RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Keadilan Untuk Kembar (3)


__ADS_3

Keesokan harinya baik Dinda maupun Ryan sudah bergegas siap-siap untuk ke sekolah kedua anaknya.


"Kamu yakin mau ikut mas?" tanya Dinda sambil mengoleskan selai di roti.


"Yakinlah nanti aku bilang sama sekretaris untuk menunda semua jadwal sampai aku kembali ke kantor," ucap Ryan.


"Nanti kerajaanmu terbengkalai loh mas," ucap Dinda tak enak hati.


"No.. Untuk anak dan istri itu prioritas untukku sayang jadi apapun yang terjadi harus segera di selesaikan dan urusan pekerjaan kan ada staf-staf," ucap Ryan dengan entengnya.


"Makasih mas kamu selalu memberikan yang terbaik untuk kami," ucap Dinda bahagia.


"Itu sudah kewajiban ku," jawab Ryan lalu mereka memilih melanjutkan makan agar cepat sampai di sekolah.


Setibanya di sekolah, Dinda langsung turun untuk mengantarkan anaknya dan melarang suaminya ikut.. Dia ingin membuat kejutan untuk mamahnya Fera.


"Selamat pagi mommy nya kembar," sapa salah satu orang tua murid.


"Pagi juga mom," sapa Dinda ramah.


"Denger-denger anda ada sedikit masalah dengan mamahnya Fera ya mom? Hati-hati loh berurusan sama dia," tanya salah satu orang tua murid memperingati.


"Iya mom hmm kenapa ya harus hati-hati?" tanya Dinda penasaran.


"Sayang kalian masuk dulu ya nanti telat loh," ucap Dinda agar kedua anaknya tidak mendengar percakapan yang membuat mereka sedih.


"Iya mom.." jawab keduanya lalu masuk ke kelas.


"Jadi gini mom, mamahnya Fera itu terkenal licik dan juga jahat, dia selalu melakukan segala cara agar tujuannya tercapai, makanya itu guru dan orang tua murid disini menjaga jarak dengan dia," ucap orang tua murid hati-hati.


"Kok bisa gitu mom memangnya mamahnya Fera bahaya sekali ya?" tanya Dinda penasaran.


"Ya bahaya mom.. Nah itu mommy nya Sita pernah jadi korban kekejaman mamahnya Fera, sini mom.. Bener gak?" ucap orang tua murid seraya memanggil mamahnya Sita.

__ADS_1


"Iya mom lebih baik jangan urusan deh sama dia.. Salah ucap saja besoknya banyak preman yang datang kesini," ucap mamah Sita membenarkan.


"Hubungannya apa sama banyak preman? Kan yang lagi ada masalah pihak perempuan," tanya Dinda heran.


"Asal mommy tau ya.. Ayahnya Fera itu preman pasar yang terkenal kejam sedangkan mamahnya itu dulunya mantan PSK, jadi kalau ada yang menyenggol mereka ya ayahnya mengajukan anak buahnya untuk membuat pelajaran, saya dulu kena tonjok di pipi sama perut bun sampai saya masuk rumah sakit," ucap mamah Sita serius.


"Ha? Mereka main tangan? Terus pihak sekolahan gak melakukan tindakan apapun gitu?" tanya Dinda kaget.


"Mereka hanya memanggil satpam setelah itu diusir, dah hanya itu saja mom makanya aku mau memperingatkan sama mommy lebih baik jangan urusan sama dia deh," tegur mamah Sita.


"Saya akan tetap meneruskan masalah ini mom saya sebagai orang tua gak terima kalau anak saya hampir terkena kekerasan, saya saja tidak pernah memukul bahkan mencubit mereka lah ini orang lain kok seenaknya sama anak saya, lagian saya penasaran mom apa benar dia bakal memakai pengacara andalannya yang bernama Ryan Hadiningrat itu," tantang Dinda.


"Dia selalu bilang seperti itu kok mom setiap ada yang menyenggol nya makanya rata-rata pada mundur karena malas berurusan sama hukum.. Mereka tidak bersalah tapi harus meminta maaf," jawab mamah Sita sedih.


"Kemarin saya di telpon juga di omongin begitu kok mom namun saya tetap sama pendirian saya untuk menegakkan keadilan untuk kedua anak saya," jawab Dinda yakin.


"Yasudah mom kami hanya bisa memberi masukan itu saja selebihnya terserah mommy.. Semoga berhasil ya mom," ucap mamah Sita tak mau ikut campur terlalu jauh.


