RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Memulai Hidup Baru


__ADS_3

Setelah seminggu liburan kini mereka memutuskan pulang dan akan menjalani aktivitas masing-masing.. Baik Ryan maupun Dinda, keduanya sudah di kejar pekerjaan yang menggunung.


Pagi hari biasanya Dinda hanya menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga kedua anaknya namun sekarang ada Ryan di antara mereka, jadi setiap hari Dinda akan menambah satu porsi lagi untuk suaminya.


"Ah bahagianya pagi ini bisa merasakan sarapan bersama secara lengkap, ada aku sebagai ibu, ada mas Ryan sebagai ayah dan ada Farel juga Vanessa sebagai anak-anak.. Keluarga yang lengkap, ya meskipun mas Ryan bukan ayah kandung mereka tapi di antara mereka tidak ada jarak satu sama lain dan malah seperti orang tua kandung.." batin Dinda sambil menyiapkan sandwich untuk sarapan mereka.


"Morning sayang..." sapa Ryan memeluk Dinda dari belakang.


"Morning too mas, udah selesai mandi dan bersiap?" tanya Dinda masih fokus menyiapkan sarapan.


"Sudah dong sayang, maaf ya liburan kita hanya sebentar soalnya kerjaan ku sudah menunggu," ucap Ryan merasa sedih.


"Gak papa mas.. Seminggu sudah waktu yang lama kok apalagi anak-anak juga bolos sekolah.. Kalau kelamaan kasihan anak-anak juga nanti banyak ketinggalan pelajaran," ucap Dinda mencoba mengerti.


"Sebenarnya aku inginnya sebulan sayang," pinta Ryan membuat Dinda kaget.


"Ha? Seminggu itu sudah lama loh mas malah kamu pengennya sebulan, hadeh.. Gimana nanti anak-anak kejar pelajaran yang tertinggal?" cecar Dinda kaget.


"Ya kan itu kemauanku sayang nyatanya gak bisa kan, diberi waktu seminggu liburan bersama kalian rasanya bahagia sekali, tak ada yang bisa menggantikan dengan apapun..." ucap Ryan sangat bahagia.


"Aku pun juga bahagia dan enjoy dengan liburan kita apalagi anak-anak," ucap Dinda senang.


"Iya juga ya, next time deh kalau mereka liburan sekolah kita travelling," ajak Ryan.


"Masih lama mas, pertengahan tahun," jawab Dinda mengingatkan.


"Itu waktu yang cepat loh, lihat saja deh.." tantang Ryan.


"Terserah deh mas.. Yasudah sarapan yuk, udah siap nih," ajak Dinda lalu mereka menuju meja makan.


"Morning papah.." sapa Farel sumringah.


"Morning papah Ryan," sapa Vanessa ramah.


"Morning too anak-anak papah, kalian pasti sudah lapar ya?" sapa Ryan membelai rambut si kembar dengan lembut.


"Yes papah.." ucap keduanya kompak.


"Tuh kan mas gara-gara di ajakin ngobrol jadinya mereka kelaparan, kasihan.." bisik Dinda geram.


"Ya bukan salah aku juga dong, kamu juga menanggapi kok lagian aku ajakin ngobrol kamunya sedang menyiapkan sarapan, dimana letak kesalahanku?" tanya Ryan.


"Ya ada.. Coba kalau gak di ajak ngobrol mungkin udah selesai daritadi," cibir Dinda.


"Ayo anak-anak kita sarapan ya.." ajak Ryan tak, menggubris perkataan Dinda.


"Ayok pah," jawab keduanya kompak lalu mereka makan dalam diam.

__ADS_1


"Apa begini ya rasanya makan bersama dengan keluarga kecil yang utuh? Rasanya hangat dan damai sekali," batin Dinda bahagia.


"Akhirnya bisa juga gue merasakan makan bersama di keluarga yang utuh, apalagi kedua anak Dinda sangat pintar dan penurut, semakin bahagia memiliki mereka" batin Ryan menatap Dinda dan kedua anaknya bergantian.


"Ada apa mas?" bisik Dinda.


"Nothing..." jawab Ryan lalu melanjutkan makan.


"Ish nyebelin" gerutu Dinda kesal.


"Mommy.." sapa Farel.


"Iya sayang ada apa?" tanya Dinda lembut.


"Kalau makan jangan sambil berbicara mommy, itu gak sopan," tegur Farel membuat Dinda malu.


"Tuh dengerin mommy.." sindir Ryan menahan tawa.


"Iya Farel sayang.. Gak lagi deh makasih ya udah di ingatkan," jawab Dinda penuh penekanan karena menahan kesal.


"Sama-sama mommy," jawab Farel lalu melanjutkan makan.


"Awas kamu mas.." gertak Dinda berbisik.


