
Setelah kejadian di kafe, Aldo memang sengaja menjaga jarak dengan Dinda karena ia tak mau wanita yang sangat dia sayang nantinya menderita karenanya, Aldo gak boleh egois, Dinda sudah mendapatkan tambatan hati atas keinginannya sendiri, jadi gak baik bagi Aldo untuk terus memuluskan keinginannya.
Setelah kejadian itu, Aldo lebih sering berkomunikasi dengan Fio, wanita yang ia pikir memiliki sifat manja dan juga lemah lembut justru kenyataannya berbanding terbalik, Fio adalah tipe wanita yang cenderung cuek, dingin kepada orang yang gak dikenal dan gak bisa sok akrab, namun seiring mereka berkomunikasi membuat Fio sedikit lunak.
Tiada hari tanpa bertukar kabar, hubungan mereka kini semakin dekat dan besok malam Aldo berencana menyatakan perasaan pada Fio. Tak ada maksud untuk dijadikan pelampiasan, Aldo ingin membuka hati untuk orang lain, ia pikir perasaannya pada Dinda hanyalah sebuah obsesi untuk memiliki, nyatanya ketika sedang chatting dengan Fio, perasaan Aldo sangat nyaman dan mereka nyambung satu sama lain.
"Selamat pagi Fi," sapa Aldo via chat.
"Pagi mas Aldo, udah bangun?" balas Fio.
"Udah dong, masak bangun siang terus," jawab Aldo.
"Bagus.. Bangun memang lebih baik pagi mas apalagi sebelum subuh," balas Fio.
"Iya.. Nanti aku coba, nanti malam free gak?" tanya Aldo.
"Free mas, ada apa?" tanya Fio.
"Hangout yuk, jangan di kafe ku, kita cari tempat," ajak Aldo.
"Kemana mas?" tanya Fio penasaran.
"Ya kamu ada tempat nongkrong yang mau dikunjungi gak? Kita bisa kesana nanti malam, bosan kalau di kafe ku terus," tanya Aldo.
"Ada sih mas tapi tempatnya agak jauh, kalau kesana malam nanti sampainya malah kemaleman," jawab Fio.
"Ya gakpapa, kita berangkat setelah kamu pulang kerja, hari ini hanya sampai jam 2 siang kan?" tanya Aldo dan Fio membenarkan.
Akhirnya kesepakatan dibuat, mereka akan pergi nanti jam 2 siang tepat ketika Fio selesai bekerja. Jauh pun tak masalah bagi Aldo asalkan nanti perasaannya terjawab. Ia yakin Fio akan menerimanya, karena Aldo sebelum mendekati Fio sempat bertanya tentang statusnya, untung Fio masih single dan belum dekat dengan siapapun.
__ADS_1
Jam kerja tiba, Aldo sudah tiba di kantor Dinda dengan mengendarai mobil, Fio yang baru keluar pun cukup kaget, cepat sekali Aldo menjemputnya.
Akhirnya Fio menghampiri Aldo dan mereka melajukan perjalanan ke sebuah resto requestan Fio. Perjalanan memang cukup jauh karena membutuhkan waktu 45 menit, namun ketika disana, rasa lelah akan perjalanan jauh pun terbayarkan dengan pemandangan yang indah dan udara yang sejuk. Resto yang dimaksud Fio bertemakan outdoor, jadi suasana seperti di alam bebas. Harga yang dibandrol pun cukup terjangkau, pantas saja tempat ini ramai.
"Mau pesan apa Fio?" tanya Aldo menyerahkan buku menu.
"Terserah mas Aldo aja deh," jawab Fio malu.
"Ya gak bisa dong, kalau aku pesennya sambal pete apa kamu juga akan makan?" tanya Aldo geli.
"Ya gak sambal juga mas," protes Fio lalu membuka buku menu, akhirnya pilihan Fio tertuju pada wagyu steak dengan minumnya coklat panas, sedangkan Aldo memesan beef spagetti steak dengan minuman milkshake coklat.
"Hawanya dingin kok pesan milkshake mas?" tegur Fio.
"Gak dingin, biasa aku dengan cuaca seperti ini," jawab Aldo santai tanpa merasa kedinginan.
"Kok bisa? Aku aja dingin banget mas," tanya Fio.
"Lah? Pecinta gunung to? Aku pengen sekali merasakan naik gunung tapi gak berani mas, takut kedinginan terus menggigil," ucap Fio.