"Baik mom makasih atas kepeduliannya, tapi ngomong-ngomong mana nih mamahnya Fera? Kok udah jam segini gak nongol," tanya Dinda celingukan.


Sudah satu jam Dinda menunggu namun keberadaan Fera beserta mamahnya tak kunjung datang. Merasa capek menunggu hal yang sia-sia kini Dinda kembali ke mobil.


Tepat setelah dia berbalik arah ternyata mamahnya Fera sudah ada di seberang jalan memantau Dinda.. Ketika kepergok dia malah salah tingkah.


"Astaga ditungguin lama-lama malah ada di sana, ngapain coba," gumam Dinda geram dan hanya mengamati mamahnya Fera dari jauh dengan sorot mata tajam.


"Beraninya dia melotot ke gue seperti itu, awas saja ya.. Kalau bukan ada suaminya di mobil, sudah habis dia," gumam mamah Fera emosi.


Merasa sia-sia akhirnya Dinda menunggu di mobil sambil terus memantau rivalnya.. Sepertinya dia sedang menelpon seseorang dan beberapa menit kemudian banyak preman yang mengepung mobilnya baru deh mamah Fera mendekat dengan wajah sangarnya.


"Turun lo kalau berani.. Jangan cuma di mobil aja haha," tantang mamah Fera menggebrak kaca mobil.


"Mas aku mau turun," ucap Dinda emosi.

__ADS_1


"Gak.. Aku gak mengizinkan, ini bahaya sayang," cegah Ryan.


"Ini masih di lingkup sekolah mas dan aku yakin mereka tidak akan berani berbuat lebih, apalagi banyak CCTV kan?" ucap Dinda meyakinkan.


"Baiklah kita turun sama-sama tapi sebelum itu aku mau menelpon bodyguard, biar kita impas sayang," ucap Ryan lalu menelpon bodyguard langganan nya dan selang beberapa menit mereka sudah datang.


Dinda dan Ryan turun dari mobil dengan posisi di kepung bodyguard bertubuh tinggi tegap dan berbadan besar.. Mukanya pun tak kalah menyeramkan dari preman.


"Sialan ternyata bukan orang sembarangan," batin mamah Fera geram dan maju mendekati Dinda namun sayang terhalang oleh bodyguard.


"Berani maju selangkah lagi maka aku congkel mata anda," ancam bodyguard membuat Fera ciut.


"Jangan beraninya sama cewek.. Mari satu lawan satu," tantang salah satu preman.


"Bagaimana pak?" tanya bodyguard memastikan.


"Jangan gegabah yang ada kalian nanti, membuat kegaduhan di sekolah anakku, diam saja dan terus lindungi kami terutama istriku," perintah Ryan dan bodyguard menurut.


"Cih.. Percuma bayar mahal kalau gak digunain untuk saling adu kekuatan," ejek mamah Fera dan Ryan sudah mulai emosi lalu menemui mamahnya Fera.


"Pak.. Pak Ryan Hadiningrat? Anda kah itu?" tanya mamah Fera tak percaya.


"Ya ini saya apa perlu memperkenalkan diri lagi? Jadi ini toh yang sudah mengusik ketenangan istri dan anak saya," ucap Ryan dengan tenang.


"Istri? Anak? Jadi..." tanya mamah Fera kaget.


"Ya.. Ryan Hadiningrat yang anda bilang adalah pengacara andalan anda itu adalah suami dan ayah dari anak-anak saya," ucap Dinda penuh penekanan.


"Gak.. Kalian jangan berbohong, setau saya pak Ryan belum menikah," ucap mamah Fera tak percaya.


"Ya itu dulu ketika terkahir bertemu dengan anda tapi sekarang saya sudah menikah dan memiliki dua anak kembar, jadi apa anda masih akan memperpanjang masalah receh ini?" sindir Ryan.


"Pak.. Awalnya saya sudah mengajak damai namun istri anda menolaknya dengan mentah-mentah jadi ya saya hadapi dong pak," sanggah mamah Fera.

__ADS_1


"Jelas saya menolak karena anda begitu meremehkan saya dan menganggap masalah ini receh apalagi anda selalu mengagungkan Ryan Hadiningrat yang jelas-jelas istrinya di depan mata anda.. Siapa disini yang kalah? Anda atau saya? Katanya mau membuat saya menangis-nangis? Mana??" tanya Dinda menantang.


"Saya belum kalah ya dan tidak akan kalah, camkan itu.. Untuk pak Ryan.. Anda jahat," teriak mamah Fera sambil berlalu pergi di ikuti beberapa preman yang kebingungan.


__ADS_2