
Setelah puas mengultimatum mantan suaminya, kini Dinda merasa lega.. Setidaknya hingga detik ini mas Rio tidak berkutik dan tidak membuatnya dalam masalah.
Dinda merasa bersyukur akan hal itu dan kini Dinda sudah mulai bisa menata hidupnya kembali, usaha yang sempat ia tinggal beberapa hari menyebabkan dia merasa kerepotan.
"Haduh orderan baru di tinggal 4 hari udah ada pesanan masuk 1000 paket belum lagi yang via inbox, ahh pusing sebenarnya tapi aku harus semangat demi Farel, Vanessa, dan keluarga kecilku.. Semangat Dinda.." gumam Dinda menyemangati dirinya sendiri.
Lalu kebetulan Ryan datang ke toko Dinda untuk mengajaknya makan siang,
"Halo.. Sibuk banget sih," goda Ryan.
"Iya nih pak baru di tinggal 4 hari orderan masuk segini banyaknya, kewalahan nih," rengek Dinda.
"Kasihan.. Sini aku bantuin, mana yang perlu di packing?" tawar Ryan semangat.
"Itu pak. Aduh banyak banget loh ini, apa aku panggil mas Dito dan pacarnya juga ya?" tanya Dinda bimbang.
"Boleh tuh ide bagus.. Sambil kamu buka lowongan pekerjaan, gak mungkin kan setiap hari kamu packing paket sebanyak ini seorang diri, ingat loh ada anak-anak juga yang butuh perhatianmu dan ada aku juga yang mulai kamu sisihkan kalau udah bahas kerjaan dan anak," ucap Ryan cemburu.
"Jangan kayak anak muda deh pak, aku sibuknya kan sama usahaku dan anak-anak bukan sama orang lain, sampai sekarang tetap pak Ryan yang ada di hati," goda Dinda membuat Ryan salah tingkah.
"Kalau ada di hati kenapa diajak nikah di tunda terus? Apalagi yang kamu tunggu?" tanya Ryan penasaran.
"Banyak mas.. Anak-anak masih terlalu kecil, aku takut nantinya mereka bingung kalau punya papah 2 dan aku bingung bagaimana menjelaskan pada mereka dengan bahasa anak kecil yang mudah di mengerti, belum lagi aku masih belum lama jadi janda pak, apa nanti kata orang.. Biarkan aku menikmati ini semua, anda kan tau bagaimana lelahnya aku menghadapi masalah yang terus menimpa Kemarin-kemarin" ucap Dinda memberi pengertian.
"Tidak usah takut omongan orang, menjanda 3 tahun bukan waktu yang singkat bu apalagi kami menjalin kedekatan di tahun kedua anda menyandang status janda, jadinya orang lain tidak akan berfikir aneh tentang kita, sampai kapan ibu akan siap?" tanya Ryan memastikan.
"Setidaknya tunggu sampai akhir tahun ini ya pak, aku ingin menikmati ini dulu," ucap Dinda.
"Oke.. Aku akan menunggu sampai kapan pun itu," ucap Ryan semangat dan mereka kembali fokus packing.
__ADS_1
Malam hari telah tiba orderan Dinda sudah teratasi semuanya dan siap di bawa oleh kurir. Dinda hari ini meras bersyukur karena masih banyak orang-orang yang menyayangi dan peduli dengannya.
"Terima kasih telah menghadirkan pak Ryan dalam hidupku, seseorang yang sangat memberi dampak positif di hidupku, seseorang yang selalu menggenggam ku disaat aku rapuh, seseorang yang selalu mensupport aku disaat butuh, seseorang yang tidak pernah lelah menunggu ku hingga sampai saat ini, Terima kasih juga sudah menghadirkan dua malaikat yang sangat berarti di hidupku dan mewarnai hidupku, Terima kasih karena mereka sudah menjadi pribadi yang pintar, tidak merepotkan, mandiri, memiliki budi pekerti yang baik.. Apalagi keluargaku, sungguh banyak rasa Terima kasih yang harus aku sampaikan pada mereka, aku sangat bersyukur ketika ada masalah tanpa ragu dan takut mereka selalu pasang badan, tanpa pamrih mereka menolongku, bersyukurnya aku," batin Dinda sambil memandang bulan dan bintang di balkon kamarnya.
"Mommy.." sapa Farel dan Vanessa kompak.
