RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Flashback Pernikahan Sisil Dan Rio


__ADS_3

Setelah resmi menalak Dinda kini Rio memenuhi janjinya untuk menikahi Sisil.. Tak butuh waktu lama untuk menyiapkan segala pernikahan, hanya dalam sebulan setelah perceraiannya dengan Dinda kini Rio sudah kembali menikah dengan Sisil.


Tok.. Tok.. Tok..


"Halo apakah ada orang?" tanya Sisil sombong.


"Iya ada.. Sebentar," jawab Dinda dari dalam rumah lalu membukakan pintu.


"Hai Din," sapa Sisil kemayu sambil memeluk tangan Rio dengan mesranya.


"Hai.. Ada apa lagi?" tanya Dinda malas sambil menahan rasa sakit di hatinya.


"Kedatangan kami kemari mau membagikan ini, tolong datang ya.. Anak-anak bawa sekalian," ucap Rio menyerahkan undangan tanpa merasa bersalah.


"Undangan? Kalian.." tanya Dinda syok sambil melihat keduanya bergantian.


"Iya Din ini undangan pernikahan kami tepatnya seminggu lagi ya acaranya, datang loh.." ucap Sisil dengan sombongnya.


"Kenapa kalian cepat sekali menikahnya?" tanya Dinda tak percaya.


"Lah memangnya apa yang salah? Antara aku dan mas Rio sama-sama sendiri jadi ya sah aja dong kalau mempercepat pernikahan," ucap Sisil dengan sombongnya.


"Bukan begitu.." ucap Dinda tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya.


"Apa lagi Dinda? Gak setuju? Cemburu? Marah? Udahlah kamu terima saja kekalahan mu," ejek Sisil dan Rio hanya tersenyum tipis.


"Aku gak menyangka mas kalau kamu secepat ini menikahi Sisil, tidak ada rasa bersalah di dalam dirimu setelah memperlakukan aku seperti itu.. Jahat kamu mas," cecar Dinda geram.


"Setidaknya aku ini adil dan aku tidak memadu kamu," ucap Rio dengan enteng.


"Percaya diri sekali kamu mengatakan itu mas? Adil dimana nya?" tanya Dinda geram.

__ADS_1


"Ya adil dong, kamu sudah melahirkan anak-anak ku jadi sekarang waktunya aku menepati janjiku menikahi Sisil, jadi kan adil," ucap Rio dengan bangganya.


"Kalian sungguh kejam.. Ingat mas kamu belum selesai masa iddah, apakah boleh menikah?" tegur Dinda.


"Biarkan itu menjadi urusanku, sekarang urus saja urusanmu sendiri dan jangan lagi memikirkan aku.. Yang terpenting Farel bersamaku dan Vanessa bersamamu, uang bulanan juga selalu on time, jadi cukuplah kamu bersyukur saja," ucap Rio membuat Dinda semakin sakit hati.


"Baik mas, aku ikhlas kamu menikah dengan Sisil dan semoga pernikahan kalian bahagia selalu.. Tapi satu yang perlu kamu ingat, tidak ada yang namanya keindahan dan kebahagiaan kalau dari awal sudah bermaksud tidak baik, sesuatu yang diawali dengan kejahatan tidak akan bertahan lama kebahagiaannya... Ingat itu" gertak Dinda menahan air mata.


"Akan selalu kami ingat dan akan kami buktikan bahwa kami akan selalu bahagia, kami kan serasi," ucap Sisil angkuh.


"Memang benar kalian ini serasi, sangat serasi malahan.. Sama-sama berhati jahat dan penuh akan obsesi," sindir Dinda membuat keduanya geram.


"Din.. Terima saja nasibmu yang seperti ini yang terpenting aku ini tidak lalai akan tanggung jawab, memang aku memaklumi kalau kamu masih belum bisa menerima semua ini tapi suatu saat kamu akan terbiasa," ucap Rio kesal tetapi tiba-tiba hatinya sakit mendengar gertakan Dinda.


"Ya akan aku terima dengan lapang dada mas," jawab Dinda mengalah, ia merasa percuma saja menyadarkan mereka berdua yang sedang di mabuk asmara.


"Gord girl, gitu kek dari tadi jadi kan kita gak perlu emosi juga," sindir Sisil tersenyum.


"Ya.. Terima kasih undangannya, akan di usahakan datang," jawab Dinda ketus lalu Rio dan Sisil melajukan mobilnya.


