RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Isi Hati Ryan


__ADS_3

"Pak Ryan terima kasih banyak atas bantuannya, hari ini saya sangat bahagia.." ucap Dinda sangat senang.


"Sama-sama Bu, apapun akan saya lakukan demi kebahagian anda," ucap Ryan menatap Dinda secara intens.


"Apa ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan ku selama ini?" batin Ryan.


****


Flashback on..


Sehari sebelum jadwal persidangan Dinda dan Rio.


"Dinda Safitri.. Wanita kuat, mandiri dan tangguh, ia tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah.. Semua bisa ia atasi dengan sikap tenang dan pikirannya yang matang. Entah kenapa semakin lama mengenal dia perasaan ini semakin klik dengannya. Ah apa iya aku sudah mulai menyukainya?" batin Ryan sambil memandang foto Dinda.


Tok.. Tok.. Tok.. Suara pintu di ketuk.


"Masuk.. " ucap Ryan yang langsung tersadar dari lamunannya.


"Permisi pak, saya mau mengingatkan besok anda ada jadwal bertemu dengan klien yang bernama Santoso di kafe Starbak pukul 10 pagi," ucap sekretaris Ryan.


"Pak Santoso yang kasus apa ya?" tanya Ryan lupa.


"Kasus perceraian dan pengalihan aset pak," jawab Sekretaris heran.


"Astaga.. Saya lupa, hmm tolong di jadwalkan ulang ya, besok saya ada urusan mendadak, saya lupa belum memberitahumu," ucap Ryan menepuk jidat karena ia lalai jika besok ada janji temu dengan kliennya.


"Besok bapak juga sudah ada janji temu dengan klien yang lain pak, bagaimana mengatur waktunya?" tanya sekretaris.


"Iya kah? Aduh maaf-maaf saya lagi kurang fokus, hmm begini saja.. Kabari pak Santoso jika besok janji temunya di undur jam 3 sore dan untuk klien yang lain tetap sesuai jadwal," ucap Ryan kembali fokus.


"Baik pak kalau begitu saya permisi," pamit sekretaris lalu Ryan hanya mengangguk.


"Tumben banget pak Ryan gagal fokus gini, mungkin masalah yang menimpa beliau masalah serius, semoga segera terselesaikan," gumam sekretaris lalu kembali bekerja.

__ADS_1


Malam harinya Ryan merasa cemas dan galau, besok ia ingin menyatakan perasaan pada Dinda namun di satu sisi kliennya itu sedang tertimpa masalah yang cukup serius.


"Apakah pantas jika besok gue menyatakan perasaan ini? Ingin sekali gue melupakan dan menghilangkan masalah ini lalu menganggap kliennya seperti klien yang lainnya, namun tidak bisa... Hati gue udah bertaut padanya, ah pokoknya besok harus menyatakan perasaan ini, masalah dia sudah usai.. Dia sudah bukan suami orang dan sudah melewati masa idah," gumam Ryan.


Lalu tiba-tiba Dinda mengirimkan pesan yang berisi dimana ia sidang beserta jamnya, meskipun hanya pesan seperti itu namun mampu membuat dirinya bahagia.


"Ok sayang.. Eh jangan deh, hapus dulu, oke bu besok saya akan datang," Balas Ryan salah tingkah.


"Dinda... Mengapa kamu mampu mengalihkan duniaku," gumam Ryan lalu tidur.


###Flashback off####


Esok harinya Ryan sudah mempersiapkan diri secara paripurna demi bertemu sang tambatan hati, penampilan yang lain dari biasanya.


"Bagaimana penampilan saya hari ini?" tanya Ryan pada sekretarisnya.


"Bapak tumben sekali berpenampilan seperti itu, bagus sih pak.. Keren kok," ucap sekretaris mengacungkan jempol.


"Thanks.. Kalau begitu saya berangkat dulu," pamit Ryan lalu melajukan mobilnya menuju rumah Dinda.


30 menit kemudian Ryan sudah tiba di kediaman Dinda dan disambut ramah oleh pemilik rumah ya meskipun ada raut keterkejutan dari wajah kliennya.


"Selamat siang ibu Dinda Safitri," sapa Ryan sumringah.


"Selamat siang pak Ryan, kok bapak bisa kesini? Bukannya kita langsung bertemu di pengadilan?" tanya Dinda terkejut.


