
"Jelas lah.. Pengacara tuh berapa gajinya dan spp di sana perbulan berapa, mikir sampai sana dong," sindir Rio tersenyum smirk.
"Oh tentu sudah dong mas malah sudah sangat di pikirkan dengan matang-matang, sudahlah jangan terlalu ikut campur masalah rumah tangga ku... Kenapa kamu gak fokus dengan istrimu itu, istri yang dulu sangat kamu bela mati-matian, ingat mas kita bukan lagi suami istri jadi mau kamu setuju atau tidak ya keputusanku tetap sama, menyekolahkan anak-anak di IIS tanpa atau pun dengan uang bulanan darimu," sindir Dinda mulai emosi.
"Aku tetap memberikan uang setiap bulannya dan rencana akan aku tambahkan sebagai pembayaran uang spp," ucap Rio angkuh.
"Silahkan mas dengan senang hati akan aku terima asalkan jangan sekali dua kali ya tapi rutin," tantang Dinda membuat Rio kaget.
"Ba...Baik," jawab Rio gugup.
"Yasudah mas sana nikmati momen bersama anak-anak, aku izinkan asal jangan menginap dan pukul 6 sore sudah ada di sini, sebelum jam segitu juga lebih bagus.. Oh iya kalau nanti aku tidak ada di rumah langsung saja bawa anak-anak ke rumah ibu ya," usir Dinda dan Rio hanya mengangguk saja.. Niat hati meragukan Dinda dan suaminya karena menyekolahkan di IIS eh malah dia yang malu sendiri.
"Din.. Mamah izin membawa anak-anak keluar sebentar" ucap Mayang meminta izin.
"Iya mah tapi tolong sebelum jam 6 sore sudah ada di rumah ya mah dan ya sama seperti sebelumnya, Dinda tidak izinkan anak-anak menginap," ucap Dinda memberitahu.
"Baiklah.." jawab Mayang kecewa lalu menutup, kaca mobil dan berlalu pergi bersama cucunya.
"Maafkan Dinda ya mah bukannya Dinda jahat, namun Dinda hanya membentengi diri Dinda juga anak-anak untuk tidak selalu tergantung pada mas Rio dan keluarga, kalau anak-anak di izinkan menginap Dinda juga takut trauma Farel waktu itu masih ada apalagi beberapa waktu yang lalu anak-anak habis di culik," gumam Dinda sambil terus menatap kepergian mobil mantan suaminya.
"Kamu gak papa Din?" tanya Sri mengagetkan Dinda.
"Eh ibu ngagetin Dinda aja," jawab Dinda kikuk.
"Ibu tadi tanya loh," sindir Sri.
"Eh yang mana ya bu? Oh itu.. Dinda gak papa kok bu, memangnya ada apa?" tanya Dinda salah tingkah.
"Ibu lihat kamu menyimpan kesedihan yang sangat dalam," ucap Sri menebak.
"Gak juga bu.. Dinda sedih ya waktu anak-anak di culik tempo hari itu, sampai sekarang masih terngiang bu," alibi Dinda.
"Mantan suami kamu tau hal ini?" tanya Sri.
"Enggak bu dan lebih baik tidak usah tau, Dinda takut nantinya mas Rio mengambil alih hak asuh anak-anak," harap Dinda sedih.
"Baiklah terserah kamu saja bagaimana baiknya, ibu masuk dulu ya mau menyelesaikan beberapa pekerjaan, kamu kalau lapar ada makanan di meja tapi ya itu makanannya udah dingin, kalau mau biar ibu panaskan dulu," ucap Sri perhatian.
"Gak usah bu.. Dinda belum lapar, nanti biar Dinda panaskan sendiri kalau mau makan," tolak Dinda dan ibunya hanya mengangguk saja.
Dinda berencana ingin kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan namun suaminya menghubungi.
"Hai sayang lagi apa?" tanya Ryan lembut.
__ADS_1
"Hai mas.. Lagi di rumah ibu nih," jawab Dinda membuat Ryan kaget.
"Ngapain? Kamu mau kabur lagi? Kita lagi gak ada masalah apa-apa loh," tanya Ryan kaget.
"Bukan mas.. Tadi mas Rio telepon katanya mau ajak anak-anak main sekalian ada mamahnya juga, mereka kangen si kembar," ucap Dinda membuat Ryan cemburu.
"Kamu menemui mantan suamimu tanpa sepengetahuan dari suamimu?" sindir Ryan.
"Maaf mas habisnya buru-buru lagian disini ada ibu juga kok, mana mungkin aku bertemu hanya berduaan saja," jawab Dinda mengerti bahwa suaminya cemburu.
"Sama saja kamu gak izin," sindir Ryan.
"Maaf ya mas maaf.. Sebagai permintaan maafnya, mas Ryan mau apa?" bujuk Dinda.
"Ah hanya omongan manis saja," sindir Ryan padahal ia senyum-senyum sendiri.
"Ya enggak dong suamiku," rayu Dinda.
"Ok kalau kamu memaksa, jemput suamimu sekarang juga dan kita makan siang bersama," ucap Ryan antusias.
"Kayaknya istrimu ini gak memaksa deh, dimana ya letak kata-kataku yang bermakna memaksa?" tanya Dinda heran.
"Sudah jangan alasan.. Jemput sekarang," pinta Ryan dan Dinda mematuhinya.