Seketika Dinda menutup pintu dengan kasar dan berlinang air mata, hatinya sungguh sakit menghadapi kenyataan pahit yang datang padanya bertubi-tubi.. Ia merasa tidak ada keadilan untuk dirinya, semuanya jahat padanya.


"Ya Tuhan kenapa takdirku seperti ini? Apakah dulunya aku pernah berbuat salah dengan seseorang sehingga mendapatkan karma sesakit ini? Jujur saja aku merasa semua ini gak adil untukku Tuhan, mengapa hanya mas Rio dan Sisil saja yang berbahagia? Kapan kebahagiaan datang padaku?" batin Dinda berlinang air mata.


****


Hari pernikahan Rio dan Sisil telah tiba, kini Dinda menepati janjinya untuk datang bersama keluarganya dan juga pak Ryan.. Ia tidak mau dianggap lemah dan belum bisa menerima takdirnya.


"Kamu yakin akan tetap datang?" tanya Sri memastikan.


"Yakin bu, jangan terlalu memikirkan Dinda," ucap Dinda berusaha baik-baik saja.

__ADS_1


"Ibu tahu kamu mencintai mantan suamimu, tapi apa kamu siap melihat dia bersanding dengan perempuan lain?" tanya Sri bimbang.


"Sudah yakin bu lagian nanti ada Vanessa dan pak Ryan yang ikut hadir juga, jadi setidaknya Dinda tidak terlalu menyedihkan di depan Rio dan Sisil," ucap Dinda berusaha meyakinkan.


"Baiklah ibu akan mendukungmu, ibu tidak akan gentar untuk membuktikan pada mereka bahwa kamu akan bahagia nantinya, malah sangat bahagia," ucap Sri yakin.


"Aamiin bu, yasudah yuk berangkat, pak Ryan sudah menunggu di depan," ajak Dinda dan akhirnya mereka datang ke pernikahan Rio dan Sisil.


Di acara pernikahan yang di gelar sangat mewah dan megah, mas Rio terlihat sangat tampan dan terlihat bahagia begitu pun dengan Sisil yang hari ini terlihat sangat cantik dengan gaun mewah yang menjuntai panjang di lantai, keduanya sangat serasi, benar kata Sisil tempo hari bahwa mereka adalah pasangan serasi.


"Mereka serasi ya bu," ucap Dinda menahan kesedihan yang dalam.


"Serasi to kan mereka sama-sama jahat dan juga gak punya hati, lihat saja kebahagiaan mereka hanya semu saja," ucap Sri geram karena dia tahu anaknya sedang sangat sedih.


"Jangan menyumpahi seperti itu bu, mungkin kebahagiaan mereka dengan cara seperti ini, lihatlah Farel bu.. Dia sepertinya sedang mencari seseorang," ucap Dinda mengalihkan obrolan ke Farel.


"Iya ya.. Siapa yang dia cari? Yasudah yuk kita salaman dan ajak Farel bersama kita," ajak Sri dan akhirnya mereka menuju pelaminan Sisil dan Rio.


"Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang, suatu kehormatan untuk kami," sindir Sisil tersenyum merekah.


"Makasih Din sudah mau datang dan mengajak Vanessa," ucap Rio tak enak hati, entah kenapa hatinya sangat gusar ketika bersalaman dengan Dinda.


"Sama-sama semoga kalian bahagia selalu," jawab Dinda berusaha tenang dan kini ia beralih ke mantan mertuanya.


"Dinda.. Mamah kangen sekali denganmu, kamu sekarang tambah cantik sekali, maafkan mamah yang gak bisa menahan Rio untuk segera menikahi Sisil.. Mamah tau ini berat untukmu, maafkan kami," ucap Mayang lalu memeluk Dinda dengan erat.


"Iya mah mungkin ini sudah jalan Dinda, mamah tidak perlu meminta maaf karena semua ini bukan salah mamah," ucap Dinda dengan tegar lalu melepas pelukan.


"Sekali lagi maafkan mamah, semoga suatu saat kamu menemukan kebahagiaanmu dan hidup dengan damai," harap Mayang tulus.


"Makasih doanya mah," jawab Dinda terharu.

__ADS_1


Lalu setelah itu Dinda dan keluarganya turun dari pelaminan dan menghabiskan waktu bersama Farel, anak laki-lakinya, setelah tamu undangan sudah mulai sepi kini Dinda memutuskan pulang. Ia sadar diri di sini posisinya hanyalah tamu undangan.


__ADS_2