RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Semakin Salah Paham


__ADS_3

Setelah semuanya beres, barulah Ryan bermain ponselnya sambil rebahan di tempat tidur. Notifikasi yang muncul paling atas adalah panggilan dari sang istri, Dinda. Merasa jika sudah mengabaikan panggilan sang istri membuat Ryan cemas, bisa saja disana Dinda berpikir yang bukan-bukan tentangnya.


"Ini harus segera dibereskan," gumam Ryan menelpon Dinda hingga 4 kali dan nihil.. Semuanya tak terjawab. Kalau tadi Ryan sedang diluar kamar karena berbincang dengan karyawannya bernama Riki, kali ini Dinda berbeda, Dinda berada dibawah sedang bermain dengan anak-anak nya dan memang sengaja tidak membawa ponsel. Panggilan yang diabaikan oleh Ryan saja sudah membuat mood Dinda buruk, tak mau badmood nya berangsur lama akhirnya Dinda memanggil anak-anak nya dan mengajak bermain. Dia harus terlihat tegar dan seolah tak ada apa-apa ketika didepan anak-anak nya, mereka masih terlalu kecil untuk memahami ini semua. Jangan sampai kenangan ketika mereka kecil melukai perasaan dan pikiran mereka, Dinda hanya mau masa kecil anak-anaknya di penuhi kebahagiaan.


"Dinda sayang.. Maafkan aku yang gak angkat panggilan darimu, aku gak bermaksud mengabaikan mu sayang, baru saja aku pulang dari supermarket untuk membeli perlengkapan mandi, karena sebelum berangkat ke luar kota kan kita sempat berdebat dan pikiranku jadi gak fokus, hilang sudah semua ingatan untuk membawa apa saja ketika luar kota nanti, maafkan suamimu ini ya.. Secepatnya aku akan pulang," isi chat Ryan yang berharap segera centang biru namun sayang sekali hingga sejam kemudian tak kunjung ada balasan.


Tak bosan Ryan menanti jawaban ataupun panggilan dari Dinda, tak habis akal, Ryan menghubungi nomor Vanessa namun sama saja tak juga dijawab, lalu Ryan kembali menghubungi Farel, dalam deringan kedua panggilannya langsung diangkat. Ada sedikit kelegaan di hati Ryan ketika salah satu keluarganya ada yang menjawab panggilan.


"Hai Boy.. Lagi ngapain?" sapa Ryan senang.


"Hai Pah, lagi main nih sama adek dan mamah," jawab Farel melirik ke arah Dinda. Kebetulan yang dilirik juga sedang melihat Farel.


"Siapa?" tanya Dinda penasaran, meskipun ia sudah menduga jika itu adalah suaminya namun tak ada salahnya memastikan.


"Papah.. Mau ngomong sama papah?" tanya Farel.


"Gak usah, tadi mamah udah ngobrol cukup lama kok waktu dikamar, Farel aja sana kalau mau ngobrol sama papah," tolak Dinda, untungnya Farel percaya dengan alibi mamahnya itu.


Didalam hari kecil Dinda tersimpan rasa sedih, mengapa suaminya tak menghubungi dirinya dan malah menghubungi anaknya dulu? Apa tak ada niatan untuk menyelesaikan masalah??

__ADS_1


Merasa suasana tak semeriah tadi, akhirnya Dinda meminta anak-anak kembali ke kamar dan Dinda pun juga akan begitu. Di sana akan ia luapkan semua kesedihan yang ada di hatinya.


***


Setelah memastikan anak-anak sudah berada di kamar, kini saatnya bagi Dinda untuk berkeluh kesah dengan bantal guling empuknya itu. Tiba dikamar pun Dinda sama sekali tak menyentuh ponselnya, ia pikir mana mungkin suaminya akan memberi kabar, jelas-jelas yang lebih dulu dihubungi malah Farel.


"Pernikahan kita semakin lama mas tapi kenapa sifat mu berubah akhir-akhir ini?" gumam Dinda meneteskan air mata. Kesedihan yang semakin larut membuat Dinda akhirnya menyentuh ponselnya, tujuan utamanya untuk mendengarkan musik namun justru perhatiannya teralihkan dengan notifikasi notifikasi suaminya, ada beberapa miss call juga sebuah pesan yang cukup panjang, setelah Dinda membacanya, jujur hati Dinda masih tak percaya begitu saja. Kembali Dinda menghubungi Fitri.


