
Hari ini Dinda merasa sangat penat karena pekerjaan di kantor yang tidak ada hentinya, ingin pulang nanti malah jadinya malas balik lagi ke kantor, akhirnya Dinda memutuskan pergi ke kafe yang letaknya di seberang kantornya itu.
"Fio.." panggil Dinda.
"Iya bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Fio.
"Saya mau ke sebrang sebentar ya, penat kepala saya.. Kamu mau ikut?" ajak Dinda.
"Iya bu.. Maaf saya disini saja bu, pekerjaan saya juga banyak," tolak halus Fio.
"Yasudah saya tinggal sebentar," pamit Dinda.
Di kafe Dinda merasa cukup nyaman dan tenang karena suasana kafe saat ini masih sepi apalagi angin sepoi-sepoi menambah keasrian suasana kafe, hampir saja Dinda terlena hingga ingin terlelap namun seketika disadarkan oleh tepukan bahunya oleh seseorang yang berada di belakangnya.
"Dinda Safitri?" tanya orang itu memastikan.
"Iya.. Maaf siapa?" tanya Dinda kaget.
"Ah masak lupa sama gue sih, ini gue Aldo.. Temen sekolahmu dulu, padahal kita pernah sebangku," ucap Aldo menjelaskan.
"Astaga serius ini lo? Gak mungkin," tanya Dinda kaget sekaligus gak percaya.
"Ya iyalah ini gue, kalau bukan mana mungkin gue samperin lo," protes Aldo kesal.
"Haha iya juga ya, habisnya kamu beda banget sih kan gue sampai gak ingat," ucap Dinda.
"Gak ingat apa memang sudah gak ingat," sindir Aldo.
"Sumpah gue gak ingat kalau ini itu Aldo yang dulunya pakai kacamata, item, kurus, sumpah sekarang lo beda banget makanya gue pangling," ucap Dinda jujur.
"Hehe iya sih banyak yang bilang gitu.. Yang dihafal Aldo yang dulu dekil, item, kacamata bukan Aldo sekarang yang udah ganteng, tinggi, putih," ucapnya penuh percaya diri.
"Idih percaya diri banget, btw ngapain lo kesini?" tanya Dinda.
"Ya kerja lah masak iya gue mungut sampah," ucap Aldo membuat Dinda tertawa.
"Haha bisa saja kan ups.." ejek Dinda menutup mulut lalu tertawa.
"Masih rusuh aja ya lo.. Gue serius kerja disini kok," jawab Aldo.
"Kok seragam lo beda dengan mereka?" tanya Dinda heran.
"Permisi ini makanan anda sudah siap," ucap waiters memecah keseruan mereka.
"Oh ya makasih.." jawab Dinda.
__ADS_1
"Sama-sama kak," jawab waiters dan akan berlalu pergi namun dipanggil oleh Dinda.
"Mas mas sini deh," panggil Dinda.
"Ngapain panggil dia? Ini jam kerja Din," protes Aldo memandang anak buahnya.
"Masnya kenal sama dia?" tanya Dinda memastikan.
"Semua karyawan pasti kenal siapa beliau kak," jawab waiters sembari menunduk.
"Oh begitu.. Memang dia siapa sih mas?" tanya Dinda penasaran.
"Dia pemilik kafe ini kak," jawab waiters membuat Dinda kaget.
"Oalah pantesan seragam Aldo beda sama lainnya, lu pemilik kafe ini toh?" tanya Dinda dan Aldo hanya tersenyum tipis.
"Yasudah mas silahkan pergi, makasih ya," ucap Dinda lalu waiters segera berlalu pergi.
"Kenapa gak bilang kalau lo pemilik kafe ini?" tanya Dinda kesal.
"Ya habisnya lo malah nanya pegawai gue, yang salah siapa?" tanya balik Aldo.
"Iya juga sih, ah tapi sama aja lo resek," protes Dinda.
"Kenapa jadi gue yang kena sih, btw lo baru kesini sekali ini ya?" tanya Aldo.
"Padahal gue hampir tiap hari kesini loh kadang juga bantuin karyawan melayani pelanggan," ucap Aldo heran.
"Ya mungkin waktunya bertemu hari ini, maybe," jawab Dinda logis dan Aldo mengangguk setuju.
