
Kebetulan ibunya ingin mengantarkan makanan ke rumah Dinda dan melihat anaknya pergi terburu-buru dengan mengendarai mobil cukup kencang, naluri seorang ibu sangatlah kuat.. Ia yakin jika anaknya sedang ada sesuatu apalagi menyangkut kedua anaknya karena ia tidak melihat ada cucunya ikut ke dalam mobil. Sri memutuskan pulang dan memberitahu ini pada suami dan kakaknya Dinda.
"Pak.. Bapak.." pekik Sri.
"Ada apa to bu kenapa teriak-teriak? Kuping bapak masih normal bu," tanya Tono menghampiri istrinya di ruang makan.
"Ih bapak ini, tau gak toh kalau ibu lagi panik gini," ucap Sri kesal.
"Panik kenapa to bu? Ada masalah apa? Minum dulu gih biar ceritanya enak," perintah Tono lalu Sri menurut.
"Ibu kenapa pak?" tanya Dito penasaran.
"Bapak juga gak tau tiba-tiba ibumu pulang udah ngos-ngosan dan panik, ya bapak suruh minum dulu biar ceritanya enak," ucap Tono.
"Benar bu? Ada masalah apa? Bukannya tadi ibu bilang mau mengantar makanan ke rumah Dinda, kenapa masih utuh gini?" tanya Dito heran dan melihat rantang makanan masih utuh.
"Ini yang mau ibu bahas, tadi ibu melihat Dinda keluar dari rumah buru-buru dan langsung naik mobil lumayan kencang, ibu mikir pasti Dinda ada sesuatu yang menganggu nya apalagi tadi gak ada Farel maupun Vanessa yang ikut," ucap Sri panik.
"Loh la terus cucu kita kemana bu? Apa gak di, cek dulu rumahnya Dinda? Siapa tau mereka di tinggal," ucap Tono terkejut.
"Ish bapak ini kayak gak kenal anak kita aja, mana mungkin pak Dinda itu ninggalin anak-anak sendirian di rumah, kalau mereka gak diajak pasti Dinda kasih tau ibu apa bapak dulu untuk jaga mereka," ucap Sri geram.
"Jangan-jangan anaknya Dinda diculik lagi bu," ucap Dito menerka.
"Siapa yang culik?" tanya Tono syok.
"Siapa lagi pak kalau bukan keluarga mantan suaminya, mereka mungkin membawa anak-anak Dinda ketika Dinda lengah," ucap Dito menerka.
"Bisa jadi.. Coba telpon Dinda sekarang, To" perintah Sri dan Dito langsung menelpon Dinda.
***
"Halo mas Dito?" sapa Dinda sambil menyetir.
"Kamu dimana sekarang? Kata ibu tadi kamu buru-buru pergi, katakan ada masalah apa Din," cecar Dito.
"Kapan ibu tau mas? Dinda gak ngeh kalau ada ibu di sana," tanya Dinda kaget.
__ADS_1
"Tadi ibu mau mengantarkan makanan buat kalian malah ibu melihat kamu pergi buru-buru dan langsung naik mobil, ada masalah apa?" ucap Dito serius.
"Farel dan Vanessa mas.. Huhuhu.." ucap Dinda menangis tergugu.
"Ada apa dengan mereka?" tanya Dito khawatir.
"Mereka dibawa mas Rio dan mamahnya, tadi pagi izin mau mengajak ke taman Safari namun sampai sekarang belum juga balik dan beberapa kali nomor mas Rio tak hubungi gak aktif, aku khawatir mas.. Huhuhu" ucap Dinda menangis histeris.
"KURANG AJAR SI RIO ITU, GAK KAPOK-KAPOKNYA DIA MEMBUAT MASALAH, SEKARANG KAMU DIMANA BIAR MAS SUSUL!!" pekik Dito emosi.
"Ini Dinda mau ke rumah mas Rio," jawab Dinda sesenggukan.
"Kita ketemu di sana," jawab Dito emosi lalu menelpon telpon.
"Kenapa dengan Dinda? Mengapa kamu marah seperti itu, To?" tanya Sri penasaran.
"Rio kurang ajar bu, pak.. Dia beraninya menculik Farel dan Vanessa apalagi tadi pagi ada mamahnya Rio yang ikut andil memuluskan rencana ini, sekarang Rio mau ke sana menemani Dinda, ibu dan bapak di rumah saja ya," ucap Dito penuh emosi.
