RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Papah Suganda Siuman


__ADS_3

Hampir 3 minggu ayah mertuanya dirawat di rumah sakit dan selama itu pula Sisil setiap pulang kerja selalu ke rumah sakit untuk menjenguk sekaligus menjaga ayah mertuanya. Perhatian dan ketelatenan yang dilakukan Sisil akhirnya kini membuahkan hasil, ketika Sisil pulang kerja dan langsung mengajak bicara ayah mertuanya, seketika itu juga ada respon yang sangat signifikan.


"Halo papah.. Hari ini Sisil datang lagi nih, udah mau satu bulan loh papah berbaring terus apa gak capek? Apa papah gak mau bercerita sama Sisil seperti dulu? Papah gak kangen ya sama Sisil?" rengek Sisil sembari mengusap punggung tangan Suganda dengan lembut, lalu Sisil merasa ada pergerakan yang semakin lama semakin intens.


"Pah? Papah menggerakkan tangan?" tanya Sisil bahagia dan memanggil suster.


"Mas.. Papah merespon," pekik Sisil.


"Serius?" tanya Rio memastikan dan benar saja papahnya menggerakkan tangan lalu beberapa kali mengedipkan mata.


"Iya Sil papah ada respon, syukurlah.. Ayo pah segera sembuh, lawan rasa sakitnya," ucap Rio.


Setelah dokter juga suster datang dan memeriksa keadaan Suganda akhirnya disimpulkan bahwa sekarang Suganda sudah melewati masa kritisnya, Rio juga mamahnya yang mendengar itu merasa sangat bahagia dan tak hentinya mengucap syukur.


Mayang tak hentinya menangis terharu karena ketakutannya akan ditinggal sang suami kini sirna sudah, Mayang sungguh bahagia dan menggenggam tangan Suganda sangat erat.


"Ayo pah bangun.." ucap Mayang.


"Maaf Bu jangan terlalu memaksa pasien, lebih baik kita tunggu saja sampai beberapa hari apa saja progres yang dialami pasien," ucap dokter.


"Baiklah dok.. Saya sangat terkejut sekaligus bahagia ketika tau suami saya sudah siuman," ucap Mayang sangat bahagia.


"Iya bu.. Karena kondisi pasien sudah semakin membaik saya permisi dulu, ingat ya bu jangan terlalu memaksakan pasien untuk segera normal, semua butuh proses apalagi pasien mengalami koma yang terbilang cukup lama," nasehat dokter dan Mayang mengangguk.


"Alhamdulillah papah udah siuman, makasih pah udah mendengar permintaan Sisil," ucap Sisil bahagia.


"Makasih ya kamu sudah membuat papah siuman, makasih juga atas kesabaranmu mengurus kedua orang tuaku," ucap Rio penuh haru.


"Iya mas orang tuamu orang tuaku juga jadi ketika mereka sakit ya aku ada kewajiban merawatnya ya meskipun bisanya di sela waktu jam pulang kerja," ucap Sisil senang.


"Tidak papa.. Apa yang kamu lakukan sudah sangat berarti, kamu tidak pernah mengeluh ketika merawat mamah dan papah padahal aku pun tau sebenarnya kamu capek sekali sehabis pulang kerja," ucap Rio merasa bersalah.


"Gak kok mas malah aku senang setidaknya hari-hariku sekarang lebih bermanfaat," jawab Sisil membuat Rio semakin bangga dengan istrinya itu, perubahan yang ada pada dirinya sungguh drastis.


"Alhamdulillah akhirnya Sisil menjadi orang yang lebih baik," batin Rio senang.


Ketika suasana di ruangan hening, tiba-tiba Suganda memanggil Sisil.


"Sil.. Sisil," panggil Suganda lirih.


"Eh iya pah, Sisil ada disini," jawab Sisil memegang tangan Suganda.


"Teruslah disini temani papah dan kembalilah pada Rio," pinta Suganda.


"Iya pah.. Sekarang papah sembuh dulu ya," jawab Sisil asal mengiyakan. Yang penting ayah mertuanya harus sembuh dulu, masalah bagaimana nanti dirinya dengan Rio itu urusan belakangan.

__ADS_1


"Sil.. Mamah mau bicara, bisa kita keluar?" pinta Mayang dan Sisil mengangguk.


"Bentar ya pah Sisil tinggal dulu," pamit Sisil.


"Ada apa mah?" tanya Sisil penasaran.


"Untuk masalah pernikahan kalian nantinya ke depannya bagaimana?" tanya Mayang.


"Hmm itu.. Belum tau mah, biarkan seperti air mengalir," jawab Sisil seadanya.


"Mamah boleh tanya?" tanya Mayang dan Sisil mengangguk.


"Apa kamu masih sayang dengan Rio?" tanya Mayang.


