
"Gue dan lawyer gue ada didepan kamar, segera lakuin!" perintah Frida yang hanya dibaca saja.
Senyum seringai menghiasi wajah pria tampan itu, ia tak menduga jika target kali ini sungguh cantik bahkan bodynya pun menggoda, kebetulan Dinda hanya memakai lingerie saja, sebuah kebetulan yang berakibat fatal.
"Hai baby.. Kenapa kamu menggoda sekali," ucap pria itu dengan wajah siap menerkam.
"Siapa kamu? Pergi dari sini!" pekik Dinda.
"Gue akan pergi jika kita sudah berpesta baby, ayolah jangan jaim gitu, gak ada siapa-siapa disini," goda pria itu.
"Pergi.. Saya gak kenal kamu! Pergi atau saya panggil sekuriti!" ancam Dinda panik.
"Ssstt... Jangan galak gitu malah makin menggemaskan, ayolah sebentar saja," ajak pria itu yang langsung menggendong Dinda dengan paksa, Dinda berteriak meronta-ronta dan memukul bagi pria itu namun sayang sekali pukulan Dinda terlalu lemah bagi pria yang membopongnya.
Ceklek... Suara kamar terbuka dan Ryan disuguhi pemandangan yang sangat luar biasa, ia melihat istrinya berada dalam satu kamar dengan pria lain.
"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN!!!!" bentak Ryan emosi.
"Mas.. Mas Ryan," ucap Dinda kaget, kenapa bisa kebetulan begini.
"Bagus kamu ya! Semalam nuduh aku yang gak-gak eh ternyata kamu sengaja kesini mau bertemu dia!" sindir Ryan tersenyum kecut.
"Ini gak seperti yang kamu pikirkan mas!" pekik Dinda mengiba, tangannya meraih tangan Ryan namun segera ditepis.
"Lalu yang kamu pikirkan apa? Lebih dari ini? Berhubung aku sudah lebih dulu datang jadi semuanya berantakan, gitu?" pekik Ryan.
"Gak mas, aku gak kenal dia siapa, sumpah," ucap Dinda.
"Halah! Mana ada gak kenal mau aja digendong," bantah Ryan.
"Heh kamu! Tolong jelasin ke suami gue kalau kita itu gak saling kenal, lo duluan yang main masuk kesini!! Gue gak mau terjadi salah paham dengan suami gue, cepet jelasin!!!" pekik Dinda murka.
"Jelasin yang bagaimana sih sayang? Tentang hubungan kita yang udah terjalin lama? Kamu sweet sekali sih bela-belain samperin aku kesini segala padahal kan aku udah bilang tunggu awal bulan, gak sabaran deh," ucap pria tampan itu membuat Ryan semakin murka.
"WHAT??? HAHA APA-APAAN INI!!! GILA GILA! GAK NYANGKA TERNYATA ISTRIKU ADA MAIN BELAKANG DENGAN PRIA BA-NG-SAT INI!" pekik Ryan sungguh sakit dihatinya.
"Mas.. Percayalah, aku gak kenal siapa dia, semua yang dikatakan bohong mas!" rengek Dinda.
"Percaya? Harus gimana lagi sikapku agar kamu ini tau kalau kamu salah? Kalian mesra-mesraan loh, mana dikamar lagi, lebih tepatnya kamar yang udah aku sewa untuk bekerja!! Ingat ya aku kerja halal bukan main-main dengan yang gak halal!" sindir Ryan.
__ADS_1
"Tolong percayalah mas.. Aku gak seperti itu," rengek Dinda berlinang air mata.
"Sulit!! Mana pakaianmu menjawab kebenaran semuanya pula! Pas.." ucap Ryan.
"Heh! Jangan diem aja dong!! Sok gak bersalah banget sih jadi cowok!! Tanggung jawab!" bentak Dinda.
"Tanggung jawab? Boleh.. Yuk sekarang kita menikah, lagian sekarang suamimu sudah tau semuanya kan, buat apa disembunyikan lagi," ajak pria itu lalu menggandeng tangan Dinda.
"JANGAN GILA!!! DASAR GAK WARAS!" bentak Dinda menepis tangannya.
"Kalian ada rencana mau menikah?" tanya Ryan kaget.
"Iya.. Semua tertunda karena kamu," jawab pria itu dengan entengnya.