"Tadi saya selesai janji temu dengan klien di kafe dekat sini jadi saya berfikir untuk mampir dan mengajak anda berangkat bersama, toh kita searah," alibi Ryan mampu meyakinkan Dinda.


"Oh begitu.. Tidak perlu repot seperti ini pak, saya jadi gak enak hati," ucap Dinda sungkan.


"Yasudah yuk bu berangkat sekarang, waktunya sudah mepet," ajak Ryan lalu Dinda menerima.


Setelah melalui persidangan yang cukup menguras pikiran dan emosi kini hasil ketuk palu ketua hakim mampu membuat Dinda puas dan bahagia, akhirnya apa yang ia inginkan dari dulu terwujud juga.. Ryan yang melihat ekspresi kliennya merasa sangat bahagia karena ia bisa menikmati senyum indah alami Dinda.

__ADS_1


"Terima kasih pak Ryan sudah banyak membantu saya, jujur pak saya merasa bahagia sekali," ucap Dinda sumringah.


"Sama-sama Bu, ini sudah menjadi tugas saya untuk membantu klien semaksimal mungkin," ucap Ryan merendah.


"Anda selalu saja begitu, saya jadi bingung membalasnya dengan cara apa," ucap Dinda sungkan.


"Hmm bagaimana kalau kita makan siang? Hitung-hitung pengganti uang lelah saya hehe," usul Ryan lalu tanpa pikir panjang Dinda menyanggupinya.


Di kafe Korean food.


Mereka memesan makanan dan sambil berbincang ringan, lalu tiba saatnya bagi Ryan untuk menyatakan perasaannya.


"Bu Dinda," sapa Ryan menatap Dinda intens.


"Ya pak?" jawab Dinda.


"Ada yang ingin saya sampaikan bu, saya harap setelah ini kalau anda tidak menyukainya jangan ada jarak diantara kita," ucap Ryan serius.


"Memang ada apa pak?" tanya Dinda heran.


"Kalau boleh jujur, sebenarnya selama ini saya sangat mengagumi ibu.. Kepribadian ibu yang sangat luar biasa dalam menghadapi masalah yang ada, saya salut bu.. Anda wanita hebat, kini usaha anda tidak mengkhianati hasil," puji Ryan tulus.


"Pak Ryan ini ngomong apa sih, saya hanya menjalani semuanya sekuat yang saya bisa, jangan memuji terlalu berlebihan pak," jawab Dinda tersipu malu.


"Ini jujur bu, saya kagum dengan anda.. Kalau boleh jujur lagi saya sebenarnya sudah klik dengan anda, setiap di dekat anda seperti ini perasaan saya nyaman dan senang, apakah boleh saya mengisi hari-hari ibu ke depannya dan menjadi pasangan hidup anda? Saya tidak mau mengumbar janji yang manis, tetapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir supaya anda tidak merasa sedih dan terluka, biarkan saya yang menghapus luka dan trauma di hati anda," ucap Ryan serius sambil memegang tangan Dinda.


"Pak.. Jangan bercanda," sanggah Dinda meminimalisir rasa terkejutnya.


"Ini sungguh bu, bagi saya ini waktu yang tepat menyampaikan isi hati saya.. Sekarang anda sudah benar-benar bebas dari mantan suami anda makanya itu izinkan saya mendekati anda," pinta Ryan dengan lembut.


"Ini terlalu cepat pak, saya mau fokus dengan tumbuh kembang kedua anak saya.. Saya masih ingin menikmati momen utuh dengan kedua anak saya, hingga detik ini belum ada terbesit di pikiran saya untuk mencari pendamping hidup, jadi maafkan saya.. " ucap Dinda jujur dan merasa sungkan.


"Saya tau bu tapi setidaknya sekarang saya sudah lega karena sudah menyampaikan isi hati saya.. Saya akan menunggu waktu dimana anda membuka hati untuk saya," ucap Ryan sangat yakin.

__ADS_1


"Jangan seperti itu pak, saya takut nantinya menyakiti hati anda," tolak halus Dinda.


"Tidak akan.. Izinkan saya untuk semakin lebih dekat dengan anda dan juga kedua anak anda, saya serius ingin mempersunting anda," ucap Ryan lalu mencium tangan Dinda lembut dan akhirnya mereka makan bersama dalam diam.


__ADS_2