"Hai Fit, sibuk gak nih?" sapa Dinda basa-basi.


"Ya lumayan sih, ada pesanan cukup banyak Din, ada apa?" tanya Fitri yang sebenarnya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan Dinda namun ia tak mau terlebih dulu mendahului.


"Aku ganggu ya? Sory, Fit gue gak tau," ucap Dinda merasa bersalah.


"Iya Fit, boleh minta tolong lagi gak? Kok perasaanku belum tenang ya," pinta Dinda.


"Gimana ya Din.. Bukannya gak mau tapi kan ini masalah rumah tanggamu jadi kalau aku terlalu ikut campur ya kesannya gak etis gitu, yang menjalani rumah tangga kan kalian berdua, lagian di hotel suamimu terbukti bersama temannya saja kan? Apalagi yang harus kamu pusingkan? Jika memang tuduhan mu itu benar, mana mungkin suamimu jujur kemana ia ke luar kota, dari situ kan sudah bisa dilihat Din jika bisa saja tuduhan mu salah," tegur Fitri.


"Ya aku tau Fit tapi tiba-tiba saja hatiku rasanya gak enak, please kali ini aja," pinta Dinda.

__ADS_1


"Baiklah.. Tapi hanya sekali ini saja ya Din, gue kan udah menikah jadi gue harus bagi waktu juga sama keluarga kecil gue," jawab Fitri tak tega untuk menolak, mau bagaimana pun dulu ketika disekolah Dinda sudah banyak membantunya, bahkan ketika Fitri gak bisa bayar SPP, Dinda lah orang pertama yang mengulurkan tangan tanpa pamrih.


"Makasih banyak ya Fit, maaf sudah ngrepotin waktumu, gue janji ini terakhir kalinya, apapun yang kamu infokan nanti akan gue terima," jawab Dinda senang.


"Sama-sama, gue selesaiin pesanan gue dulu ya habis itu nyamperin laki lo," ucap Fitri yang disetujui oleh Dinda. Mau bagaimana pun Dinda gak boleh egois, temannya memang sudah berkeluarga, meluangkan waktu untuk memata-matai mas Ryan bukanlah hal yang mudah, pasti ada hal yang ia tinggalkan.


Ketika Dinda ingin meletakkan ponselnya, ada chat masuk yang belum ia baca, betapa kagetnya Dinda ketika tau siapa yang mengirimnya pesan, dia suaminya. Isinya pun cukup membuat hati Dinda tersentuh namun segera mungkin ditepis oleh Dinda, bisa saja kan itu hanya alibi suaminya, lagian harusnya udah daritadi dong suaminya tiba di hotel dan harusnya sejak tadi pula ia menyadari jika kelupaan bawa perlengkapan mandi. Alasan yang aneh, gumam Dinda tanpa mau membalasnya.


Menunggu adalah hal yang membosankan bagi semua orang, hal yang sia-sia karena tidak melakukan aktivitas apapun demi mendapatkan kabar yang valid. Apalagi Dinda harus menunggu temannya menyelesaikan pesanan yang entah sampai jam berapa. Ketika mata Dinda hampir terpejam, ada notifikasi masuk dari ponselnya yang membuat mata Dinda mau gak mau terbuka untuk membaca.


"Ini laki lo bukan?" tanya Fitri mengirimkan foto.


"Iya.. Masak lo lupa sih Fit," balas Dinda.


"Ya kemarin kan pakai baju bebas sekarang pakai pakaian formal, gue pangling lah," balas Fitri.


"Kok lo bisa tau posisi suami gue ada dimana?" tanya Dinda penasaran.


"Ternyata pesanan yang gue buat itu untuk menyambut kedatangan suami lo dan rekan kerjanya, nih gue lagi dibelakang dia," balas Fitri.

__ADS_1


"Astaga.. Bisa kebetulan begitu ya Fit, bisa tolong videoin gak kegiatan suami gue disana?" pinta Dinda.


Tak berselang lama ada kiriman video dari Fitri mengenai kegiatan Ryan disana, ketika Dinda mengamati dengan detail, ada seorang wanita yang duduk bersebelahan dengan suaminya, dari video terlihat jelas bahwa mereka kenal dekat. Siapa wanita itu? Kenapa senyum mas Ryan begitu merekah ketika didekat wanita itu???


__ADS_2