
"2 hari waktu yang singkat pah, Rio kan juga harus kerja," protes Rio.
"2 hari atau papah sendiri yang mencari," gertak papahnya Rio.
"Oke.. Oke.. Rio bakal lebih berusaha mencarinya, sekarang papah kembali ke kamar gih, Rio capek mau istirahat," jawab Rio terpaksa. Lalu Rio bergegas meminta bantuan temannya untuk mencari keberadaan Sisil.
Tak berselang lama temannya langsung menghubungi Rio untuk menjawab dimana keberadaan Sisil.
"Istrimu ada di suatu tempat dan letaknya tidak jauh dari rumahmu," ucap temannya Rio yang bernama Hans.
Mendapat balasan seperti itu membuat Rio semakin penasaran, tidak jauh dari rumah? Kemana perginya Sisil? Kalau memang tidak jauh ya seharusnya Rio mengetahui dong, namun nyatanya? Bertatap muka saja tidak pernah. Memang Hans membuat Rio dilanda penasaran yang sangat besar. "Dimana keberadaannya? Jangan main teka-teki!" jawab Rio.
"Ada di sekitarmu, tepatnya ada disebuah apartemen," jawab Hans.
Di apartemen? Apartemen siapa? Sisil dengan siapa? Atau jangan-jangan mimpi tentang Sisil kemarin akan menjadi kenyataan? Ah ini gak boleh dibiarin, enak aja aku cari susah payah sampai kepala pusing gini malah dianya enak-enakan di apartemen, jangan bilang sama teman cowoknya itu. Awas saja kau Sil!
"Share lokasi sekarang juga dan segera gue kirim bayaran mu," ucap Rio tak sabar. Lalu Hans sudah memberikan alamat yang dimana ada keberadaan Sisil di sana.
Tak mau membuang waktu, kini Rio bergegas mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia sudah tidak sabar memergoki dengan siapa Sisil disana. "Gold apartemen lantai 9 nomor 8A," gumam Rio terus menghafalkan nomor kamar apartemen Sisil. Tak butuh waktu lama, 15 menit berlalu dan kini Rio sudah berada di apartemen Gold. Bergegas Rio menaiki lift dengan hati yang tak tau bagaimana rasanya, penasaran, kecewa, kesal bercampur jadi satu.
Didalam lift, Rio mencoba menghubungi Sisil untuk mengetes apakah ia berkata jujur atau tidak, hingga deringan ketiga akhirnya panggilan dijawab juga. Was-was kini melanda Rio. "Halo Sil, kamu sekarang ada dimana? Bisakah kita ketemu sekarang?" pinta Rio.
"Ngapain mau ketemu? Bukannya kamu sendiri ya yang menyuruh aku pergi? Labil," sindir Sisil.
"Maafkan waktu itu, aku mau sekarang kita memulai semua dari awal lagi," pinta Rio.
__ADS_1
"Halah! Kemarin omongan mu juga begitu tapi nyatanya apa?" ejek Sisil.
Ketika Rio sedang teleponan, lift sudah terbuka dan Rio berjalan dengan tergesa-gesa sampai menabrak seseorang yang akan masuk ke lift. Barang yang ia bawa semuanya jatuh berantakan, sontak saja Rio membantu pria itu dan terpaksa memutus panggilan dengan Sisil.
Sebenarnya yang ditabrak Rio ialah Ronald, teman Sisil yang kebetulan meminjamkan apartemennya. Sayangnya Rio tidak fokus sehingga ia tidak menyadari yang ada didepan matanya itu Ronald.
"Ini suaminya Sisil bukan ya? Mau apa dia?" batin Ronald penasaran.
"Maaf ya mas saya gak sengaja, buru-buru soalnya," ucap Rio sambil menyerahkan barang Ronald yang sudah ia tata kembali.
"Its okay, sepertinya anda orang baru disini ya?" tanya Ronald memancing, kebetulan saat ini Ronald menggunakan masker juga topi, jadi Rio sulit mengenalinya.
"Bukan.. Saya mau menemui seseorang dan kebetulan ada di lantai ini," jawab Rio ramah.
"Ohh begitu tapi biasanya yang ada di lantai 9 ini pada bekerja mas jadi banyak yang kosong, anda mencari seseorang yang ada dinomor berapa? Siapa tau saya kenal dengan pemiliknya" tanya Ronald.