"Cih.. Ternyata kamu gak sebaik yang aku kira, Din," ucap Ryan sangat kecewa.
"Mas.. Aku mohon jangan percaya omongannya, dia bohong mas, tolong mas jangan terhasut dia," rengek Dinda.
"Semua sudah jelas, mana mungkin aku gak percaya," jawab Ryan getir.
"Gak! Semua ini rekaya mas, percayalah," bantah Dinda.
"Darimana kamu bisa mengatakan itu semua? Ada bukti?" tantang Ryan.
"DIAM!!! OMONGAN YANG KELUAR DARI MULUTMU SEMUA BERACUN!" bentak Dinda.
"Beracun tapi membuat nagih," goda pria itu.
"Siapa dia dan sudah berapa lama kalian berhubungan," tanya Ryan serius.
"Aku gak kenal dia siapa mas bahkan ketemu baru kali ini, percayalah," jawab Dinda.
"Kalau mau bicara bohong jangan terlalu kelihatan dong Dinda, masak gak tau namanya dan baru pertama ketemu, eh bener sih baru pertama bertemu di kota ini maksudnya, gitu kan?" sindir Ryan.
"Astaga mas. Sumpah aku gak kenal dia siapa," rengek Dinda mulai hilang harapan, suaminya sudah termakan hasutan pria gak jelas itu.
Diliriknya pria asing yang dengan lancang menggendong Dinda, tanpa rasa bersalah ia malah mengedipkan mata. Perasaan Dinda semakin benci kepada pria itu, memang Dinda tak tahu siapa namanya dan kenapa bisa tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Mas.. Aku rasa dia mabuk," ucap Dinda.
__ADS_1
"Jangan asal tuduh, orang mabok gak akan seperti itu," bantah Ryan.
"Heh! Katakan! Lo mabok kan?" tanya Dinda ketus.
"Iya mabuk, mabuk karena cintamu," jawab pria itu semakin membuat Dinda muak.
"Wah.. Wah.. Seru sekali ya ketika istri sah kepergok dengan selingkuhannya, lain kali modal dikit dong kalau mau ketemu, kenapa harus di kamar ini sih? Jadi cepat ketahuan deh," sindir Frida.
"Diam!! Anda gak berhak ikut campur masalah ini, pergi," usir Dinda.
"Yang harusnya pergi itu kalian berdua! Lanjutkan aksi tertunda kalian dan bersenang-senanglah," ucap Ryan membuat Dinda kaget.
"Mas.. Tega banget ngomong begitu," rengek Dinda.
"Kamu yang lebih tega! Kamu mengkhianati ku secara terang-terangan," jawab Ryan ketus.
"Aku gak pernah selingkuh mas," ucap Dinda.
"Maling mengaku penjara penuh," sindir Ryan.
"Kalian berdua silahkan pergi, saya keberatan jika kamar yang sudah saya sewa digunakan untuk hal tidak terpuji," usir Ryan yang sebenarnya tak tega dengan Dinda namun kelakuan Dinda sulit dimaafkan.
"Aku gak mau pergi! Biarkan dia aja!" tolak Dinda.
"Aku juga gak akan pergi," jawab pria tampan itu.
"Jangan keras kepala! Udah salah tapi gak ngaku salah! Disini aku pemilik kamar ini, aku yang membayar, hak saya mengusir siapapun tamu yang membuatku gak nyaman apa lagi seperti kalian!" ucap Ryan gak mau tahu.
"Heh jangan kurang ajar ya! Pergi gak!!" usir Dinda.
"Bukan hanya dia tapi kamu juga, semuanya pergi dari kamarku!" usir Ryan berusaha meredam amarah.
"Gak mas aku gak mau pergi dari sini, kalau kamu mengusirku lalu aku tinggal dimana dong," rengek Dinda.
"Bukan urusanku!" pekik Ryan.
"Saya hitung sampai tiga, segera tinggalkan tempat ini," pinta Ryan penuh penekanan.
"Dia aja mas! Aku gak mau pergi, lagian kita perlu membahas ini, jangan sampai berlarut-larut mas," bantah Dinda.
__ADS_1
"Gak ada yang perlu dibahas, semua sudah jelas!" tolak Ryan.
Hingga hitungan ketiga, Dinda juga pria tampan itu tak juga meninggalkan kamar, "kalian nekat maka saya akan lebih nekat, saya telponan satpam sekarang juga!"