"Kalau itu sepertinya mamah sudah tau jawabannya, Sisil sayang sama mas Rio ya meskipun beberapa kali Sisil mendapat perlakuan gak enak darinya bahkan di hati juga pikirannya sekarang terisi oleh Dinda dan anak-anaknya," jawab Sisil apa adanya.


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" tanya Mayang kaget.


"Mas Rio berulang kali mengatakannya secara sadar mah sampai Sisil terbiasa," jawab Sisil sedih dan Mayang sungguh kaget.


"Jadi Rio blak-blakan bicara padamu seperti itu?" tanya Mayang kaget dan Sisil hanya mengangguk.


"Maafkan anak mamah ya dia kurang dewasa, satu hal lagi.. Mamah mau mengucapkan terima kasih karena kamu sudah dengan ikhlas merawat mamah dan papah dengan baik, maafkan beberapa waktu ini mamah sering marah dan bersikap menyakitkan padamu, sekarang mamah gak mau lagi menyuruh Rio ini itu.. Bagaimana nanti pernikahan kalian mamah serahkan sama kalian berdua, maafkan mamah yang waktu meminta Rio untuk menceraikan mu, mamah sangat emosi waktu itu," ucap Mayang penuh penyesalan.


"Maafkan mamah, sungguh mamah minta maaf.." ucap Mayang berlinang air mata.


"Tak apa mah yang sudah biarlah berlalu," ucap Sisil tak mau memperpanjang masalah.


"Tolong pertahankan anak mamah ya dan mulailah rumah tangga kalian dari awal," pinta Mayang.


"Sisil usahakan ya mah," jawab Sisil tersenyum.


"Iya.. Semoga kalian tetap bersatu," pinta Mayang.


"Masuk yuk mah nanti papah cariin," ajak Sisil dan mereka berdua masuk bersamaan.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Suganda.


"Namanya wanita kalau sudah bicara ya lama pah.. Kayak papah gak tau aja," sindir Mayang.


"Kirain papah kalian berkelahi," sindir Suganda.


"Mana ada? Nyatanya muka kita masih mulus aja tuh," ucap Mayang.


"Gak ada perkelahian kok pah tadi mamah hanya mengucapkan makasih dari hati ke hati," jawab Sisil.

__ADS_1


"Kenapa harus keluar?" tanya Suganda heran.


"Biar lebih intim dan menghayati pah," jawab Sisil tersenyum manis.


"Ah kalian berdua ini pintar sekali membuat alasan," sindir Suganda.


"Ah papah ini juga pintar sekali menjebak omongan lewat kata-kata," ucap Mayang.


"Mamah.." pekik Suganda masih dengan suara lirih.


"Iya papah..." jawab Mayang penuh penekanan.


"Sudah sudah jangan berdebat, papah udah makan belum? Mau Sisil suapin?" tanya Sisil.


"Belum.. Papah kebetulan lapar, tolong suapin ya Sil," pinta Suganda manja.


"Ih papah manja terus sama menantunya, mamah serasa gak ada gunanya disini," protes Mayang.


"Ya mumpung ada menantu kita disini, kalau sama mamah kan udah 39 tahun bersama," jawab Suganda.


"Lantas papah bosan?" sindir Mayang.


"Tentu tidak istriku sayang.. Papah memang lagi mau aja di suapin Sisil," rayu Suganda.


"Sudahlah sini Rio aja yang suapin pah," ucap Rio mengambil alih piring makan.


"Gak.. Papah mogok makan kalau kamu yang suapin," tolak Suganda.


"Astaga papah.." jawab Rio geram lalu mengembalikan lagi ke Sisil.


Dengan telaten Sisil menyuapi Suganda hingga makanannya tak tersisa. Sisil merasa senang setidaknya dia tidak kehilangan sosok papah untuk yang kedua kalinya.. Papah Suganda adalah papah kedua bagi Sisil setelah kepergian papahnya ketika Sisil masih kecil.


Suasana di kamar inap kembali hangat karena mereka saling mengobrol ringan namun perhatian Sisil kemudian teralihkan ke ponsel karena ada chat yang masuk.


"Hai Sisil.. Udah lama nih kita gak jalan, hari ini sibuk gak?" tanya Ronald.


"Maaf gak bisa soalnya lagi di rumah sakit," tolak Sisil.


"Hah.. Yasudah seh semoga mertua kamu segera sembuh ya biar kita bisa jalan bareng lagi, gue kangen sama cerewet yang ada di dirimu Sil," goda Ronald membuat Sisil tersenyum kecil.


"Siapa yang chat kamu?" tanya Rio yang membuat Sisil kaget.


"Oh itu teman kerja kok," jawab Sisil lalu memasukkan hpnya ke tas.


"Mencurigakan.. Mana mungkin teman kerja tapi senyum-senyum gitu, pokoknya harus di selidiki," batin Rio curiga.

__ADS_1


__ADS_2