RAHIM PENGGANTI (DINDA)

RAHIM PENGGANTI (DINDA)
Dinda, Frida dan Ryan


__ADS_3

Karena merasa tak juga membuka pintu, akhirnya Ryan berjalan ke depan dan membukakan pintu. "Sudah saya bilang masuk saj.." ucap Ryan terpotong, ia kaget jika didepannya ini adalah istrinya, Dinda. Merasa seperti mimpi, akhirnya Ryan memukul pipinya cukup keras dan merasakan sakit.


"Sa.. Sayang? Beneran ini kamu?" tanya Ryan memastikan.


"Siapa lagi kalau bukan Dinda Safitri? Apa ada disini yang wajahnya mirip denganku?" tanya Dinda.


"Gak.. Gak ada, kamu kok bisa sampai sini? Tadi kan kita baru aja teleponan, oh apa jangan-jangan," tanya Ryan terpotong.


"Benar sekali.. Ketika aku menelpon aku hanya memastikan apakah kamu benar di hotel ini atau tidak dan nomor kamarnya juga, apa itu salah?" tanya Ryan penuh penekanan.


"Gak.. Sama sekali gak salah," jawab Ryan gugup.


"Oke baiklah, lalu?" tanya Dinda menggantung.


"Lalu? Maksudnya apa sayang?" tanya Ryan tak mengerti.


"Hadeh.. Lalu kamu membiarkan aku berada diluar dan berdiri terus seperti ini?" sindir Dinda.


"Astaga maaf sayang maaf.. Ayok masuk, kamu pasti capek ya perjalanan kesini," ajak Ryan lalu mereka berdua masuk.


"Mau makan apa atau mau minum apa? Biar aku pesankan," tanya Ryan penuh perhatian namun Dinda hanya menggeleng, ia tak butuh makan dan minum karena yang ia butuhkan adalah penjelasan, siapa Frida dan juga Indah, apakah mereka berdua orang yang sama?


Ketika Ryan kembali menawari istrinya, ada suara bel lagi yang membuatnya penasaran. "Siapa?" tanya Ryan dari dalam.


"Ini aku.. Frida, ngapain sih dikunci segala?" tanya Frida dengan ekspresi kesal.


"Frida? Wanita yang kamu bilang klien kamu itu mas? Biarkan masuk," jawab Dinda dengan tegas.


"Tapi.." jawab Ryan menggantung.


"Tapi apa? Kamu takut hubungan kalian ketahuan?" sindir Dinda.


"Apaan sih! Enggak! Antara aku dengan bu Frida gak ada apa-apa," bantah Ryan lalu segera membuka pintu.

__ADS_1


"Lama amat sih mas, ngapain aja didalam?" protes Frida yang didengar Dinda.


"Gak ngapa-ngapain tuh, ada apa kesini bu?," tanya Ryan memastikan.


"Gak ada.. Bosan aja dikamar gitu-gitu aja makanya main kesini, boleh kan mas?" goda Frida.


"Sayangnya itu tidak boleh bahkan dilarang, bukan begitu mas Ryan?" sindir Dinda yang tiba-tiba muncul. Sebenarnya Dinda sudah gerah jika harus memendam lebih lama. Makanya mumpung ada Frida main ke kamar suaminya, langsung saja Dinda melampiaskan amarahnya namun ia harus ingat jika nanti penyampaiannya secara elegan.


"Siapa dia mas?" tanya Frida kaget karena ada wanita lain dikamar Ryan.


"Saya? Anda mau tau saya siapa? Ayo mas katakan pada klien mu itu siapa aku ini," jawab Dinda memeluk Ryan dari belakang.


"Siapa dia mas?" tanya Firda mulai emosi.


"Dia suami saya, bu, namanya Dinda dan Dinda, perkenalkan dia bu Frida, klien yang waktu itu aku bicarakan," jawab Ryan dengan tegas.


"Apa? Jadi wanita itu istri kamu??" pekik Frida.


"Ke..kenapa mas Ryan gak bilang kalau sudah memiliki istri?" tanya Frida terlihat jelas kecewa.


"Saya pikir anda sudah tau bu, lagian urusan rumah tangga saya dengan pekerjaan kan berbeda, jadi mau saya singel atau pun beristri juga sama saja kan? Saya bekerja menawarkan jasa dalam hal hukum," jawab Ryan dengan logis.


"Apa anda ada maksud tersembunyi dengan memakai jasa hukum suami saya?" tanya Dinda.


"Maksud tersembunyi apa ya? Saya tidak mengerti," tanya Frida meredam emosi.


"Ya siapa tau diam-diam ada niatan mendekati suami saya, ups," sindir Dinda menutup mulut.