"Aduh.. Aku takut," ejek Ryan menahan tawa.


"Papah ada usul nih," ucap Ryan membuat semuanya tertuju padanya.


"Usul apa pah?" tanya Vanessa.


"Iya usul apa pah? Jangan bikin penasaran," desak Farel.


"Papah ada usul.. Ini kan hari pertama kita saling melakukan beraktivitas, bagaimana kalau kita berangkat bareng? Jadi nanti papah anterin Farel dan Vanessa sekolah dulu setelah itu anterin mommy ke kantor, bagaimana?" usul Ryan.


"Setuju pah.. Yey akhirnya kita bisa merasakan rasanya di antar papah ke sekolah, dik," seru Farel dengan bersorak gembira.


"Iya kak.. Akhirnya ya," jawab Vanessa bahagia.


"Nanti kamu telat masuk kerjanya mas," tolak Dinda.


"Ya gak akan, percaya deh.." jawab Ryan sangat yakin.


"Nanti jadinya kamu mondar mandir mas, biar anak-anak aku aja yang antar," tolak Dinda.


"No.. Kami mau di antar papah," tolak Farel.


"Iya mom.. Apa salahnya sih papah mau antar kita?" tanya Vanessa kesal.

__ADS_1


"Tuh lihat.. Kamu di keroyok 2 orang langsung, udahlah nurut aja sama suami," sanggah Ryan dan akhirnya Dinda pasrah.


Diperjalanan mereka sangat menikmati momen dan mereka melakukannya dengan bahagia.


"Sudah sampai my boy and girl, ayok turun," ajak Ryan bersemangat.


"Oke papah.. Mommy juga turun loh," pinta Vanessa lalu mereka semua turun dari mobil.


"Sekolah yang rajin ya jadi anak pandai dan berbudi pekerti baik, jangan bandel," ucap Ryan sambil mengusap rambut keduanya.


"Siap papah.. Bye.." jawab mereka kompak lalu masuk ke sekolahan.


Dinda dan Ryan kini hanya berdua saja di dalam mobil dan sedang perjalanan menuju kantor Dinda.


"Sayang.. Kalau boleh jujur hari ini aku happy banget," ucap Ryan sangat gembira.


"Oh iya? Kenapa mas?" tanya Dinda.


"Iya dong.. Karena akhirnya aku bisa merasakan bagaimana menjalani hidup dengan keluarga yang utuh, ada istri dan anak-anak.. Bahagia banget deh, pantas saja ya banyak dari mereka yang terkadang menginginkan anak banyak," ucap Ryan berkhayal.


"Ujung-ujungnya pasti soal anak, sabar dulu mas.. Se dikasihnya saja, urus anak itu gak mudah," ucap Dinda berusaha bijak.


"Iya memang aku gak ngoyo banget harus langsung punya anak kan dari pernikahanmu sebelumnya kamu sudah memiliki anak, kembar lagi.. Jadi rasanya udah lengkap tapi ya mau bagaimanapun juga aku menginginkan anak dari keturunanku sendiri.. Bukan berarti aku membedakan Farel dan Vanessa loh, mereka tetap anak-anak ku.. Hanya saja ya kamu tau sendirilah jawabannya," ucap Ryan kebingungan merangkai kata.


"Iya mas aku paham tapi aku juga gak bisa menjanjikan langsung jadi, semua kan harus di serahkan sama yang di atas, dia yang sudah mengatur segalanya," ucap Dinda paham.


"Nah itu dia.." jawab Ryan langsung terhenti karena sudah tiba di kantor Dinda.


"Makasih ya mas udah mau mengantarkan.." ucap Dinda sembari melepas selt belt.


"Sama-sama sayang kalau bisa kita lakukan ini setiap hari, aku gak keberatan kok.." ucap Ryan.


"Jangan dong mas kasihan kamu bolak-balik, yasudah aku masuk dulu," pamit Dinda dan ingin keluar dari mobil namun di tahan oleh Ryan.


"Ada yang kurang," ucap Ryan tersenyum penuh arti.


"Apanya mas?" tanya Dinda kebingungan.


"Kiss me.." pinta Ryan sambil menunjuk pipi.


"Astaga aku kira apa mas," jawab Dinda heran lalu mencium pipi suaminya.


"Thanks baby.." jawab Ryan sumringah lalu mencuri start dengan mencium bibir Dinda sepersekian detik.


"Mas..." pekik Dinda setelah keduanya selesai berciuman.


"Morning kiss sayang, yasudah kamu semangat kerjanya ya sayang.. I love you," ucap Ryan tersenyum bahagia dan memberi semangat.

__ADS_1


"Kamu juga semangat kerjanya ya mas, I love you too.." jawab Dinda lalu turun dari mobil.


__ADS_2