
"Lalu apa motif mu membuat editan foto murahan seperti kemarin?" tanya Dinda.
"sudah gue katakan kalau gue ini bukan pelakunya, kalian lah yang terus menerus menyuruhku untuk mengakui sesuatu yang tidak gue lakuin," sanggah Vika lalu tiba-tiba polisi datang dan langsung membawa Vika.
"Semoga di sana kamu akan berbicara dengan jujur, ingat Vika jika kamu terus mengelak makan hukuman mu semakin berat," gertak Dinda lalu Vika terus meronta.
"LEPAS.. LEPASIN GAK.. GUE INI GAK BERSALAH.. RYAN.. AWAS LO, TUNGGU PEMBALASAN GUE," pekik Vika sambil terus berusaha melepaskan tangannya yang sudah terborgol.
Ryan juga Dinda hanya bisa melihat kepergian Vika dengan tangan diborgol, setidaknya kini Dinda merasa lega karena perusuh rumah tangganya satu persatu sudah menuai balasan yang setimpal. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu,
"Lapar gak? Makan dulu yuk," ajak Ryan.
"Boleh mas.." jawab Dinda setuju lalu mereka melajukan mobilnya ke sebuah restoran favorit.
"Sudah lama ya kita gak kesini," ucap Ryan sembari mempersilahkan Dinda duduk.
"Iya mas, suasana masih sama," ucap Dinda melihat sekeliling restoran.
"Ini yang membuatku suka karena mereka mempertahankan suasana, cita rasa makanan dan spot-spot resto yang instagramable," ucap Ryan lalu mereka memesan beberapa makanan.
"Aku selalu betah kalau disini mas," jawab Dinda.
"Sama dong.." jawab Ryan.
"Kamu sukanya ikut-ikut," sindir Dinda.
"Gak dong.. Dimana pun ada kamu pastinya aku akan suka," rayu Ryan.
"Mulai kan.." cibir Dinda.
"Mulai apanya?" tanya Ryan pura-pura tak paham.
"Mulai menggoda," ucap Dinda.
"Kamu merasa tergoda?" goda Ryan.
"Ish kamu nih," jawab Dinda salah tingkah.
"Kasihan ya Vika.. Pengen sesuatu sampai menghalalkan segala cara," ucap Ryan.
"Kamu kasihan padanya?" tanya Dinda cemburu.
"Ya kasihan, dia seperti orang kesepian," ucap Ryan.
"Yasudah temani sana di penjara," ucap Dinda cemburu.
"Kok malah nyuruh suamimu masuk penjara sih?" tanya Ryan kaget.
"Salahnya kasihan sama Vika," jawab Dinda.
"Ya kasihan karena aku kaget aja lihat dia sekarang yang hidupnya penuh drama, dulu gak gitu.." ucap Ryan.
__ADS_1
"Dulu sama kamu sekarang kan sudah gak jadi ya jelas penuh drama," sindir Dinda.
"Kamu cemburu ya?" tanya Ryan menggoda.
"Apaan sih ya gak lah," bantah Dinda.
"Cemburu bilang saja berarti tandanya sayang," goda Ryan.
"Mas.. Gak," bantah Dinda menatap tajam.
"Mulut bilang enggak tapi hati berkata iya," jawab Ryan menggoda.
"Mas.. Gak usah bikin kesel deh," cibir Dinda.
"Enggak loh, kamu aja yang perasa," goda Ryan.
"Idih.. Buat apa memiliki perasaan sama Vika, gak ada untungnya di hidupku," bantah Dinda.
"Kalau memiliki perasaan sama suamimu yang tampan rupawan ini? Banyak untungnya dong," ucap Ryan penuh percaya diri.
"Idih.. Sok tau," cibir Dinda.
"Jelas tau dong, kamu sekarang terbucin-bucin olehku," ucap Ryan membuat Dinda kesal.
"Mas.. Jangan terlalu percaya diri deh," sanggah Dinda.
"Seseorang yang memiliki kepercayaan diri itu bagus," ucap Ryan.
"Gak juga.. Masih standar kok, bener kan kamu bucin denganku," goda Ryan.
"Mas jangan halu deh, tuh makanannya udah datang," ucap Dinda lalu mereka makan dengan tenang.
Selesai makan kini Dinda dan juga Ryan pulang ke rumah, keduanya bergegas membersihkan diri lalu berbaring di kasur nan empuk.
"Akhirnya ya mas.." ucap Dinda sambil rebahan.
"Akhirnya kenapa?" tanya Ryan kebingungan.
"Akhirnya masalah yang menimpa rumah tangga kita satu persatu terselesaikan," jawab Dinda.
"Iya sayang kalau gini kan kita bisa beraktivitas dengan tenang," ucap Ryan setuju.
"Iya mas rasanya udah kangen sama masa yang lalu, dimana kita kemana-mana gak pernah khawatir apalagi gak nyaman," ucap Dinda.
"Iya sayang sampai kita pindah rumah dan anak-anak sekolahnya ikut pindah, sebenarnya aku kasihan tapi mau gimana lagi? Ini demi kebaikan dan ketenangan bersama bukan?" tanya Ryan.
"Iya mas.. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar dan tepat, gak papa mas kan anak-anak masih bisa beradaptasi di lingkungan yang baru, aku yakin mereka cepat menyesuaikan," jawab Dinda.
