Dinda.. Stop bertindak seperti itu," tegur Ryan.
"Yang seperti apa mas?" tanya Dinda geram.
"Jangan terus menyalahkan semua orang dan beranggapan bahwa semuanya tidak peduli denganmu dan anak kita, mereka sangat peduli denganmu dan juga bayi kita makanya mereka memberikan fasilitas yang terbaik, mereka mau bersandiwara denganku itu semua demi kesembuhan mu, andai ketika kamu siuman langsung aku beritahu kondisi anak kita, apa kamu yakin sekarang ini baik-baik saja? Tidak kan? Yang ada kamu akan syok dan kondisimu menurun," tegur keras Ryan.
Namun Dinda tak mengindahkan perkataan Ryan dan memilih kembali masuk ke kamar bayi sambil berusaha mendorong kursi roda sekuat tenaganya. Tak bisa di pungkiri hati Dinda sungguh sakit melihat keadaan anaknya seperti itu, ia merasa menjadi ibu yang gagal karena membahayakan keselamatan anaknya.
"Nak.. Yang kuat ya, mommy ada disini, mommy akan selalu menemanimu, yuk sembuh nak," ucap Dinda sambil mengelus tangan mungil bayinya dengan berlinang air mata.
"Hati mommy hancur nak melihatmu seperti ini, maaf atas kecerobohan mommy yang tidak bisa menjagamu dengan baik, mommy gak mau kamu seperti ini nak, ayok nak lawan rasa sakitnya dan kita sembuh bersama, mommy janji akan merawat mu dengan baik" ucap Dinda sembari terus memandangi bayinya.
"Foto yang dikasih mas Ryan hanyalah sebuah kebohongan untukku, kenyatannya anakku tidak seperti yang ada di foto, maafkan mommy yang sempat terhasut kebohongan papah mu, maafkan mommy," batin Dinda.
Ryan yang melihat istrinya terkulai lemas dan tak henti-hentinya menangis merasa hatinya sangat sakit, lalu Ryan kembali teringat apa penyebab istri dan anaknya menjadi seperti ini, semua ini adalah Rio.. Dia biang kerok dari segala masalah yang ada di keluarga kecilnya.
"Sudah dua kali Rio mencelakai istri dan anak gue maka jangan harap dia bisa hidup tenang, tanpa bantuan dari boy gue bisa melakukannya sendiri.. Ini semua demi Dinda dan anak gue, kurang ajar sekali Rio, sudah jadi mantan suami masih saja mengusik kebahagiaan keluarga kecil gue," gumam Ryan mengepalkan tangan dan menghubungi Rio.
"Halo?" sapa Rio via telepon.
"Gue minta kita bertemu sekarang juga di Stanford cafe.. Gue tunggu," ucap Ryan tanpa basa basi dan langsung mematikan panggilan.
__ADS_1
"Loh ada apa emangnya? Gue salah apalagi?" batin Rio bertanya-tanya lalu ia memilih menemui Ryan agar jelas permasalahan apa yang akan dibahas.