"Oh Hai anak-anak mommy.. Ada apa nih malam-malam datang ke kamar mommy? Kenapa kalian belum tidur?" tanya Dinda tersadar dari lamunannya.
"Farel dan Vanessa ingin pijitin mommy, kata om pengacara tadi orderan mommy membludak jadinya mommy kewalahan, untung ada om pengacara yang bantu, sini mommy" ucap Farel lalu memijat kaki Dinda begitupun Vanessa memijat tangan Dinda.
"Aduh bahagianya mommy punya anak baik sekali seperti kalian, terimakasih banyak ya nak, mommy terharu," ucap Dinda meneteskan air mata.
"Don't cry mommy.." rengek Vanessa melow.
"Mommy bahagia nak, ini bentuk kebahagian mommy," ucap Dinda menyeka air mata.
"No.. Bagaimana mommy bisa sedih? Kalian saja menggemaskan gini, ihh gemesnya mommy," ucap Dinda sambil mencubit pelan pipi kedua anaknya yang gembul.
"Mommy.." rengek keduanya.
"Haha habisnya kalian tambah lama tambah gemesin, mommy kan jadi gemas," ucap Dinda tertawa bahagia dan kedua anaknya menggelitik perut Dinda berbarengan. Tawa pecah tak bisa di hindarkan, momen seperti ini yang Dinda inginkan sejak dulu..
Memang dibalik air mata pasti ada kebahagiaan yang terselip di dalamnya, seperti yang di alami Dinda sekarang.. Disaat usaha dan hak asuh anak ia genggam, kebahagiaan menyelimuti harinya, Dinda tinggal memantapkan hati menerima pinangan Ryan.
Setelah puas bercanda gurau kini Dinda dan kedua anaknya tidur bersama saling berpelukan.
##
Pagi harinya Dinda kembali menjalani aktivitas dengan sangat bahagia. Anak-anak sudah bersiap untuk sekolah dan selesai sarapan, Dinda langsung tancap gas mengantarkan anaknya sekolah setelah itu ia ke tokonya untuk mengurus usaha skincare nya yang semakin pesat.
__ADS_1
"Bye mommy.. Have a nice day," ucap Farel lalu mencium pipi Dinda.
"Bye mommy.. Don't forget to be happy," ucap Vanessa mencium pipi Dinda.
"Thanks a lot Farel and Vanessa, kalian semangat sekolahnya ya, ingat jangan keluar sebelum mommy atau keluarga jemput, kalau mommy gak bisa jemput pasti mommy kabari wali kelas kalian supaya menjaga kalian sampai ada yang jemput, oke?" ucap Dinda protektif.
"Yes mommy.. " Jawab mereka kompak lalu keluar dari mobil dan menuju sekolah.
"Ah akhirnya balik lagi ke kantor, gak terasa ya udah punya kantor sendiri ya meskipun belum besar.. Lama kelamaan kalau semakin semangat usaha pasti bisa sewa toko yang lebih besar, eh jangan sewa kalau bisa beli tokonya," gumam Dinda memberi semangat.
"Wah masih jam segini udah masuk kantor aja nih," goda Dito.
"Apaan sih mas, ya namanya kerja harus pagi dong biar rezekinya gak di patok ayam," ucap Dinda fokus ke laptop.
"Yaya jangan lupa juga urusan hati, kalau kerjaan mulu ntar cowok incaran di gaet orang loh," goda Dito.
"Mas jangan mulai deh," jawab Dinda malas.
"Ayolah.. Pak Ryan udah banyak berkorban dan beneran ingin menjadikanmu pendampingnya, kurang apalagi untuk meyakinkanmu?" tanya Dito heran.
"Jangan jadi kompor mas.. Urus dulu tuh pacar mas Dito, kapan diajak nikah.. Jangan terus desak aku kan sebelumnya aku udah pernah nikah," sindir Dinda.
"Melati? Dia belum siap menikah, entah alasannya apa," ucap Dito sedih.
"Lah.. Tanyakan dong mas jangan bisanya desak adiknya terus, wu.. Oh iya mana mas katanya ada temanmu yang mau kerja?" tanya Dinda dan Dito langsung memanggil temannya itu.
"Astaga lupa.. Kamu sih ah, tuh orangnya dibawah," ucap Dito lalu mereka menemui.
Dinda langsung klik dengan pilihan kakaknya itu dan sekarang Dinda sudah resmi memiliki karyawan ya meskipun masih 1 setidaknya itu perkembangan yang cukup signifikan.
__ADS_1