"Semoga ya sayang.. Yasudah tidur yuk," ajak Ryan lalu Dinda hanya mengangguk setuju, keduanya lantas tidur bersama saling berpelukan satu sama lain.. Tanpa membutuhkan waktu lama kini mereka sudah terpejam.
Di tengah tidurnya Dinda bermimpi tentang mantan suaminya yang sedang menangis sambil memeluk kedua foto anaknya setelah itu Rio ada pertengkaran dengan Sisil.
__ADS_1
"Aku dimana?" Gumam Dinda sembari melihat sekeliling di sebuah ruangan luas, di sana ia melihat mantan suaminya sedang menangis.
"Mas Rio? Kenapa dia juga ada di sini?" tanya Dinda heran lalu menghampiri Rio.
"Mas..." panggil Dinda pelan lalu Rio menoleh ke arah Dinda.
"Din..Dinda? Kok kamu di sini?" tanya Rio kaget lalu menyeka air matanya.
"Aku juga bingung mas kenapa ada di sini, mas Rio ngapain di sini?" tanya balik Dinda.
"A..aku? Ini kan ruangan ku, tempatku makanya aku tanya kenapa kamu bisa disini?" jawab Rio membuat Dinda terkejut.
"Ha? Tempatmu? Aku kok gak pernah tau ada ruangan ini mas?" tanya Dinda kaget.
"Ini ruangan pribadiku," jawab Rio lirih.
"Lalu kenapa kamu memeluk foto Farel dan Vanessa segitunya mas?" tanya Dinda heran.
"Karena aku kangen mereka, aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka.. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang papah, dari mereka lahir hingga sekarang, aku hanya diberikan sedikit waktu bersama mereka sedangkan suamimu yang notabene ayah sambung bisa leluasa bersama mereka, aku iri Din.. Aku juga ingin seperti suamimu yang bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak-anak," keluh Rio berlinang air mata.
"Tapi aku udah membebaskan kamu bertemu mereka mas ya meskipun gak boleh menginap," ucap Dinda.
"Tapi rasanya gak cukup bagiku Din apalagi bagi mamah dan papah, mereka sangat mendambakan kehadiran Farel dan juga Vanessa," ucap Rio sendu. Lalu Sisil datang dengan wajah penuh amarah.
"Mas.. Kenapa kamu bisa berduaan sama dia, apa yang sudah kalian lakukan?" cecar Sisil.
"Kamu kenapa sih datang-datang langsung emosi," ucap Rio kesal.
"Gimana gak emosi, ketika aku masuk ada wanita lain disini, darimana dia tau ruangan ini mas?" tanya Sisil emosi.
"Dia datang dengan sendirinya," jawab Rio jujur.
"Haha mana ada mas memangnya ini kartun anak-anak yang bisa kemana saja dengan pintu rahasia," ejek Sisil.
"Terserah kamu mau berkata apa yang dikatakan mas Rio itu benar, aku juga tidak tau kenapa bisa ada disini dan melihat mas Rio menangis.. Makanya aku dekati dan bertanya," jawab Dinda menahan emosi.
"Ah omong kosong apa itu emang gue ini anak kecil yang mudah dibohongi," ejek Sisil.
"Terserah Sil percuma juga ngomong sama kamu," jawab Dinda mengalah.
"Pergi sana.. Kehadiranmu merusak kebahagiaan kami," usir Sisil.
"Justru kamu yang merusak kebahagiaanku Sil.. Kamu.. Karena kamu aku gak bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang papah, kamu penyebab semua ini Sil," pekik Rio murka.
"Kenapa jadi salahin aku sih mas?" tanya Sisil.
"Jelas.. Biang kerok dan otak dari semua masalah yang menimpaku itu KAMU!!! ANDAI KAMU GAK MENYURUHKU MENIKAH LAGI MUNGKIN AKU GAK AKAN MENDERITA SEPERTI INI.. KAMU YANG PUNYA RENCANA DAN KAMU YANG MEMBUAT HANCUR!!! PANTAS SAJA TUHAN MENGHUKUM MU DENGAN MENGAMBIL RAHIMMU, KARENA KAMU MEMANG TIDAK PANTAS MENJADI SOSOK IBU!!!!" pekik Rio yang membuat Sisil sakit hati dan Dinda iba melihatnya.
"Kamu tega mas ngomong seperti itu, aku melakukan ini ya karena sayang sama kamu dan keluargamu, aku ingin keluargamu memiliki penerus dari darah daging mu sendiri, apa aku salah? Harusnya kamu berterima kasih dong mas karena aku sudah merelakan kamu menikahi wanita lain sebelum akhirnya kamu menikah denganku, bukannya malah memojokkan aku seperti ini, memangnya kamu mau gak bisa memiliki penerus? Mamah kamu aja hanya punya kamu mas.. Mikir sampai sana dong, jangan bisanya salahin aku terus," bantah Sisil geram lalu Dinda tersadar dari mimpinya dengan perasaan cemas.
Ia lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih agar dirinya bisa kembali tenang.
__ADS_1
"Gue ini mimpi apa sih kenapa bisa mimpiin mereka? Aneh banget.." gerutu Dinda.