Sesampainya di kantor sang suami banyak orang yang memandang Dinda dengan penuh kekaguman dan tak sedikit yang memuji kecantikan Dinda bahkan banyak karyawan yang menyapanya.
"Selamat siang.. Iya benar sekali, bapak ada kan di dalam?" tanya Dinda memastikan.
"Sudah pasti ada dong sayang, pakai acara nanya lagi.." jawab Ryan langsung menemui istri tercintanya.
"Mas Ryan ih, kalau gini kan aku tunggu di bawah aja," cibir Dinda kesal.
"Sekali-kali jemput suami apa salahnya, ya kan?" tanya Ryan tersenyum bahagia.
"Yasudah yuk mas nanti keburu habis jam makan siang mu," ajak Dinda.
"Tuh kan sukanya buru-buru padahal yang perlahan-lahan itu lebih enak loh," goda Ryan.
"Mas.. Apa-apaan sih.. Malu dilihatin sekretaris mu," bisik Dinda kesal.
"Anggap aja dia gak ada," jawab Ryan dengan entengnya sambil melihat sekretarisnya.
"Mas.. Udah ah ayok," ajak Dinda malu.
__ADS_1
"Ingat ya hari ini jam makan siang saya sangat spesial jadi saya tidak mau ada gangguan apapun, mengerti sekretaris?" perintah Ryan yang terdengar menyebalkan.
"Mengerti pak," jawab sekretarisnya dongkol.
"Good.. Saya pergi dulu," pamit Ryan lalu merangkul pinggang istrinya dan tak henti menatap sang istri.
"Pak Ryan kenapa jadi anak kecil di hadapan istrinya? Memang ya pria kalau sudah ketemu pawangnya bakal jinak," gumam sekretaris.
Tiba di restoran, baik Dinda maupun Ryan sudah memesan makanan dan minuman masing-masing.. Ryan merasa sangat bahagia karena bisa menikmati makan siang hanya berduaan dengan istrinya.
"Sayang.. Kamu tau gak ini makan siang paling spesial," ucap Ryan sangat bahagia.
"Kok bisa?" tanya Dinda penasaran.
"Karena makan siang ini hanya ada kita berdua saja, anak-anak lagi bersama papahnya," ucap Ryan dengan senyum menawan namun Dinda tidak merasa bersalah atau pun tersinggung, karena mau bagaimanapun setelah menikah dengan Ryan, tidak pernah sekalipun mereka menikmati momen berdua.. Jadi inilah momen mereka untuk pertama kalinya, Dinda merasa sangat bersyukur karena suaminya tidak pernah mengeluh selalu direcoki anak kembarnya.
"Iya mas.. Makan siang pertama hanya berduaan pasca menikah," jawab Dinda.
"Benar sekali makanya itu aku memerintahkan sekretaris ku untuk tidak menganggu waktu yang berharga ini, biarkan pekerjaan di handel staf dan sekretaris," ucap Ryan dengan enteng.
"Jangan gitu dong mas nanti mereka kewalahan," tegur Dinda.
"Mana mungkin? Staf di kantor banyak.. Yang capek ya aku dong sayang, selama ini aku banyak menghandle kasus seorang diri," ucap Ryan.
"Aku juga handle urusan pekerjaan sendirian, mana karyawan ku baru beberapa.. Berbanding terbalik denganmu yang udah puluhan mas," ucap Dinda insecure.
"Tapi kamu termasuk wanita hebat sayang.. Bisa handle kerjaan dan juga keluarga seorang diri," puji Ryan.
"Ah kamu berlebihan mas," ucap Dinda malu.
"Berlebihan apanya? Ya gak lah.. Memang kamu sempurna sayang," puji Ryan dan lagi-lagi suaminya mampu membuat Dinda salah tingkah.
"Kenapa kita saling merayu begini? Malah seperti abg saja," ucap Dinda malu.
"Tidak apa dong namanya aja suami istri, sah-sah saja mau bermesraan dimana," ucap Ryan penuh percaya diri. Lalu pesanan mereka datang dan akhirnya makan dalam diam.
Setelah selesai makan rencananya Dinda ingin mengantarkan Ryan pulang namun sayang.. Ryan membelokkan arah ke rumah dan sontak membuat Dinda kaget bukan main.
"Mas kamu harus kerja kenapa malah belok ke arah rumah?" tanya Dinda kaget.
"Kan sudah aku bilang.. Ini hari spesial jadinya aku gak mau melewatkan momen ini meskipun hanya 5 menit," ucap Ryan sambil mengedipkan mata.
"Mas.. Tapi pekerjaanmu masih menunggu begitu denganku," tolak Dinda.
__ADS_1
"Turuti kemauan suami dan senang kan," sindir Ryan yang langsung membuat Dinda bungkam.
Setibanya di rumah, Ryan langsung membopong Dinda layaknya pengantin baru dan meletakkannya di kamar utama. Di sana mereka menikmati momen berdua dengan sangat bergairah bahkan saling memuaskan satu sama lain, memang benar hari ini suaminya tidak mau melewatkan momen ini meskipun hanya 5 menit, nyatanya Dinda berulang kali dibuat lemas oleh ajakan suaminya yang terus menerus meminta hingga di ronde ke empat mereka berdua benar-benar terkulai lemas. Ryan berharap hasil hari ini berbuah manis, jujur saja meskipun Ryan bisa menerima anak-anak Dinda namun dia tidak munafik untuk menginginkan anak dari darah dagingnya sendiri.