"Astaga.. Kenapa mereka tidak ada kapoknya ya pak," ucap Sri ikut geram.
"Biarkan bapak ikut," ucap Tono geram.
"Semoga saja mereka bisa membawa cucu kita balik lagi ya pak, padahal waktu cerai sudah ada perjanjian hitam di atas putih kenapa mereka malah bandel, apa perlu kita hubungi pak Ryan?" ucap Sri cemas.
"Boleh bu.. Biar keluarga Rio tambah kapok kalau perlu polisikan saja mereka, jangan kasih ampun," ucap Tono geram dan menghubungi Ryan, tak perlu basa-basi kini Ryan juga perjalanan menuju rumah Rio.
Setibanya Dinda di depan rumah Rio, kebetulan juga kakaknya,Dito juga sudah sampai. Kini keduanya dengan langkah yang mantap menuju rumah Rio.
"Sudah siap?" tanya Dito.
"Apapun itu masalahnya jika menyangkut kedua anakku maka aku harus siap mas," ucap Dinda tegas dan Dito tersenyum bangga.
"Mari kita lawan mereka," ajak Dito menyemangati Dinda.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ibu Dinda?" sapa ART Rio kaget.
__ADS_1
"Iya bi.. Apa kabar? Apa bapak ada di rumah? Katakan saya ingin berjumpa," tanya Dinda to the point.
"Ada bu sebentar saya panggilkan, silahkan duduk dulu," ucap ART dengan sopan dan meninggalkan Dinda.
Lalu beberapa menit kemudian Rio bersedia menemui Dinda.
"Din.. Dinda? Mas Dito?" tanya Rio terkejut.
"Dimana keponakan gue, jangan macem-macem ya lu," hardik Dito menarik kasar kaos Rio.
"Mas santai mas.. Semua bisa di bicarakan baik-baik," ucap Rio mencoba menenangkan.
"Masih bisa lu berkata kayak gitu setelah lu culik keponakan gue, ha? Bawa mereka ke sini atau lu akan habis di tangan gue," gertak Dito.
"Me..mereka tidur mas jadi aku bawa ke rumah lagian ini permintaan mamah, dia mau kalau cucunya menginap di sini, Farel dan Vanessa kan juga cucu mamahku," bela Rio.
"Jangan bawa mamah mu dalam masalah ini mas, jangan jadi pecundang," ucap Dinda penuh penekanan.
"CEPAT BAWA MEREKA KESINI RIO ATAU LU MERAGUKAN OMONGAN GUE TADI, HA?" pekik Dito ingin meninju wajah Rio namun dicegah oleh Mayang.
"HENTIKANNNNN!!! JANGAN LUKAI ANAK SAYA," pekik Mayang histeris.
"Mamah.." ucap Dinda lirih.
"Jangan hajar Rio, saya mohon.. Semua ini kesalahan saya," ucap Mayang memohon.
"Dimana anak-anakku mah, jangan menyalahi aturan yang sudah dibuat ya mah, Dinda sama mamah" ucap Dinda sedih.
"Maafkan mamah.. Mamah nekat melakukan semua ini karena mamah kangen cucu-cucu mamah.. Hanya itu saja, biarkan mereka tidur di sini kali ini saja," pinta Mayang memohon.
"Maaf mah peraturan tetap peraturan dan semua sudah tertulis jelas di surat perjanjian, apa mamah tidak membacanya?" tanya Dinda sinis.
"Tapi mamah kangen mereka Dinda," rengek Mayang.
"Dari pagi sampai sore kalian sudah menghabiskan waktu bersama dan Dinda rasa itu sudah cukup mah, jadi jangan mencari-cari alasan lagi, jangan mempersulit keadaan," ucap Dinda geram.
"Kenapa sekarang kamu berubah? Dimana Dinda yang dulu? Mamah rindu Dinda yang dulu lemah lembut," ucap Mayang sedih.
__ADS_1
"Kalian lah yang mengikis rasa lemah lembut ku dulu, kalian yang membuat aku menjadi Dinda yang sekarang, Dinda yang tidak akan takut kepada siapapun termasuk kalian, serahkan anak-anakku atau aku akan mengambil tindakan tegas," gertak Dinda.
"CEPAT SERAHKAN KEPONAKAN GUE," pekik Dito kembali menarik kaos Rio dengan kasar.