"Gampang.. Nanti biar aku peluk," jawab Aldo membuat Fio mencebik kesal.
"Ambil kesempatan dalam kesempitan," sindir Fio, Aldo hanya tertawa saja.
Setelah makanan mereka datang dan menikmati dengan tenang, kini saat yang tepat bagi Aldo untuk mengungkapkan perasannya. Kebetulan kabut mulai turun jadi nuansa romantis sangat cocok untuk menyatakan rasa.
"Fio.. Ada yang mau aku katakan padamu," panggil Aldo dengan wajah serius.
"Ada apa mas?" tanya Fio penasaran.
__ADS_1
"Jujur saja ya Fio, selama berkomunikasi denganmu akhir-akhir ini perasaanku mulai nyaman dan rasanya ingin terus menerus bersamamu, makanya sengaja hari ini aku mengajakmu hangout untuk mengungkapkan rasa yang ada di hatiku, aku suka padamu Fio, maukah kamu menjadi kekasihku?" tanya Aldo menatap Fio lekat sambil mengenggam tangan Fio.
Hati Fio mendadak berdesir hangat, ada rasa senang ketika Aldo menyatakan perasaannya. Aldo adalah pria yang selama ini Fio inginkan apalagi Aldo sudah terlihat jelas kesetiaannya dengan menjaga cinta bu Dinda sampai sekarang, memang ketika pertama jumpa Fio sudah suka dengan Aldo namun gak berani mengatakan pada bu Dinda karena waktu itu sorot mata Aldo menyiratkan cinta yang begitu dalam pada bu Dinda, sedangkan sekarang? Rasanya seperti mimpi, perasaan yang dipendam oleh Fio kini berbuah manis.
"Fio.. Kok malah diam? Aku ditolak ya?" tanya Aldo pesimis.
"Bu Dinda bagaimana mas? Apakah dia masih ada di hatimu?" tanya Fio hati-hati.
"Dinda?? Setelah aku pikir-pikir perasaanku ke Dinda ialah hanya sebuah obsesi untuk memiliki, dulu Dinda idaman dikampus dan banyak yang menyatakan cinta padanya, maka dari itu aku ingin membuktikan bahwa aku bisa memiliki Dinda namun sayangnya waktu itu aku terlalu pengecut, Dinda didekati oleh seseorang yang sama-sama idola kampus, jadinya aku sudah minder duluan, sainganku berat soalnya," ucap Aldo flashback.
"Wajar kalau bu Dinda banyak yang suka, memang bu Dinda orangnya baik dan cantiknya mempesona," ucap Fio minder.
"Fio.. Semua wanita memiliki kelebihan masing-masing, Dinda memang cantik dan mempesona namun kamu juga tak kalah cantik Fio, percayalah kamu memiliki aura kecantikan sendiri," puji Aldo.
"Tetap saja mas saya ini tak sebanding dengan bu Dinda," jawab Fio masih minder.
"Ngapain kamu insecure? Dinda sudah ada yang memiliki jadi wajar kalau ada yang merawatnya, kamu saja yang masih single terlihat cantik kok, gimana nanti setelah jadi istriku?" puji Aldo.
"Mas jangan memberi angin padaku," tegur Fio.
"Gak Fio.. Ini jujur dari hatiku yang terdalam, jangan terus membahas Dinda apalagi membandingkan denganmu, kamu memiliki versi terbaik dari dirimu, jangan samakan dengan Dinda," tegur Aldo.
"Tapi mas.." ucap Fio terpotong.
"Jangan lagi membahas Dinda, oke? Sekarang jawab pertanyaan ku, kamu terima cintaku atau tidak? hanya itu jawaban yang aku butuhkan," tanya Aldo.
"Tapi aku takut kalau nantinya aku menjadi pelampiasan saja," jawab Fio.
"Astaga Fio, mana tega aku membuatmu jadi pelampiasan, kamu ini wanita baik-baik, jadi gak mungkin aku sejahat itu, percayalah, aku memang suka denganmu," protes Aldo.
__ADS_1
"Baiklah mas, aku terima perasaanmu," jawab Fio malu-malu, sontak saja jawaban membahagiakan itu membuat Aldo kegirangan.
Ciye.. Akhirnya Aldo melabuhkan hatinya untuk Fio, apakah mereka akan sampai ke pernikahan?