Melihat lawan bicaranya diam cukup lama membuat Rio penasaran, "Mas.. Kenal gak?" tanya Rio menepuk bahu Ronald.
"Eh maaf mas, tadi saya sedang berpikir siapa yang menghuni kamar yang anda maksud itu, setahu saya pemilik apartemen itu seorang pria namun jarang ditempati mas, dia membeli apartemen untuk investasi bahkan beberapa kali disewakan," jawab Ronald mengalihkan pikiran Rio.
"Apakah sekarang ini ada yang menyewa? Perempuan?" tanya Rio penasaran.
"Setau saya tidak ada mas, saat ini kamarnya kosong," jawab Ronald yang langsung mengambil ponselnya dan memberitahu Sisil.
"Makasih informasinya mas tapi saya lebih mantap kalau mengeceknya sendiri, permisi," pamit Rio.
__ADS_1
Ronald berharap semoga saja mereka tidak bertemu, jika nantinya bertemu pun ya terserah Sisil saja lah maunya bagaimana, mungkin memang sudah saatnya bagi Ronald untuk menerima kenyataan yang ada jika wanita yang ia cintai sejak lama itu tak akan mungkin bisa didapatkan.
Rio berjalan cukup tergesa hingga akhirnya tibalah ia dikamar nomor 8A, sebelum memencet bel, terlebih dahulu Rio mengatur nafas agar stabil dan nantinya jika didalam terdapat hal yang mengejutkan tidak membuatnya langsung emosi. Kita kan tidak pernah tau didalam kamar ini ada siapa saja dan sedang melakukan apa, daripada hanya praduga dan berujung fitnah, lebih baik mengeceknya langsung bukan? Agar semuanya terpampang jelas.
"Gue pasti bisa, gue harus kuat dan apapun nanti yang sedang terjadi didalam, gue harus siap," gumam Rio memotivasi dirinya sendiri.
Ting.. Tong.. Ting.. Tong.. Suara bel apartemen Ronald menandakan ada yang ingin bertamu. Berulang kali Rio menekan bel namun tak juga ada yang membukakan pintu, apa yang dikatakan pria tadi itu benar jika tak ada seseorang pun didalam? Untuk memastikan, Rio kembali menghubungi Sisil dan hingga deringan ketiga tak juga diangkat, apa Sisil marah padanya karena tadi memutus panggilan secara sepihak dan kini Sisil balas dendam?? Lagi dan lagi, Rio menghubungi Sisil namun tak juga diangkat. Suara ponsel Sisil pun juga tak terdengar di sekitar sini, apa Hans salah memberi informasi?
Untuk lebih meyakinkan lagi, Rio kembali menekan bel sebanyak tiga kali dan berulang, ada suara yang terdengar dari dalam sana dan itu suara perempuan, hati Rio mendadak memanas.
Ceklek... Suara pintu terbuka dan terpampang seorang wanita yang sedang menggunakan piyama dan rambutnya di gelung dengan handuk, habis keramas.
"Cari siapa ya mas? Kenapa daritadi anda menekan bel terus menerus?" tanya wanita yang sangat asing bagi Rio, didalam sana bukan Sisil, lalu dimana istrinya??
"Hei mas.. Kenapa malah diem?" tanya wanita itu agak meninggikan suaranya.
"Siapa sih sayang?" tanya pria yang sedang berada satu ruangan dengan wanita itu.
"Gak tau nih, aku gak kenal, mana tau temanmu," jawab wanita ini kesal.
"Gak.. Aku gak kenal, cari siapa ya mas? Kalau anda gak mau mengaku saya panggilkan sekuriti," gertak pria itu.
"Maaf saya salah orang dan sepertinya salah kamar, saya sedang mencari seseorang, maaf sudah menganggu waktunya," ucap Rio sangat malu.
"Lain kali pastiin dulu mas, jangan asal pencet bel berulang kayak tadi, ganggu tau gak!" protes wanita itu lalu menutup pintu dengan kasar. Menandakan bahwa penghuni kamar terganggu dan tak nyaman dengan ulah Rio.
__ADS_1
Loh.. Loh.. Kok jadi orang lain di kamar Ronald? Dimana Sisil sekarang?? Penasaran kan, tunggu episode selanjutnya yaaa...