"Jangan asal bicara! Mas Ryan pengacara saya," bantah Frida.


"Sedangkan saya adalah istri sahnya," jawab Dinda dengan elegan.


"Bukan urusan saya! Disini saya butuhnya mas Ryan," protes Frida.

__ADS_1


"Kebetulan sekali jika saat ini suami saya sedang membutuhkan saya makanya dengan senang hati saya menemuinya disini, kata suami saya sekalian honeymoon lagi, benar kan sayang?" tanya Dinda membelai pipi Ryan.


"Saya meminta anda tambah waktu kesini untuk menyelesaikan masalah saya bukan untuk bulan madu!" protes Frida.


"Sekali mendayung dua pulau terlampaui ya gak apa-apa bu Frida, suami saya rindu dengan saya, kenapa saya harus menolaknya?" jawab Dinda santai.


"Yang terpenting urusan pekerjaan saya lancar bu, lagian besok tinggal persidangan bukan dan beberapa hari setelahnya pembacaan hasil, jadi wajar saja jika saya meminta istri saya untuk datang kesini, mulai besok kan pekerjaan saya ringan," jawab Ryan membantu mewujudkan harapan Dinda dengan membuat Frida sadar diri.


"Sama saja ini gak adil buat saya dong! Saya membayar mahal anda untuk masalah ini bukan masalah pribadi," protes Frida.


"Saya memang tetap bekerja sama dengan anda dengan mengusahakan agar kasus ini menang namun apa salah jika saya memiliki waktu pribadi? Saya mendatangkan istri saya kesini juga diluar jam kerja, saya tidak 24 jam bekerja untuk anda bu Frida, jadi biarkan malam ini dan seterusnya saya dengan istri saya tercinta, jika jam bekerja maka saya akan profesional, kedatangan istri saya ini menjadi penyemangat saya dalam bekerja," tegur Ryan merangkul pinggang istrinya.


"Gak bisa gitu dong mas Ryan!" tolak Frida.


"Maaf ya bu Frida.. Sedari tadi saya mendengar anda kok menyebut suami saya dengan sebutan mas Ryan? Sejak kapan anda memanggil itu?" tanya Dinda kesal.


"Ya sejak pertama jumpa, mas Ryan meminta saya untuk memanggil senyaman saya jadi ya saya manggilnya mas, karena saya pikir belum menikah, lagian gak ada cincin pernikahan di jarinya," jawab Frida tersenyum remeh.


"Ada kok.. Ini saya bawakan, memang waktu itu suami saya kelupaan bawa karena harus buru-buru berangkat, nih saya pasangkan," ucap Dinda memasangkan cincin di jari Ryan.


"Ya gak harus didepan saya juga kali!" protes Frida.


"Salah sendiri anda masih betah disitu, udah tau disini sudah ada istrinya yang siap menemani malam panjangnya, lagi pula apa pantas perempuan menyambangi kamar suami orang malam begini? Kalau ada yang tau gimana? Apa anda tak malu nantinya? Lagian anda kok sepertinya aneh ya, main kok dikamar suami orang, main tuh diluar, mall kek, nyalon kek atau apa, jangan main ke kamar suami orang bu," sindir Dinda.


"Kurang ajar! Jadi maksudmu saya ini sedang menggoda suami kamu gitu?" tanya Frida tak terima.


"Kok anda menjurus kesana? Karena penampilan anda begitu? Oh iya ya.. Ngapain main ke kamar suami orang pakai pakaian begitu bu? Kurang bahan? Sini saya jahitkan," sindir Dinda.


"Gak perlu! Jangan sok baik! Ingat ya.. Disini saya berkepentingan dengan suami anda, mas Ryan, setelah pagi hingga sore jangan ikut campur!" tegur Frida mulai geram.


"Dan anda juga harus tau satu hal! Memang saya membiarkan suami saya ketika bekerja, saya percaya penuh jika nantinya suami saya tetap setia dengan saya, yang membuat saya risih adalah panggilan anda untuk suami saya! Kenapa harus menggunakan kata mas?? Jujur.. Saya risih mendengarnya! Dia suami saya dan hanya saya yang berhak memanggil itu karena mas Ryan adalah nama panggilan kesayangan saya kepadanya, saya gak mau ada orang lain meniru meskipun itu kliennya sendiri! Mas Ryan adalah nama panggilan kesayangan dan juga mas Ryan adalah milik saya!" ultimatum Dinda.


"Jangan lagi memanggilnya dengan sebutan itu karena saya gak suka dan hanya saya yang berhak memiliki mas Ryan karena saya istri sahnya," ultimatum Dinda lagi dengan suara penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2