
Melihat suaminya tetap pergi ke luar kota membuat Dinda semakin yakin jika alasannya kesana bukan untuk bekerja melainkan ada hal lain. Ingin sekali Dinda kembali membuntuti suaminya namun dia juga harus memikirkan anak-anaknya, perjalanan ke luar kota membutuhkan waktu yang panjang belum lagi jika di pertengahan jalan macet.
"Harus minta tolong sama siapa ya?? Mas Ryan tadi bilang mau ke Sukabumi, hmm kira-kira ada gak ya teman yang disana?" gumam Dinda berpikir keras.
Sambil berpikir ia juga memainkan ponsel dan membuka sosial media siapa tau disana ada informasi akurat. Dan tada... Benar saja, tak berselang lama muncul status terbaru teman sekolahnya waktu SMA dulu, Dinda baru ingat jika temannya itu pernah bilang setelah lulus akan tinggal di Sukabumi.
"Hai.." sapa Dinda via inbox.
"Hai juga Din, ini Dinda Safitri anak SMA 50 kan?" tanya temannya memastikan.
"Bener.. Masih apal aja lu Fit," jawab Dinda.
"Iya dong secara lu kan bestie gue waktu sekolah dulu, beberapa kali gue cari kontak lu padahal, susah bener eh sekarang malah nongol sendiri," jawab Fitri.
"Emangnya gue apaan pakai acara nongol sendiri, gimana kabarmu?" tanya Dinda masih basa-basi.
"Kabar baik, kabarmu gimana? Denger-denger kamu udah nikah ya?" tanya Fitri.
"Iya alhamdulillah.. Lo gimana? Udah nikah juga kan?" tanya balik Dinda.
"Alhamdulillah udah Din dapat orang Sukabumi, suami lo orang mana?" tanya Fitri.
"Masih sekota kok, oh iya ngomong-ngomong soal Sukabumi, gue jadi inget sama suami gue nih, dia bilang ada acara kantor disitu, boleh minta tolong gak Fit?" tanya Dinda penuh harap.
"Boleh.. Asal gak disuruh nyuri aja," canda Fitri.
"Yee.. Kagak lah wu! Tolong pantau suami gue disana dong hehe nanti gue tanya alamat dia dimana," jawab Dinda malu-malu.
"Yaelah Dinda.. Laki lo udah gede kali, pakai dipantau segala, lo pikir anak kecil, emang lo gak pernah percaya sama dia ya?" tanya Fitri.
"Ya gue tau suami gue udah gede tapi bukan berarti gue gak pernah percaya, rasanya tuh akhir-akhir ini aneh Fit, gue rasa suami gue berubah, mana acara ke Sukabumi bilangnya dadakan lagi, kan mencurigakan," jawab Dinda menjelaskan.
__ADS_1
"Ya gue gak mau terlalu ikut campur masalah kalian tapi untuk membuatmu tenang, gue usahain bakal cari informasi tentang suamimu, jangan lupa share loc ya," jawab Fitri paham dan Dinda mengucapkan terima kasih.
Setelah itu Dinda menghubungi suaminya untuk menanyakan dimana ia menginap dan dimana juga akan mengadakan meeting, awalnya Dinda ragu memulai chating duluan namun demi sebuah kebenaran maka Dinda harus mengawalinya. Harus diurus tuntas semuanya dengan baik.
Suaminya telah memberikan informasi mengenai tempat menginap juga kafe yang nantinya akan dikunjungi, merasa sudah cukup informasi yang didapat, Dinda segera menghubungi temannya itu.
Disaat Dinda menanti kabar dari temannya, Ryan menghubungi Dinda secara tiba-tiba.
"Hai sayang, lagi ngapain?" tanya Ryan penuh perhatian.
"Ada apa mas? Langsung to the poin saja," jawab Dinda ketus.
"Masih marah sama aku?" tanya Ryan memastikan.
"Menurutmu?" sindir Dinda.
"Maaf ya.. Bukan maksudku menghindar dari masalah, tapi beneran sayang, keberangkatan ku waktu tadi sangat mepet sekali, andai ini bukan klien penting, sudah pasti aku cancel, maaf sayang," ucap Ryan sedih.
"Bukan begitu.. Ini memang klien urgent," bantahnya.
"Very-very important mas apalagi pertemuan kamu disana bukan untuk bekerja tapi untuk menikah siri kan?" tuduh Dinda emosi.
"Kamu ngomong apa sih? Gak ada nikah siri! Udah berapa kali aku katakan, tolong percayalah!" tegur Ryan.