"Maybe yes.. Oh iya lo kerja dimana Din? Tadi gue lihat dari dalam kayaknya lo dari seberang sana," tanya Aldo.
"Ya memang gue kerja di seberang kantormu, tuh di ABC Skincare.. Gue yang punya," jawab Dinda sembari tersenyum.
"Ha? Serius.. Kok gue baru tau sih," tanya Aldo kaget.
"Gak cuma lo aja.. Gue pun juga kaget pas tau ini kafe lo yang punya, padahal kita saling bersebrangan," ucap Dinda yang langsung dijawab ketawa keduanya.
"Iya ya.. Rasanya aneh banget, saling dekat tapi tak saling tahu," jawab Aldo membenarkan.
"Makanya jangan sok kaget," ucap Dinda.
"Yasudah makan dulu gih nanti keburu dingin, khusus hari ini gak usah bayar.. Sebagai bentuk pertemuan kita yang tak sengaja ini," ucap Aldo membuat Dinda bahagia.
"Ah serius nih.. Jangan bercanda," sanggah Dinda.
__ADS_1
"Serius Dinda.." ucap Aldo penuh penekanan.
"Wah kalau gini kan gue bisa makan disini tiap hari, lumayan kan gratis," goda Dinda.
"Ya gak gitu juga kalik Din.. Semua orang kayak lo suka gratisan bisa bangkrut nih kafe gue," ucap Aldo kemudian Dinda hanya tertawa saja.
"Bercanda Aldo.. But thanks ya atas gratisannya, gue suka loh yang berbau gratisan haha," jawab Dinda sembari tertawa lalu Aldo hanya mengangguk saja.
Setiap Dinda tertawa rasanya Aldo seperti tersihir oleh tawanya Dinda.. Entah kenapa tawanya masih sama seperti dulu ketika mereka satu bangku. Rasa rindu dimasa sekolah kembali terngiang dalam ingatan Aldo.
"Din gue jadi kangen sekolah," celetuk Aldo.
"Terkadang gue juga punya pemikiran seperti itu," jawab Dinda setuju.
"Enak ya jadi anak sekolah yang belum memikirkan banyak hal, hanya perlu belajar yang rajin saja," ucap Aldo berkhayal.
"Iya.. Gak perlu mikir cicilan dan biaya lainnya," jawab Dinda menimpali.
"Adain reuni yuk Din, lo ada kontak teman sekolah kita dulu gak?" ajak Aldo.
"Ada sih malahan ada grupnya dan pernah sekali adain reuni," ucap Dinda membuat Aldo iri.
"Ih gak ajak-ajak.. Boleh dong gue ikut gabung ke grup," pinta Aldo.
"Boleh saja.." jawab Dinda.
"Mana nomormu? Sini aku save setelah itu masukkan gue ke grup," tanya Aldo lalu tanpa banyak pikir Dinda memberikan nomer ponselnya pada Aldo dan seketika itu juga Aldo sudah masuk grup setelah Dinda memberitahu adminnya.
"Dah masuk kan," tanya Dinda memastikan.
"Udah.. Thanks Din," jawab Aldo senang.
"Sama-sama.. Oh ya kebetulan gue mau balik kerja lagi nih, lagi numpuk kerjaannya," pamit Dinda.
"Yahh cepat banget sih," ucap Aldo kecewa.
"Mau gimana lagi gue juga harus kerja Aldo," jawab Dinda sungkan.
"Yasudah.. Next time kalau mau kesini hubungi gue ya ntar gue siapin tempat khusus," ucap Aldo yang di jawab anggukan oleh Dinda.
"Oke deh siap.. Ntar gue ajak seluruh karyawan gue juga ah," goda Dinda.
"Bangkrut dong Din," rengek Aldo.
"Just kidding, yasudah gue pergi dulu ya thanks loh gratisannya," pamit Dinda lalu bergegas kembali ke kantor.
__ADS_1
"Ya meskipun pertemuan ini singkat tapi setidaknya gue tau nomor hpnya jadi kapanpun gue bisa hubungi dia.. Senyummu kenapa masih sama saja seperti dulu, gini kan jadi rindu.." batin Aldo memandang foto profil Dinda.