"Bukti jelas mas, kamu di perumahan sama wanita setengah baya belum lagi kalian mampir ke butik untuk memesan kebaya, kalau bukan untuk pernikahan lalu untuk apa? Wisuda? Bridesmaid? Mustahil dong di usianya yang sudah menginjak senja dijadikan bridesmaid," tuduh Dinda.
"Butki apa? Kenapa kamu gak tanya langsung sama tante Indah dan apa tujuannya memesan kebaya itu, jangan hanya mengambil kesimpulan atas apa yang kamu lihat saja!" tegur Ryan.
"Maling mana mau ngaku, apalagi ini malingnya seorang pengacara yang jelas-jelas sangat mudah sekali membuat alibi," sindir Dinda.
"Terserah kamu! Aku capek! Aku mau istirahat dulu, niatnya mau memberitahu jika sudah sampai dan telepon bentar dengan anak-anak eh malah kamu kayak gini, tolong ubah sikapmu yang overthinking ini! Jangan sampai pikiran burukmu membuat aku jengah! Ingat Dinda, posisimu itu sebagai ibu juga istri, setiap apa yang kau ucapkan dengan mudah Tuhan kabulkan, maka lebih baik berucap lah yang baik-baik dan mengarah ke arah yang lebih maju," tegur Ryan.
__ADS_1
"Jangan menasehati ku dulu mas! Berucap itu mudah, yang susah tuh prakteknya!" protes Dinda lalu mematikan telepon dari Ryan secara sepihak.
Kesal? Tentu saja Dinda kesal, bukannya memberi penjelasan secara rinci dengan siapa saja disana dan apa kegiatannya, lah ini malah membuat Dinda kesal. Wajar dong istri memiliki pemikiran seperti itu, apa salahnya coba kalau waspada?
Di lain sisi, Ryan tengah membaringkan tubuhnya di ranjang hotel yang sangat nyaman, disana ia merasa tenang karena suasana disana sangatlah sepi. Sambil menatap langit kamar, Ryan memikirkan tentang istrinya yang mendadak berubah menjadi tukang tuduh, sejak kapan Dinda memiliki pemikiran selalu negatif?? Akhir-akhir ini Ryan tak mengenali dengan sisi istrinya itu, ia merasa asing dengan Dinda.
Namanya orang sedang galau pasti ekspresinya sedih, bisa juga menangis namun bisa juga patah hati. Kali ini Dinda merasa semuanya bercampur aduk menjadi satu, air mata yang sudah ia tahan sejak tadi berdebat dengan suaminya, kini luruh juga, tetes demi tetes air mata menghiasi pipi mulus Dinda. Cukup lama Dinda menunggu informasi dari Fitri dan berulang kali pula Dinda menelpon tapi tak juga diangkat, sedang apa sih Fitri sampai membalas pesannya saja tak sempat?
Ting... Ada notifikasi dari ponsel Dinda dan segera mungkin ia melihatnya, yang ditunggu akhirnya datang juga. Fitri memberi informasi tentang suaminya.
"Ini suamimu bukan sih? Kok gue perhatiin wajahnya sama kayak yang lu kirim fotonya?" tanya Fitri mengirim foto Ryan.
"Iya.. Dia suami gue," jawab Dinda cepat.
"Syukurlah.. Berarti memang bener suami lo ada disini, dia gak bohong dong," ucap Fitri.
"Ya syukur deh kalau benar, oh iya suami gue sama siapa aja disana?" tanya Dinda penasaran.
"Bentar ya gue cek dulu ke resepsionis, wait," jawab Fitri lalu bertanya sama resepsionis.
Saking gak sabarnya, Dinda segera menelpon Fitri.
"Ish.. Lo bisa sabar gak sih?" protes Fitri kesal.
"Sorry.. Habisnya lo kelamaan sih, gercep dikit dong," jawab Dinda sudah tak sabar.
"Ini udah termasuk gercep loh, sabar dulu napa, tenang aja suami lo gak macam-macam kayak apa yang lo pikirkan, hapus tuh pikiran kotor lo," ucap Fitri memberitahu.
"Kok bisa lo ngomong gitu?" tanya Dinda.
"Ya bisa lah emang bener kok, suami lo disini sama teman cowoknya semua, kamarnya pun pisah, gak percaya makanya kesini dan cek sendiri biar puas, dah dulu ya gue harus segera balik!" ucap Fitri lalu mematikan panggilan.
__ADS_1